Dan senja itu akhirnya membuat perkenalan ini ada, nama beliau rohmat. Sederhana saja. Mengaku sudah tak punya kampung halaman, hidup sebatang kara di tengah kota yang makin lama terasa makin ganas menghimpit penghuninya.
“bagaimana pula bapak punya kampung halaman lagi nak? Apa yang ada? Semuanya sudah tidak ada. Istriku tercinta sudah lama meninggal. Anak-anak merantau tak pernah pulang. Tak ada kabar berita. Satu pun sampai sekarang. Maka bapak putuskan untuk mencoba mencari mereka disini, hasilnya? Nihil. Bapak berjualan untuk menopang hidup bapak sampai sekarang. Ahh, kalau diingat-ingat sudah lebih dari 10 tahun bapak disini”. Itulah intro awal percakapan kami di senja itu.
Yah, sesederhana itu alasan beliau untuk berada disini. Sendiri di kota sebesar ini hanya untuk mencari. Untuk memperjuangkan apa yang dia percaya dan dia yakini. Walau aku tau, kemungkinannya nyaris mendekati mustahil untuk menemui anaknya. Lah bagaimana bisa? Menemukan tiga anak-anaknya yang merantau kekota? Dengan cuma bermodal nama, foto pun tak ada. Tapi beliau tetap percaya dan berusaha.
Kok bisa yah? Memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya beliau sendiri tau hampir mustahil untuk digapai.
“nak, bukan masalah apakah itu mustahil atau bukan. Yang penting berusaha. Hati bapak bilang cari, jadi daripada bapak “gila” berdiam diri saja. Maka lebih baik bapak mencari disini. Matipun tak apa. Setidaknya bapak mati karena mencari, bukan karena berdiam diri saja”.
Oi, belum pernah diriku menemukan orang yang seperti ini. Berani membela apa yang dia yakini. cuma dengan modal kepercayaan saja maka beliau tak peduli dengan susahnya, beliau berusaha. Tak peduli resikonya. Dan saat itu juga kutaruh respekku pada level tertinggi untuk beliau. Ah, memang benar belajar itu bisa dimana saja dan dari siapa saja. Asal ada kesempatan maka raihlah.
Maka sekali dalam seminggu aku menyengajakan diri untuk menemui beliau. Duduk santai bersama beliau. Terkekeh-kekeh bercerita (tentunya sesudah itu beliau batuk hebat sampai terlihat tersengal nafasnya). Berbagi cerita apa saja. Menghabiskan waktu sampai beliau terlihat lelah (dan akupun pamit, tak enak pula mengganggu beliau yang lelah).
Suatu hari, batuk itu semakin hebat. Kuputuskan membawa beliau ke dokter. Tapi apa yang dia katakan?
“sudahlah nak, bapak tak mau merepotkan. Lagian bapak tau batuk ini terutama datang karena rokok ini yang nyaris tak henti bapak hisap”. Sembari tersenyum beliau mengusap punggungku.
Aku protes. Beliau menggeleng. Ah, apa perlu aku pukul beliau dan menggendongnya ke dokter? (yang tentunya aku tak berani melakukannya). Sekeras apapun aku protes beliau tak mau. Bahkan obat-obat yang aku bawa pun dia tak mau menyentuhnya (apalagi meminumnya).
Maka aku mencoba mengalihkan permintaan menjadi “pak, apa bisa bapak berhenti menghisap rokok? Atau setidaknya menguranginya”. Tak tega aku melihat beliau yang saban kali merokok, saat itu juga batuk yang kadang kala membuat aku khawatir saking terlihat parahnya.
Dan lagi-lagi aku mendapat jawaban yang membuatku tertohok dengan kerasnya. Sepele, tapi nyaris membuatku menangis mendengarnya.
“nak kau tahu latar belakang bapak, kehidupan bapak? Nyaris tak ada kemewahan selain senyuman anak-anakku yang telah lama hilang, atau belaian sayang istri tercinta yang telah lama meninggal. Bagi kamu mungkin inilah yang membuat bapak sengsara, batuk tak henti dengan parahnya. Tapi itu bagi kamu. Tak pandang usia tua, muda, kaya, miskin, Semuanya kebanyakan merokok bukan? rokok adalah satu “kemewahan” yang bisa bapak capai. Bapak tak dapat menikmati kemewahan lain, bapak tak punya rumah, tak punya harta. Bukan, bukan bapak menyesalinya. Tapi biarkan bapak menikmati hal ini, rokok ini, kemewahan ini. Selagi bisa”
Dam aku terdiam, nyaris meleleh tangisku. Bagai makan buah simalakama. Yah aku tau bahwa inilah yang membuat beliau susah. Sakit demikian rupa. Tapi beliau yang tau itu bersedia mengambil itu dengan alasannya. Jadi apa alasanku lagi untuk memaksanya berhenti? Saat itu aku sadar, untuk tak pernah memandang lagi hanya dari satu sisiku sendiri. Jangan pernah memandang sesuatu hanya dari benar dan salah. Karena pengalaman hidup itu berbeda-beda, jalan itu tak semuanya mulus dalam setiap kehidupan individu. Bolehlah aku mengingatkan, tapi meminta berhenti? Apa pula hakku?
Dan kembali aku merasa penuh oleh pelajaran, bertemu beliau yang hidup dengan falsafah sederhana membuatku merasa bertambah kaya.. bukankah seseorang yang mampu menyederhanakan hidup yang rumit, dan mempraktekkan kesederhanaan itu didalam hidup adalah seorang yang hebat.
Ah, macam-macam yang kupelajari dari beliau. Aku tau bagaimana dia yang dulunya seorang preman besar, ditakuti dan disegani, kekayaan apalagi. tetapi sekarang malah menjadi begini. Satu-satu semuanya menghilang dari kehidupan beliau. Dan lagi-lagi dia hanya berpesan “ingat nak, segala sesuatu sudah ada waktunya. Apa yang sudah ada dan diterima ya terima saja dengan ikhlas. Akui. Jangan jg engkau menghindar dan tak mengakui keberadaanmu, masa lalumu”.
Jadi tak pantas aku mengatakan iba atau kasihan untuk beliau, baik kisahnya maupun hidupnya. Toh beliau sendiri tidak mengasihani atau meratapi apa yang ada di dirinya (walaupun itu susah, sangat susah malah). Aku hanya bisa salut akan sikapnya yang ada sekarang. Dan ini hanyalah secuil, ada seribu satu hal lain yang kupelajari dari beliau. Menyenangkan. Selalu menyenangkan untuk belajar.
Suatu senja aku kembali berniat mendatangi beliau. Hari biasa, tak ada kejadian istimewa. Saat itu langit gerimis kecil (walau langit tidaklah gelap seperti hujan sebagaimana biasanya). Ku datangi tempat biasa, lapak biasa sang bapak berjualan. Yang kutemui hanyalah gerobak jualan dia biasanya. Kosong. Tak ada minuman. Sepi. Sosok beliau tak ada.
Bingung. Hilir mudik aku bertanya kepada orang-orang. Adakah yang melihat bapak rohmat? Kemana dia pergi? Siapa tahu saja ada yang melihat. Dan lagi-lagi nihil. Tak ada yang melihat. Beliau pergi begitu saja, entah apakah ingin mencari anaknya ditempat lain atau apa.
Aku duduk. Menghela nafas. Sibuk berfikir kemana beliau. Kehilangan (walau anehnya aku tak merasa sedih sebagaimana umumnya perpisahan). Karena seperti apa yang dikatakan oleh beliau “percyalah dan lakukan”. Maka aku percaya kepergian beliau pun memang ada waktunya. Seperti perkataan beliau diwaktu itu..
“Segala sesuatu sudah ada waktunya. Jadi ya terima saja..”
Kutatap langit senja. Kusunggingkan senyum tipis akan suatu keganjilan. Aku mengenal beliau di suatu senja dan aku berpisah dengan beliau juga di saat senja. Jadi percayalah! walau jalan yang diatur olehNya sungguh tak terduga oleh kita para makhluknya.
read more..
Aku bingung kawan. Bingung dengan tujuan mereka. Apa yang mereka kejar? Yang pergi ke tempat kuliah bisa kita anggap mereka mengejar ijazah. Lulus untuk secepatnya bisa kerja dan mapan nantinya. Tapi.... kenapa mereka malah seringnya menjadi santai belajar dan berleha-leha? Tak peduli nilainya menukik tajam tak tertahankan. Jadi sesungguhnya apa yang mereka kejar oi kawan? Bingung aku dibuatnya..
Untuk yang pergi bekerja apa lagi. Bangun, mandi, berpakaian, makan, kemudian pergi ketempat tujuan. Ringkas dan taktis sekali waktunya (sudah macam serdadu saja mereka). Terpola seperti strategi saja. Bekerja dari pagi sampai sore harinya. Untuk apa? UANG kah? Hoo, engkau mengangguk (tumben engkau merespon, biasanya engkau hanya duduk tersenyum mendengar ocehanku..) berarti benar begitu untuk uang rupanya…
Tapi untuk siapa uang yang mereka dapatkan itu? Uang yang banyak itu. Uang yang mereka dapatkan setelah berusaha keras begitu. Pagi sampai sore. Hari ke hari begitu. Bergerak sudah kayak robot saja. Tidak terfikir lagi yang lainnya, lelah karena menguras tenaga dan pikiran yang ada. Bahkan keluarga saja sudah tak terurus rupanya. Datang dan pulang kerumah sudah merasa terlalu lelah untuk sekedar bercengkrama dengan istri tercinta. Datang dan pulang kerumah eh malah anak-anak tersayang sudah terlelap dalam mimpinya (mana sempat mereka memberi perhatian kepada mereka). Bahkan saat liburan pun malah hanya sibuk dengan beragam file dari kantornya. Ckckck, tak mengerti aku akan mereka.
Duhai jadi sebenarnya apa yang orang-orang ini kejar? Bingung aku.. keinginan mereka (untuk mengejar sesuatu hal) dan untuk siapa keinginan itu tercipta tidaklah sama. Kalau meminjam kata dari manusia berkepala semi botak yang berceramah kemaren (kau ingat waktu aku bercerita hinggap di jendela lantai 4 gedung megah di tengah kota dan mendengar dia bercerita penuh semangat seperti pidato tujuh belasan saja) “keduanya tidaklah menyokong, sinergis dan dinamis”. Bah kena penyakit berkata-kata canggih aku rupanya,haha..
Ah kawan, penat aku disini. Kota yang sebenarnya kecil ini terlalu bising. Terlalu ramai. Belum asap-asapnya. Belum juluran tangan gedung-gedungnya yang menebar suram macam tangan setan saja. Orang-orangnya yang sangat teramat jarang bertegur sapa. Kota ini penuh orang-orang tetapi entahlah bagi ku terasa sepi, dingin, tak berbelas kasihan. Seakan-akan makhluk sekecil kita ini bsa langsung hilang tak berbekas disini.
Dan itu belum lagi hawanya yang tidak beradab. Lontaran umpatan. Makian. Tak henti dari pagi ke malam, malam ke pagi. Trus menerus terjadi tak berbelas kasih. Kemana rasa syukur? Kemana rasa maaf? Kemana rasa kekeluargaan? Kemana semuanya? Tak punya nuranikah mereka??
Mari kawanku mumpung hari ini tidaklah terlalu siang kita beranjak pergi. Mengepakkan sayap terbang ke desa nun jauh di ujung provinsi. Bertemu dengan orang-orang bermuka sederhana nan ramah kembali. Orang-orang yang sederhana, mencari secukupnya. Sesuai dengan porsinya. Tidak menjadi lupa dengan keluarga. Sederhana mengejar cita-citanya tanpa menghilangkan kehangatan sifat mereka sebagai manusia.
Rindu aku untuk mendengarkan gemericik suara sungai (sudah mau pekak telingaku mendengar raungan suara kendaraan disini)
Kangen aku untuk kembali mendengarkan ucap penuh syukur kepada penguasa kita dan alam semesta dari mulut orang-orang sederhana saat mereka istirahat. Makan saat lelah melanda setelah mengurus pekerjaan mereka (belum pernah aku mendengar suara-suara bersyukur disini saat mereka istirahat melepas lelah, yang ada malah sibuk mereka bergunjing, bergosip atau malah kembali membahas masalah kerja dan kerja)
Tak sabar aku untuk mendengarkan kembali tegur sapa ramah dari mulut-mulut mereka(bukannya umpatan kasar tak terperikan yang malah diperdengarkan).
Disana aku menemukan orang-orang yang sungguh-sungguh mengejar apa yang mereka inginkan dan tanpa menghilangkan kehangatan mereka sebagai manusia itu sendiri. Tidak seperti kota ini. Kota dimana orang-orang menjadi hilang jati dirinya demi hal yang mereka kejar dan ingin ciptakan oleh kemampuan mereka sendiri.
Jadi mari kawanku...
Kita pergi..
Secepatnya...
Sumpek aku disini…
Capek...
Selalu merasa sepi walau jelas-jelas berada di tempat yang ramai semacam ini. Aku rindu kedamaian. Ketenangan. Yang tak kutemukan disini. Ditengah-tengah keramaian kota yang tak berbelas kasihan ini.. haha, apa yang aku ocehkan sekarang ya? Bingung aku dibuatnya. Maaf kawan kalau sudah membuat mu bosan dengan celotehanku selama ini. Kadang aku tak mampu lagi menahan mulut ini. Aku tau engkau slalu siap membantu dan menemaniku.
Jadi mari kawanku.. kita sekarang berangkat pergi . Pergi segera meninggalkan kota ini.. terima kasih.. untuk selalu menemani diri ini…...
read more..
Kamu, mereka, anda semua. Saya yakin pernah melakukan kesalahan bukan? Yah sya paham akan hal itu. Manusiawi untuk sering kali khilap akan suatu hal. Lumrah. Sudah biasa. Apapun efeknya, kesalahan tetaplah kesalahan. Karena kita tidaklah sempurna. Begitu bukan? Yah sya lagi-lagi menyadari akan hal ini. Kita sebagai manusia sangatlah sering melakukan kesalahan. Sengaja ataupun tidak hal itu sudah digariskan olehNya. Pasti terjadi. Pasti dialami. Dalam tulisan ini pun sya tidak ingin membahas tentang berjuta-juta macam kesalahan yang pernah dilakukan oleh manusia. Terlalu banyak pastinya. Tak bakal habis ratusan halaman untuk menuliskannya.
Sya cuma ingin sedikit mengingatkan akan tindakan kita. Tindakan yang berlandaskan akan suatu pertanyaan “bagaimana kita memutuskan untuk menebus kesalahan yang telah kita lakukan”. Mencoba mengajak kita semua sedikit merenung dan berfikir lebih akan hal ini. Bahwa terkadang kata maaf tidaklah cukup untuk menebus kesalahan kita.
Oke.. Anggap saja sya menabrak orang. Tidak sengaja. Bahkan itu juga karena orang tersebut nyelonong nyebrang begitu saja. Orang tersebut jatoh, lecet-lecet, baju sobek. Maka sya punya kewajiban bukan untuk menebus kesalahan saya tersebut (walau sya tahu sya tidak sengaja dan sya tidak bermaksud begitu). Bagaimana caranya? Ya mungkin cara yang paling sederhana. Sya beri uang yang sekiranya cukup untuk orang tersebut berobat. Atau kalau mau lebih baik lagi, saya anterin kerumah sakit. Sya tanggung biaya perawatannya. Sya anterin pulang kerumah (dengan resiko kena marah keluarganya pula). Baru sya minta maaf kepada semuanya.
Itu juga dengan catatan loh. Bahwa sya melakukan itu semua walau sya tahu kesalahan itu tidaklah disengaja. Apalagi klo sya sengaja. Wuah berabe, sengaja nabrak orang bisa-bisa sya masuk penjara. Dan semua itu harus sya terima untuk apa? Untuk menebus kesalahan sya tentunya.
Nah ntu kan kesalahan yang bersangkutan dengan fisik. Kalo yang berhubungan dengan hati dan jiwa bagaimana? Sama saja bukan? Mau itu sya menyakiti hati orang oleh kata-kata pedas dari mulut sya, sya sudah membuat orang menunggu kedatangan sya seharian, sya sudah tidak menepati janji kepada pasangan sya. Atau yang lainnya pun begitu. Kita sudah berbuat dzholim kepada orang. Mungkin beberapa urusan cukup dengan kata-kata minta maaf saja. Sya tidak pungkiri hal itu. Tapi mungkin lebih baik lagi kalau kita selain meminta maaf juga melakukan sesuatu untuk menebusnya. Mentraktir teman yang sudah tersakiti hatinya oleh kata-kata sya, memberi sedikit kue untuk teman yang sudah menunggu lama, atau bisa juga datang membawa bunga dan mengajak dinner sang pasangan yang sudah cemberut karena tidak tepatnya janji sya. Setelah itu, maka meminta maaf setulus hati plus janji sungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi barulah pantas untuk dikatakan.
Bukankah tindakan seperti itu jauh lebih baik daripada hanya dengan kata-kata minta maaf saja bukan? Bahkan rasul kita saat mengetahui bahwa umurnya tidak panjang lagi sempat bersabda “apabila ada kesalahan yang telah aku lakukan kepada kalian, wahai para sahabat. Baik sengaja maupun tidak. Maka beritahukanlah kepadaku. Akan kutebus kesalahan itu dengan hukuman apapun yang menurut kalian pantas untuk ku terima”. Rasul sekalipun yang sebenarnya cukup dengan kata-kata minta maaf saja niscaya dimaafkan oleh para sahabat pun berani berkata begitu. Siap untuk menebus kesalahannya. Dengan apapun hukumannya. Maka kita selaku umatnya pun harus bisa begitu. Siap dan mampu untuk itu.
Menebus kesalahan itu perlu. Tapi tolong diingat terkadang cuma dengan meminta maaf dan janji tak akan mengulanginya lagi tidaklah cukup. Kita harus menebusnya dengan sesuatu yang lebih. Ingatlah suatu fakta bahwa kesempatan kedua itu tidaklah slalu ada. Hanya orang-orang yang mau menebusnya dengan sedemikian rupa yang pantas untuk mendapatkannya. Tunjukkan keseriusan kita dengan cara yang kita bisa. Untuk apa? Untuk menebus kesalahan itu. Untuk mendapatkan ikhlas itu, ikhlasnya mereka, orang-orang yang telah kita sakiti hati, jiwa maupun raganya. Sya juga tahu bahwa itu pastilah susah. Menebus kesalahan itu benar-benar susah dilakukan. Seribu kali lebih susah daripada mengalahkan ego untuk mengucapkan kata maaf. Tapi justru disana hikmahnya. Kita jadi belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama justru krn kita tahu betapa susah untuk menebusnya. Menjadi lebih berhati-hati. Lebih mawas diri...
Nah terakhir kali kalau kita sudah melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan dan masih tidak mendapatkan maaf bagaimana? Saat itu baru bisa kita kutip kata-kata pamungkas “yang penting sya sudah minta maaf, sudah usaha yang terbaik juga untuk mendapatkan maaf..” minimal kita sudah menunjukkan bahwa kita serius untuk mendapatkan maafnya. Percayalah bahwa yang maha kuasa akan tahu niat serta usaha kita. Yah itu sja uneg-uneg pribadi sya kali ini. Maaf klo lg tidak mau untuk menggunakan alur cerita seperti notes-notes sya biasanya. Lagi error tingkat tinggi otak sya T_T
Any comment??????????????
read more..
Saat aku kuliah lagi-lagi aku berdoa “ya tuhan tolong beri aku kesempatan untuk menjadi pemimpin suatu organisasi. Memimpin banyak orang. Bertemu dengan orang-orang baru. Mencicipi petualangan di tempat-tempat yang tak pernah terpikirkan oleh pikiranku..”
Saat aku menjadi pemimpin organisasi aku kembali berdoa “ya tuhan tolong beri aku pasangan untuk menemani hidup ini. Pasti menyenangkan memiliki tempat untuk bersandar dikala lelah. Yang mampu mengerti akan perbuatan-perbuatanku. Pasangan yang nantinya akan setia menyemangati. Yang akan selalu setia mengusap keringat lelah dengan senyumnya...”
Dan malam inipun aku berdoa lagi kepadaNya “ya tuhan..tolong beri aku kemapanan harta. Sehingga bisa memfasilitasi banyak hal. Banyak orang. Banyak kegiatan. Membuatku mampu meraup bayang-bayang cita-citaku. Cita-citaku untuk mendirikan sekolah gratis itu....”
ya setiap malam disaat aku bimbang. Membutuhkan kekuatan lebih untuk berdiri maka aku akan berdoa kepadaNya. Mengadu. Meminta. Karena aku yakin Dia mampu memberikannya. Bukankah dia maha pemberi segalanya? Itu fikirku saat itu. Dan malam ini setelah berdoa akupun merasa letih. Memutuskan untuk beristirahat menjemput mimpi. Memejamkan mata dengan harapan doa-doa itu akan cepat dikabulkan olehNya.
Aku terlelap. Tidak menyadari kalau malam ini satu sosok malaikat sedang memperhatikanku. Tersenyum lembut berkata syahdu “duhai, mulia sekali niat-niatnya. Dari hari-kehari doanya semakin indah intinya. Dia meminta kesempatan menimba ilmu sehingga nanti bisa memanfaatkannya. Dia meminta kesempatan untuk menjadi imam bagi kaumnya. Memperpanjang silaturahmi dengan orang-orang baru sesuai ajaran_Mu ya rabb. Dia juga meminta pasangan untuk tempat berbagi dan saling menjaga nanti. Sehingga bisa akhirnya menyempurnakan separuh agama yang dia miliki. Dan sekarang pun dia kembali meminta kepadaMu ya rabb, meminta sepenuh hati akan rejeki untuk menggapai cita-cita yang mulia ini. Tidak salah Engkau menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Subhanallah ya rabb, segala puji kepada_Mu wahai pemilik segala dzat..”
Malaikat itu memuji sambil bertasbih. Gembira akan doa-doa yang diucapkan. Buncah bahagia memuji kebesaran_Nya, mendendangkan kekaguman akan makhluk yang dijadikan khalifah oleh_Nya. Segala puja-puji itu menggema ke seantero bumi, menarik perhatian sesosok malaikat lainnya. Ya sosok malaikat yang dibuang karena perbuatannya. Siapa lagi kalau bukan iblis. Iblis merasa tertarik dan memutuskan menghampiri sang malaikat. Geram akan segala puja puji yang dilantunkan tadi.
Dengan pongahnya iblis menghampiri malaikat, berkata dengan angkuh dan jumawa “haha, kau bangga akan doa-doanya? Doa-doa tipuannya. Kau bilang mulia niatnya yang ingin mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu di bangku kuliah. Sehingga nanti bisa memanfaatkannya? Hahaha. Lihatlah sekarang. Dia sudah mendapatkan kesempatan kuliah. Bertemu dengan orang-orang berilmu semua. Tapi apa yang dia lakukan? Dia malah malas-malasan. Malas kuliah, malas mengerjakan tugas. Bahkan malas bertemu dosen sekalipun. Tak tahu dia bahwa hanya untuk kuliah, bapaknya bahkan harus menggadaikan harta benda. Banting tulang seharian demi keinginan anaknya untuk kuliah. Tapi apa yang dia lakukan? Tak tahu diri. Tak tahu budi. Malah asyik pacaran atau tidur meringkuk dikosan sendiri. Hahahaha.. Apanya yang mulia???”
Sang iblis tertawa terkekeh dan kembali berkata “tadi barusan apa yang kau bilang? Kau bilang dia pernah meminta kesempatan menjadi imam? Menjadi pemimpin organisasi bukan? Haha, ini yang paling lucu. Kau lihatlah sekarang. Dia menjadi pemimpin akhirnya dan memang benar dia memperpanjang silaturahmi lebih kepada orang-orang baru yang dia temui. Tapi kau lihat teman-teman lamanya? Mana ingat dia kepada mereka. Dia hanya sibuk hilir mudik mengurusi orang-orang baru. Perkara teman lamanya sakit, sedang bersedih, sedang patah hati mana pernah dia pikirkan. Bertemu mereka saja jarang. Jadi untuk apa silaturahmi dengan orang baru itu? Toh dia malah jadi melupakan teman-teman lamanya. Hahahaha...”
Tawa iblis semakin menjadi, Kembali berujar dengan sinis kepada sang malaikat tadi “nah ini yang paling lucu dari perkataanmu tadi. Kau bilang dia meminta pasangan untuk tempat saling berbagi dan menjaga nanti? Hahaha, aku mau tanya kepada kau duhai malaikat. Berapa kali makhluk yang kau doakan tadi berpacaran? Sangat sering bukan? Putus satu ganti lagi. Jadi kemana doanya untuk memiliki pasangan tadi? Tempat berbagi apanya? Buktinya dia tetap egois sendiri. Hanya ingin dimengerti tanpa mau untuk mengerti pasangannya, menuntut lebih tetapi tidak mau sedikit pun memberi. Sudah bosan? Tinggal ganti..hahaha. Lagi-lagi aku bertanya apa yang mulia dari doa itu?”
“Sekarang pun apa yang dia panjatkan kepada_Nya? Ah ya meminta harta bukan. Maka aku yakin seyakin-yakinnya dia akan segera mensia-siakannya lagi saat doa itu dikabulkan olehNya. Aku bahkan bisa menebak kira-kira apa yang akan dia lakukan. Paling foya-foya. Mana bisa dia menabung untuk menggapai mimpi itu. Pasti akan dihabiskan untuk hal-hal tak penting umumnya. Hahaha.. akan aku goda dia dengan segenap kemampuanku. Akan kumentahkan segala doa-doa itu. Seperti kemaren-kemaren saja saat doa-doa itu diucap olehnya. Akan kubuat dia menyia-nyiakan doanya..hahahahaha”
Tawa sang iblis menggema ke seluruh pelosok bumi. Tawa kesombongan yang menyeramkan. Sang malaikat hanya bisa terdiam mendengarnya. Menggumamkan dzikir meminta perlindungan kepada_Nya. Dan saat itupun aku terbangun dari lelapku. Tepat subuh dini hari. Dengan nafas memburu. Berkeringat banyak di sekujur tubuh. Ya tuhan... mimpi apa pula ini?
Duhai tuhan, mimpi macam apa ini? Mengerikan. Teramat malah. Ternyata doa-doa itu bagaikan terbalik untukku. Apa yang aku minta setelah diberikan malah sering kali aku sia-siakan. Ternyata doa itu sama saja dengan tanggung jawab ya tuhan. Saat aku meminta, apa nanti saat mendapatkannya aku mampu memegangnya? Ternyata tidak. Malu aku akan doa-doa ini ya tuhan. Malu karena aku tidak bisa bertanggung jawab akannya. Malu pula karena malah menyalahkan ENGKAU akan segalanya. Padahal ENGKAU sudah berbaik hati untuk memberi. Sungguh sebenarnya aku lah yang tak tahu diri.
Maka akupun bergegas mengambil wudhu di subuh ini. Shalat.. Memutuskan untuk meminta maaf kepada_Nya. Meminta maaf akan khilaf selama ini. Meminta maaf akan doa-doa yang terucap tanpa kesiapan hati. Yah doa itu sebenarnya bentuk lain dari tanggung jawab. Bukan hanya sekedar permintaan kepada DIA. Naif sekali kalau aku berfikir seperti itu. Maafkan aku ya tuhan.. maaf untuk tingkah polah pongah yang kulakukan. Maaf juga atas ketidak siapan hati atas doa yang terucap dari mulut ini. Maka shubuh ini aku beribadah menghadapNya, memutuskan untuk berdoa khusus mengaku salah kepada sang maha pencipta...
“ya tuhan.. Engkau pasti mengetahui semua doa yang terucapkan olehku. Karena kau mampu untuk itu. Baik doa keseharian. Baik doa dalam ibadah-ibadah yang ku tegakkan. Maka kali ini aku memohon kepadaMu wahai sang maha pencipta. Tolong kabulkan doa-doa itu saat aku sudah sekiranya mampu untuk menerimanya. Sehingga aku tidak menyia-nyiakannya lagi seperti yang sudah-sudah. Karena sekarang aku baru sadar bahwa doa itu bukan semacam “tuntutan” permintaan untukMu. Itu malah semacam “tuntutan” permintaan untuk tanggung jawabku. Tanggung jawab saat kau kabulkan doa-doa itu. Tanggung jawab saat kau berikan apa yang aku mau. Sungguh sebenarnya akulah yang tak tahu diri. Terima kasih ya tuhan. Terima kasih untuk segala hal yang telah kau berikan selama ini. Dengan semua pertimbangan_Mu. Dengan semua kearifan_Mu...”
p.s:
sya tulis cerita ini karena membaca salah satu notes penulis favorit sya yang tidak malu “mencerca” kesalahan-kesalahannya. Smga notes ini juga bisa mengingatkan sya akan arti tanggung jawab. Tanggung jawab atas apa yang sya sndri minta kepada_Nya...
read more..
Posted by median | Posted in renungan
Cinta? Ah lagi-lagi saya tidak akan menceritakan arti cinta disini. Saya juga tidak akan membahas beribu bait tentang cinta. Saya akan membahas satu detail kecil dari cinta. Benar teman, saya hanya ingin mengingatkan tentang kemampuan untuk mengatakan cinta. Mengatakan? Ya mengatakan. Menyatakan isi hati. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan sendiri. Kemampuan yang sejujurnya sangat susah dimiliki oleh kaum wanita. Hanya wanita-wanita terpilihlah yang mampu tanpa malu untuk mengatakannya. Yah kemampuan yang jujur saja, sangat jarang dimiliki mereka, kaum wanita.
Sering kali aku menanyakan “kenapa sampai malu mengatakan cinta? Mengatakan perasaan sesungguhnya kepada sang pria?”. Dan tipikal jawaban yang diterima selalu saja sama, MALU! Sejak kapan wanita mengatakan perasaannya kepada pria? Absurd! Mustahil! Impossible! Dimana-mana selalu pria lah yang menyatakan perasaannya. Bahkan lebih berprinsip kehilangan sang pria daripada mengatakan perasaan mereka. Ah ironi teman. Bagaimana para wanita yang mengaku berada di zaman intelek, pekak berteriak akan kata “EMANSIPASI”. Sibuk menuntut kesetaraan, mengaku dan bangga menyatakan bahwa hal yang bisa dilakukan pria juga bisa dilakukan oleh kaum wanita. Tapi untuk hal ini? Hahaha.. hanya sangat sedikit yang bisa melakukannya. Jadi kemana kata emansipasi itu? Kemana pemikiran intelek itu? Dimana kesetaraan itu?
Akan aku tunjukkan kenapa hal ini menjadi ironi teman. Bagaimana ini menjadi hal yang sering kali sya tertawakan secara pribadi. Sya yakin anda tahu akan siti khadijah bukan? Istri rasul kita yang mulia akhlaknya. Disini aku akan sedikit bercerita mengenai kisahnya. Kisahnya yang sering kali kita dengarkan tapi melupakan sedikit detail kecil yang berarti. Kita tahu bahwa rasul kita adalah seorang yang bisa dipercaya. Sangat teramat bisa dipercaya. Dikenal oleh seluruh penduduk akan kejujurannya serta keluhuran budi pekerti miliknya. Saat rasul kita belum menikah, siti khadijah sudah menjadi janda. Jauh lebih tua dari usia rasul kita. Tapi jangan salah, beliau saat itu merupakan saudagar besar. Kaya dengan harta baik pula akhlaknya. Banyak para khalifah dan pemimpin-pemimpin kaum yang tertarik dan menyatakan lamarannya. Terpikat dengan pesona yang dimilikinya.
Tapi semua lamaran itu ditolak oleh beliau. Saat itu beliau hanya tertarik akan isu bahwa ada sesosok pria yang luhur akhlaknya. Maka beliau memutuskan untuk mencari tahu hal tersebut. Diutuslah pelayannya untuk meminta rasul kita (yang masih sangat muda waktu itu) membawa barang dagangannya. Dengan syarat pelayannya harus ikut serta. Maka berangkatlah mereka dalam misi perdagangan. Berkelana ke berbagai negara untuk berdagang kepada beragam saudagar yang ada. Seperti yang diduga dagangannya laku keras! Rasul kita yang masih sangat muda menunjukkan bahwa dia jujur dalam berdagang, tidak mengurangi timbangan, mampu mendapatkan kepercayaan orang-orang. Tanpa cela akhlaknya waktu itu. Saat kepulangan mereka membawa untung yang berpuluh kali lipat banyaknya. Sang pelayan yang diutus pun menyampaikan seluruh hal yang dilihatnya kepada siti khadijah. Bagaimana kelurusan akhlaknya benar-benar berkilau. Elok tingkah rupa yang mampu memikat orang-orang. Dan tahukah engkau teman, sejak saat itu siti khadijah menaruh hati kepada rasul kita. Ah cinta itu mulai datang kepadanya.
Tahukah pula bagaimana mereka bisa menikah? Saat itu bukanlah rasul kita yang menyatakan perasaannya sehingga akhirnya mereka bisa menikah. Siti khadijah lah yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Kenapa? Karena saat itu rasul kita hanyalah seorang biasa, seorang pelayan (bukankah siti khadijah mengupahnya untuk menjual barang dagangannya. Intinya sama saja dengan pelayan atau buruh pekerja bukan?). Masih muda pula. Bagaimana mungkin siti khadijah mengharapkan rasul kita melamar dia. Siti khadijah yang kaya raya, siti khadijah yang menjadi rebutan para khalifah, perbedaan kasta itu terlalu jauh saat itu. Apalagi umur yang menjadi jarak antara mereka. Bukankah lumrah bahwa orang lebih memilih seseorang yang masih muda atau setidaknya sebanding usia untuk menjadi pasangan? Ingatlah siti khadijah sudah jauh lebih tua dibandingkan rasul kita.. Maka siti khadijah memutuskan untuk menyatakan terlebih dahulu kepada rasul kita. Menyatakan perasaannya dan menikahlah mereka. Kisah mereka tercatat dengan indah dan menjadi teladan umatnya.
Disinilah ironi itu terjadi kembali teman. Umumnya kaum wanita zaman sekarang mengaku “bagaimana pandangan orang-orang kalau mereka menyatakan perasaannya terlebih dahulu? MALU!!!” apalagi kalau ditolak, mau ditaroh dimana muka ini? Lebih baik kehilangan daripada menyatakan perasaan. Itulah pandangan umum kaum wanita zaman sekarang! Yang hidup pada zaman dimana emansipasi selalu didengungkan. Yang hidup pada zaman tuntutan akan kesetaraan. Tapi untuk hal ini malah kalah dengan siti khadijah yang hidup di zaman penuh kegelapan.
Coba renungkan teman. Pada zaman rasul kaum wanita tidaklah dianggap. Anak perempuan dibunuh itu biasa! Gadis diperkosa itu lumrah! Wanita dewasa tidak tahu tulis menulis memang begitulah lazimnya! Mana ada saat itu emansipasi. Kesetaraan. Wanita dan pria bagaikan langit dan bumi. Singkat kata pepatah bahwa wanita dijajah pria itu terjadi pada zaman itu. Zaman dimana sangat teramat tidak lazim ada seorang wanita yang mengatakan perasaannya!!!!! tapi siti khadijah mau mengatakan hal itu, berani menempuh cara yang sangat amat tidak lazim pada zamannya. Demi apa? Demi perasaan yang dia namakan cinta. Perasaan cinta kepada rasul kita. Siti khadijah tahu posisinya, dia sudah tua (walaupun kaya). Mana mungkin seorang muhammad yang notabene pekerjanya akan melamarnya yang kaya dan sudah berumur. Apalagi mengingat akhlaknya yang begitu baik budi. Kecuali kalau dia menyatakan perasaannya. Maka beliau menciptakan takdirnya dengan perbuatannya. Menerobos perkataan lumrah ataupun pandangan umumnya. MALU akan kebiasaan dia kalahkan dengan besar perasaan cintanya kepada muhammad. Dan lihatlah bagaimana kisah pernikahan mereka menjadi abadi, indah tercatat dan menjadi pedoman umat manusia.
Coba bandingkan dengan zaman sekarang. Jangankan membunuh atau memperkosa. Memandang hina perempuan saja masuk penjara kawan (melanggar HAM katanya). Wanita punya hak untuk berkarir, untuk sekolah lagi (S2 atau S3 pun terserah saja). Mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan berat seperti pria. EMANSIPASI! Kesetaraan disinggungkan dimana-mana. Bahkan pandangan masyarakat bahwa wanita tabu untuk menyatakan perasaannya sudah semakin kabur. Sudah sangat menipis (walaupun saya akui itu masih ada). Jadi dibelah bagian mananya menyatakan perasaan cinta itu membuat MALU dizaman seperti ini? Dan lihatlah mereka, kaum wanita umumnya yang mengaku intelek lebih memilih kehilangan cintanya tanpa mau sedikitpun berusaha! Ironi bagaimana kaum wanita zaman sekarang yang pandai baca tulis serta teknologi, kalah oleh sosok wanita zaman jahiliah.
Siti khadijah tidak malu untuk mencari tahu (karena toh dia baru mengetahui kabar berita) tentang rasul kita. Menguji dengan caranya. Mengatakan langsung perasaannya. Anggaplah suatu saat anda juga begitu, bertemu dengan sosok pria yang sedikit banyak memikat hati. Apakah anda akan mencari tahu? Mungkin saja. Menguji sang sosok pria? Lumrah saja. Nah saat anda tahu, ternyata sang pria dengan alasannya tidak akan “menembak” anda. Terlihat biasa-biasa saja tak merespon maka apa yang akan anda lakukan? Tampaknya kaum wanita umumnya hanya akan ikut diam saja bukan? Walaupun anda sudah mengetahui (kan dah diuji) bahwa sang pria itu baik budi. Memiliki kriteria pasangan idaman yang anda gariskan. Dan anda tahu bahwa dia tidak terlihat seperti akan berkata tentang kalian. Kebanyakan kaum wanita umumnya lebih memilih ikut DIAM. Kontras bukan dengan sosok siti khadijah? Sosok wanita pilihan di zaman kegelapan. Yah pilihan karena kemampuannya untuk tegas dan tak malu mengatakan kebenaran. Apapun itu. Dan hal itu sangat berguna nanti dalam menyokong dakwah rasul kita yang sangat berat. Menciptakan serangkaian kisah menakjubkan sepanjang usia peradaban.
Apa yang saya ingin ingatkan? Gampang. Jangan pernah mengaku atau mengharap cinta kalau cuma untuk mengatakannya saja tak mau. Takut merendahkan harga diri? Gengsi? Tabu? Gk lumrah? Maka sya yakin seyakin-yakinnya maka itu bukanlah apa yang disebut-sebut dengan namannya cinta. Tak pantas disebutkan atau diharapkan karena itu tidaklah cukup besar untuk menelan harga diri, untuk menelan malu, untuk mengalahkan ketidaklumrahan dan ketabuan. Bagaimana mungkin banyak kaum wanita mati-matian mengejar karir, mati-matian belajar demi masa depan. Menjadi kartini-kartini mandiri. Mengalahkan mitos umum “KASUR, SUMUR, DAPUR”. Karena apa? karena keyakinan mereka bahwa takdir mereka bisa mereka ukir sendiri. Tapi untuk memilih pasangan seumur hidup mereka tidak mau mengukirnya sendiri? Bah bagaimana ini? Tunduk menyerahkan sepenuhnya hanya kepada pria. Ya itupun tak salah. Walau saya pribadi juga tidak berkata itu benar. Tapi anggaplah situasinya sama seperti siti khadijah, dimana sang pria tidak akan mungkin melamar atau menyatakan rasanya kalau sang wanita tidak mengatakannya terlebih dahulu. Kebanyakan wanita zaman sekarang malah akan memilih “ya sudah, mungkin sudah nasib kali. Gk jodoh. Cowonya juga diam aja”
Menggelikan bukan? Bagaimana “gak jodoh” itu benar-benar menjadi alasan untuk suatu sikap kepengecutan. Suatu sikap keputusasaan. Suatu sikap menyerah yang bukan pada tempat dan zamannya. Ternyata untuk beberapa hal, kaum wanita zaman sekarang ternyata tidak lebih baik dari zaman dahulu. Kemunafikan yang berdasarkan ketidak mauan. Kemunafikan yang coba mereka kuatkan dengan dalil “gak jodoh”.
Sya selalu percaya bahwa semuanya harus diusahakan terlebih dahulu dengan sekuat tenaga. Terkadang yang diatas memberi kemudahan dengan menganugrahkan sesuatu yang begitu kita harapkan dengan begitu mudah. Apalagi hal yang kita sebut cinta ini. Ada kalanya sangat gampang, tetapi adakalanya pula sangatlah susah. Harus mati-matian berusaha. Harus mati-matian pula melakukan beragam hal dan harus mampu untuk menelan ego untuk mengatakannya. Kenapa pula harus malu untuk mengatakan perasaan yang tulus kepada orang yang kita sayangi. Kepada orang yang kita cintai. Dan sekali lagi saya tidak pernah mempermasalahkan gender dsini (terkutuklah mereka yang selalu meributkan hal itu), karena intinya sama saja bukan? Sejauh mana kamu menyayangi dan mencintai orang itu. Setidaknya rela melakukan segala kemungkinan supaya bisa bersama mereka. Walaupun itu harus menelan ego akan “malu” yang sebenarnya tak perlu. Katakanlah selagi masih ada waktu, sebutkanlah selagi masih ada kemungkinan itu. Kalaupun setelah mengatakannya dan tidak mendapatkannya, bagian mananya yang membuat kalian malu? Sejak kapan mengusahakan yang terbaik setulus hati itu memalukan? Karena kita bukanlah mengemis untuk sesuatu yang kita namakan cinta, tetapi mengusahakan yang terbaik sekuat tenaga untuk itu. Bukankah yang seharusnya ada itu malah rasa BANGGA! Bukanlah malu! Tak mendapatkan pun tak mengapa. Toh sudah berusaha. Dan itu satu gugatanku terhadap kalian.
Satu lagi, saya punya beberapa teman wanita yang jujur sedang mencari pasangan juga. Saya tanya kriteria mereka apa? Standar saja teman. Jujur, baik hati, seiman, serta MAPAN! Mapan yah? Apanya yang mapan? Minimal punya gaji yang cukup, punya pekerjaan yang memiliki masa depan, kalau bisa punya kendaraan dan aset lain lebih baik. Ya tidak ada yang salah dengan itu. Wajar saja karena memang untuk berkeluarga itu memerlukan hal yang seperti itu. Untuk memberi makan anak-anaknya nanti, memberikan kenyamanan rumah kepada istri, memberikan kemudahan berkendara kepada mereka pasti. Tidak salah, jujur tidak salah.
Tapi saya ingin bertanya satu hal teman. Kenapa semakin hari semakin banyak kasus perceraian di kota besar? Semakin banyak perpisahan justru diantara hal-hal yang disebut kemapanan. Semakin banyak perpisahan justru terjadi antara pasangan yang hidup didalam rumah-rumah megah, memiliki kendaraan bergaya digarasinya, makananpun sangat mewah tak ada dua. Mengapa mapan itu tidak menjamin kebahagiaan? Apa yang salah? Kenapa dengan harta?
Mungkin kita lupa teman. Lupa akan satu fakta bahwa yang membuat bahagia itu bukanlah suatu kemapanan. Yang menjamin masa depan itu bukanlah nominal harta. Yang membuat dan menjamin hal itu adalah kesungguhan. Kesungguhan untuk menjalin rangkaian kehidupan. Lihatlah bagaimana orang-orang desa. Mereka menikah dengan kesungguhan. Jujur saja mereka tidak mengenal istilah kemapanan. Mereka memang pekerja keras, dari pagi sampai petang giat bekerja membanting tulang. Tapi adakah mapan itu? Rumahnya gubuk, kendaraan tak ada, anak-anakpun sering kali tak tamat sekolah. Tapi apakah engkau sering temui kasus perceraian itu? Nyaris tak ada. Walau rumah itu semakin reot, walau kendaraan itu semakin mendekati seperti mimpi, walau anak-anak semakin banyak menuntut makanan untuknya. Tapi kenapa kasus perceraian itu justru sedikit sekali di tatanan itu? Kenapa? Apa yang membuatnya seperti itu?
Karena mereka sungguh-sungguh teman. Mereka tahu bahwa mereka tidak mampu memberi kemapanan. Tapi mereka sungguh-sungguh merangkai kehidupan. Sungguh-sungguh siap berbagi segala hal, susah maupun senang. Bersungguh-sungguh untuk mencari lembar-lembar rupiah untuk mencukupi makan anggota keluarganya. Walau tahu bahwa lembar rupiah yang mereka dapatkan hanya untuk mendapatkan beberapa kilo beras untuk makan, walau tahu lembar rupiah itu hanya mampu membeli ikan asin untuk seharian, tapi mereka sungguh-sungguh menjalin janji kebahagiaan. Kesungguhan untuk memegang komitmen itu yang dibutuhkan. Bukan rumah megah! Bukan pula kendaraan bergaya! Dan tentunya bukan makanan mewah! Semuanya hambar tanpa ada kesungguhan dalam komitmen. Kesungguhan itu indah bukan? Aku iri akan orang-orang beruntung yang memiliki psangan dengan kriteria seperti itu. Jadi jangan tanyakan bagaimana seharusnya kaum wanita menjawab kriteria pasangannya kepadaku, karena tentunya aku akan menjawab “Jujur, baik hati, seiman, dan memiliki KESUNGGUHAN untuk menjalin kehidupan”. Dan itu gugatan keduaku untuk pemikiran kaum wanita..
Ingatlah bahwa tuhan sendiri mengirimkan janjinya tidak akan pernah membantu suatu kaum yang tak mau berusaha. Mungkin kami kaum pria selalu berusaha dengan perbuatan. Karena kami sangat ahli dalam hal itu (walaupun sangat payah dalam hal berkata-kata yang sejujurnya). Maka kaum wanita juga (dalam versi kebalikannya) seharusnyalah seperti itu bukan? Berusaha pulalah walaupun itu hanya dengan kata-kata. Tidak ada yang harus malu dalam hal itu. Tidak pula harus mengatakan “kemana harga diri kami sebagai wanita kalau mengatakan hal itu?”. Gengsi dan tinggi hati. Jangan pernah mengeluarkan kata-kata “MUNGKIN BUKAN JODOHNYA”. Karena bagiku itu sama saja mendustakan tuhan, pura-pura berkata menyerahkan segala urusan kepada tuhan dengan alasan memuakkan. Bagaimana mungkin tuhan mengatakan jelas-jelas dalam kitab dan haditsnya “TIDAK AKAN MEMBANTU KAUM YANG TAK MAU BERUSAHA” dan kalian para kaum wanita dengan gampangnya bilang “mungkin bukan jodohnya” padahal jelas-jelas kalian tak berusaha? Berkata yang sebenarnya pun malu! Jadi apakah kalian mau mengingkari perkataan tuhan yang sejelas itu? Ironi teman. Sungguh ironi.
Ingatlah harta tidak juga menjamin apa-apa. Ingatlah bahwa kesungguhan lah yang seharusnya dicari. Itulah yang langka. Bagaimana bertahan dalam susah tanpa harta dengan kesungguhan yang ada. Maka carilah hal itu. Tentu kalau bisa mendapatkan keduanya lebih baik, mendapatkan pasangan yang mampu memberikan harta dan kesungguhan jauh lebih baik. Tapi ingatlah, tuhan tidaklah memberikan segala sesuatu yang sesuai dengan yang diharapkan. Kadang hanya satu saja diantara dua pilihan (katakanlah harta atau kesungguhan). Apa mau dikata, terkadang pemikiran tuhan terlalu rumit untuk kita ketahui. Terlalu kompleks jalannya. Tapi yakinlah justru semakin kompleks jalan yang dia berikan maka itu merupakan bukti bahwa tuhan semakin sayang kita, bukankah tuhan akan memberikan ujian untuk mengangkat derajat umatnya? Jadi pilihlah hal itu teman. Utamakan kesungguhan. Bukan kemapanan.
Itu saja gugatan ku untuk kalian kaum wanita, saya tidak menghakimi. Sya tidak juga orang ahli dalam hal ini. Sejujurnya saya cuma mencoba untuk mengingatkan bahwa apa yang kita “pegang” terkadang bukanlah hal yang baik untuk diyakini. Melalui kisah-kisah yang terjadi di zaman jahiliyah . Kisah siti khadijah yang mengungkapkan perasaannya kepada rasul kita, bahkan ada juga kisah tentang siti fatimah (anak rasul kita) yang menikah justru dengan Ali bin abi thalib yang miskin padahal bisa saja menikah dengan yang lebih mapan atau saudagar kaya. Lihatlah kisah sederhana orang-orang desa yang menikah muda, mengerti akan kesungguhan arti menikah dengan cara mereka. Beranak pinak di rumah reot nan sempit tak masalah. Cuma sanggup makan nasi berlauk ikan asin tiap hari pun tak apa. Mereka sungguh-sungguh akan cinta mereka. Itulah yang ingin kali ini aku gugat, tanpa maksud apa-apa tentunya. Jadi jangan pernah malu untuk hal itu, jangan pernah merasa gengsi demi hal itu, sungguh-sungguhlah. Baru engkau bisa mengharap pertolongan dari_Nya, sang maha kuasa diatas sana.
Kalau kita tidak pernah menyerah dengan keadaan hidup, maka jangan pula menyerah untuk hati sendiri. Betul bukan? Fikirkan yang baik. Renungkan. Resapi. Sya memimpikan banyak bermunculan wanita-wanita terpilih, yang tak malu mengatakan kebenaran. Yang tak malu menyatakan perasaan. Niscaya beruntunglah siapapun pria yang mendapatkan wanita seperti itu, mendapatkan berkah tak terhingga. Seperti rasul kita yang menikah dengan siti khadijah. Mengukirkan nasib dan cerita yang kekal sepanjang masa. Coba fikirkan sekali saja akan hal ini, tanyakan apakah anda sendiri pernah seperti itu? Jujurlah. Cuma itu pesanku. Jadilah wanita terpilih. Wanita jujur terhadap hati nurani. Jujur terhadap isi hati. Itu saja teman, tidak kurang. Tidak lebih :)
P.S:
dan apakah kalian (kaum wanita yang membaca ini) pernah seperti itu? Yah cuma kalian yang tahu. Sya seperti biasa hanya beropini, mengumpulkan bukti, menggugah hati nurani.
read more..
Malam ini tepat satu hari aku berada disini. Kembali ke suasana kampung kecil nan jauh di salah satu pojok indonesia ini. Mudik tepatnya. Melepas rindu kepada aroma menyegarkan sang mama tercinta. Membuncahkan jutaan rasa sayang kepada sang papa. Bercengkrama dengan adik satu-satunya. Bercerita yang banyak dengan kakak. Trus bercerita dan bercengkrama. Tidak mau menyiakan setiap detik yang ada disini untuk mereka. Orang-orang yang untuknya rela aku menukar nyawa.
Malam ini pula kami duduk berdua di ruang tengah. Berteman tivi tua dan asap kretek yang dihisap oleh beliau, sang papa tercinta. Kami bercerita. Semuanya. Apa saja yang terjadi di sudut pulau jawa, satu cerita disusul cepat oleh cerita lainnya. Kuceritakan perkembangan pembelajaranku (malu aku karena itu sama saja menceritakan masalah TA dan skripsi ku yang tidak juga memiliki titik jelas untuk terselesaikan dengan segera), ku dongengkan mimpi ku (untuk mengambil kursus bahasa nan asing itu. Memencongkan mulut pribumi ini untuk mengucapkan huruf-huruf asing ditelingaku). Semua demi kemungkinan beasiswa sekolah di benua baru. Membanggakan namanya karena mampu meraih titel lebih dari sekadar S1 saja di pulau jawa. Ku desahkan hasrat besarku untuk mendirikan sekolah dan bengkel itu. Semuanya pondasi akan cita-citaku yang baru. Mendirikan sekolah gratis!!! yah sekolah gratis, sekolah yang didengung-dengungkan dengan indah oleh para politisi keparat itu saat mencari muka “menjual” diri. Sekolah mimpi yang menyesakkan hati orang melarat di negeri ini. Sekolah mimpi yang benar-benar dinanti.
Aku berdongeng malam itu, bercerita, menganalogikan dengan kata-kata, mengeluarkan perbendaharaan kata intelek yang aku dapatkan dari jawa sana. Merasa hebat untuk menceritakan apa saja yang telah kuperbuat disana. Berapa rupiah yang telah aku dapat. Bangga menunjukkan bahwa anakmu ini papa, anakmu ini yang dulu suka dengan seenaknya memeluk punggungmu saat engkau sujud menghadapNya. Anakmu yang nakal alang kepalang sehingga seingatku sendiri nyaris tiga kali celaka hampir memecahkan batok kepalanya. Anakmu yang suka pergi bermain dan lupa jam pulang seharusnya. Membuat engkau marah-marah semalaman karenanya. Dan mengalirlah semua rasa itu, Bangga! Merasa hebat! Sumringah! Buncah semuanya malam itu dan kuceritakan berbait-bait kepadanya.
Beliau mendengarkan. Sekali-sekali menghisap kreteknya. Mengusap keringatnya (yah global warming kawan, tengah malam pun terasa panas dipojok desa ini). Sunyi mendengarkan ditemani suara jangkrik diluar sana yang sahut menyahut menimpali. Sampai mulutku berhenti menceritakan pun dia masih diam. Dan malam itu adalah satu malam yang seumur hidup akan aku ingat. Malam dimana beliau yang tidak pernah mengecap pendidikan lebih membuatku tertegun dengan kosa kata sederhananya. Malam dimana beliau yang aku tahu sudah menjejak hampir seluruh pelosok negeri ini menceritakan kesederhanaan apa yang beliau inginkan. Pengharapan tulus dari seorang papa yang mati-matian menyayangi anaknya dengan caranya. Pelajaran akan kesederhanaan arti dukungan seorang papa kepada anaknya. Inilah satu cerita yang aku tulis untukmu, hormatku, kebanggaanku kuserahkan kepadamu.
Pelan saja dia menghembuskan asap kreteknya. Bergulung mengepul dan menghilang. Menimpali dengan suara baritonnya. Mengungkapkan pandangannya. Pengharapannya. Keinginan sederhananya. Banyak hal yang dia ceritakan. Tapi aku hanya akan mengutip beberapa saja disini. Kata-kata yang sampai mati akan membekas di hati ini.
“.........................
“kau tahu abang? Kau tahu dari dulu pun sama sekali tidak pernah orang tua mu ini memaksa engkau cepat lulus. Tidak pula aku mengharap engkau lulus dengan angka selangit. Orang tua mu ini hanya meminta engkau lulus. Bukan waktunya yang kami tuntut, bukan nilainya pula yang harus termaktub di selembar surat yang menyatakan engkau lulus. Kami cuma ingin engkau lulus. Ingat engkau bagaimana kakakmu dulu? 5Tahun.. 5 tahun hanya untuk keluar dari FKIP bahasa inggris dulu. Nilainya pun biasa saja, tidaklah bisa dibilang bagus tapi juga tidak bisa dibilang jelek. Cukuplah untuk menjadi guru seperti mamamu. PNS seperti sekarang yang engkau lihat di smk tengah kota bengkulu.”
“kau ingat kakak keduamu? 5,5 tahun untuk lulus farmasi di jawa sana. Tambah setahun lagi untuk ijazah meracik obatnya. Apa pernah papamu ini menuntut nilai dan waktu cepat? Tidak bukan? Jadi usahlah engkau merasa malu dengan waktu yang agak lama, apalagi engkau teknik. Wajarlah. Tidak pernah kami marah atau malu cuma karena waktu saja. Pokoknya engkau harus lulus! Punya ijazah! Ijazah yang papa dan mamamu ini tidak punya.”
“Ijazah itu penting abang! Penting karena sekarang semuanya menuntut selembar kertas itu. Untuk PNS lah, naik pangkat lah, untuk gaji lah. Macam-macam rupanya. Papamu ini tidak ingin engkau menjadi seperti kami orang tuamu ini, susah naik pangkat menambah gaji untuk kalian anak-anak kami. Gara-gara apa? Ijazah itu biangnya. Itu menjadi syarat didunia kerja sekarang. Penting kali urusan ijazah ini aku ingin engkau tahu sekarang ijazah itu bisa dibeli dengan mudah. Banyak sarjana diluar sana. Keluar masuk kantor membawa ijazah berlembar-lembar, tapi apa bisa kerja? Karbitan semuanya. Bahkan ada yang membeli ijazahnya. Tidak becus bekerja. Jadi kalau engkau ingin tahu kenapa papamu ini tidak pernah kalah oleh sarjana baru di kantor sana, jawabnya ya itu. Pegawai baru itu bahkan bingung mengonsep surat. Bah lagak saja tamatan jawa, cumlaude pula. Tapi surat saja tak becus. Kalah oleh papamu ini yang tamatan STM atau tamatan SPG seperti mamamu. Papa tidak mau engkau menjadi macam itu. Secepatnya ingin lulus, mengutamakan nilai besar tapi tak mampu bekerja. Karbitan! Mati engkau didunia kerja kalau begitu. Tidak pernah aku tuntut engkau harus lulus dengan nilai super baik, dan kecepatan waktu sekejap saja. Luluslah engkau dengan kesanggupan, kemampuan, keberanian kerja. Cukuplah itu bagiku, menenangkan hati dan jiwa tuaku dengan keyakinan engkau bisa hidup didunia keras diluar sana. Dengan kemampuanmu dengan ijazahmu. Jangan hanya punya ijazah saja walau bagaimanapun pentingnya itu.”
“Papamu ini tidak pernah melarangmu bekerja memeras keringat demi lembar rupiah, asal itu bisa kau tahan dan tidak merugikan maka lakukanlah. Satu saja mauku, jangan sampai itu menghambat kuliahmu. Usah kau pikirkan darimana uang yang kami dapat untuk kuliahmu. Itu bukan pula urusanmu! Semuanya halal walau untuk mendapatkannya kalau perlu kugadaikan seluruh tanah kepunyaan kita untuk membiayai kalian. Anak-anak kami. Jadi janganlah dulu engkau bekerja, takut kali nanti menggangu kuliahmu. Soal mencari uang, serahkan kepada kami. Luluslah dulu setelah itu bebas pula engkau mau kerja dimana, di eropa sana kalau perlu, atau mau berkeluarga? Sebutkan calonnya dan kami lamar secepatnya. Prioritaskan lulusmu, walau itu pelan tapi tetaplah maju. Jangan tersendat oleh apapun aktivitas lain milikmu. Apalagi bekerja. Bukan abang, bukan papamu ini melarang engkau berkeringat mencari uang. Kalaupun engkau masih mau melakukan itu, ingat pesanku. Jangan mengganggu perkuliahanmu. Camkan itu!”
“Beasiswa yah? Ah tak apalah engkau kejar itu. Tapi kejarlah itu benar-benar. Lakukan tanpa mengganggu perkuliahanmu. Luluslah dahulu baru kalau perlu kau kerja sana. Baru kuliah mencari titel baru. Kau ingat bapak anu? Gelarnya berbaris macam tentara. S.H, S.Sos, M,sc, plus tambahan Drs H. didepannya. Tapi apa engkau tahu bagaimana dia mendapatkannya? Dengan kesungguhan! Lulus kemudian kerjalah dia. Membayar biaya dengan keringatnya, masuk ekstensi atau kelas khusus tidak masalah. Kalau engkau memang merasa mau mengejar itu maka selesaikan S1 mu dengan baik terlebih dahulu, kejarlah titel-titel berikutmu dengan sebaik-baiknya. Banggalah dengan titel tersebut nantinya. Jangan pula nanti engkau sudah merasa pandai terus lupa ingatan. Sudah merasa paling jago dengan gelar berbaris-baris. Jadilah orang pandai dengan sesungguhnya, jadi orang pandai nan berguna untuk semua orang”
“Kau mau bikin bengkel? Kau mau bikin sekolah? Kau mau jadi orang dengan beberapa titel di depan dan belakang nama? Tidak masalah. Papa dukung itu dengan semua tenaga tua ini yang tersisa. Ingin nian papamu melihat hal itu. Bengkel besar itu. Sekolah dimana engkau menjadi pimpinannya. Disegani oleh semuanya. Kalau masih kuatpun papa mau naik motor modif buatanmu. Gagah kali kelihatannya pasti. Keliling kota dengan mamamu. Tapi ingat pintaku cuma itu, seriuslah engkau mengejar semuanya. Mampu sebenar-benarnya. Tak mau aku membanggakan anak yang tak becus kerja, parasit di tempat perusahaannya. Tidak serius mengejar mimpinya. Mimpi tinggi tapi malah mati tanpa usaha berarti. Seriuslah abang, mampu dengan sebenarnya. Ingatlah itu, pesan dari papamu”
“.........................
Ringan saja beliau mengucapkan semua itu. Bahasa sederhana. Bahasa dari orang yang seumur hidupnya lebih banyak diam tanpa komentar. Memuntahkan semua kata itu hanya dengan menghabiskan satu batang rokok kreteknya itupun sambil menonton tivi pula. Tapi aku tertohok oleh kenyataan itu. Membuatku malu, ya malu karena mencoba membanggakan sedikit rupiah yang bisa aku dapatkan dibandingkan dengan kenyataan bahwa beliau membanting tulang untuk membiayai kami anak-anaknya, dan apa beliau membanggakannya? Ringan saja beliau berkata seakan itu selingan saja. Tidak perlu menampakkan raut muka serius seakan itu hanya sekadar angin lalu saja. Dan aku? Baru bisa segini saja sudah pongah seakan hebat semuanya. Dengan kesederhanaannya beliau menyadarkan aku. Betapa beliau bertanggung jawab dengan caranya dan tidak merasa perlu menjelaskan bagaimana itu (walau mungkin harus mengubah fungsi kaki ke kepala dan sebaliknya). Mengajarkan bagaimana untuk tidaklah harus membesarkan dan membanggakan berlebihan berbagai hal sehebat apapun itu. Karena itulah fungsi seorang papa. Fungsi seorang papa kepada anak-anaknya.
Detik itu pula aku tertegun oleh suatu kenyataan yang mengajarkan bahwa perkataan lebih baik digantikan dengan perbuatan yang tidak terkira. Beliau tidak canggih mengungkapkan kata-kata. Tapi dengan kata sederhana saja mampu membuatku kehilangan kemampuan berbicara, kagum dan hormat kepadanya. Beliau tidak pula jago membelai seperti mama. Mencurahkan kasih sayang dengan menina bobokan. Memanjakan. Beliau “membelai” dengan cara yang sedikit berbeda. Beliau “membelai” dengan tanggung jawabnya. Aku selaku anak seakan buta dengan suatu fakta bahwa beliau benar-benar mati-matian bekerja demi kami keluarganya. Sebesar itukah tanggung jawab seorang ayah ya tuhan? Memang papaku itu tidak lah bisa seperti papa layaknya sinetron yang sangat memanjakan dengan kata-kata dan pelukan. Tapi dia memanjakan dengan tanggung jawabnya mencari nafkah. Mencoba mengerti seluruh perkataan anak-anaknya dengan perbuatan dan pikirannya yang sederhana. Dan lagi-lagi itulah kewajiban papa. Kewajiban papa ayah kepada anak-anaknya.
Itukah sosok seorang papa? Sosok yang sering kali diidentikkan dengan keras, galak, suka marah-marah pula. Tapi kerap kali dilupakan sebagai sosok teduh yang melindungi seluruh anggota keluarganya, sosok yang siang malam membanting tulang akan tanggung jawabnya. Sosok yang bagaikan hanya berperan di belakang panggung saja, tersamarkan oleh keberadaan lain yang selalu ada dan siap memberikan perhatian kapanpun dan dimanapun. Kita selaku anak malah sering kali berkilah, lah ntu kan tanggung jawab papa untuk itu? Tanggung jawab untuk mencari nafkah. untuk memberi kami anak-anaknya uang dan hidup yang layak adanya. Bah absurd! Absurd karena bisa sepicik itu berfikir sebegitu gampangkah seorang papa mengorbankan ego (bahkan harga dirinya) cuma untuk anak-anaknya? Cuma untuk beberapa lembar rupiah sehingga anaknya tidak lagi merengek nangis meminta hadiah. Kalau seorang mama mendapatkan penghormatan tinggi akan kemampuannya berkorban waktu dan mempertaruhkan nyawa untuk merawat anaknya. Maka bukankah seorang papa berhak pula mendapat penghormatan yang sama akan kemampuannya merendahkan harga diri dan mempertaruhkan nyawa untuk lembar rupiah bagi keluarganya. Apa kita ingat itu? Sadar itu?
Malam itu aku mendapatkan pelajaran langsung dari ahlinya. Masternya. Pelajaran tentang bagaimana seorang papa bertanggung jawab. Pelajaran tentang kesederhanaan pengharapan seorang papa. Pelajaran tentang perhatian tulus yang bukan tercurah melalui kata tapi melalui perbuatan adanya. Dan yang terutama mengenai kesungguhan. Dulu aku sering merasa bahwa seorang papa itu paling susah mengerti kemauan anaknya. Dan ternyata itu benar, seorang papa seringkali kesulitan menebak apa mau anaknya. Tidak pandai pula mengorek hal tersebut dari anaknya langsung. Tapi mereka menggantinya dengan tanggung jawab untuk mengakomodir kemauan anaknya tersebut. Berkata dengan perbuatan seakan berkata, “mau apa engkau nak? Kuliah di seberang sana? Punya ini itu? Bergaya dengan pakaian baru? Maka mati-matian aku akan mencari uang untuk itu. Usah kau risaukan itu, pasti akan terbeli semuanya. Tak sampai hati aku tega melihatmu merengek akan hakmu. Aku dukung dengan semua kemampuanku. Kemampuan dari segenap darah dan dagingku.” dan untuk itu seharusnya aku sadar diri, tahu diri dan sepantasnya berterima kasih untuk pengorbanan seperti itu.
Yah itulah yang seringkali kita selaku anak lupakan dari sosok papa. Sosok yang sebenarnya menyadari kelemahannya untuk berkata-kata namun mengganti dengan kelebihan perbuatannya. Tulus apa adanya. Sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab menafkahi walau itu menderakkan tulang-tulang saking beratnya. Terima kasih pa. Beribu tulisan atau ucapan pun tak mampu mengungkapkan rasa terima kasih ini kepadamu. Jujur sekarang aku masih harus belajar banyak untuk ini. Belajar untuk menjadi seorang papa. Seorang sosok yang bertanggung jawab taerhadap anak-anaknya. Karena aku akan berkeluarga. Bisa saja 30-40 tahun lagi peristiwa ini terulang lagi. Saat itu aku sudah tua, tengah malam seperti sekarang dan anakku bercerita banyak hal. Maka aku akan menceritakan ulang pelajaran malam itu yang aku terima. Yaaaaah, suatu saat nanti. Suatu malam nanti. Terima kasih pa.. sungguh sekarang aku tidak perlu gengsi ataupun malu malu untuk berbicara bahwa sungguh aku mencintai papaku. Sosok yang selalu menjagaku. Dari dulu sampai habis nafasnya nanti. Terima kasih pa, sekali lagi terima kasih........
P.S:
apakah kamu selaku anak sadar hal itu? Sadarkah akan peranan seorang papa? Seorang ayah? Fikirkan apakah selain kasih sayang sang ibunda yang berperan maka apa lagi yang membesarkanmu? Coba fikirkan sekali-sekali tentang ini dan berterimakasihlah setulus hati
Duhai hati. Aku bertanya kepadamu yang sedang bersedih. Bersedih akan kehilangan. Kehilangan dirinya. Yah aku tahu fakta yang membuat air mata itu menggenang di pelupuk matamu. Aku disini bukanlah untuk mengukur dan menebak seberapa dalam kesedihanmu. Sungguh aku tidaklah mampu mengukur itu. Seberapa hebatnya aku dalam ilmu ukur sekalipun aku tetaplah tidak mampu. Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu kepadamu. Tentang suatu hal yang dinamakan siklus. Perputaran kehidupan. Dua sisi yang berlawananan. Sama seperti gelap melawan terang. Maka sisi-sisi itu akanlah selalu ada. Berulang-ulang terjadi silih berganti. Maka izinkanlah untuk kali ini aku sedikit bercerita. Bercerita untuk mu. Bercerita tentang datang dan pergi.
Tahukah kamu bahwa suka atau tidak, cepat atau lambat, maka kita selalu mendapatkan kebalikan dari apa yang kita punya. Semua hal dalam hidup yang singkat ini hanyalah berdasarkan hukum itu. Cantik dan buruk rupa. Kaya dan miskin harta. Pandai dan bebal otaknya. Hukum itulah yang selalu didengungkan oleh berbagai pujangga dari zaman lama. Aku tahu ini lagu tua, seringkali kau dengar pula. Tapi apakah kau sadar wahai hati? Bahwa itu juga terjadi untuk pergi dan terganti kedatangan baru lagi. Kita sering kali (atau malah selalu) bersedih karena kehilangan dan kepergian. Yah aku tahu itu, sangat paham malah. Bukankah selalu menyakitkan kehilangan orang yang telah datang dan memberi warna dalam hidup ini. Selalu mengiris saat tahu bahwa tiba-tiba mereka telah pergi. Terkadang malah tanpa alasan sama sekali. Laksana penyulap yang tiba-tiba mengeluarkan merpati dari saputangannya. Begitu pula kepergian itu, terjadi begitu saja layaknya sulap biasa. Tapi aku mau engkau mengingat wahai hati, ingatlah satu hal dari pertanyaan ku ini. Saat sesuatu itu datang dan berada di genggaman, apakah itu datang dengan suatu alasan? Orang cerdik pandai sering membantah dan menjawab dengan pongahnya, “iya saya dapatkan itu dengan usaha dan tenaga. Jadi wajarlah pula sesuatu itu datang kepadaku!”
Tapi lupakah kita bahwa adakalanya kita mendapatkan suatu hal tanpa alasan sama sekali. Ambil contoh dalam hal jatuh cinta. Iya cinta yang berbait-bait ditembangkan, ditulis dalam manuskrip-manuskrip tua, menciptakan pujangga-pujangga abadi sepangjang massa. Apakah cinta itu datang dengan alasan? Mungkin engkau ingin meniru kata-kata orang yang mengatakan, iya aku cinta dia karena fisiknya yang menarik. Atau karena kepandaiannya. Atau pula malah karena kebaikannya. Tapi apakah engkau lupa satu hal? Apakah hatimu benar-benar bisa mendeskripsikan kenapa engkau jatuh cinta dengannya? Sadarkah engkau, bahwa terlepas dari kebaikan, kepandaian, fisiknya maka engkau merasa jatuh cinta kepadanya karena sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti. Tiba-tiba saja kok bisa engkau tersipu malu hanya dengan mengingat namanya? Bagaimana bisa engkau memangkukan tangan terpana hanya karena melihat sosoknya dari kejauhan saja? Bagaimana bisa engkau sumringah, buncah oleh perasaan bahagia hanya karena satu dua katanya dalam pesan singkat yang baru saja engkau terima darinya? Apakah engkau sungguh mengerti kenapa engkau bisa bertingkah ganjil seperti itu?
Aku yakin seyakin-yakinnya. Bahwa engkau tidak tahu alasan itu. Yang engkau tahu hanyalah bahwa engkau sedang jatuh cinta. Tanpa alasan tiba-tiba saja datang hinggap dan membelit erat sebegitu kuatnya. Tidak percaya? Duhai hati lihat lah baik-baik ke zaman-zaman dibelakangmu. Apakah engkau bisa menghitung berapa juta arti, berapa juta larik puisi, berapa juta catatan torehan hati yang menyangkut akan jatuh cinta dari berbagai filsuf, pujangga, ilmuwan, raja, sufi bahkan orang miskin hina sekalipun. Semuanya mendeskripsikan kenapa jatuh cinta dengan bahasanya sendiri-sendiri dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Karena semua orang tidak pernah tahu alasan jatuh cinta. Mereka hanya tahu dan menikmati kedatangannya. Tidak lebih. Tidak kurang.
Nah satu hal yang harus engkau ingat adalah satu fakta bahwa kedatangan jatuh cinta itu akan dipisahkan oleh kepergian. Dan sebagaimana hal yang terjadi dengan kedatangan jatuh cinta. Maka alasan kepergiannya pun tidak dimengerti. Ah, disini aku tidak mau berdebat tentang apa alasan kepergian itu (toh bisa saja karena sakit, khianat murah karena tergoda “barang” lain yang lebih terlihat mulus rupa, atau malah karena kesepakatan tertentu..seribu satu alasan ada untuk itu). Aku hanya ingin engkau mencoba ingat lagi. Ingat bahwa datang itu pasti disusul oleh pergi (dan pergipun akan disusul lagi oleh datang yang baru lagu). Sama sederhananya seperti bayi yang pastinya akan berubah menjadi dewasa dan mati (bahkan manusia pun datang dan akhirnya pergi bukan?). Ingatlah satu hal bahwa, HAL ITU TIDAKLAH TERELAKKAN. Pasti terjadi! Pasti menghantam diri. Dan sungguh, sungguh aku tidak mau berdebat akan alasan itu terjadi. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa, sebagaimana kita menikmati suatu kedatangan (mempestakannya malah) maka nikmati pula kepergian. Nikmatilah dengan cara yang sama tapi sedikit berbeda seperti kedatangan. Satu cara yang diajarkan oleh pak haji di televisi, ikhlas saja itulah kuncinya.
Ingatlah bahwa engkau selalu ikhlas akan kedatangan sesuatu yang baik bukan? Entahlah apakah itu kedatangan nasib baik, kedatangan harta, atau kedatangan orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan bersuka ria. Maka ingatlah bahwa engkau pun harus ikhlas akan kepergian. Entahlah apakah itu kepergian nasib buruk, kepergian harta, atau kepergian orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan sedikit berbeda dengan kedatangan, maka engkau tidaklah bersuka ria, tetapi mafhum dan menyadari bahwa waktu kepergian memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian dan melepas. Melepas sesuatu yang memang bukan milik kita (karena bukankah faktanya semua hanya titipan_Nya? Jadi bagaimana pula kita bisa mengeluh untuk semua hal yang jelas-jelas bukan milik kita?).
Aku ingin engkau percaya bahwa hal itu sesederhana ini. S-E-D-E-R-H-A-N-A. Hati kitalah yang memperumitnya. Memperumit dengan suatu bantahan yang selalu keluar, bantahan yang intinya menyangkal bahwa kepergian itu terjadi. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa yang salah? Sungguh duhai hati. Tidak ada alasan lebih. Tidak ada pula ada yang salah. Sesungguhnya semua terjadi karena memang sudah waktunya. Memang waktunya bahwa pergi itu akan datang. Maka bersyukurlah, berdoalah, mintalah kekuatan dari_Nya dan relakanlah. Karena waktunya memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian itu datang memangku jiwa.
Maka percayalah wahai hati yang bersedih. Yakinlah duhai hati yang sering merasa sendiri. Relakanlah oh hati yang jerih untuk bercinta lagi. Bahwa siklus itu selalu terjadi, berkebalikan. Dua sisi yang selalu berlawanan tapi pasti terjadi. Ingatlah bahwa hal itulah yang sesungguhnya menempa kita. Mengajarkan kepada kita arti untuk memperbaiki diri, mengajarkan kita kepada arti untuk selalu meresapi moment-moment yang terjadi, menikmati tiap detiknya, dan tidak menyia-nyiakannya. Karena cepat ataupun lambat maka itu akan terjadi. Terus berputar seperti roda pedati. Pesanku hanya satu wahai hati kecil yang sedang bersedih, saat sesuatu itu datang maka nikmatilah sebenar-benarnya. Syukuri semuanya. Karena engkau harus tahu bahwa sesuatu itu akan pergi juga akhirnya. Dan saat pergi itu datang wahai hati kecil yang sedang bersedih, maka relakanlah hal itu. Sunggingkan senyum dan yakinlah bahwa kepergian itu nanti akan digantikan oleh_Nya dengan suatu kedatangan kembali. Kedatangan yang jauh lebh indah dari awalnya. Jauh lebih berarti dari awal mula. Karena bukankah siklus itu selalu terulang. Beratus-ratus kali sampai kita tua dan mati. Jadi percayalah. Yakinlah. Tersenyumlah.
Yakinlah pula bahwa tuhan selalu tersenyum dengan caranya kepada kita. Mempersiapkan segala yang kita butuhkan dengan misteriusnya jalanNya. Jadi sekali-sekali wahai hati berhentilah bertanya, terimalah dengan lapang dada. Bersiaplah untuk rencana baru yang dipersiapkan oleh_Nya. Karena aku yakin, bahwa Dia tidak akan mempersiapkan hal yang buruk untuk makhlukNya, semuanya indah walau kita tidaklah tahu jelas jalan pikiranNya. Berhentilah bersedih. Semoga tulisan sederhana ini membuatmu bersemangat kembali. Sampai tua dan akhirnya juga “pergi”.Hanya inilah tulisan untuk mu wahai hati kecil, smoga bisa menebus keterbatasanku selama ini. Kelalaianku karena tida k bisa sering bersamamu. Izinkan untuk sementara tulisan ini menghiburmu. Sampai aku benar-benar bisa datang untukmu. Nanti saat takdir akan kedatanganku kembali dan ingat, ingatlah bahwa engkau sama sekali tidaklah sendiri. Sampai nanti wahai hati, sampai kita berjumpa kembali.
read more..
Akhirnya, sang saudagar (seperti kebanyakan para pecinta lainnya) bertindak nekat dan memutuskan untuk menghadap sang ratu. Tanpa memikirkan resiko apapun yang bisa saja menimpanya (bagaimana pula sang saudagar sanggup mengingat dan memikirkan resiko, pada saat segenap jiwa dan akal pikirannya hanya terikat oleh bayang-bayang sang ratu?). Dengan membawa hampir keseluruhan harta benda yang dimilikinya, menyiapkan puisi-puisi terbaik yang mampu dibuatnya sang saudagar pun berangkat untuk menghadap sang ratu di istana megah miliknya dengan satu pikiran “akan kupersembahkan segalanya kepada sang ratu, semoga saja aku terpilih untuk menjadi kekasih hatinya”. Sungguh cinta itu benar-benar buta dan membutakan orang-orang yang terkena sihirnya.
Setelah menempuh berbagai birokrasi kerajaan, melewati berpuluh-puluh pemeriksaan penjaga yang melelahkan. Maka sang saudagar pun diperintahkan untuk masuk ke suatu ruangan. Megah, luas, dipenuhi hiasan, dan ditumbuhi oleh bunga-bunga nan cantik rupawan. ruangan itu indah tak terperikan. Terkagum-kagum sang saudagar melangkah keruangan tersebut, sibuk berfikir “duhai, kemanakah sang kekasih hatiku berada?”. Sang saudagar akhirnya menemukan sang ratu di tengah ruangan tersebut. Duduk masygul di singgasananya diapit oleh dua penjaga. Demi melihat sang ratu, maka sempurna pula sang saudagar langsung bersimpuh terduduk. Terkulai lemas tak berdaya menghadapi pesona sang ratu. Kemudian mengeluarkan beberapa patah kata dari mulutnya “sang ratu, inilah hamba. Seorang saudagar dari tanah seberang. Membawa seluruh hartanya, seluruh jiwa dan raganya untuk mempersembahkan cintanya kepada engkau sang ratu”.
Tertegun sang ratu balqis mendengar kata-kata tersebut, dan akhirnya bersuara. Suara lembut yang menenangkan, semakin membuat sang saudagar jatuh cinta kepada sang ratu “telah beratus-ratus pria yang datang kepadaku menyatakan cintanya. Siap memberikan segalanya sampai akhirnya bahkan tidak mempedulikan dirinya. Wahai saudagar, untuk sekali ini saja aku memerintahkan kepada mu. Pulanglah! Cintailah perempuan lain dan jangan sampai engkau menyia-nyiakan dirimu untukku”. Seusai berkata begitu, kedua penjaga sang ratu bergerak kearah sang saudagar dan menyeret paksa sang saudagar. Meninggalkan ruangan. Meninggalkan kerajaan sang ratu pujaan.
Berpuluh-puluh hari setelah kejadian itu. Sang saudagar tetap memuja sang ratu. Makanan mewah, minuman yang lezat, dayang-dayang yang jelita bahkan tidak mampu mengembalikan keceriaan sang saudagar. Ya, sang saudagar sejak hari itu terpuruk dalam cintanya. Menangis akan kemalangan nasibnya. Tapi memutuskan untuk tetap mencinta sang ratu. Keesokannya datanglah seorang wanita menemui sang saudagar. Berpakaian rombeng, berbau busuk, mukanya dipenuhi oleh jelaga hitam. Hina rupanya tetapi datang dengan membawa sepucuk surat dari kerajaan, bertuliskan tangan sang ratu lengkap dengan cap kerajaan
Isi surat tersebut bertuliskan “saudagar, apabila engkau benar-benar mencintaiku. Maka aku yakin engkau akan mematuhi apapun yang akan aku perintahkan. Perintahku cuma satu. Bawalah wanita ini keperaduanmu. Nikahi dia dengan baik. Dan perlakukan dia seakan-akan kamu meperlakukan diriku sendiri”.
Demi melihat isi surat tersebut. Sang saudagar tertegun, tak percaya dengan isi surat tersebut dan berujar dengan geramnya “ini bukanlah kehendak sang ratu, aku yakin ini hanyalah taktiknya untuk menguji diriku. Untuk melihat kesetiaanku. Untuk melihat apakah aku mampu meperlakukan wanita lain sama halnya dengan dia sang kekasih hatiku. Tidak! Aku tidak akan termakan taktik tersebut. Akan aku tunggu dan aku jaga semuanya. Kupersembahkan hanya untuk dia!”. Geram sang saudagar mendekat ke sang wanita yang hina rupanya, menjulurkan kedua tangannya hendak mendorong sang wanita sambil berujar keras “Pergi! Aku hanya mencintai sang ratu! Tidak ada ruang bagi wanita lain! Apalagi wanita yang hina seperti mu!!!”.
Sebelum tangan sang saudagar menyentuh sang wanita, muncullah dua orang penjaga, menelikung kedua tangan sang saudagar. Dan sang wanitapun mengusap mukanya, membersihkan jelaga hitam yang menempel, dan terlihatlah rupa aslinya. Ternyata sang wanita adalah sang ratu itu sendiri! Pelan sang ratu berujar, “saudagar..sekian ratus laki-laki telah datang menghadapku..menyatakan cintanya yang mereka katakan tulus hanya untukku..tau kah engkau kenapa semuanya tidak aku terima?karena mereka semua mencintai aku untuk keegosian mereka sendiri, bukan untukku. Apabila engkau benar-benar mencintai dan rela mempersembahkan segalanya untukku. Bukankah seharusnya engkau menikahi dan mematuhi surat itu?sayangnya engkau malah egois, mengatas namakan cinta untuk mendapatkan kesenanganmu sendiri. Selamat tinggal saudagar, maaf..ternyata kaupun harus aku tolak!”.
Maka pergilah sang ratu diiringi penjaganya. Meninggalkan sang saudagar yang tidak percaya. Menyesali kebodohannya. Menangis terisak karena tahu bahwa kesempatan itu hilang sudah dari pandangan.
Teman, cerita itu hanyalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan akan banyak hal. Kisah ini bahkan terjadi pada iblis kepada tuhan. Tuhan memerintahkan sang iblis untuk bersujud kepada sang adam, tetapi iblis dengan egoisnya berkata “hamba hanya bersujud kepadamu ya tuhan, bukan kepada adam”. Dan terusirlah iblis dari surga, menyatakan perang kepada adam sampai akhir masa. Disini kita melihat hal yang sama, logika yang sama, peristiwa yang sama. Bahkan dalam kehidupan sendiri seing kita lihat. Berapa banyak anak yang mengaku mencintai orangtuanya tetapi melakukan hal-hal yang mementingkan kesenangannya sendiri padahal sang orang tua tersakiti. Berapa banyak pasangan yang mengaku mencintai pasangannya tapi bertindak kasar dan memukul pasangannya sendiri.
Kesamaannya apa?keegoisan. Satu logika yang jelas terlihat ialah, apabila kita benar-benar mencintai dan rela berkorban semua hal. Maka kenapa kita tidak bsa mengorbankan diri kita sendiri untuk hal yang kita cintai? Saat kita mengatakan mencintai tuhan tapi kenapa saat kita diminta mengorbankan diri kita sendiri tetapi kita tidak mau? bahkan nabi ibrahim pun mampu untuk mengorbankan anaknya. Sedangkan kita bahkan untuk berzakat saja terasa berat dan tak mampu. Atau hanya untuk sholat saja terasa berat untuk terbangun dikala subuh. Saat banyak orang mengatakan bahwa mereka cinta untuk mengajar dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi kenapa orang-orang tersebut tidak mau terjun langsung kepedalaman daerah? Malah sibuk mencari selah mengajar dikota, sibuk mempertimbangkan materi dan ingin mencari mudahnya saja. Manusiawi untuk mempertimbangkan semuanya demi kenyamanan pribadi, tidak ada yang menyalahkan walaupun cinta ataupun pengorbanan itu menjadi tidak murni manakala kita tidak mampu mengorbankan diri kita sendiri, karena cinta ataupun pengorbanan itu malah berarti sesungguhnya saat kita mengorbankan diri kita sendiri.. kesenangan kita sendiri. Bahkan mengorbankan ego kita sendiri.
Saat kita mencintai sesuatu, ntah itu hal-hal ataupun makhluk tertentu. Maka saat kita mencintai sesuatu tetapi tidak bsa mengorbankan diri sendiri maka alasan sebenarnya kita mencintai hal tersebut ialah untuk ego sendiri, bukan memang krn cinta itu sendiri. Ada orang yang terperangkap dan mengaku mencintai pasangannya tetapi tidak bsa “mengorbankan” dirinya sendiri, suka memukul pasangannya, tidak bsa memperlakukan dia dengan semestinya. Maka bsa dibilang kalau cinta tersebut tidaklah ikhlas. Tidaklah tulus untuk mencintainya. Ada juga yang mengaku mencintai tuhannya, tetapi melaksanakan apapun yang diperintah_Nya sangatlah susah dan cenderung membangkang adanya. Menyumbang receh pun menjadi perkara yang susah baginya. Maka bagaimana bisa bilang cinta kepada_Nya sedangkan mengorbankan sedikit hartanya saja (sama saja dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri, walau nyata-nyatanya semua juga titipan dari_Nya..) terasa begitu susah. Pantaskah orang-orang seperti itu mengatakan cinta?
Maka sekali saja teman, tolong fikirkan hal ini. Fikirkan apa saja yang kamu nyatakan sebagai hal yang kamu cintai, dan ajukan pertanyaan kepada diri sendiri “sanggupkah kamu untuk mengorbankan, harta, waktu, ego, kesenangan, bahkan diri sendiri untuk hal-hal atau orang yang kalian cintai tersebut?”. Karena apabila teman sanggup mengorbankan semua itu, maka hal itu telah menunjukkan kualitas cinta dari teman-teman sendiri. Kualitas cinta dari apa yang sering teman banggakan, teman-teman sering nyatakan kepada semua orang. Sungguh saya sendiri pun masih harus belajar banyak untuk mencapai taraf seperti itu, taraf dimana mampu ikhlas, tidak berfikir untung lebih, mampu mengorbankan segala hal, demi hal-hal atau orang-orang yang saya cintai..
Salam,
-median-
P.S :
Cerita ini diambil dari berbagai sumber dan tertulis untuk saya dedikasikan kepada para guru yang mengajar di pedalaman daerah. Dengan gaji yang tidak seberapa. Dengan fasilitas yang sangat minim Rute yang sangat sulit dilewati bahkan bertaruh nyawa hanya demi satu tujuan, Demi cinta mereka kepada murid-murid mereka yang mau belajar. Cerita inipun saya dedikasikan juga kepada para petugas pemadam kebakaran atau sukarelawan bencana alam. Yang sama saja memiliki gaji minim, fasilitas seadanya, bahkan bertaruh nyawa untuk bahkan hanya menyelamatkan mayat saja. Dan mereka melakukannya hanya karena satu hal. Demi cinta mereka kepada sesama. Mati maupun hidup. Dan kepada semua orang yang telah mampu melakukan hal seperti itu. Sungguh kalian adalah orang-orang terpilih untuk itu.
read more..
