Tampilkan postingan dengan label notes ringan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label notes ringan. Tampilkan semua postingan

dan aku bertanya akan alasan dan arti kehidupan....

0

Posted by median | Posted in

Aku bingung dengan pertanyaan yang menyangkut dengan alasan dan arti hidup ini. Alasan apa aku hidup? Terlahirkan kedunia, kecil, tumbuh berkembang, dewasa dan malah sekarang meringkuk bermasalah di pojok kamar. Alasan apa aku melakukan sesuatu dalam hidup? Berbuat baik memberikan uang receh pada nenek pengemis didepan pertokoan itu. Atau malah berbuat jahat memukul bapak-bapak sok jago dikompleks rumah sana. Alasan apa pula yang membuat aku bertahan dalam hidup? Memutuskan untuk tetap menghirup udara dan bukannya melakukan beragam hal untuk menghabisi nyawa nan ringkih ini.

Yah alasan. Semuanya memiliki alasan. Demi arti hidup nan sebentar ini. Tapi apa? Bagaimana aku tahu itu alasan yang paling benar sehingga akhirnya aku bisa bangga berkata aku memiliki arti. Semua yang aku lakukan. Semua yang aku bicarakan. Untuk apa? Apa alasannya? Dan pertanyaan alasan dan arti itu malam ini begitu menyiksa. Berubah tajam. Menusuk hati, pikiran, mengiris logika yang ada dan tersisa.

DAMN, kepala seakan mau pecah. Belum lagi semua masalah yang ada. Sampai akhirnya ide gila itu datang. Membuatku memutuskan mengambil satu botol kecil di lemari ini, memegangnya, menyunggingkan satu senyuman getir, langsung menenggak habis semua obat yang ada didalamnya. Mampus!!! biar mati sekalian!!

Pusing...
dadaku terasa panas...
isi perutku bergejolak seakan badai..
hoeeeeeeek!!! tak tertahankan lagi ku muntahkan semua isi perut ini.

Aku jatuh. Terkulai karena dunia yang seakan diputar oleh_Nya. Tanganku bergetar kuat. Kepalaku terasa sakit tak tertahankan. Dingin... Apa aku akan mati? Apa kematian mampu menghilangkan pertanyaan akan arti hidupku? Aku rasakan mulutku berbusa dan aku melihat satu cahaya, apa itu gerbang dunia sana??? ah biarlah. Aku sudah tidak kuat oleh semuanya. Biarlah kali ini aku mati, tak harus memikirkan apa-apa lagi. Dan semuanya menjadi gelap......

Hening....
kenapa tidak terdengar suara apa-apa lagi? Bukankah tadi aku menyetel musik sekerasnya?
Pelan ku buka mata.
Silau...
Perih..

Dimana ini? Ruangan ini besar sekali dan semuanya terlihat putih. Kucoba gerakkan kepala ku, merasakan tenaga di ujung-ujung jari tangan dan kakiku. Hei, aku merasa sangat sehat. Bagaimana bisa? Aku mencoba berdiri, pelan tapi pasti. Merasakan semua syarafku berfungsi. Mengedarkan pandangan, mengamati, berfikir dengan keras “tempat apa ini?”

“HALOOOOOO????”
“apa ada orang?”
“..........................................”

hening tak ada jawaban. Teriakanku hanya seperti angin lalu disini. Aku berlari kesana-kemari, tapi tak ada apa-apa. Bahkan aku tidak menemukan ujung dari tempat ini, seakan aku berlari ditempat saja. Gila! Tempat apa ini?

“Leon...” mendadak ada suara dibelakangku.

spontan aku menoleh. Melihat satu sosok pria sedang tersenyum ramah, mmmh umurnya berkisar 50an. Masih terlihat gagah walau rambutnya sudah putih beruban. Berpakaian kemeja putih bercelana panjang putih. Rapi sekali seperti konglomerat-konglomerat tua pemilik usaha di dunia ini. Jujur saja, walau dia tidak terlihat seram sama sekali tapi aku merasa takut. Takut akan satu kemungkinan. Apakah dia setan? Atau malah malaikat yang akan menghukumku? Bukankah tadi aku masih ingat dengan jelas usaha yang kulakukan untuk mengakhiri nyawa ku.

“tenang Leon (bagaimana bapak ini bisa tahu namaku??). aku bukan setan, bukan juga malaikat yang kau takutkan”. Pelan bertenaga sosok itu menghembuskan suara menenangkannya .

“aku hanyalah seorang pembawa pesan. Seseorang yang di amanahi tugas untuk memberi tahukan sedikit jawaban akan pertanyaan-pertanyaanmu”. Bagaikan seorang pembawa acara yang baik bapak itu berkata sambil menangkupkan tangan di depan dadanya.

“oleh siapa?? siapa yang memberikan tugas itu” tanyaku, gemetar juga akan kemungkinan lain. Bagaimana bisa bapak-bapak ini tahu pikiranku. Tahu namaku. Belum lagi mengingat bagaimana bapak-bapak ini bisa hadir begitu saja padahal tadi jelas-jelas tak ada siapa-siapa.

“siapa yang menugaskanku kamu tidaklah perlu tahu hal itu, tapi karena apa aku ditugaskan untukmu kamu akan tahu akan hal itu”

“Mari leon... akan ku tunjukkan sedikit jawaban akan pertanyaanmu. Akan alasan dan arti hidup yang menyiksamu setiap hari”

digenggamnya tanganku dan tiba-tiba aku tersedot kesuatu tempat, berpilin, berkilauan dan tanpa aku sadari aku sudah berada di suatu ruangan besar. Tak ada apa-apa disini. Cuma ada semacam layar besar saja. Kira-kira ruangan apa ini?

“di ruangan ini kamu akan melihat kembali segala peristiwa yang telah kamu lakukan” lagi-lagi bapak ini membaca pikiranku.

“dari awal kelahiran kamu akan menyaksikan semuanya. Saksikanlah. Setelahnya akan kujelaskan alasan-alasannya”

Bzzzzzzt.... dan layar tersebut berpendar bercahaya. Memperlihatkan beragam peristiwa. Aku melihat bagaimana aku dilahirkan dengan susah payah. Sungsang pula. Merinding badanku mendengar tangis pertamaku dibarengi oleh tangis bahagia ibu dan senyum bahagia ayahku. Melihat bagaimana aku tumbuh berkembang dan tertawa saat melihat aku pertama kali memanggil nama ibu. Tersenyum saat melihat aku pertama kali masuk Sekolah. Merah muka diperlihatkan saat pertama kali aku mencium malu seorang wanita.

Yaaaah. Semua peristiwa. Detail-detailnya. Bahkan semua bohong-bohong yang kulakukan pun diperlihatkannya. Semua kebejatan yang kulakukan. Semua kemunafikan. Malu, marah, dan yang lainnya. Semuanya... tak terluputkan satupun. Semua permasalahan yang melilitku. Bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu membuatku jenuh. Bagaimana semua orang mulai meninggalkanku. Bagaimana semua rutinitas itu mematikan rasaku. Dan beragam hal lainnya. Sampai akhirnya aku merasa lelah, bertanya akan alasan, bertanya akan arti hidup dan akhirnya memutuskan untuk menghilangkan semua rasa dan nyawa yang ada. Aku tersenyum getir saat melihat tubuhku sendiri yang tergeletak lemas (entahlah apakah masih bernyawa atau tidak). Mulut berbusa. Terkulai seakan pohon tua yang meranggas di musim kemarau yang sangat lama. Apakah ini yang aku inginkan???

“sejujurnya, bukan itu yang kamu inginkan. Kamu hanya ingin jawaban bukan? Tentang artimu, arti ragamu, arti semua perbuatan dan perkataanmu. Alasan sehingga engkau mampu berkata aku pantas untuk terus hidup”. Bapak tua ini akhirnya berkata setelah layar itu mati dan tidak lagi memperlihatkan apa-apa.

“layar ini hanya bertujuan untuk mengingatkan kembali akan hidupmu sendiri. Detail-detailnya. Bagaimana kamu tumbuh menjadi dewasa. Menemukan beragam masalah dalam hidup, terbelit didalamnya membuat kamu bertanya. Bagaimana bisa? Mengapa? Kenapa? Dan beragam pertanyaan lainnya. Tapi kamu malah menjadi terlalu banyak bertanya dan akhirnya tidak bergerak, frustrasi sendiri, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri tanpa mau berusaha lagi mencari alasan dan arti hidup ini”

aku terdiam. Apakah ini ceramah baru lagi? Seperti yang sering aku dengar dari ustad-ustad sok tau di acara pagi hari? Bah, bahkan saat mau mati pun apa aku harus diceramahi lagi?

“haha, anak muda. Ini bukanlah ceramah (damn, aku benci dengan fakta bahwa bapak tua ini bisa membaca pikiranku). Kamu bertanya akan alasan bukan? Mengapa kamu hidup? Apakah semua yang kamu lakukan dalam hidup berguna? Apakah hidup kamu ada artinya untuk dilanjutkan atau tidak. Itu kan?”

“leon, tau kah kamu kalau kehidupanmu saja sudah jadi alasan bagi orang lain. Kau lihat layar itu tadi. Kau ingat bagaimana kelahiranmu? Hadirmu sendiri adalah arti! Kelahiranmu saja sudah memberikan arti lebih untuk ibu dan ayahmu. Ibu dan ayahmu yang mati-matian membesarkanmu. Kalau kau perhatikan detail kehidupanmu kau pasti sadar kalau hidupmu memberikan alasan dan arti bagi orang-orang disekitarmu, memberikan beragam rupa, beragam warna. Baik dan buruknya”

“baiklah aku akan berikan satu contoh saja. Kalau kau lihat detail hidupmu tadi pasti kau ingat 4 tahun lalu, saat kau menjadi tutor bahasa di sekolah dasar sana bukan? Apa kau tahu ada anak perempuan kecil dipojokan sana yang begitu terpesona dengan cerita-ceritamu. Memutuskan untuk menjadi seperti ceritamu saat dia besar nanti. Bahkan menulis besar-besar di buku nya bahwa dia sangat berterima kasih akan cerita-ceritamu diwaktu itu.. Kau tidak tahu itu bukan?

Dahi ku mengerenyit. Benarkah hal itu? Bukankah aku cuma menjadi tutor sekali di sekolah dasar itu. Masa iya ada yang begitu terpengaruh akan ceritaku? Lagian contoh macam apa ini? Apakah kejadian ini begitu penting?

“ya hal itu benar adanya leon. Contoh itu adalah alasan mengapa aku datang sekarang”. Lagi-lagi bapak tua itu menimpali.

“contoh ini memang kejadian kecil, kau jadi tutor pun hanya sekali. Tapi contoh kecil ini menciptakan rantai ke peristiwa lainnya. Perbuatan sederhana mu hari itu memberikan semangat untuk anak kecil itu. Anak kecil itu hanyalah anak kecil biasa dari orang tua yang kurang mampu. Telat bayar spp berbulan-bulan itu biasa bagi nya. Telat makan apa lagi. Biasa sekali. Bagaimana bisa pendapatan orang tua nya yang hanya 20 ribu itu mencukupi 5 anaknya plus sekolahnya? Kekurangan adalah makanan sehari-hari. Menempanya yang susah hidup setiap hari. Anak kecil itu sadar dia tidak berhak bermimpi. Hal itulah yang membuat dia muram berhari-hari disekolah. Teman-temannya tidak pernah melakukan atau bahkan mengoloknya tapi dia mengucilkan dirinya sendiri”

“kau tahu apa yang membuat dia berubah? Hanya cerita mu. Cerita karanganmu tentang seorang anak muda yang kau aku-aku sebagai temanmu. Bagaimana dia yang berasal dari kaum tak mampu bisa ikut kuliah bersamamu. Bahkan akhirnya mampu untuk menjadi doktor di universitas terkemuka di kampus ternama itu. Mengangkat derajatnya. Merubah martabatnya. Cuma dengan kemauan dan mimpi untuk bertahan”

“ Anak itu benar-benar terpesona oleh janji itu. Janji bahwa pasti akan ada kehidupan yang lebih baik menanti. Asal mau dan bermimpi. Membuat dia kembali bersemangat dan akhirnya mendapat ganjaran beasiswa akan semangat belajarnya. Sampai sekarang pun dia masih merenda hidup cuma dengan pegangan cerita yang kau karang itu” tenang saja bapak itu berkata. Tak ada nada untuk mencoba meyakinkan. Dia hanya seakan memberitahukan. Tak lebih, tak kurang.

Tuhan, apa benar cerita itu? Aku tergugu. Benarkah hal itu? Aku sendiri sebenarnya lupa akan kejadian itu, tidak mempedulikannya tepatnya.

“kau sibuk bertanya alasan saat kau sedang bermasalah. Tapi apakah kau sadar bahwa semua yang kau lakukan, dari mulai lahir, hidup, belajar, berinteraksi, bahkan saat kematian pun akan menjadi alasan terhadap orang lain. Memberikan arti hidup yang membedakanmu dengan orang lain di dunia ini. Seperti kepada anak itu. Dan itu hanya satu contoh saja. Ada ribuan bahkan jutaan hal lainnya yang tercipta hanya karena secuil perbuatan atau perkataan darimu yang sangat banyak itu. Tak akan cukup waktu dunia untuk menjelaskan akibat dari semua perbuatanmu dan perkataanmu saja. Tak akan cukup mengurai semua arti serta kegunaan dari perbuatan dan perkataanmu”

“yah itulah alasan kenapa kita hidup. Untuk menjadi alasan bagi orang lain. Untuk menjadi kegunaan bagi orang lain. Tidak mengikat tapi saling menyokong dengan interaksi, perkataan, perbuatan. Percayalah itu menciptakan sangat banyak alasan bagi orang lain. Alasan untuk membenci. Alasan untuk menjadi baik. Dan lainnya...”

tenang.. bapak itu menghela nafas. layar itu pun tidak menayangkan apa-apa lagi. Dan tanpa aku sadari aku sudah berada di suatu ruangan. Disini cuma ada aku, bapak tua ini, seorang perawat dan satu tempat pembaringan. Hei, itu aku yang berbaring disana! Menyedihkan, badan kurus penuh tertusuk belalai infus dan peralatan lainnya.

“leon...” bapak itu kembali memanggil namaku.

pelan bapak tua ini memegang bahuku. Tersenyum kepadaku. Dan entahlah tiba-tiba aku merasa sangat tenang. Seakan ada satu kekuatan mengalir dari tangannya yang memberikan aku ketegaran.

“sesungguhnya kalau engkau bertanya untuk alasan apa engkau terus hidup, dan apakah hidupmu sudah memiliki arti maka semuanya itu dijawab dengan semua tindakan dan perkataanmu sendiri. Baik maupun buruk. Itulah yang menjadi alasan kamu untuk hidup. Itu pulalah yang menjadi arti akan hidupmu. Semua akibat dari perbuatan dan perkataanmu sendiri. Percayalah sekecil apapun yang kau lakukan atau katakan maka itu akan menciptakan akibat yang tak terduga. Bisa jadi memberikan kekuatan untuk orang lain, memberi warna, atau malah memberi darah.”

“Tak usah kau pusingkan semua akibat dari perbuatan dan perkataanmu. Alasan-alasan itu dan apakah itu cukup untuk memberi arti bagi hidupmu. Semuanya rumit. Semuanya terlalu banyak. Tak akan terpikirkan oleh pikiranmu bahkan oleh pikiranku. Hanya DIA yang tahu! Sang maha kuasa dengan segala kearifan pikirannya. Jadi buat apa kau pikirkan sesuatu hal yang sangat teramat jauh dari jangkauanmu, bisa gila pikiranmu. Jalanilah hidupmu. Jangan putuskan untuk mengakhirinya begitu saja seperti itu...”

Mataku basah. Hei, apa aku menangis? Entahlah tiba-tiba aku merasa sangat tenang, tersadar akan sebuah kenyataan yang bapak ini ucapkan.

“bukankah dulu engkau selalu bilang untuk lebih baik mati mencari arti daripada mati berdiam diri. Ingatkah janji lama yang kau ucapkan waktu itu? Satu tantangan kepada DIA yang kau katakan saat kau frustrasi dulu. Alasan sehingga kau mampu pergi kemana saja, melakukan semuanya, walau sesepi apapun, sesusah apapun. Bahkan itu juga mampu menciptakan arti dan memberikan alasan bagi semua orang yang berada didekatmu. Mungkin kau telah lupa janji itu. Maka aku datang saat ini khusus untuk mengingatkanmu kembali akan janji lama itu...”

“akan aku beritahukan satu lagi rahasia yang akan menutup semua pertanyaanmu. Kau pikir kenapa aku datang kepadamu? Kenapa? Semuanya seperti yang aku bilang tadi adalah satu rantai akibat. Kau menjadi tutor, mengarang cerita, membuat seorang anak kecil terpesona oleh cerita itu, dan akhirnya mendoakanmu. Ya kedatanganku hanya karena satu doa. Doa yang diucapkan dari mulut mungil anak kecil itu, dia sudah kelas 4 sekarang. Tiap malam dia mendoakan mu. Berterima kasih akan kedatanganmu waktu itu. Kau lihat bagaimana rantai itu berkembang bukan? Sangat menarik. Itulah indahnya kehidupan. Tidak terduga. Tak mampu dipikirkan oleh akal dan rasa.”

“Tahukah bagian yang lucu? Anak kecil itu bahkan tidak ingat nama mu, dia hanya memanggilmu Pak guru saja. tapi bagi anak itu kamu adalah pak guru spesial. Cerita-cerita dari mu telah memberi cahaya dalam hidupnya. Dan murni karena doa yang terucap dari mulutnya lah aku datang kali ini atas izin_Nya. Memperlihatkan detail kehidupanmu, memberikan sedikit jawaban akan pertanyaanmu, mengingatkan kembali akan janji yang kau ucapkan dulu. Karena setiap malam dia berdoa untuk kebaikanmu.”

Air mata ini semakin deras mengalir. Ya tuhan, benarkah hal itu? Selama ini aku selalu bertanya dan tidak menyadari. Tidak menyadari bahwa sebenarnya arti itu aku ukir dengan perbuatan dan perkataanku sendiri.

“kau lihat... Bagaimana secuil perbuatan dan perkataanmu menciptakan rantai akibat yang begitu indah bukan? Bagaimana perbuatan dan perkataanmulah yang telah mengukir arti hidupmu sendiri bagi anak itu dan bagi keberadaanmu.”

“ secuil cerita dan perbuatanmu akhirnya mampu membuat dia setiap malam selalu setia mendoakanmu. Mengingat kembali semua cerita-ceritamu. Membuat dia bersemangat kembali menatap hari esok yang tak pernah pasti. Jadi kembalilah leon... jangan pernah sia-siakan kehidupanmu lagi. Ingatlah untuk banyak-banyak berterima kasih dan bersyukur. Itu akan membuatmu semakin “kaya” daripada hanya bertanya tak tentu arah. Pergilah...” pelan sang bapak berkata. Memberikan senyuman yang biasa aku lihat saat perpisahan itu tiba menghampiri diri.

wuuuuuutttttssss, semuanya terasa berputar..
Gelap...
Sakit sekali..
aku merasa tak bertenaga..

Ku buka perlahan mataku. Silau. Perih mataku diterpa cahaya lampu. Dimana ini? Aroma obat ini. Apa ini rumah sakit?

“keadaannya membaik dok..subhanallah, dia ternyata bisa melewati masa-masa kritisnya” terdengar suara seorang wanita.

“ya sus..keadaannya membaik.. tanda-tanda vitalnya juga tidak mengkhawatirkan lagi..suster tetap pantau dia yah..”

“baik dok...”

ah, ternyata benar ini rumah sakit. Perlahan mataku sudah bisa beradaptasi dengan cahaya lampu. Ku edarkan pandangan mendapati ruangan yang sama dengan yang aku lihat saat bersama dengan bapak tua tadi. Dan aku tersenyum. Kepalaku masih sakit, teramat sangat malah. Jariku bahkan tak bisa aku gerakkan. Tapi entahlah hati ini seakan penuh dengan ketenangan. Penuh dengan kekuatan. Mendapati semua hal yang telah aku dapatkan barusan. Jauh dari kata logika tapi jujur saja menjawab semuanya. Terima kasih tuhan.. setelah sekian lama tampaknya malam ini aku bisa tidur tenang kembali.

Kupejamkan mataku sambil mengucap janji untuk kembali kesekolah itu. Mencari anak perempuan itu dan hidup dengan penuh semangat kembali seperti dulu. Menjadi arti yang akan kuukir sendiri..



…............................................



di satu pojok kamar petak sempit di pinggiran kota.

“tuhan yang baek.. pak guru sehat gak ya? Kok gak datang kesekolah lagi? Kan dedek pengen liat pak guru lagi.... pengen denger cerita pak guru... tar dedek janji deh kalo pak guru datang nanti dedek gak bakal diem kayak dulu.. dedek pengen cerita banyak juga ke pak guru..udah ya tuhan, dedek pengen bobo.. jagain dedek ya tuhan.. jagain pak guru juga...amiiiinnnn........” lantunan doa dari mulut mungil itu terucap kepada_Nya. Dan tertidurlah mereka berdua, leon dan anak perempuan kecil itu. Menutup malam dengan satu janji. Janji untuk menjalani hidup dengan penuh semangat kembali...




banyak dari kita yang mengeluh
banyak dari kita yang bertanya
banyak juga dari kita yang hanya berdiam diri dipojokan sana
tapi sedikit sekali yang mencari arti
sedikit sekali yang bergerak memberi arti
padahal arti itu tercipta oleh perbuatan dan perkataan kita sendiri
tanpa kecuali kita bisa mengukir takdir kita sendiri... read more..

Sungguh abang sayang Ibu.. selalu....

0

Posted by median | Posted in

"Pulanglah secepatnya.. Ibu sakit keras!! Ajak pula istri dan anakmu, waktunya mungkin tak lama lagi...” Isi pesan yang tidak lebih dari 50 karakter itu sudah cukup membuat seluruh jantungku bergetar tak karuan. Duhai, berita apa pula ini? Ibu yang setangguh itu? Ibu yang tak pernah terlihat sakit parah satu kalipun olehku (beliau paling hanya masuk angin, hari ini dikerik keesokannya sudah asyik lagi mengajar dan bercocok tanam diladang bersama ayah). Bagaimana bisa?? Mendadak pusing kepalaku dibuatnya.

“Ria, tolong kau cancel semua pertemuan sampai waktu yang tak bisa ku tentukan. Ibuku sakit keras. Aku harus pulang! Kau atur saja dahulu semua masalah, berikan laporan kepadaku secara ringkas saja setiap harinya”. Kukemasi barang-barangku (tepatnya malah asal mengambil dan memaksa semua barang itu masuk kedalam tas secepatnya). Bisa kapiran masalah ini kalau sampai aku telat menjenguk ibu tersayangku.

“Siap Pak.. tak usah khawatir. Semuanya akan saya handle. Sya akan segera telpon juga istri Bapak dan mengirimkan jemputan ke sekolah Tuan Muda”. Ucap halus Ria kepadaku. Seorang perempuan cantik dengan dandanan elegan yang telah 5 tahun menjadi sekretarisku. Orang kepercayaan yang benar-benar bisa diandalkan, bahkan dia langsung mempersiapkan jemputan untuk anakku yang masih bersekolah (baru masuk tahun ini pula).


Kuraih tas kerjaku. Melesat secepatnya melewati pintu ruanganku. Bergegas setengah berlari melewati para bawahan (yang masih saja menyapa dan mengangguk hormat menegurku), melewati lorong ruangan, menekan tombol lift , masuk dan dengan tergesa menekan tombol turun. Ah kenapa lama sekali lift ini turun? (hal yang bodoh untuk ditanyakan mengingat bangunan korporasiku ini memiliki 36 lantai). Entahlah pikiranku kalut sekali kali ini.

AKU HARUS SEGERA PULANG!! HARUS....

.....................................................................................................

Aku terlahir di salah satu daerah kampung di satu Provinsi yang dinamakan Bengkulu (bahkan teman-temanku yang lulusan luar negeri sana masih sering menanyakan “Mmmh, Bengkulu itu diprovinsi Kalimantan bukan?”. Kayaknya karena bersekolah diluar negeri mereka bahkan sampai lupa geografi negeri sendiri). Lahir di lingkungan desa yang asri, dimana semua orang adalah keluarga. Saling menyapa, bertegur kata dengan senyum diwajah. Dan hal yang benar-benar harus disyukuri ialah aku terlahir di keluarga yang sangat bersahaja. Ibu yang luar biasa, ayah yang bersahabat dan bertanggung jawab akan keluarganya.

Ayahku Seorang Kepala Kampung dan ibuku seorang guru TPA biasa. Berpenghasilan pas-pasan dan itupun harus ditambah dengan bercocok tanam di sepetak ladang. Tapi kami bahagia! Sangat bahagia. Masih teringat jelas bagaimana aku dulu bermain di ladang bersama ayah (Ibu sedang mengajar diwaktu itu).

Bermain menciptakan rumah-rumahan dengan menggunakan apa saja yang ada disana. Memotong batang pohon singkong untuk tiangnya, memakai atap rumbia bilik tempat biasa aku dan ayah berteduh, mengikatnya dengan serat kelapa dan yang lainnya. Dan setelah mengacak-acak banyak hal diladang dan mengotori nyaris semua pakaianku, dengan “angkuhnya” ku tarik tangan ayah yang sedang asyik menyiangi rumput liar disela-sela alur ladang . Menunjukkan maha karyaku. Membuatku tersenyum kecil membayangkan bagaimana hidungku kembang kempis kegirangan akan pujian ayah diwaktu itu

“bagus sekali bang!! suatu saat kau akan jadi arsitek ternama. Membangun dan punya gedung besar bertingkat-tingkat tentunya. Jangan lupa nanti kau buatkan satu untuk Ayah dan Ibu ya” puji ayah diiringi senyum bangga dan sesudahnya mengelus-ngelus rambutku dengan ringannya. Amboi, serasa terbang aku diwaktu itu.

“Kita kemana Pak??” satu pertanyaan dari sopirku memecah lamunanku.

“Ke rumah saja dulu, jemput istri dan anakku. Setelah itu kita langsung bersiap ke bandara. Kita pulang!”. Perintahku sambil mengusap mukaku. Duhai, kaku sekali pikiranku. Mukaku terlihat kusut. Entahlah, stress karena mega proyek sekalipun tak pernah melebihi stress ku kali ini. PULANG! Cuma itu yang bisa menenangkanku sekarang.

.....................................................................................................

“Sayang, Ibu kenapa?”. Tanya istri tercintaku. Tangannya sibuk melipat-lipat baju dan memasukkan barang-barang lainnya.

“aku sendiri tak sanggup memikirkan kemungkinannya sayang. Begitu mendapatkan sms dari ayah saja aku sudah nyaris jantungan, bagaimana pula aku sanggup menanyakan apa sakitnya ibu kepada ayah?”. Suara ku tercekat serak, nyaris menyerupai orang yang menahan tangis. Ah sesak sekali dada ini, sungguh sesak sekali.

Istriku mengelus punggungku. Mencoba memberikan sedikit kekuatan dan menenangkan. Tuhan, sungguh nyaris tumpah air mataku kali ini. Berikan aku kesempatan untuk bertemu ibuku ya Tuhan, sungguh berilah aku kesempatan itu.

“PAPAAAAAA... Ryo pulang..” Lantang suara anakku menggema dari depan. Beberapa detik kemudian terdengar derap langkah berlari menghambur kearah kamarku.

“Kita ke tempat nenek ya Pah? Mang nenek kenapa?Oh ya tadi disekolahnya rameeeeee, Ibu gurunya baik. Tapi masih kalah jago bercerita dibanding nenek”. Celoteh anakku sambil sibuk berganti pakaian dengan pakaian yang telah disiapkan istriku untuknya.

“Gak kenapa-kenapa kok adek. Nenek sedang sakit aja, jadi kita jenguk nenek. Biar cepat sembuh neneknya” sahutku sambil melempar senyum. Senyum hambar sebenarnya, tapi setidaknya aku tak ingin menampakkan kekhawatiranku yang begitu besar kepada anakku yang masih sangat belia.

“Asiiikkk, ketemu nenek!! ketemu kakek!! main diladang lagi.. oh yah, ryo bawa gambar nenek dan kakek yah? Tadi ryo bikin di sekolah, pasti nenek nanti cepet sembuh kalo liat gambar ryo”. Sahut riang anakku.

“Iya bawa gih. Jangan ada yang ketinggalan ya dek.” ku rapihkan koperku, menyeretnya keluar dan menyerahkannya kepada sopir. Mengambil HP, Dompet, melupakan laptop kesayanganku (bah, bagaimana aku bisa mengerjakan tugas sedangkan ibuku sedang sakit keras??). Berkata dengan intonasi buru-buru kepada istri dan anakku.

“Ayo kita berangkat. Sudah tak ada yang ketinggalan kan?”

.....................................................................................................

Yang paling melekat erat di ingatanku ialah senyuman Ibu. Bagaimana senyuman itu selalu bisa menenangkan disaat aku tersuruk-suruk ketakutan sebelum tidur (gara-gara mendengarkan cerita hantu dari teman-temanku), bagaimana senyuman itu selalu teriring bahkan disaat aku bandel pulang dengan lumpur dinyaris seluruh bagian tubuhku, bagaimana senyuman itu selalu menyambutku kepulanganku. Senyuman itu.. Yah itulah yang benar-benar tak bisa kulupakan (tentunya dengan beragam hal lainnya yang tak mampu kusebutkan satu persatu)

Ibulah yang mengajariku untuk berani bermimpi. Mengajarkan arti pengorbanan sesungguhnya untukku. Dulu ibu ringan tangan saja menggadaikan perhiasan, harta lainnya bahkan cincin kawinnya pemberian ayah untuk membiayaiku.

Masih teringat jelas bagaimana aku menangis menginginkan seragam baru karena punyaku sudah terlihat kusam dan lusuh (iri hatiku waktu melihat anak-anak lainnya memiliki seragam mengkilap, serta hal-hal baru lainnya), mendekap erat membisikkan pinta untuk memiliki seragam sambil terisak di punggung ibuku yang langsung dibalas oleh ucapan “tunggulah permataku, besok ibu akan membelikan yang baru”.

Dan keesokannya benar saja satu stel seragam, bahkan sepatu dan tas yang baru sudah ada menyambutku sepulang sekolah. Membuatku melompat kegirangan dirumah. Berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada ibu. Menunjukkan dengan bangga kepada ayah “Ayah, lihat.. bagus bukan??”.

Kegirangan yang bahkan membuatku tak bisa tidur malamnya. Tak sabar menunjukkannya kepada teman-temanku disekolah. Kurapatkan selimut mencoba memejamkan mata. Ah pagi kenapa lama sekali tiba ya tanyaku dimalam itu.

“Tak apa kau gadaikan kalungmu Bu??”. Sayup-sayup kudengar suara ayah dari bilik kamarnya.

“Tak apalah Yah. Tak tega hatiku mendengar rengekan Anakku itu. Lagian memang sudah waktunya dia memiliki seragam baru. Tak usah dipikirkan kalung itu, kalau sudah ada rejeki lebih nanti kita bisa beli lagi”. Lembut suara ibu menanggapi pertanyaan ayahku.

Saat itu, dimalam itu, yang kurasakan pipiku hangat. Ya aku menangis! Mataku basah. Malu kali diriku. Bodoh! Kegirangan setengah mati sampai-sampai tak kulihat lagi di leher Ibuku sudah tak ada lagi kalung itu. Tas itu, seragam itu, sepatu itu harus aku tebus oleh kalung yang selalu dipakai ibu? Kugigit bibirku, menahan tangis yang kurasakan semakin tak terbendungkan (tak mau aku tangisku terdengar ibu). Tuhan... Sungguh aku sayang Ibuku..

Keesokannya, sesudah mandi, aku dipakaikan seragam yang baru itu, entahlah girang itu seakan lenyap begitu saja. Diriku diam. Hening tak banyak celoteh seperti biasa. Sarapan dengan cepat. Dan sebelum berangkat ibuku menyandangkan tas baruku, memasangkan sepatu mengkilapku, merapihkan rambut dan menyelipkan sedikit uang ke sakuku. Tersenyum dan mencium kedua pipiku seperti biasa sebelum melepas kepergianku ke sekolah.

Ku putar badan melangkahkan kaki. Bergerak beberapa langkah kemudian berhenti. Mengepalkan kedua tangan terdiam sebentar kemudian berkata setengah berteriak....

“BU.. ABANG JANJI SUATU HARI NANTI AKAN ABANG GANTI KALUNGNYA IBU! YANG LEBIH MEWAH! YANG LEBIH MENGKILAP! YANG LEBIH......”

kata-kataku menggantung tak terteruskan, tangisku sudah tak mampu kubendung lagi (bodo mau dikatakan anak cengeng juga oleh teman-temanku nanti disekolah).

Kuayunkan kakiku secepatnya berlari meninggalkan pekarangan rumah (secepatnya pergi, tak mau aku ibu tau kalau aku menangis). Keberangkatan ku dipagi itu diiringi sahutan suara serak ibu “hati-hati abang jangan lari-lari....” (entahlah, kupikir ibu juga menangis diwaktu itu)

Yah ibu rela mengorbankan semua hal untukku. Ringan saja. Tak pernah senyum itu hilang walau aku tau saat aku naik jenjang ke SMA kembali beliau menggadaikan anting-anting dan gelangnya (dan akhirnya cincin kawin serta sertifikat rumah pun digadaikan saat aku naik jenjang kuliah). Tak henti pula rela bekerja membantu ayah. Demi apa? Demi memberikan hal-hal terbaik yang dirasa penting untuk kupunya.

Dan lihatlah aku sekarang? Menjadi seperti ini karena usaha ibu dan ayahku. Dan bahkan walau aku sudah menjadi seperti ini mereka tetap tak mau merepotkan aku, menolak halus pemberian-pemberianku, tak mau menempati rumah yang kubangun mewah untuk mereka, tak menyentuh kendaraan yang kubelikan diwaktu itu, bahkan tabungan yang kuberikan oleh mereka tak disentuh. Mereka merasa sudah cukup itu saja alasannya. Hidup dari hasil ladang, gaji kecil perangkat desa ditambah gaji guru TPA sudah cukup bagi mereka. Ah kadang aku bingung memaksanya (kadang pemberianku kutinggalkan begitu saja, perkara mau digunakan atau disimpan digudang pun terserah saja).

“Pah mah.. Udah mau turun kapal terbangnya. Ayo cepetan! Ryo dah kangen ma nenek, kakek juga..” tarik anakku sekaligus membuyarkan lamunan.

Kuusap sudut mataku yang basah. Melempar senyum dan berkata “Iya dek, ayo.. kita ketempat nenek dan kakek”

.....................................................................................................

Sampai di Bandara Fatmawati Bengkulu, kami masih harus menempuh 2 jam perjalanan darat untuk menuju desa kami. Desa Talang Panjang. Desa kecil kelahiranku. Yah mau bagaimana lagi, memang seperti itulah ibu dan ayahku. Tak mau menempati rumah ditengah kota yang relatif dekat dari semuanya, lebih asyik memilih menghabiskan masa tua di Desa saja.

Ku buka pintu mobil yang baru saja berhenti di depan rumah panggung nan asri, rumahku! Tempatku menghabiskan masa kanak-kanakku. Di halaman sudah ramai oleh tetangga dan banyak sanak saudara. Aku pun turun diiringi istriku (ryo sendiri sudah menghambur girang menaiki tangga rumah sambil berteriak memanggil kakek neneknya, mana peduli dia dengan yang lainnya).

Ku coba menghela nafas menguatkan hati. Menggenggam tangan istriku dan pelan menaiki tangga rumah setelah bersalaman dengan sanak saudara lainnya. Mencium takzim tangan ayah didepan pintu rumah sambil pelan bertanya “Yah,bagaimana keadaan ibu?”.

Kulihat mata dari sosok tangguh itu redup, jelas terlihat rona sedih menggantung disana, di pelupuk mata ayahku yang terlihat sedih (aku yakin ayah habis menangis). “Kau temuilah Ibumu dikamar, ingin sekali dia bertemu denganmu. Berbincang-bincanglah dengan ibumu..” serak sekali suara itu. Tampak sekali perpisahan itu sudah didepan mata bagi ayah.

“iya yah, Abang ke kamar Ibu dulu.....” Getar suaraku berkata.
.....................................................................................................

Aku duduk disisi ranjang ibuku yang tergolek lemah namun masih tetap saja tersenyum menyambut anaknya. Ryo dan istriku diujung yang lainnya (ryo yang biasanya selalu aktif pun menjadi diam melihat kondisi Ibu, walau tak tahu sakit apa, tampaknya dia paham bahwa kali ini neneknya sakit yang cukup parah).

“Kangen kali Ibu melihatmu abang.. kemana saja kau? Jarang kali menjenguk Ibu..” kata ibu memecah keheningan yang ada.

“Ada bu, lagi ada beberapa proyek besar abangnya. Jadi belum bisa datang kesini..” lemah aku jawab kata-kata ibu. Sambil tertunduk muka pula. Tak tega hatiku melihat ibu yang tercinta tergolek tak berdaya.

“Tambah sukses saja anak Ibu. Tapi.. Jangan kau lupakan anak istrimu. Jangan mentang-mentang kau sibuk kau telantarkan mereka itu. Berapa kali kau sempat bermain bersama ryo dalam seminggu? Berapa kali kau sempat bercengkrama bersama istrimu? Jangan sampai hanya soal harta kau telantarkan keluargamu...”. Lirih, suara itu terdengar lemah tak bertenaga.

Ku anggukkan kepalaku mengiyakan kata ibu. Istriku diujung sana sudah mengusap sudut matanya. Terharu. Dan ya aku sadar. Kesibukan ini sudah seringkali membuatku seakan lupa akan keluargaku.

“Abang, Ibu cuma ingin berpesan sedikit untukmu.. Kau kerja untuk siapa? Untuk kebahagiaan keluarga bukan? Tapi ingat harta mu itu tidak bsa memberikan kebahagiaan untuk keluargamu... Kau bisa membelikan rumah.. kau bisa membelikan mobil.. tapi kau tak bisa membeli cinta dan kepercyaan keluarga.. untuk apa kau menumpuk harta kalau akhirnya anakmu malah menjadi terasing darimu. Istrimu menjadi dingin karena kesibukanmu... Untuk apa rumah megah kalau kau tak pernah mengisinya? Untuk apa mobil mewah besar nan megah kalau isinya hanya kau tanpa ada ryo atau istrimu yang tercinta? Semuanya dingin kesepian... Jadi tolong ingat pesanku ya nak..ingat pesanku..” tersengal, ucapan ini seakan dikeluarkan dengan sepenuh tenaga yang tersisa.

Kugenggam tangan ibuku. Kuusap wajah beliau yang masih saja tersenyum untukku. Ah bahkan disaat ini pun beliau tak mau menunjukkan kepayahan kepada anaknya walau mata itu sudah terlihat meredup kehilangan cahaya.

“Ah anak Ibu sudah besar..sungguh sudah besar..terima kasih ya sayang ibu..Terima kasih Tuhan sudah memberikan kehidupan yang sangat menyenangkan... Sungguh hambamu ini berterima kasih kepada-Mu...” suara itu putus putus. Tersengal lirih, berbisik dan akhirnya terhenti...

Lihatlah... Mata ibu sudah tertutup. Seulas senyum bahagia terukir indah di wajahnya. Denyut nadinya sudah tak kurasakan lagi. Mataku sudah bercucuran airmata dari tadi. Tampaknya Ibu benar-benar menahan semuanya hanya untuk bertemu dengan anaknya. Berpesan sedikit dan bercerita untuk anaknya yang dulu bandel sekali ini.

Kukecup kening ibu yang kucintai, pelan membisikkan isak kata

“terimakasih ibu... sesungguhnya abanglah yang harus berterimakasih kepada Ibu...”

.....................................................................................................

Acara pemakaman pun dilaksanakan ditengah mega mendung. Para pengantar sudah beranjak pergi. Tinggallah aku, Ryo, istriku, serta ayah disini. Memandang gundukan tanah merah dengan penuh arti. Baru kali ini kusadari sepenuhnya walau hidup itu nyatanya sampai bertahun-tahun (atau malah berpuluh tahun) ternyata terasa singkat sekali. Perasaan baru kemarin sore aku mengucapkan Janji kalung itu kepada Ibu, dan sekarang Ibu sudah pergi meninggalkan ayah, aku, istriku serta cucu kesayangannya.

Ayah yang berjongkok didepan makam ibu berkata pelan.

“Ibu mu meninggalkan bungkusan kecil untukmu dilemarinya. Jangan sampai tak kau bawa. Itu hal terakhir yang beliau beri untukmu”

Ku sentuh pundak ayah. Tertunduk takzim pelan berkata “iya Yah.. ayo kita pulang ke rumah”.

.....................................................................................................

Kupandangi bungkusan titipan ibu yang ditaruh di tas plastik itu. Baru sekarang di dalam pesawat berani kusentuh, tak sampai hati aku menyentuhnya saat aku dirumah bersama ayah (ayah menolak ikut denganku, seperti ibu, ayah memilih untuk tetap tinggal didesa). Entah dengan alasan apa tak sanggup aku membukanya.

“Gak dibuka saja yah??” Pelan istriku berkata (takut membangunkan ryo yang terlelap karena kelelahan).

Akupun tersenyum. Hambar. Sesak itu kembali menjalar didada. Tangan-tangan ini pun terasa kaku. Kupaksa syaraf-syaraf tangan bergerak membuka lembaran dua bungkusan sederhana berbalut koran itu, membukanya.. Melihatnya.. dan tak tertahankan lagi tangis inipun tumpah menggenang begitu saja..

Lihatlah..

Lihat isi bungkusan ini.. .

Satu stel seragam baru... Tas punggung lengkap dengan peralatan didalamnya.. Bungkusan yang satu lagi berisi sepasang sepatu baru untuk anakku..

Tuhan..... bahkan diujung hidupnya Ibu masih saja menyisihkan hartanya untuk menyenangkan hati cucunya.

Teringat saat terakhir percakapan via telepon itu dilakukan. Bagaimana Ryo berceloteh riang berkata bahwa dia akan sekolah minggu depan kepada neneknya (dan semakin kegirangan setelah mendengar neneknya menjanjikan hadiah untuknya, hadiah untuknya yang sudah mulai bersekolah). Rupanya ini hadiah terakhir dari ibu.....

Deras air mataku tercurah tak tertahankan lagi.

Kelabatan kenangan lama itu kembali tercetak jelas di memori ini.

Membuatku pelan bergumam sambil terisak tak tertahankan...

“Selamat jalan Ibu.. terimakasih untuk semuanya.. Sungguh abang sayang Ibu.. selalu....” read more..

Aku mengenal beliau di suatu senja..

0

Posted by median | Posted in ,

Aku mengenal beliau di suatu senja. Ringkih terbatuk-batuk sambil menghisap rokok, beliau duduk pojokan sana menunggu pelanggan datang membeli dagangannya. Badannya kurus, raut muka yang terlihat tua. Tapi entahlah, sesuatu di matanya berkata beda.

Dan senja itu akhirnya membuat perkenalan ini ada, nama beliau rohmat. Sederhana saja. Mengaku sudah tak punya kampung halaman, hidup sebatang kara di tengah kota yang makin lama terasa makin ganas menghimpit penghuninya.

“bagaimana pula bapak punya kampung halaman lagi nak? Apa yang ada? Semuanya sudah tidak ada. Istriku tercinta sudah lama meninggal. Anak-anak merantau tak pernah pulang. Tak ada kabar berita. Satu pun sampai sekarang. Maka bapak putuskan untuk mencoba mencari mereka disini, hasilnya? Nihil. Bapak berjualan untuk menopang hidup bapak sampai sekarang. Ahh, kalau diingat-ingat sudah lebih dari 10 tahun bapak disini”. Itulah intro awal percakapan kami di senja itu.

Yah, sesederhana itu alasan beliau untuk berada disini. Sendiri di kota sebesar ini hanya untuk mencari. Untuk memperjuangkan apa yang dia percaya dan dia yakini. Walau aku tau, kemungkinannya nyaris mendekati mustahil untuk menemui anaknya. Lah bagaimana bisa? Menemukan tiga anak-anaknya yang merantau kekota? Dengan cuma bermodal nama, foto pun tak ada. Tapi beliau tetap percaya dan berusaha.

Kok bisa yah? Memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya beliau sendiri tau hampir mustahil untuk digapai.

“nak, bukan masalah apakah itu mustahil atau bukan. Yang penting berusaha. Hati bapak bilang cari, jadi daripada bapak “gila” berdiam diri saja. Maka lebih baik bapak mencari disini. Matipun tak apa. Setidaknya bapak mati karena mencari, bukan karena berdiam diri saja”.

Oi, belum pernah diriku menemukan orang yang seperti ini. Berani membela apa yang dia yakini. cuma dengan modal kepercayaan saja maka beliau tak peduli dengan susahnya, beliau berusaha. Tak peduli resikonya. Dan saat itu juga kutaruh respekku pada level tertinggi untuk beliau. Ah, memang benar belajar itu bisa dimana saja dan dari siapa saja. Asal ada kesempatan maka raihlah.

Maka sekali dalam seminggu aku menyengajakan diri untuk menemui beliau. Duduk santai bersama beliau. Terkekeh-kekeh bercerita (tentunya sesudah itu beliau batuk hebat sampai terlihat tersengal nafasnya). Berbagi cerita apa saja. Menghabiskan waktu sampai beliau terlihat lelah (dan akupun pamit, tak enak pula mengganggu beliau yang lelah).

Suatu hari, batuk itu semakin hebat. Kuputuskan membawa beliau ke dokter. Tapi apa yang dia katakan?

“sudahlah nak, bapak tak mau merepotkan. Lagian bapak tau batuk ini terutama datang karena rokok ini yang nyaris tak henti bapak hisap”. Sembari tersenyum beliau mengusap punggungku.

Aku protes. Beliau menggeleng. Ah, apa perlu aku pukul beliau dan menggendongnya ke dokter? (yang tentunya aku tak berani melakukannya). Sekeras apapun aku protes beliau tak mau. Bahkan obat-obat yang aku bawa pun dia tak mau menyentuhnya (apalagi meminumnya).

Maka aku mencoba mengalihkan permintaan menjadi “pak, apa bisa bapak berhenti menghisap rokok? Atau setidaknya menguranginya”. Tak tega aku melihat beliau yang saban kali merokok, saat itu juga batuk yang kadang kala membuat aku khawatir saking terlihat parahnya.

Dan lagi-lagi aku mendapat jawaban yang membuatku tertohok dengan kerasnya. Sepele, tapi nyaris membuatku menangis mendengarnya.

“nak kau tahu latar belakang bapak, kehidupan bapak? Nyaris tak ada kemewahan selain senyuman anak-anakku yang telah lama hilang, atau belaian sayang istri tercinta yang telah lama meninggal. Bagi kamu mungkin inilah yang membuat bapak sengsara, batuk tak henti dengan parahnya. Tapi itu bagi kamu. Tak pandang usia tua, muda, kaya, miskin, Semuanya kebanyakan merokok bukan? rokok adalah satu “kemewahan” yang bisa bapak capai. Bapak tak dapat menikmati kemewahan lain, bapak tak punya rumah, tak punya harta. Bukan, bukan bapak menyesalinya. Tapi biarkan bapak menikmati hal ini, rokok ini, kemewahan ini. Selagi bisa”

Dam aku terdiam, nyaris meleleh tangisku. Bagai makan buah simalakama. Yah aku tau bahwa inilah yang membuat beliau susah. Sakit demikian rupa. Tapi beliau yang tau itu bersedia mengambil itu dengan alasannya. Jadi apa alasanku lagi untuk memaksanya berhenti? Saat itu aku sadar, untuk tak pernah memandang lagi hanya dari satu sisiku sendiri. Jangan pernah memandang sesuatu hanya dari benar dan salah. Karena pengalaman hidup itu berbeda-beda, jalan itu tak semuanya mulus dalam setiap kehidupan individu. Bolehlah aku mengingatkan, tapi meminta berhenti? Apa pula hakku?

Dan kembali aku merasa penuh oleh pelajaran, bertemu beliau yang hidup dengan falsafah sederhana membuatku merasa bertambah kaya.. bukankah seseorang yang mampu menyederhanakan hidup yang rumit, dan mempraktekkan kesederhanaan itu didalam hidup adalah seorang yang hebat.

Ah, macam-macam yang kupelajari dari beliau. Aku tau bagaimana dia yang dulunya seorang preman besar, ditakuti dan disegani, kekayaan apalagi. tetapi sekarang malah menjadi begini. Satu-satu semuanya menghilang dari kehidupan beliau. Dan lagi-lagi dia hanya berpesan “ingat nak, segala sesuatu sudah ada waktunya. Apa yang sudah ada dan diterima ya terima saja dengan ikhlas. Akui. Jangan jg engkau menghindar dan tak mengakui keberadaanmu, masa lalumu”.

Jadi tak pantas aku mengatakan iba atau kasihan untuk beliau, baik kisahnya maupun hidupnya. Toh beliau sendiri tidak mengasihani atau meratapi apa yang ada di dirinya (walaupun itu susah, sangat susah malah). Aku hanya bisa salut akan sikapnya yang ada sekarang. Dan ini hanyalah secuil, ada seribu satu hal lain yang kupelajari dari beliau. Menyenangkan. Selalu menyenangkan untuk belajar.

Suatu senja aku kembali berniat mendatangi beliau. Hari biasa, tak ada kejadian istimewa. Saat itu langit gerimis kecil (walau langit tidaklah gelap seperti hujan sebagaimana biasanya). Ku datangi tempat biasa, lapak biasa sang bapak berjualan. Yang kutemui hanyalah gerobak jualan dia biasanya. Kosong. Tak ada minuman. Sepi. Sosok beliau tak ada.

Bingung. Hilir mudik aku bertanya kepada orang-orang. Adakah yang melihat bapak rohmat? Kemana dia pergi? Siapa tahu saja ada yang melihat. Dan lagi-lagi nihil. Tak ada yang melihat. Beliau pergi begitu saja, entah apakah ingin mencari anaknya ditempat lain atau apa.

Aku duduk. Menghela nafas. Sibuk berfikir kemana beliau. Kehilangan (walau anehnya aku tak merasa sedih sebagaimana umumnya perpisahan). Karena seperti apa yang dikatakan oleh beliau “percyalah dan lakukan”. Maka aku percaya kepergian beliau pun memang ada waktunya. Seperti perkataan beliau diwaktu itu..

“Segala sesuatu sudah ada waktunya. Jadi ya terima saja..”

Kutatap langit senja. Kusunggingkan senyum tipis akan suatu keganjilan. Aku mengenal beliau di suatu senja dan aku berpisah dengan beliau juga di saat senja. Jadi percayalah! walau jalan yang diatur olehNya sungguh tak terduga oleh kita para makhluknya. read more..

apa saya, mereka dan kalian semua bisa seperti "KARTUN"?

0

Posted by median | Posted in

Saya suka kartun. sungguh. teramat sangat malah. bisa dipastikan hampir setiap hari minggu saya menjadi salah satu (dari sekian ratus ribu lainnya) penonton yang asyik sendiri memelototi tipi. serius cuma untuk melihat kartun mulai dari dini hari.

kartun? iya kartun... film yang umum dan lazimnya disukai oleh anak-anak itu. macamnya? tanpa pandang bulu hampir semuanya saya suka (kecuali dora tentunya,hehe). sya suka NARUTO, saya suka POKEMON, dan tanpa malu-malu sya pun mengaku kalau saya salah satu penggemar SPONGE BOB..

alesannya? wuah ini dia yang susah dijawab. mungkin karena tiap orang punya sisi kanak-kanak dalam diri mereka (sya belajar tentang ini dari pelajaran filsafat), jadi berdasarkan teori ini wajar kan kalau saya menyukai kartun? toh ada cerita bapak-bapak yang udah berumur tapi masih menyukai maen layangan (bahkan ampe keliling dunia ikut kejuaraannya cuma gara2 seneng maen layangan), ada cerita artis yang sudah masuk kategori emak-emak tapi sangat terobsesi mengumpulkan barbie, jadi rekor dua hari tidak mandi cuma karena keasyikan memelototi dvd demi menonton kartun yah bagi sya pribadi masih bisa diterima nurani (hehehe..)

mungkin juga krn sya tipikal orang yang sangat suka mengkhayal. mengkhayal? iya saya sering kali berfikir begini..

"kayaknya menyenangkan bisa menjadi NARUTO. cukup nyilang-nyilangin tangan bisa bikin kloningan diri. bayangkan bermacam-macam acara yang bisa saya ikuti? bayangkan semua hal yang bisa saya ketahui? bayangkan beragam orang (wanita apalagi) yang bisa sya kenali?..."

"tampaknya menyenangkan bisa kayak cerita POKEMON. cukup modal beberapa biji bola berisi monster semua pekerjaan bisa teratasi. mau yang berat2? tinggal nyuruh monster segede kingkong untuk ngurusin. ada kebakaran? tinggal nyuruh monster yang bisa nyemburin aer untuk madamin api. gk bisa tidur? gampang, tinggal lempar bola ngeluarin monster yang pinter nyanyi. olala, enaknya kalau bisa seperti itu.."

"SPONGEBOB apalagi. cukup bawa sabun cair saya bisa bikin replika macam-macam. mau mudik kebengkulu tinggal bikin replika kapal terbang. pasti sangat enak kalau bisa melakukan hal gila seperti itu.."

yah jujur, sya juga sering kali berfikir seperti itu kawan..

tpi mungkin alasan sebenarnya sya suka KARTUN karena saya menemukan sosok idaman dalam karakter utamanya. sosok idaman? apa yang bisa diambil dari karakter utama kartun semacam NARUTO, POKEMON, bahkan SPONGEBOB? karakter yang jujur sja tergolong dalam ranah "berotak bego" (itu juga rada diperhalus dari seharusnya ber-IQ jongkok).

ya semua karakter utama kartun-kartun semacam itu rata-rata bego (ntahlah apa memang terlalu polos atau memang bego saja). lihat saja bagaimana aksi-aksi mereka yang benar-benar menggambarkan itu. tapi justru bagian itulah yang membuat saya sangat menyukai KARTUN.

melihat bagaimana para karakter itu memahami bahwa mereka memang bego, tapi mereka TIDAK PERNAH KENAL KATA MENYERAH UNTUK MENCAPAI APA YANG MEREKA INGINKAN bagian itulah yang paling saya suka.

bagaimana naruto yang jujur saja dulunya paling gak bisa jurus bikin kloningan diri (ampe brp kali gagal ujian jg) tpi malah jadi paling jago jurus itu demi cita-citanya jadi hokage. melihat bagaimana dia yang bego memahami jurus dengan caranya sendiri akhirnya bisa juga walau itu harus diulangi ratusan kali.

bagaimana ash dalam cerita pokemon harus merantau keliling dunia, keluar masuk gym, bertarung sama berbagai monster cuma demi mimpinya jadi pelatih monster terbaik sedunia. walau itu berarti jauh dari ibunya, meninggalkan berbagai hal yang disukainya, dan ikut latihan yang sangat berat tiada dua.

bagaimana sponge bob yang se-gila itu mengikuti puluhan (mungkin lebih tepatnya ratusan) kali kelas nyonya puff. mengikuti ratusan kali bahan pelajaran yang sama. mengulangi (dan menghancurkan) tes menyetir yang sama. bahkan sampai membuat nyonya puff jeri akan keuletan tekad sponge bob cuma untuk mendapatkan SIM secara jujur.

itulah yang saya senangi, bagian dimana "sya tahu saya bego, saya tahu saya gk bisa, saya tahu saya harus mengulangi ratusan kali an saya harus dicemooh oleh semua orang tapi itu semua tidaklah menghalangi saya untuk mati-matian menggapai mimpi sya"

bagian "tekad sepenuh jiwa raga" itu yang saya iri. yang mati-matian saya coba ikuti (tapi jujur saya juga sering kali gak mampu). bagian dimana justru krn sya tahu saya gak mampu tapi peduli sama itu sayaakan buat itu suatu saat menjadi mampu untuk menggapai semua itu!

yah kartun memang tontonan anak-anak. sering kali dicemooh oleh orang banyak dengan ucapan sinis "please deh, hari gini nonton kartun". ya dan saya tahu dengan sangat pasti (puji syukur karena pelajaran SD,SMP,SMA dan kuliah yang saya dapati) bahwa itu cuma kartun, sosok dimana karakternya mau mati trus hidup lagi, mau kelindes gk juga mati, itu semua gk hrus dipikirn..toh cuma kartun.

tapi justru krn pelajaran SD, SMP, SMA dan kuliah (belom termasuk les-les lain) yang saya dapati maka sya jadi berfikir serius kali ini "Apa bisa sya sekuat dan seteguh itu mencapai cita-cita yang saya inginkan?". berusaha lagi dan lagi walau itu berarti harus dicaci, harus mengulang dari awal lagi, walau itu harus berarti pergi dan menjadi sendiri? smua demi cita-cita yang saya inginkan. demi harapan yang saya yakini sendiri.

dan kali ini saya cuma mau nanya dikiiiit aja..

apa saya bisa seperti "KARTUN?"
apa mereka bisa seperti "KARTUN?"
apa kalian semua bisa seperti "KARTUN?"

.............

P.S:
kapan yah sponge bob dapet SIM-nya?hehehe, think... read more..

puisi iseng..heu

0

Posted by median | Posted in

Duhai Sayang,
Apa engkau tahu semua yang membuat aku tertarik kepadamu?
Senyummu?
Wajahmu?
Tingkahmu?
Hatimu?
Ah sebenarnya semua membuatku menggilai sosokmu...

Duhai kekasih,
Apa engkau sadar segala yang membuatku merindukanmu?
suaramu?
Perhatian-perhatian kecilmu?
Genggam erat tanganmu?
Janjimu?
Ah keseluruhannya menciptakan kerinduan mendalam akan pribadimu....

Duhai cinta,
Apa engkau mengerti keseluruhan yang membuatku kecewa akanmu?
Kesibukanmu?
Kebohonganmu?
Diammu?
Pilihanmu?
Jujur keseluruhannya membuncahkan kekecewaan akan dirimu...

tolonglah pahami sepenuhnya sekali ini saja.
Aku tertarik? Dari dulu pun begitu..
Aku rindu? Selalu dan jangan ragukan itu..
aku kecewa? Ah mungkin engkaupun hanya bisa membisu..
pahami bahwa aku tidak butuh bujuk rayu..
tidak perlu ungkapan sayang mendayu-dayu..
tidak pula menuntut perlu akan perlakuan romantis kepadaku.
Aku hanya butuh bukti akan sosokmu.
Yang dulu pernah berkata suka sambil tersipu malu.
Yang dulu berjanji akan menemani sosokku.
Yang dulu selalu menanyakan kabarku.
Tidak kurang, tidak lebih..

Apa akan ada bukti itu?
Tak tahulah aku.
Lagi-lagi engkau hanya bisa membisu. Sibuk akan pilihan-pilihanmu.
Maka subuh ini aku ingin mengucapkan pamit. Meninggalkanmu.
Lelah berharap.
Lelah membujuk.
Lelah untuk mencoba sayang kepada sosok sepertimu.
Selamat tinggal,
Terima kasih..
Untuk semuanya
Untuk semua kenangan yang pernah ada..

Dulu..
Di waktu itu.. read more..