chapter satu novel saya "dan semua ada waktunya"
Semuanya biasa. Teramat biasa sampai moment itu tiba. Moment dimana seorang wanita lewat didepan kami. Moment dimana waktu terasa terhenti. Dedaunan seakan berbisik memuji keindahannya. Bahkan angin pun berhenti bertiup seakan sibuk memandangi kehadirannya. Masih terpatri kuat dalam pikiranku apa yang dipakainya waktu itu, ah ya.. dia memakai jilbab berwarna putih, kaos longgar lengan panjang berwarna pink, serta rok berwarna putih. Berjalan perlahan, begitu anggun dengan pandangan tertunduk kebawah. Duhai tuhan, jujur aku tidaklah terlalu religius. Tidak pula rajin dalam mengerjakan perintah-perintah_Mu. Apalagi bersyukur, sungguh aku tidaklah pandai dalam urusan itu. Tetapi aku sangat ingat, hari itu, di pagi itu aku memuji_Mu. Tertegun dan berbisik perlahan mengakui,bertanya dan meminta “duhai sungguh hebat engkau menciptakan makhlukmu. Elok nian rupa dan perilakunya. Siapa dia ya tuhan?tolong beritahukan namanya kepadaku..”
Sungguh tuhan itu benar-benar mendengar apa yang diucapkan oleh hambanya. Dalam hati maupun pikiran mereka sekalipun. Dan kali ini bahkan berkenan untuk menjawabnya langsung melalui mulut teman-temanku yang kompak berseru menyapa sang wanita “PERMATAAAAAAA!!!!!!!haiii
Perkuliahan di fakultas ekonomi yang menjemukan, tugas-tugas yang menggila datang tidak kira-kira jumlahnya, main bersama teman-teman, dugem, mengurus usaha kecil-kecilan yang kurintis sendiri dan have fun dengan para wanita(“pacar-pacar”ku maksudnya) membuat waktu berlalu sedemikian cepatnya. Tidak terasa waktu sudah berlalu setahun lamanya. Dan selama itu pula aku mengerahkan segala kemampuan terbaikku untuk mengetahui tentang wanita tersebut, wanita yang berhasil merebut perhatianku dalam sekali pertemuan bahkan tanpa perlu berkata-kata. Aku menyadari bahwa sang wanita berada di fakultas yang sama denganku(walaupun jurusan berbeda). Tapi lebih dari itu semuanya misterius, sering aku mencoba mengorek info tentangnya tetapi nihil. Hampir tidak ada yang kudapat walaupun sudah berusaha mati-matian hanya untuk bahkan mengetahui nama lengkapnya. Jujur dalam setahun ini pula aku sering berpapasan dengannya. Berpapasan dengannya bukanlah perkara mudah. Nafasku terasa sesak. Dadaku terasa sungsang hanya dengan melihat wajahnya yang selalu tertunduk itu. Dan yang lebih bodohnya lagi, tiba-tiba aku terkena penyakit gagu. Sempurna tidak bisa berkata banyak, terbata-bata bagai balita yang baru mengeja nama bundanya.
Sungguh aku bingung dibuatnya. Sering kali bertemunya dan apa yang sanggup aku katakan hanyalah “permata..mau kemana?”. Yang tentunya hanya dijawab oleh anggukan kecil sambil berkata yang hampir seperti berbisik “mau kedepan a..”. Bingung. Bingung memikirkan kemana pula kemampuanku untuk bernegosiasi bahkan kepada pengusaha besar sekalipun. Tidak percaya memikirkan hilang kemana kemampuanku untuk menghembuskan kata-kata indah kepada para wanita, membuat mereka jatuh hati kepadaku cukup dengan merayunya. Tidak habis fikir memikirkan bagaimana bisa kemampuanku untuk mengarang dan berpidato seakan hilang tertelan begitu saja apabila berhadapan dengannya? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Sempurna setahun ini hanyalah kalimat tanya itu yang hanya bisa aku sampaikan kepadanya, kepada sang wanita pujaan hati, kepada sang wanita yang diimpikan untuk menjadi kekasih hati.
Waktu memang bisa mengubur keinginan. Sedikit banyak pepatah itu memang berlaku untukku. Setahun putus asa karena tidak mendapatkan kemajuan yang berarti maka aku mulai memutuskan untuk menjadi penggemar rahasianya saja. Merasa cukup berpuas diri untuk melihatnya dari jauh. Lelah membujuk hati untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatinya (padahal untuk wanita lainnya malah gampang sekali). Mencoba untuk menerima kalau dia memang terlalu jauh dari jangkauan. Sungguh aku tidak tahu kalau tuhan saat itu sedang tersenyum, membisikkan sabda_Nya yang tidak akan mampu didengar oleh makhluknya “Sabarlah, semua ada waktunya..”
Liburan pun tiba. Seperti mahasiswa perantauan lainnya maka aku lebih memilih mudik daripada mengambil perkuliahan padat. Lebih memilih menikmati makanan masakan ibu dikampung daripada sibuk melihat buku modul. Lebih memilih menikmati perbincangan hangat dengan sang ayah di sore hari daripada mendengarkan untaian kata-kata monoton dari mulut dosen yang disegani. Tetapi ada alasan tambahan di liburan ini. Alasan untuk mencoba untuk melupakan dia. Dia yang nun jauh disana. Mencoba menuruti kata-kata orang bijak bahwa “jarak bisa membuat lupa”. Bah, pepatah apapula itu. Buktinya walaupun aku berada jauh disini dan dia disana tetap saja saat aku memandang langit dimalam hari sambil menikmati suara jangkrik dan tokek di teras depan rumah di kampungku yang asri. Yang terlihat dilangit hanyalah wajah dia. Sempurna bintang-bintang menggurat wajahnya dalam kemilaunya. Sempurna pula rembulan malu-malu menggoda “apakah kau tidak merindukannya wahai pemuda?”. Dan sesesak apapun perasaan itu aku masih saja tersenyum malu, tersipu dan menjawab “jangan kau tanya tentang hal itu kepadaku. Lihatlah raut muka ku wahai rembulan. Memang rasa suka ku tidaklah bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Tidak pula mampu untuk aku tunjukkan dengan perbuatan kepadanya. Rasa suka ku kepadanya terpancar didalam diam. Menguar tak tertahankan dalam pendar mata ini yang melihatnya. Terukir jelas dalam senyumku saat aku melihatnya walaupun hanya dari kejauhan saja. Maka apakah engkau masih meragukan hal itu sang rembulan?”. Dan sang rembulan pun terdiam, tidak bsa menjawab.
Liburan mendekati berakhir, maka itu berarti masa-masa ospek sudah menanti. Masa-masa dimana aku ataupun senior yang lain bisa petantang petenteng macam kopral yang tiba-tiba diangkat menjadi jendral. Tiba-tiba berubah galak. Sok kuasa. Jaim. Tetapi tetap saja tebar pesona..haha, mencoba berharap mendapatkan satu dua kecengan dari mahasiswa ataupun mahasiswi baru. Dan akupun memutuskan kembali ke kampus tercinta, berpamitan kepada ayah dan ibu tercinta. Sekarang sedang duduk-duduk, kebagian tugas mengawasi mahasiswa baru yang mau daftar ulang tetapi malah lebih memilih duduk diam di depan gedung administrasi. Mencoba tidak menjadi senior yang banyak tingkah sekaligus melepas penat yang ada. Saat itulah tuhan dengan caranya tersenyum kepadaku, memenuhi janji_Nya terdahulu. Membisikkan kata-kata “maka sekarang Aku menepati permintaanmu kepadaku. Nikmatilah. Karena semua ada waktunya.”.
Siang itu matahari tidaklah menyengat, angin tidak berhembus, awan tidak terlalu banyak para mahasiswa baru sibuk bersliweran tertunduk-tunduk oleh bentakan. Dan dia pun tiba-tiba lewat begitu saja didepanku. Terpana tidak percaya, bertanya didalam hati “Duhai, apakah aku salah lihat? Apakah mataku mendadak sudah rabun? Ataukah aku sedang melamun? Apakah benar aku melihat Dia sedang tidak berkerudung?”. Semakin jauh dia melangkah, maka sontak aku menarik tangan temanku dan berbisik “kalau lu brani teriak PERMATA, maka hari ini makan malam lu gue yang tanggung”. Maka dengan cueknya teman ku tersebut menjerit, berteriak menyebutkan namanya dengan lantang, sesuatu yang bahkan tidak mampu aku lakukan selama setahun penuh. Dia pun menoleh. Sontak memandang ke arah aku dan temanku yang cengar-cengir tidak keruan. Langsung memalingkan mukanya dan beranjak semakin jauh. Meninggalkan aku yang menarik kesimpulan “benar itu dia..ada apa gerangan?kenapa dia tidak menggunakan jilbab lagi?apa yang terjadi?apa sesuatu terjadi kepadanya sehingga dia begitu?”. Dan semua pertanyaan itu buyar dengan satu pertanyaan tolol dari temanku yang bahkan lengannya masih aku cengkram dengan kuatnya “makan malam gue jadikan lu yang nanggung?”. Sumpah saat itu, aku malah merasa sangat ingin meninju mukanya saking kesalnya.
Siangpun berganti dengan malam. Semakin larut. Menyisakan sepi dikala semuanya tertidur. Lelah setelah seharian beraktivitas. Mencoba mengistirahatkan badan dan pikiran demi pekerjaan keesokannya. Tapi aku jam segini malah tetap terjaga, masih shock tidak percaya dengan apa yang aku lihat di siang hari tadi. Benarkah itu dia? Ah bagaimana pula aku ini, jelas-jelas dia menoleh saat namanya dipanggil. Hari ini pertama kalinya aku tidak melihatnya berjilbab. Rambutnya panjang. Hitam berkilauan. Terayun gemulai saat dia berjalan dan menambah kecantikannya. Tapi bukan itu yang jadi perkara, tetapi kenapa sampai dia melepas jilbabnya?sayangnya pertanyaan itu nanti tidaklah akan terjawab sepenuhnya. Dan akupun tertidur. Lelah seharian bertanya-tanya dan dalam tidur bermimpi bertemu dengan dia. Berjalan berdua menanyakan pertanyaan yang sama. Semuanya hanya dijawab oleh senyuman, duhai cantik sekali dia ya tuhan.. bahkan dalam mimpi pun aku tidak bisa berkata banyak hanya dengan melihat senyumnya.
Surprise.. keesokannya ada rapat kepanitiaan ospek mahasiswa baru. Semua mahasiswa senior berkumpul. Dan dia ada! Demi tuhan dia ada! Duduk bersama temannya. Berbisik-bisik sambil mendengarkan ketua yang berceloteh didepan. Menggunakan kaos pink bersweater. Bidadari itu semakin terlihat cantik dari dekat. Dan sepanjang rapat itu telingaku mendadak tuli, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan ketua dari awal sampai akhir, indra pendengarku menjadi tumpul seketika walau mendadak mataku menjadi setajam elang. Memperhatikan semua gerakannya. Tekstur wajahnya. Hitam bola matanya. Menikmati bagaimana dia tersenyum. Memperhatikan gerak gerik badannya. Menghapalnya dengan baik. Merekamnya seakan-akan itu adalah kesempatan untuk melihatnya terakhir kali. Dan hari itu lagi-lagi tuhan tersenyum kepadaku. Sang ketua berkata “seksi humas harap menunggu di sekre, seksi p3k juga menunggu saja di sekre. Siapa tau ada kasus maka kalian sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk bekerja”. Sungguh aku tidak begitu mempedulikan kata-kata sang ketua, walau ternyata saat kejadian itu terjadi aku malah berniat untuk mencium tangan sang ketua. Karena berkat kata-katanya lah maka hal itu terjadi. Ya, saat pertama kali aku benar-benar bisa berbicara dengan leluasa dengannya. Saat aku pertama kali bisa benar-benar berkenalan dengannya. Sungguh sampai sekarang pun kejadian itu masih terlukis jelas di lembaran-lembaran frame didalam otakku. Memori yang sampai tuapun aku yakin pasti masih tercetak jelas disana.
Selepas rapat, maka aku langsung memasuki sekre. Didalam sekre hanya ada beberapa korsi, satu meja, dan seorang wanita yang menjadi sekretaris pada kegiatan ospek ini. Akupun duduk, bertanya “ada yang bisa dibantu kgak?”. sekretaris berkata “nih, tolong bantu potong kecil-kecil kertas-kertas ini jadi kotak. Nanti diperlukan”. Dan sang sekretaris pun pergi, entahlah ada urusan apa. Meninggalkan aku dengan tugas tersebut. Tanpa banyak bicara, tanganku langsung bekerja. Menggerutu didalam hati “kayaknya hari ini bakal membosankan”. Baru beberapa menit menggerutu dan keajaiban itu terjadi. Dia masuk ke sekre! Sendiri pula tanpa temannya. Celingukan sebentar dan menghampiri aku yang bahkan mulai merasa panas dingin tidak karuan. Dan dia pun bertanya dengan polosnya “ngerjain apa?mau dibantu tidak?”. Oh ibu, dia berkata kepadaku? Suaranya renyah. Merdu. Sempurna mendirikan semua sel-sel syarafku. Dan aku dengan begonya malah menjawab dan bertanya “disuruh motong kertas. Ini Permata bukan?”. Pertanyaan bego karena aku tahu kalau dia itu memang dia, bagaimana pula aku melupakan wajah yang selama setahun ini membayang kemanapun aku berada. Bego karena ini adalah pembicaraan kita yang pertama dan aku hanya terpelongo bego, bertanya gak penting, dengan ekspresi seperti orang miskin mendapat uang milyaran (duhai apakah ini nyata?). Dan diapun mengangguk. Duduk didekatku. Dan tanpa banyak bicara langsung ikut bekerja. Nafasku terasa sesak, menciumi aroma tubuhnya dari dekat membuatku merasa mau terbang.
Itulah awal pertemuan kami, dan awal segalanya. Saat itu kata kedua yang aku tanyakan secara langsung (sungguh aku tidak bisa mengarang-arang awalan kata yang indah hanya untuk memuji dia) “permata, kok gak pake jilbab lagi? Kan kemaren-kemaren pake terus.”. Dia menjawab sederhana “belom siap, masih merasa harus menata hati daripada menata pakaian. Terserah orang mau mandang aku jelak juga”. Dan akupun sempurna tidak bertanya-tanya lagi. Dia berkata “orang memandang kamu jelek”. Bah, orang mana itu? Sebutkan namanya. Saat itu juga akan ku hajar mukanya kalau ternyata dia berani berkata begitu. Bagiku dia tetap cantik. Bidadari yang sempurna mencuri perhatianku dari awal melihat. Apapun dia sekarang aku tidak perduli yang penting aku suka dia, titik (ah terkadang urusan seperti ini benar-benar bisa membuat orang menjadi keras kepala).
Sejak saat itu kami pun menjadi akrab. Sangat akrab. Bahkan bagi orang-orang terlihat bagaikan sepasang kekasih. Kemana-mana berdua, sepanjang acara ospek maka bisa dipastikan kami selalu berdua. Melewati waktu, bercanda, tertawa, menggunakan setiap detik yang ada seakan-akan itu adalah waktu terakhir untuk bersamanya. Dan jujur, saat itu aku berkata dalam hati “tuhan, aku sayang dia! Terima kasih untuk kesempatan ini”. Tuhan tersenyum dengan caranya, membalas berkata lagi-lagi dengan bahasa_Nya “nikmatilah.. karena semua ada batas waktunya”. Sampai moment itu tiba. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu, sepele memang. Tapi itulah saat dimana kami saling jujur dan benar-benar terbuka.
Saat itu lagi dalam rangkaian acara, dia datang mendekat dan berkata “tolong pegangin dulu hape aku. Aku lagi dipanggil bantu untuk p3k.”. Dan hape berwarna hitam itu berpindah tangan. Terdiam tidak ada kerjaan membuat pikiran usil ku bekerja dengan cepatnya “cek hape nya. Siapa tau ada sms-sms aneh”. Dan jariku langsung bergerak, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. Buka inbox.... mmmmh, gk ada sms aneh tuh. Buka gallery aja deh kagok. Dan terkejutlah aku saat ada foto laki-laki lain dalam jumlah banyak, bahkan ada foto berdua dengannya dalam jumlah yang lumayan. Instingku mulai berkata, dia dah punya cowok. Jujur aku tidak bisa marah, kecewa? Iya. Tapi marah? Bagaimana pula aku bisa marah saat aku sendiri punya cewek! Banyak malah. Itulah hal yang selama ini aku tutupin dari dia. Bagaimana rasanya kalian bisa mendekati seorang sosok idaman yang sudah dibayangkan lama sebelumnya? Aku tahu aku sendiri salah. Yang aku lakukan hanyalah menunda waktu saja. Karena cepat atau lambat maka aku tetap saja harus memilih. Memilih untuk tidak mengganggu kehidupan dia dan pasangannya bagaimanapun gilanya aku menyukai dia.
Malam itu rapat seperti biasa. Maka dimalam itu aku menanyakan kepadanya “ini siapa?kok banyak bener fotonya?”. Dia menjawab singkat “temen kok. Foto-foto untuk narsis doang”. Sesak mendapati kenyataan dari kebohongan yang terucap. Sesak mengetahui seharusnya kita berlaku jujur sepahit apapun kepada orang terdekat, karena mereka adalah orang yang paling berharga bagi kita. Maka apa pantas apabila kita berbohong kepada orang yang justru memiliki kedekatan personal yang paling besar adanya? Tidak. Bagiku tidak. Karena mereka terlalu berharga untuk dibohongi .Maka malam itu, di tengah dinginnya udara aku membuka rahasia itu. Rahasia bahwa aku sudah mempunyai pasangan. Bajingan karena sebenarnya bahkan mempunyai banyak pasangan. Pelan dia terdiam dan akhirnya sama mengaku “sama, aku juga sebenarnya mempunyai pasangan”. Malam itu sebenarnya suasana riang. Teman-teman panitia yang lain sibuk berdiskusi bagaimana caranya “menyiksa” mahasiswa baru yang ada. Tapi tidak bagi kami. Malam itu pahit. Malam itu getir. Walaupun jujur kami tidak bersedih.
Tengah malam itu kami sepakat memisahkan diri sejenak dari panitia yang lain. Sedikit berjalan-jalan bersama. Menikmati saat-saat yang masih ada. Mencoba untuk menikmati pembicaraan hanya dari mulut kami berdua. Saling berpegangan tangan. Sungguh malam itu adalah malam yang tak akan pernah kulupakan. Malam dimana semuanya tertumpah begitu saja. Mengalir tak terbendung. Dimana semua perasaan yang terpendam terceritakan begitu saja.
Sambil berjalan aku berkata kepadanya “Kamu tahu? Sebenarnya dari setahun dulu aku memujamu. Melihat dirimu yang berjalan anggun malu-malu didepan gedung itu benar-benar mencuri semua perasaanku. Aku tidak menyalahkan waktu, karena toh apa yang aku minta sudah diberikan. Aku meminta bisa dekat denganmu walaupun hanya sebentar. Maka ini sama saja dengan anugrah. Gak pernah kefikir sedikitpun ini bakal terjadi. Tapi untuk kali ini aku bersyukur, sungguh-sungguh bersyukur ini terjadi. Beruntung banget yah yang jadi pasangan kamu? Bisa memiliki kamu yang cantik, anggun, bahkan menyerupai bidadari saat menggunakan jilbab. Janji ya? Kalau kamu sudah berjilbab lagi beritahu aku, maka dari manapun tempat aku berada aku pasti datang untuk melihat kamu. Walaupun itu hanya untuk melihat saja. Tidak lebih”. Malam itu semuanya aku ungkapkan, bagaimana groginya aku dulu untuk hanya menyapa dia. Sibuk hilir mudik keluar kelas hanya demi suatu pengharapan “apakah hari ini aku bsa berpapasan dengannya?”. Bagaimana aku yang paling malas dateng kekampus mendadak menjadi org yang paling pagi kekampus. Duduk nongkrong di gerbang depan (bahkan jadi berteman baik dengan para satpam) cuma untuk melihat sosok dia. Semua kisah aku dengan pasangan-pasanganku. Kisah-kisah kegilaanku. Dan semua yang terjadi disekitarku.
Malam itu kami saling berkata jujur, mengungkapkan apa yang dirasa. Memang dia memilih pasangan dia dan aku tidak mau pula mengganggu hal itu. Kami sepakat dengan isyarat kami bahwa kedekatan ini hanya sampailah masa ospek ini saja. Tidak lebih. Maka biarlah tuhan, malam ini kami menggenggam erat tangan kami. Menikmati kebersamaan yang ada. Berharap semoga waktu berputar lebih lambat. Sadar bahwa semua ini ada batas waktunya. Bercerita segalanya karena kami tahu bahwa besok-besok semuanya akan sudah menjadi beda.
Dan waktupun berdesing dengan cepat. Benarlah kata orang-orang kalau kebersamaan itu seakan mempersingkat waktu. Tanpa sadar maka hari ini adalah hari terakhir masa ospek. Sadar bahwa ini adalah penghujung dari segalanya. Dan akupun memulai hal itu. Memulai suatu sandiwara dan mulai menjauhi dia. Mulai mengeluarkan kata-kata ketus. Menghindar saat dia mulai melihat sosokku. Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore pun menjelang malam. Acara selesai dan akhrnya semua panitia bubar. Maru pun pulang dengan semua perasaan senang, senang tentu saja karena penyiksaan tahap awal itu selesai (kan masih ada ospek jurusan,penyiksaan jilid dua). Tapi kami berdua masih disini. Tertegun aku tidak mampu pergi karena satu alasan. Karena dia menangis! Tuhan, bidadari itu menangis. Maka akupun mendekat. Mencoba membujuk dan bertanya dengan khawatir “kamu kenapa?sakit?”.
Sambil terisak dia hanya bilang “sakit?iya..sakit karena ini hari terakhir. Kamupun sudah mulai menjauh. Perkataan mu sudah terasa ketus. Sikapmu sudah mulai acuh. Kemana kita yang dulu? Saat-saat itu hilang begitu saja..””
Diam..aku tidak bisa berkata banyak. Bukan aku tidak mau berkata. Tapi aku tidak mengerti bagaimana hal ini. Inilah jeleknya kami sebagai kaum laki-laki. Apabila kami benar-benar menyukai seorang wanita maka kami akan susah berkata-kata. Apabila kami merasa hubungan itu tidak mungkin maka kami akan mulai menjauh dari sang wanita. Berusaha membunuh perasaan itu dengan jarak dan dingin yang tercipta. Jadi kata siapa kami adalah makhluk yang hanya berlogika? Kami sendiri kadang tidak tahu apa yang kami lakukan. Suka tapi malah menjauh. Aneh bukan?
Dalam gelap aku menghampiri tempat dia duduk terisak. Duduk disampingnya. Menunggu tangisnya mereda. Tanpa kata kami pun mulai berdiri, berjalan bersama di sepanjang jalan itu. Ditemani langit malam, bintang, dan rembulan yang bahkan terasa mendadak menjadi syahdu. Erat berpegangan tangan . Tentunya sambil mencoba menenangkan dia yang masih terisak. Berjalan perlahan seakan takut segera sampai ditujuan. Duhai, aku bahkan bingung untuk melakukan apa saat itu. Yang ku tahu hanya memegang tangannya. Melontarkan satu perkataan “kalau saja kamu tidak punya pasangan, sungguh demi tuhan aku ingin melamarmu saat ini. Menjadikanmu istriku. Jujur aku bukanlah seorang laki-laki yang baik, sering kali merebut pasangan orang, mempunyai pacar yang aku sendiri tidak bisa menghitung jumlahnya. Tetapi khusus untukmu, khusus hanya kepadamu aku tidak mau merebut mu dari pasanganmu. Sesuka apapun aku kepadamu, tapi aku tidak pernah mau untuk merusak kebahagiaanmu. Aku ingin semua berasal dari pilihanmu sendiri. Bukan karena paksaanku. Lagipula sungguh aku tidaklah pantas untuk seorang wanita sebaik kamu”. Dia tidaklah berkata banyak, sambil terisak dia cuma memberikan kata “jangan berkata seperti itu.. sudahlah, mungkin semua sudah ada waktu dan jalannya”. Kamipun sepakat diam, dan aku mengantarkan dia sampai kekosan temannya. Meninggalkannya yang bahkan masih berurai air mata. Secepatnya pergi karena jujur aku tidak tahan melihat tangisnya. Langsung pergi dan berjalan sambil menitipkan satu keyakinan bahwa tuhan akan menjaga dia.
Itulah malam terakhir aku bersama dia. Malam dimana 3 tahun lalu terjadi. Setelah itu aku menjauh sejauh mungkin, mencoba menciptakan jarak yang benar-benar membunuh perasaan dia kepadaku serta perasaaan ku kepadanya. Menghilangkan nomor kontaknya. Semua smsnya. Bahkan sengaja mengganti hape dan no pribadi yang kupakai. Menghilangan semua jejak kenangan itu. Dan aku semakin menenggelamkan diri dalam seluruh kesibukanku. Organisasi. Usaha. Kuliah. Tentunya wanita! Yang banyak malah. Berusaha mengusir bayangnya dengan berbagai tingkah polah wanita yang berbeda. Sekarang aku sudah lulus dan meninggalkan kampus tercinta. Meninggalkan sepanjang jalan yang penuh kenangan itu. Meninggalkan gedung jurusan tempatku sering melihat sosoknya dulu. Sibuk menjaga usaha-usahaku yang mulai membesar.
Malam inipun aku sedang berada di luar kota, menginap di hotel berbintang lima sisi pantai di salah satu pojok indonesia bagian timur. Memenuhi undangan relasi dalam suatu pertemuan bisnis seperti biasa. Tapi malam ini ya tuhan, entahlah bagaimana pula ini terjadi. Duduk sendiri di pantai, bertemankan segelas wine, desau angin lautan, beratapkan langit dan rembulan. Bayangnya kembali muncul tergurat dengan jelas dilangit malam. Semua kenangan lama itu berputar dengan cepat. Terurai kembali. Tiba-tiba saja aku merindukan saat-saat tersebut. Berjalan di sepanjang jalan di saat malam itu. Saling menggenggam tangan. Tidak bersuara. Tapi kita tau hati kita saling bertautan. Merapat pada waktunya. Walaupun harus menjauh kemudiannya. Malam ini aku kembali bertanya-tanya kepadamu ya tuhan “apakah mungkin aku benar-benar bisa bersama dia?”.
Aku letih bermimpi. Lelah membujuk hati untuk mencoba melupakan dia. Entahlah sekarang pun aku tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu tentang dia, walaupun aku yakin aku mampu untuk itu. Maka aku memutuskan tidur secepatnya setelah menenggak habis sebotol wine. Berharap semoga itu membuat ku melupakannya. Merebahkan diri. Tidur! Satu hal yang tidak aku ketahui malam inipun lagi-lagi tuhan tersenyum mendengarkan pertanyaan ku. Menjawab dengan getar suaranya yang tak tercapai oleh indra para ciptaannya. “sabarlah, semua akan ada jawabannya....”. Bahkan berkenan untuk memberiku suatu mimpi. Mimpi bertemu dengan dia dan bercengkrama. Kali ini tanpa tangis. Saling berpegangan tangan. Tanpa harus ada perpisahan yang menyakitkan. Ah terima kasih tuhan, walaupun keesokan paginya aku tahu itu hanyalah sepotong mimpi.

Comments (0)
Posting Komentar