..........................................
Kupermainkan kunci mobil, memandang ke arah perkebunan sawit yang sudah lama tak ku kunjungi ini. Tak terlalu kudengarkan cerita beliau yang sedang duduk di bale-bale bambu di sebelahku. Sudah sangat sering aku mendengar cerita perantauan, plus seribu satu pengalaman lainnya. Biasa saja. Sudah terlalu sering kudengarkan. Kebal rasanya,haha.
"Tak terbilang pula berapa kali Ayah mu ini berkelahi. Mengambil resiko besar pada saat ikut dalam suatu proyek sudah biasa. Dan kau harus tau abang, kalau Ayah mu ini dulu playboy. Haha, urusan wanita itu gampang saja bagi Ayah. Tapi tau kah kau abang bagaimana dulu waktu bapak bertemu Ibu mu? Oi, pertama kali aku bertemu dengannya yang Ayah lakukan cuma bengong macam orang bego saja. Kaku badan Ayah cuma untuk mengulurkan tangan berkenalan. Dan Ibu mu hanya tertawa saja. Amboi mati kutu ayah sekali itu."
Ku alihkan pandanganku ke Ayah. Nah loh, cerita ini yang tidak pernah diceritakan. Soal perantauan sudah biasa, soal kenekatan mengambil proyek beresiko apalagi, soal ke playboy-an bahkan sampai hapal jurus-jurusnya beliau saat merayu, tapi soal cerita bagaimana berkenalan dengan ibu? Sumpah mati baru kali ini baru kudengar dari mulutnya sendiri.
Ayah diam. Pelan mengepulkan asap rokoknya. Senyap. Yang terdengar cuma suara-suara pekerja yang sedang memanen tandur buah sawit dan suara binatang hutan.
"Ayah sudah pernah berpacaran dengan banyak perempuan abang. Mau yang pintar dari ibukota sampai yang sederhana juga sudah. Yang cantik jelita atau yang biasa saja juga pernah. Tak ada satupun yang mampu membuat ayahmu ini sampai mati kutu seperti itu. Ayah ingat pula saat pertama kali ngapel kerumah ibu, wuah macam bunyi genderang perang saja jantung ayah. Dag dug dag dug dag dug. Berdiri di depan gerbang rumah ibumu. Berat kali rasanya untuk melangkah masuk. Belum lagi kakek mu dulu, galaknya wuah macam harimau saja waktu itu."
"Untuk pertama kalinya dalam hidup ayah ada wanita yang mampu membuat ayah bergetar. Hangat terasa dalam dada. Membuat ayah mabuk kepayang merindukannya. Walau kakek mu awalnya tak setuju tapi ayah kejar terus ibu mu. Yah kakekmu dulu tidaklah setuju, putus asa kali ayah dulu waktu ibu mu bercerita sambil menangis bahwa kakekmu marah tidak setuju akan hubungan kami". Raut muka ayah menjadi sedikit sendu. Membuatku berfikir, sebegitunya kah kakek tidak setuju akan hubungan ayah dengan ibu?
Ayah menghela nafas panjang, menyunggingkan senyuman kecil kemudian menyeruput kembali kopinya.
"Ayah berfikir abang, bahwa hal ini harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Karena ayahmu ini cinta ibumu. Benar-benar cinta. Jadi ayah siapkan hati, ayah datang ke rumah kakek. Datang mengaku kepada kakekmu. Bahwa bapakmu ini memang bukanlah orang yang paling baik, bukan pula orang paling kaya, tapi sungguh mati ayah berani bilang paling cinta kepada ibu mu dari laki-laki lain diluar sana. Ayah sungguh ingin mempersunting ibu mu! Dan untunglah sejak saat itu kakek mu melunak, terutama saat melihat ibumu menangis terharu mendengar perkataan ayahmu. Sebulan kemudian ayahmumu ini sudah duduk dipelaminan dengan ibu, amboi bahagia kali hati ayah di saat itu".
Ada bulir air mata di pelupuk mata ayah. Aku yakin itu air mata kebahagiaan. Tak menyangka ternyata ayah sedemikian tidak berdayanya waktu itu untuk mendapatkan ibu. Berusaha dengan sangat keras saking cintanya. Membuat aku kali ini tersenyum, berkata dalam hati dengan bangga "itu ayahku!!!"
"Jadi tolong ingat abang, kalau engkau menemukan wanita yang mampu membuatmu seperti itu. Ayah tau bagaimana susahnya bahkan untuk berkata. Menggerakkan jari pun macam mau menggoyang tembok beton saja. Tapi berusahalah abang. Jangan menyerah. Karena semuanya harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Sampai benar-benar waktunya habis. Camkan itu!!".
....................................................................................
Like father like son. Begitu pula alasan aku sedang berdiri di udara yang membeku didepan pintu gerbang panti ini. Kurapatkan jaket kulitku. Melirik kearah jam tanganku. Bah, Jarum jam sudah menunjuk angka 6 tepat tapi tetap saja bandung dipagi ini udaranya dingin menyesap ke tulang. Membuat orang-orang tak mau beranjak dari pembaringan, hari libur pula. Hari ini aku harus masuk kedalam panti. Mengetahui apakah benar itu dia, permata yang kucari selama ini.
Ku pencet bel gerbang. Mendengar suara dari dalam sana. Beberapa lama kemudian pintu panti terbuka. Satu sosok laki-laki yang kutaksir umurnya 50-an datang menghampiri tergopoh-gopoh.
"Assalamualaikum kang.." sapa ku. Bersikap seramah mungkin (plus berusaha menenangkan degup jantung yang semakin tak menentu. Toh sebentar lagi aku mungkin saja akan bertemu dia didalam)
"Waalaikumsalam A, aduh punten ya A lama. Anak-anak lagi siap-siap mau kebersihan di dalam. Ada apa ya A?
"mmmmmh, begini pak. Sya Tian. Rencana saya mau menyumbang untuk panti bapak. Tapi ya sya mau liat-liat dulu keadaan panti. Boleh kita bicara didalam saja kang?". Sudah ku susun strategi untuk mendapatkan info sebanyak mungkin tentang keadaan panti. Lagipula kebetulan perusahaanku memang mau membayar zakat, jadi sekalian saja ku gunakan sebagai alasan untuk mendapatkan info tentang panti ini.
Dengan cekatan bapak-bapak ini membuka gerendel kunci gerbang panti. Membuka slot penguncinya. Berkata dengan ramah.
"Wuah kami sangat senang sekali A. Mari silahkan masuk kedalam"
..................................................................
Hoooo, ternyata dalamnya panti ini lumayan menyenangkan. Yah tidak banyak barang-barang yang ada disini. Tapi menyenangkan. Hawanya tentram. Dari ruangan ujung sana terdengar suara anak-anak kecil yang sedang bersih-bersih kamarnya. Celetukan. Tawa. Satu dua terdengar rengekan manja.
"Wuah kang lagi rame-ramenya ya anak-anak?". Kuedarkan pandangan keliling ruangan. Berusaha mencari sekilas sosoknya. Atau apapun yang berkaitan dengan dia. Foto mungkin atau apapun.
"Ah biasa A. Biasa namanya juga anak-anak. Mari duduk A. Teteh tolong minumanya. Ada Tamu..". Kang yayat menyilahkan duduk.
Ahhh, tidak ada foto apapun yang menunjukkan sosok dia di dinding ruang tamu ini. Setengah kecewa aku segera duduk untuk menenangkan pikiran. Apa benar sosok yang aku liat beberapa hari kmaren adalah sosok permata? Coba aku tanya pelan-pelan saja, mudah-mudahan ada kabar tentang permata. Aku harus tenang..
"Kang, dah berapa lama pantinya berdiri? Terus sekarang ada berapa anak yang diasuh disini?". Mulai kupasang taktik "interogasi" ku.
"Ah sejak dulu. Akang sama teteh cuma meneruskan menjaga. Lagi pula kami tidak punya anak, rasanya tentram disini. Berasa punya anak yang banyak". Canda kang yayat kepadaku. Seorang wanita paruh baya keluar membawa nampan berisi dua cangkir teh panas. Oh, ini istrinya kang yayat rupanya.
"Mari a, diminum. Maaf cuma ada ini saja". Sapa istri kang yayat kepadaku.
"Iya teh, nuhun"
"oh ya kang, yang jaga cuma akang berdua? Atau ada orang lain?". Pancingku. Semoga saja mereka menyebutkan nama dia, permata.
"memang ada beberapa orang yang menjadi sukarelawan disini A. Mereka sering berganti-ganti datang kesini". Ahaaa, ini dia. Petunjuk kesana. Harus pelan-pelan saja mengorek petunjuk seperti ini. Salah salah akan dicurigai malah.
"mmmh, begitu rupanya. Begini kang. Saya punya niatan untuk menyumbang uang dan peralatan untuk panti. Kalau diperbolehkan, saya ingin melihat anak-anak langsung boleh kang? Jadi bisa tau kira-kira butuhnya apa. Yah sambil nyantai saja sekarang, gak usah nyuruh anak siap-siap segala". Pertama-tama aku harus memeriksa anak kecil yang kulihat bermain dengan permata waktu itu.
"Mari A kalau begitu. Kita ke kamar anak-anak". Kang Yayat beranjak dari tempat duduknya mempersilahkan ku masuk kedalam.
.....................................................................
Mereka semua sedang sibuk bersih-bersih. Liatlah dipojokan sana dua anak sedang mengelap jendela kamar, ada yang sedang menyapu, ada yang sedang membereskan tempat tidur. Ada pula yang malah asyik saling melempar bantal ke yang lain. Riuh sekali, Haha, anak-anak. Mau dimanapun mereka berada tetap saja anak-anak.
"yah begini A, anak-anak. Rata-rata masih SD yang paling besar masih SMA A". Jelas kang yayat.
Kuperhatikan dengan seksama, mencoba mencari sosok anak kecil lucu nan imut yang kuliat waktu itu. Aha, itu dia sedang tersuruk-suruk tertawa di bagian bawah tempat tidur. Sedang bermain rupanya.
"Anak-anak cepetan bersih-bersihnya. Sebentar lagi sarapan!". Kang yayat berkata dengan suara yang sedikit keras.
"kang, boleh sya masuk? menyapa anak-anak?" tanyaku.
"silahkan saja A, sya tinggal sebentar. Mau mengecek kebelakang. Tidak apa-apa kan A?"
Kuanggukkan kepalaku. Bagus, malah aku lebih gampang mengorek keterangan dari anak itu kalau gak ada kang yayat.
Mendengar perkataan Kang Yayat tadi, anak-anak semakin semangat menyelesaikan bersih-bersihnya. Tak terlalu mempedulikan aku yang mulai masuk kedalam ruangan. Ah, paling cuma sukarelawan atau tamu yang baru datang melihat-lihat. Mungkin itu pikiran mereka (mana kutau benar atau salah, haha)
"wuah, adek ngapain ni dibawah kasur? Maen petak umpet tah?". Sapaku kepada anak kecil perempuan nan lucu yang masih sembunyi dari tadi di bawah ranjang ini.
"aaaaahhh, atuh aa. Nanti arum ketauan ngumpet dibawah kacur. Disuruh bercih-bercih nanti kan capek arumnya". Manyun. Anak kecil bernama arum ini merengek manja.
Haha, mau ketawa aku dalam hati. Jelas-jelas keliatan gitu sembunyinya juga. Masa gak ketauan dari tadi. Paling anak-anak yang lain membiarkan arum gk kerja karena dia masih kecil. Makanya mereka diam saja gk menyuruh arum bekerja.
Aku duduk di ranjang tempat anak kecil itu bersembunyi. Membungkuk sedikit ke arah anak itu "oh ya, aa ngmg pelan-pelan klo gitu. Biar gk ketauan yah? Oh yah, aa juga ada hadiah kecil nih. Mau gk?"
Kusorongkan satu batang coklat yang kuambil dari saku jaket ku. Salah satu bagian strategiku, coklat. Sogokan kecil. Anak kecil mana yang bisa menolak coklat batangan sebesar ini coba?
"wuaaaah, aciiiikkkk.. Makacih aa cakep. Tapi diam-diam aja yah? Tar arum mau bagi. Kacih kejutan ke yang lainnya". Mata anak ini berbinar-binar menerima coklat sebesar ini. Mengerjap-ngerjap dengan lucu. Cadel pula.
"keluar atuh, ngobrol ma aa. Masa dibawah terus. Pan capek aa nya bungkuk terus. Tuh anak-anak bentar lagi juga mau beres bersih-bersihnya". Bujukku.
"Anak-anak, sudah kan bersih-bersihnya? Bersihkan diri kalian. Langsung ke ruang makan. A nanti ikut kita sarapan saja". Dari ujung sana Kang yayat berkata dengan suara keras.
Arum langsung keluar. Tergopoh-gopoh memasukkan coklatnya kedalam baju. Berteriak "iya, arum tar kecana...". Membuatku tertawa kecil saja, ekspresif sekali anak ini.
Dan arum pun menarik tanganku. Berkata "aa ikut arum yuk. Mam ma arum cama yang lainnya".
Yaaaah, mau gak mau aku pun ikut saja. Toh memang benar-benar menyenangkan ternyata.
...................................................................
Ruangan makan ini tidak cukup besar, maka tak heran cuma ada meja yang mampu memuat paling banyak delapan orang. Padahal kalau aku hitung-hitung anak-anak mencapai tiga puluh orang lebih. Semuanya mengantri dengan tertib untuk mengambil jatah makanannya.
Aku masih berbincang-bincang dengan kang yayat, teh lilis sibuk menyiapkan makanan, arum malah sibuk bergelayut manka dikaki ku. Tampak senang sekali karena mendapatkan sogokanku itu. Berceloteh riang.
"mari A, kita makan dulu. Anak-anak sudah mengambil jatah sarapannya" lembut teh lilis berkata sambil mengisyaratkan tangannya ke arah arum untuk menghampirinya.
Arum menggeleng, bersembunyi di belakangku. "gak mau.. Mau bareng aa cakep ajah".
"ya udah hayu arum mam bareng kita". Kang yayat berkata ramah.
Dan suasana sarapan pagi ini benar-benar menentramkan. Makan bareng dengan Teh lilis, kang yayat, arum kecil. Benar-benar seperti keluarga sendiri. Mendengarkan cerita masa muda kang yayat dan teh lilis, celotehan-celotehan arum. Sampai saat arum berkata.
"tar arum mau kenalin aa cakep cama teteh permata. Padahal aa cocok ma teteh permata yang cantik. tapi cayang teteh dah punya aa ridwan". Celoteh arum yang kesekian kalinya. Berceloteh riang sambil menyendokkan makanannya. Belepotan. Khas anak kecil umumnya.
Uhhuk, aku yang sedang mengunyah makananku tersedak dibuatnya. Tanpa dikorek pun malah info ini datang dengan sendirinya. Ridwan, pacar permata memang dia. Ah, itu ternyata memang benar dia. Sosok permata yang kuliat kemarin bukanlah khayal semata.
"permata? Siapa ya teh?" tanyaku.
"permata, dia sukarelawan disini. Deket banget dengan arum. Udah kayak adik sendiri. Makanya arum kalau ada apa-apa pasti larinya ke permata". Jelas teh lilis.
I see, sekarang semuanya sudah jelas. Pantas aku tidak melihat dia disini hari ini. Statusnya cuma sukarelawan jadi kemungkinan besar dia pulang dulu hari ini. Untunglah, berarti aku masih bsa mempersiapkan hati untuk bertemu dia.
............................................................
"mari kang, insyaallah maksimal dalam dua hari kedepan sya sudah datang kesini dengan bantuan yang dibutuhkan". Kusalami kang yayat dan teh lilis. Ku acak-acak sedikit rambut arum. Pamitan kepada bocah kecil nan lucu ini.
"tar yah arum. Tar aa datang lagi aa bawa coklat yang banyak deh"
"horeeeeeee, janji ya aa". Arum mengulurkan kelingking kanan kepadaku. Memasang senyumnya yang paling manis. Aeh kalo gak ada kang yayat ma teh lilis mungkin sudah kubawa pulang ni anak, haha..
Kuulurkan kelingking ku, mengaitkannya dengan kelingking arum. Berkata pelan dan mantap "janji.."
Dan aku pun pamit, aku sudah tau mau kemana kalau harus mencari permata. Secepatnya aku akan kesini lagi.
Kubuka pintu gerbang, mengarahkan pandangan ke arah kang yayat, teh lilis dan arum. Melambaikan tangan. Membalikkan badan dan sumpah terkejut setengah mati karena tanpa aku sadari permata sudah berada didepanku. Dekat sekali. Baru kali ini aku melihat dia sedekat ini.
Sialan, aku gk bisa berkata apa-apa. Pipiku panas (pasti mukaku memerah). Tampangku bengong macam orang bego saja. Kaku badanku bahkan hanya untuk mengulurkan tangan bersalaman.
Yang mampu ku ucapkan hanyalah
"hai....."
Dan permata yang kulihat pun juga terpaku seperti ku. Diam saja. Tak bergerak. Mungkin tak enak bertemu ku yang tiba-tiba mungkin datang mengganggu.
Kutundukkan kepalaku, menarik nafas panjang, berusaha menenangkan degup jantung yang sudah macam genderang perang. Berkata pelan sambil tertunduk.
"Dua hari lagi aku akan datang lagi kesini. Tolong, kuharap engkau ada disini..."
Ku paksa kakiku yang terasa berat untuk melangkah. Melewatinya. Melangkah dan segera menaiki motor yang kuparkir di belakangnya. Menekan tombol starter dan segera pergi. Berfikir dan menggumam dalam hati,
"sepertinya aku paham perasaan ayah sewaktu bertemu ibu pertama kali dulu........."
read more..
Posted by median | Posted in novel ku
chapter 3 novel sya "dan semua ada waktunya.."
….........................
Hotel, at bed 08:17 AM..
“you've got a message.....”.
Aku terbangun. Menggerutu. Mengomel setengah terpejam. Sepagi ini di hotel ini seharusnya aku bisa bangun tinggi hari. Bermalas-malasan sekali sekali. Toh flight time kebandung masih sore, sengaja aku memesan jam segitu karena ada janji dengan teman lama ku. Seorang pengusaha muda di bagian real estate yang ingin menunjukkan proyek barunya. Proyek yang ambisius itu. Beberapa kali masuk headline utama dan menjadi percakapan hangat diantara para pengusaha properti. Masih teringat jelas suaranya sewaktu menelponku
“Datanglah ke proyekku, sekali ini saja teman. Sudah lama kita tak bertemu. Datanglah sebelum matahari terbenam. Kan lu dari dulu suka melihat langit? View disini bagus sekali jam segitu. Oke? Gue tunggu..”.
Dan lihatlah sekarang, aku malah terbangun oleh satu sms sialan di pagi hari. Kuraih communicatorku, dengan mata setengah terpejam kubuka sms sialan itu.
“syg kemana? Kok dari kemaren gk kasih kabar siy? Sms-sms aku gk dibales. Telpon gk diangkat. Kapan pulang? Kasih kabar yah kamu lagi ngapain. Kangeeen..”
Sialnya ternyata itu satu sms dari para wanitaku. Sialan. Mata mengantuk. Kepala yang masih terasa pusing karena wine semalam yang ku teguk. Tambah lagi pesan singkat yang intinya sama saja dengan “laporan”. Memuakkan. Aku sudah pernah berdekatan dengan beragam jenis wanita. Intelek, model, orang biasa, orang alim, cantik, biasa saja, atau malah yang bertipe bitchy sekalipun aku pernah. Tapi kenapa satu pun aku tidak menemukan wanita yang bisa memberikan kepercayaan penuh kepadaku. Alih-alih mengirimkan pesan yang mensupport, joke ringan yang membuatku tersenyum dan selalu mengingat mereka ini malah meminta laporan setiap saat. Memangnya aku ajudan mereka? Sedikit sedikit musti laporan. Tak tahukah mereka kami kaum laki-laki tidaklah suka merasa seperti itu. Merasa dianggap seperti musang. Musang yang bila tidak “dikontrol” dengan baik maka akan langsung berpaling memangsa yang lain. Jadi buat apa mereka mau menjalin hubungan bila tidak percaya? Menggelikan.
Aku abaikan pesan singkat itu. Memikirkan satu kemungkinan, bahwa sepertinya wanita ini juga akan masuk daftar mantanku berikutnya. Tersenyum dengan satu fakta yang baru hinggap di pikiranku “perasaan belum pernah aku berpacaran mencapai setengah tahun lebih. Sering kali hanya sebulan dua bulan saja”. Ku letakkan kembali communicatorku ke sisi bantal, beringsut sedikit dari pembaringan, menggeliat mengucek mata. Berdiri. Segera pergi mandi. Berfikir mungkin dengan guyuran air maka aku bisa segar kembali. Yah mungkin...
Hotel, bathroom 08:24 AM..
Kuputar kran shower. Membiarkan aliran air hangat membasahi sekujur tubuh. Menyenangkan juga mandi dengan air hangat sepagi ini. Pusing ku sudah mulai menghilang. Pikiranku mulai terasa benderang. Hanya pada saat-saat seperti inilah aku bisa bersantai, tidur sampai siang hari (walau toh tetap saja kalau ada masalah sedikit maka para bawahan akan langsung menelpon tergopoh-gopoh), bermalas-malasan sedikit sebelum rutinitas itu datang. Berurusan dengan semua orang. Sangat banyak orang. Tapi anehnya entah kenapa semuanya terasa semakin kosong. Tak sanggup segala urusan menghilangkan rasa itu. Merasa sendiri.
Sejak jauh dari DIA aku memutuskan untuk semakin tenggelam dalam kesibukan, aku ikuti beragam organisasi, mendatangi beragam acara, total dalam membesarkan usaha-usaha yang kurintis. Tempat baru. Wanita baru. Orang-orang baru. Rekan baru. Teman-teman baru. Banyak, teramat banyak. Tapi kekosongan itu semakin besar saja. Sesak aku dibuatnya. Sering kali merasa sendiri justru saat aku berada di keramaian semua orang. Dan sejujurnya aku tidak terlalu menganggap semua orang itu bisa dianggap teman yang baik atau setidaknya bisa dipercaya. Ah entahlah, mungkin aku masih kurang menjelajah. Masih kurang mencoba hal baru. Masih kurang tenggelam dengan rutinitas-rutinitas yang ada. Atau mungkin aku hanya membutuhkan DIA? Permata itu? Entahlah, pusing kembali kepalaku hanya dengan memikirkannya saja.
Selesai mandi aku segera berpakaian. Seadanya. Jeans robek plus kaos hitam polos cukuplah. Keluar dari kamar hotel. Memutuskan untuk mencari satu atau dua novel bagus di mall depan sana. Hitung-hitung jalan-jalan berolahraga. Berapa minggu yah aku tidak berolahraga? Latihan di dojo seperti biasa. Seingatku hampir dua bulan lebih aku tidak datang.
Tersenyum masam mengingat sensei akan memarahiku (dan hal itu berarti sparing serta bantingan yang banyak). Belum terhitung rengek manja si kecil laras, astri, aster, opik dan yang lainnya, “om tian kemana aja? Gak mau tau pokoknya tar anterin pulang. Traktir makan juga. Kalo gak musuh!!! om tian jahat!!”. Dan untuk ini aku tersenyum riang. Selalu terasa menyenangkan latihan beladiri bersama mereka. Ksatria-ksatria kecil (walau dalam beberapa hal malah terasa mirip seperti penjahat kecil, haha).
Mall ini, baru dibuka pun sudah penuh dengan pengunjung. Wanita terutama. Selidik punya selidik ternyata ada SALE? Haha, pantas saja. Lihatlah mereka bergerombol seperti semut cuma untuk rebutan satu dua pasang sepatu yang didiskon (aku bahkan ragu apakah itu benar “diskon”. Karena toh harganya sama-sama saja). Saling sikut berdesakan cuma untuk satu dua potong pakaian. Saling tarik plus umpatan untuk mendapatkan satu dua pasang sepatu. Ah bagian mananya dari indonesia yang disebut “krisis” kalau melihat hal ini? Sibuk mereka belanja beberapa potong pakaian, memborong beberapa pasang sepatu. Aku bahkan ragu apa itu akan dipakai sepanjang tahun? Atau hanya dua tiga kali dan ujung-ujungnya dianggap usang. Masuk gudang! Dengan santai bilang “mode fashion sudah ketinggalan zaman teman”. Terkadang untuk beberapa urusan aku tidak pernah mengerti jalan fikiran manusia. Terutama untuk urusan seperti ini. Aneh, benar-benar aneh.
Akupun melenggang masuk ke salah satu toko buku di mall ini. Toko yang bagus. Musik yang cozy, penataan rak yang apik, warna yang terkesan hangat. Akupun langsung berjalan menuju rak buku baru. Mencari beberapa novel bagus, syukur-syukur kalau mendapatkan novel filsafat yang bagus (yeah, I really luv philosophy). Melihat-lihat dan memutuskan untuk mengambil satu novel yang menarik hati setelah membaca resensinya. Beranjak ke kasir. Membayar sejumlah uang dan langsung pergi ke cafe terdekat. Tujuan selanjutnya: sarapan plus membaca tentunya.
Mall, cafetaria 11:35 AM
Ah menyenangkan. Duduk di cafe yang sepi nan nyaman, bertemankan novel bagus. Plus sedikit cemilan plus minuman. Memanjakan pikiran sebentar (mengingat dalam beberapa jam lagi aku akan kembali sibuk dengan pekerjaan). Cuma membutuhkan dua jam kurang untuk menghabiskan 354 halaman novel ini. Maka aku duduk rileks, memakan cemilan yang dari tadi tidak terlalu dipedulikan (kebiasaan. Kalau aku sudah asyik dengan satu hal maka aku akan tidak mempedulikan banyak hal. Apalagi ini cuma sekedar cemilan). Mengedarkan pandangan dan memperhatikan pengunjung lainnya. Mmmmh, ada beberapa pengunjung. Dua bangku didepanku ada seorang wanita. Di pojok kiri juga wanita. Di ujung pojok sana ada pasangan yang sedang bercengkrama.
Sambil menghirup minuman aku memperhatikan wanita yang berada dua bangku didepanku. Cantik juga. Rambutnya hitam panjang. Berkacamata. Terlihat intelek pula. Terlihat sedang menyantap makanannya. Dan akupun memutuskan untuk melihat kemungkinan menggodanya (nah ini juga kebiasaan lama,haha). Tidak banyak yang aku lakukan. Hanya memperhatikan dia selama kurang lebih 20 menitan (ibarat pemburu maka observasilah terlebih dahulu) melihat “tanda” yang dia berikan baru membuatku memutuskan untuk langsung mendekati “buruan”. Hunting time..
“Tanda”? ya “tanda”. Salah satu teori konyol yang aku ciptakan sendiri. Dari pengalamanku (sekian lama perantauan, berkomunikasi dengan banyak orang, berpacaran dengan banyak wanita dan lainnya) aku tahu suatu fakta bahwa semua orang kadang kala berprilaku sama. Memiliki “tanda” yang sama.. “Tanda” yang diberikan pabila tertarik terhadap seseorang atau sesuatu. Ambil contoh seperti sekarang, dalam dua puluh menitan aku tahu kalau wanita dua bangku di depanku ini tertarik padaku. Bagaimana caranya? Gampang lihat saja tandanya. Ingatlah kalau segala sesuatu di dunia ini diciptakan tuhan dengan “tanda”nya masing-masing. Tinggal kita saja yang mau atau tidak membacanya.
“Tanda” nya apa? Gampang, lihatlah wanita itu. Perhatikan dengan seksama. Apakah wanita itu sempat melihat? Memperhatikan wajah dan bersitatap mata langsung maksudku? Satu kali melihat, ah itu biasa saja. Nothing special. Wajar saja intinya. Coba perhatikan kembali, apakah dia melihat kembali and yupz, she did that. Melihat ku untuk kedua kali. Dan itu berarti dia merasa aku rada “beda”. Rada menarik setidaknya. Maka perhatikan dia lebih seksama lagi, apakah dia melihat kembali untuk ketiga kalinya? And voila, she did that again. Tiga kali “strike”. Plus lagi sengaja berpura-pura membuang muka saat bertemu mata.
Sederhana bukan? Hanya membutuhkan 20 menitan untuk mengetahuinya. Apalagi kalau orang tersebut melihat berkali-kali (atau malah sambil menyunggingkan selarik senyum). Sengaja nian melakukannya. Sekarangpun aku tidak merasa sedang melakukan hal aneh. Membuat orang-orang merasa wajar untuk melihat ke arahku. Jadi aku yakin kalau wanita tadi melempar pandangan karena setidaknya rada tertarik kepadaku. Sederhana bukan ?
Aku ambil minumanku. Menenteng ringan novel yang telah selesai aku baca itu. Menghampirinya. Berkata sambil tersenyum ringan,
“hai..boleh aku duduk disini. Rasanya kurang menyenangkan duduk sendirian tanpa teman. Yah, itupun kalau kamu berkenan dan kamunya sendiri tidak sedang menunggu seseorang”
Dia mengangguk pelan. Merah muka malu tersipu. Mungkin tak menyangka aku akan menghampiri. Kutaruh minumanku dimeja. Duduk bertatapan muka dan mulailah pembicaraan diantara kami.
Okay, first rule on talking to women. Tanyalah hal-hal kecil tentangnya dan lingkungannya, timpali hal itu dengan ringan (dengan humor kalau perlu), pujilah hal-hal kecil tersebut atau detail kecil dari penampilannya (lebih baik daripada merayu fisiknya langsung, terkesan kayak playboy kampungan kalau begitu). And it always works for me, pembicaraan diantara kami berjalan menyenangkan. Banyak tawa, banyak cerita yang tersampaikan. Akrab sekali. Mmmmmh, bahkan aku mendapatkan banyak info tentangnya. Namanya sherry, bekerja di salah satu bank terkenal di kota bandung (well, kebetulan yang lagi-lagi menyenangkan), umur 23 tahun, berada di sinipun karena kantor yang menugaskan, serta beberapa puluh keterangan lain yang aku dapatkan.
Disela pembicaraan kulirik sedikit kearah jam tangan. Oh, shit. Sudah jam 1 kurang sepuluh. Satu jam setengah lagi aku sudah harus di bandara. Harus segera bersiap. Dan akupun permisi pamit, cepat menjelaskan kalau dalam waktu satu jam lebih sedikit aku sudah harus berada di bandara. Tak lupa pula sempat bertanya kepada dia..
“mmmmh sher, boleh minta kontaknya gk? Siapa tau nanti kita bisa bertemu lagi dibandung. A date perhaps?”
Yah, seperti yang diduga maka ringan saja sherry memberikan sederet angka kepadaku. Menitipkan pesan sambil tersenyum riang.
“jangan lupa ya a, kalau ada waktu telpon sherry”.
Akupun bergegas ke hotel. Tergesa-gesa karena harus secepatnya sampai di bandara. Mengemasi pakaian, laptop, dan beberapa berkas-berkas. Memasukkannya ke ransel besarku (jangan heran, karena dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah suka menggunakan koper untuk bepergian. Tidak praktis). Check out. Memanggil taksi, masuk dan langsung berpesan kepada sopirnya
“Bandara pak! Ngebut secepatnya. Sya bayar dua kali lipat dari argonya!”
Sky, at plane 14:45 PM..
“Bapak tidak apa-apa? Atau butuh sesuatu?” Sapa ramah dari pramugari cantik disebelahku
“oh tidak terima kasih mbak. Sya tidak apa-apa dan tidak butuh sesuatu sekarang”. Sahutku kepada pramugari cantik itu.
Yah kali ini aku kembali berbohong. Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa. Muka pucat. Rada berkeringat. Kedua telapak tanganku bahkan rada gemetar tidak bisa diam. Pramugari itu bahkan bisa langsung melihat hal itu.
Aku sebenarnya tidak pernah menyukai naik pesawat. Ganjil terasa. Teringat dulu saat pertama kali aku naik pesawat dari tempat asalku. Waktu itu aku masih SMA, bisa naik pesawat karena mendapatkan tugas membela daerah. Ikut dalam satu kejuaraan bahasa inggris pula. Sampai sekarang pun aku suka tertawa mengingatnya, bagaimana aku yang tergolong udik ini bisa-bisanya kok dapat tugas itu. Naik pesawat pula. Bagaimana aku pertama kali (dan itupun berlangsung sampai sekarang) merasa mual. Perutku terasa diaduk-aduk. Telingaku berdenging-denging mendengar bunyi mesin menderu-deru.
Waktu itu tidak ada pesawat boeing seperti ini, hanya ada pesawat kecil berkursi belasan saja. Pesawat kecil khas daerah. Rapuh berderit-derit saat mau mengudara. Menambah rasa mual, pusing tambah pula trauma takut mati melihat pesawat serapuh ini. Sekarang? Tak ada lagi pesawat kecil itu. Berganti dengan yang besar berkursi banyak. Gagah juga rupanya. Tapi semuanya masih sama saja. Puluhan kali aku naik burung besi rasanya tetap saja sama. Yah sepertinya tubuh udik ini benar-benar tidak bisa kompromi.
Cepatlah sampai ya tuhan, sebelum aku terlanjur muntah disini...
Bandung, site area 18:32 PM
Baru satu jam kurang aku sampai dibandung. And here I am. Duduk di site lantai 12 sebuah bangunan yang akan jadi apartemen mewah dengan total 24 lantai nantinya. Bertemankan segelas kopi, sedikit makanan dan seorang kawan lama. Duduk selonjoran begitu saja.
“wuah, makin sukses aja lu Gi. Perasaan baru kemaren-kemaren kita maen bareng. Ngeceng anak-anak SMA bareng waktu kuliah. Ditolak bareng juga. Haha, maklum dulu masih kere kitanya. Kalo sekarang cewe mana yang berani nolak elu Gi. Pengusaha muda, ganteng, bisa bikin apartemen setinggi ini pula. Gila lu! Gue kira sumpah lu dulu untuk bikin apartemen cuma ngomong doang”
Sosok yang kusapa Egi itupun tertawa, “ya elu tiap kali gua ngomong kagak pernah percaya. Mentang-mentang dulunya gue cuma maen mulu. Kalo gue ngmg bakal bikin ya mati-matian gue cari sela nya. Kalo dah dapet pasti gue bikin. Nih buktinya! Biar semua yang dulunya ngeremehin kita pada percaya! Pada hormat! Eneg gue ma kelakuan orang-orang dulu yang pernah mandang remeh kita.. inget gak lu?”
Pelan kuseruput moccachinoku, mengingat kembali semua kenangan dulu. Yah zaman dimana kami masih benar-benar sengsara dulu. Egi dan aku sama-sama mahasiswa perantauan. Berasal dari daerah yang berbeda. Beda karakter sifat pula. Tapi kami tahu bahwa kami pernah sama-sama sengsara dan melewatinya bersama. Itulah mengapa kami benar-benar dekat sampai sekarang.
Masa-masa itu masa yang pahit bagi kami. Bagaimana kami dulu dengan uang hanya dua puluh ribu bertahan hidup selama seminggu. Teringat juga bagaimana aku dan egi terpaksa ngutang sana sini waktu itu. Bagaimana juga kami beradaptasi dengan budaya, makanan, dan cuaca yang benar-benar berbeda disini. Saling jaga, saling berbagi, bahkan sama-sama diremehkan oleh orang-orang waktu itu. Yah karena kekurangan harta kami waktu itu.
“iya gue tahu. Dulu karena sering kali ngutang kita ampe diomelin yah sama mbak itu. Waktu awal-awal tahun dibandung. Saat kita gak punya teman-teman banyak. Tapi sudahlah gak usah ungkit lagi hal begituan. Ada waktunya kita kurang harta dan gak bisa bergaul. Dan kita buktikan juga ada saatnya kita sekarang memiliki cukup harta bukan? Untuk pergaulan juga begitu. Kalo gak ada ya tinggal buat aja dengan usaha, gitu kan prinsip kita dulu. Eh ngomong-ngomong gimana cewek lu sekarang? Jadi lu nikah tahun depan?”
sambil menyedot rokoknya Egi menimpali, “nikah? Ya jadilah. Mending nikah gue mah. Kebelet ni, lagian dah bosen gue maen ce mulu. Mu nyoba yang halal. Katanya mah lebih enak, hehe. Lu sendiri mau nikah kagak? Umur dah cukup tuh. Uang dah punya. Mobil ada. Mau nunggu apa lagi lu? Jangan bilang lu masih nunggu tuh cewek. Siapa tuh anaknya, lupa gue namanya.”
“beuh, gebleg lu. Nikah kok pake nyoba-nyoba. Yang serius lah. Nikah mah sekali aja men. Dikutuk baru tau rasa lu.....”
ku tarik nafas panjang. Pelan terdiam. Mencoba mengumpulkan tenaga untuk menyebut nama dia. Ya nama itu. Nama yang benar-benar berarti bagi ku.
“Namanya Permata Gi. Lu mah lupa mulu. Kalo soal nikah entahlah Gi. Gue masih bingung mau nikah kapan. Ortu dah sewot tuh nanya kapan gue nikah. Dan alasan kenapa gue bingung mau kapan nikah bukan karena Permata. Gue aja gak tau dia ada dimana sekarang. Atau malah dah nikah sama cowok nya dulu. Mana gue tau. Tar aja deh.. masih pengen seneng-seneng aku mah”
Melalui sudut mataku bisa kulihat kalau sobat yang kukenal 7 tahun lebih ini tersenyum getir. Mungkin merasa tidak enak mengungkit tentang dia lagi. Sosok yang dari dulu sering kali aku ceritakan kepadanya. Sosok wanitaku yang begitu berharga.
“sori bro, gue dah ngungkit-ngungkit dia lagi. Gue cuma ingetin sebagai sodara. Lu itu cowok men. Kalo memang mau sama tuh cewek cari dia! Kalo emang mau nyerah ya jangan mikirin dia lagi lah. Maaf kata ya, gue heran sebenarnya ce tuh apanya yang hebat. Ampe lu jadi kayak gini. Berantem jago, ngerayu apa lagi, tapi ma tuh cewek kok bisa-bisanya lu jadi bego gini? Realistis men. Gue gak mau lu kayak gini mulu
Malam menjelang. Suasana kota bandung pun semakin gelap. Begitu pula perasaanku. Entahlah untuk ke berapa kalinya Egi mengingatkanku akan hal ini. Tak bosan-bosan. Yah mungkin kali ini aku harus benar-benar mencari dia. Supaya rasa ini menjadi jelas. Mau dibawa kemana. Apakah percuma atau rasa ini tidaklah sia-sia. Maka hari ini, detik ini. Sambil memandang langit malam di kota bandung ini aku berjanji kepada_Nya
“tuhan, berikan aku kesempatan untuk bertemu sosok dia. Untuk memastikan rasa yang kau sisipkan ini. Biar jelas semuanya. Biar tak ada lagi asa yang sia-sia. Tolong... berikan kesempatan itu. Dan aku berjanji untuk tidak akan lari lagi kali ini. Akan kuhadapi sampai benar-benar habis waktunya nanti”
akupun beringsut dari tempat dudukku. Berdiri. Berkata kepada sosok sobatku yang masih diam di ujung sana.
“Gi, gue cabut dulu yah. Tar gue maen lagi kesini. Musti ngontrol anak-anak jam segini mah. Oke bro. Oke bro, tar kalo ada apa-apa kasih tau gue yah. Mau urusan gawean atau urusan nikahan gue pasti datang”
“Tian, tian.. ya udah buru berangkat sono. Tenang aja soal laporan gue pasti kasih tau elu. Sori untuk yang tadi. Elu taulah gue cuma mau ngingetin. Kita sodara bro. Selalu!”
Dan akupun tersenyum. Ya aku tahu kalo sosok didepanku ini adalah sodara, yah bukan sodara kandungku. Tapi hubungan kami lebih dari sekedar kakak adek. Saling menjaga. Saling ngingetin. Susah senang bersama-sama. Sodara selamanya.
“gk papa gi. Gue pamit. Salam buat tania..........”
Bandung, at residence street near site area 19:15 PM
Aku berjalan. Sendiri menyusuri jalan suatu perumahan didekat tempat proyek Egi. Bingung. Sunyi. Merasa sendiri. Dan inilah kebiasaanku dari dulu. Saat merasakan hal ini selalu merasa harus pergi jalan-jalan entah kemana. Jalan kaki atau naik motor kesayangan biasanya. Membuatku bisa jernih berfikir dan merenungi.Yah aku harus mengakui kalau kata-kata egi tadi sepenuhnya benar. 5 tahun telah berlalu dan hampir setiap hari aku selalu memikirkan dia. Sosok itu. Permata itu. Tapi apa yang aku lakukan? Hanya diam. Tak mau pula mencoba mencari dia. Aku bahkan bingung apakah saat bertemu dengan dia aku bakal bisa bersikap normal seperti biasa. Atau malah terserang penyakit gugup. Sukar berkata-kata. Melihat wajahnya dulu pun aku merasa mukaku memerah. Panas sedemikian rupa.
Apakah dia masih seperti dulu? Matanya masih berpendar indah berkilauan. Senyumnya yang manis dan menawan. Rambut hitam lurus yang mempesona itu. Tingkah lakunya yang lembut. Gerak gerik raganya yang memikat itu. Keelokan salah satu ciptaanMu. Tuhaaaaaaaaann, aku rindu dia. Tolong pertemukan aku dengan dia.
Dan langit pun mendadak cerah. Rembulan dan bintang bersinar lebih terang. Seisi semesta bertasbih untuk_Nya. Yah kali ini di malam ini pun tuhan kembali bersabda, sabda yang tak akan diketahui oleh kita umat ciptaannya “Nikmatilah pertemuan kalian. Tali takdir itu telah kupilin kembali. Sungguh aku akan merasa malu bila tidak mengabulkan doa kalian. Doa umat yang benar-benar meminta sepenuh hati....”
“Arum jangan nakal cepetan masuk kedalam. Dah malam ini juga. Tar ada yang nyulik loh. Udahan maennya”. Aku mendengar suara seorang perempuan dari rumah didepan. Cukup keras setengah berteriak. Suara siapa ini? Aku merasa pernah mendengarnya. Tak asing ditelinga.
“Gak mau teteh. Arum masih mau maen ayunan.. teteh dorongin yah???”. Kali ini suara anak kecil yang terdengar.
Aku berjalan tepat ke arah rumah tempat asal suara tadi. Penasaran akan suara yang rada kukenal tadi membuatku berhenti tepat didepan pagarnya. Rumah yang tidak begitu besar tapi memiliki penataan yang bagus. Ya walau kurang penerangan dihalamannya. Bahkan didekat pagar inipun penerangannya hanyalah seadanya. Remang-remang saja. Palang bertuliskan panti asuhan Muhammadiyah. Halaman yang rada besar plus taman bermain kecil didepannya. Disana aku melihat seorang anak kecil lucu sedang sibuk maen ayunan. Anak kecil ini yang sepertinya berbicara tadi. Tangannya pun melambai-lambai memanggil seseorang yang berada didalam rumah.
Seorang perempuan keluar dari dalam rumah. Berjalan tergesa kearah anak kecil tadi berkata dengan nada lembut kepada dia “arum mah nakal. Teteh jewer nanti. Cepet masuk, nanti sakit lagi”. Memangku lembut bocah yang disebut arum tadi. Menjewernya pelan. Tertawa. Dan langsung berbalik arah. Masuk kembali kedalam rumah.
Aku terpana. Aku terpana oleh suatu sosok yang sangat kukenal “ITU DIA!!!!PERMATA yang ku rindu selama ini”. Tak akan mungkin aku melupakan sosok itu. Sosok yang slalu aku bayangkan dalam tidurku. Sosok yang selalu kurindu. Mata ku tak mampu berkedip. Kakiku tak mampu bergerak . Mulutku tak mampu berkata-kata. Sempurna gagu seperti yang aku perkirakan sebelumnya. Dadaku sesak oleh fakta ini. Berkata pelan sungguh-sungguh didalam hati
“Tuhan.. terima kasih. Sungguh sekali ini aku benar-benar berterima kasih.........”
chapter dua novel sya "dan semua ada waktunya"
“iya sayang.. cepet bobo yah. Kan besok maen lagi sama teteh permata sama yang lainnya. Tar klo telat bobonya bisa bangun kesiangan lho. Gk nyicipin sarapan spesial buatan teteh. Pasti nanti keabisan dimam sama yang lain”. Akupun menimpali. Perkataan itupun dijawab dengan anggukan kecil dan sang bocah pun langsung memejamkan matanya. Tidur setelah seharian bermain bersama anak-anak yang lain. Kelelahan rupanya.
Akupun beranjak pergi meninggalkan kamar berukuran besar yang dihuni oleh 20 orang anak lainnya. Kamar yang berada di dalam sebuah panti asuhan kecil yang berada di salah satu pokok di kota bandung ini. Panti asuhan yang terjepit oleh proyek real estate yang ambisius dari kontraktor ternama. Maka aku mematikan lampu. Menutup pintu. Segera beranjak kedapur untuk menyeduh segelas teh manis hangat. Berjalan perlahan keruang depan. Disana pun sudah ada dua orang lainnya, seorang wanita dan seorang laki-laki. Suami istri tepatnya. Suami istri yang sudah mulai berumur yang setia menjaga panti asuhan ini. Teh lilis dan kang yayat nama mereka. Pasangan yang menjaga panti ini dari awal berdiri.
“udah pada tidur semuanya? Makasih ya ta. Hari ini lagi-lagi kamu membantu kami untuk mengurus anak-anak. Mau langsung pulang? Atau nginep dulu? Kalau mau pulang nanti dianter ma bapak. Gak baik kamu pulang sendiri”. Teh lilis berkata lembut kepadaku.
“permata nginep aja teh. Dah malem banget. Lagian tar pagi permata dah janji sama anak-anak mau bikinin sarapan spesial buat mereka. Permata keteras depan ya teh? Mau duduk-duduk menghirup udara segar sebentar”.
“iya boleh. Tapi jangan lama-lama ya?gak baik nanti masuk angin”. Pesan teh lilis sebelum beranjak pergi kekamarnya bersama kang yayat. Beristirahat.
Dan akupun perlahan berjalan keteras depan. Melakukan kebiasaanku. Kebiasaan ku yang hadir sejak tiga tahun yang lalu. Duduk di teras depan rumah untuk melihat langit. Kebiasaanku yang mulai ada sejak aku mengenal dia. Malam ini pun sama seperti malam kemaren-kemaren. Malam-malam setelah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bersama anak-anak panti asuhan. Malam-malam penuh doa mendesahkan namanya. Satu hal yang aku bingungkan dari dulu sampai sekarang. Memang di pagi hari sampai menjelang malam aku tidak pernah sedetikpun teringat dia. Sibuk mengurus anak-anak panti (sejak aku memutuskan untuk menjadi sukarelawan tetap disini). Tapi saat-saat seperti ini ya rabb. Saat hening, malam menjemput dan anak-anak menggemaskan ini jatuh tertidur nama dia tidak pernah berhenti selalu absen di benakku. Terlintas begitu saja tak tertahankan. Ya rabb, kenapa slalu begini? Bagaimana bisa?
Malam inipun semuanya kembali membayang. Wajahnya kembali datang. Wajah yang sedikit banyak sudah menambah rasa dalam hidupku. TIAN NUGRAHA. Ya rabb bagaimana kah sosoknya sekarang ini? Teramat rindu hati ini untuk melihat sosoknya lagi. Terakhir yang aku tahu dia menjadi pengusaha dibidang perbengkelan (atau mungkin otomotif yah?aku gk terlalu hapal istilahnya). Punya juga beberapa usaha dibidang makanan dan pakaian. Wajahnya bahkan sempat masuk koran dalam liputan entrepreneur muda tahun ini. Ingat sekali aku waktu itu, pagi hari biasa. Membaca koran (yang menjadi lecek karena dijadikan rebutan oleh anak-anak) sambil menghirup teh manis hangat kesukaanku. Membolak balik halaman yang aku sendiri tidak terlalu mengerti isinya apa. Sampai mataku menangkap sosoknya disana. Terkejut. Hampir memecahkan gelas saking tidak percayanya., difoto itu dia tersenyum tipis. Mengenakan stelan jas santai. Terlihat sedikit gurat lelah di wajahnya, tapi dia tetap terlihat gagah seperti dulu. Tinggi putih, mata yang terlihat tajam, tubuh yang atletis seperti biasanya. Gemetar hati ini hanya dengan melihat fotonya. Sesak dada ini dan tanpa tertahankan mata ini meneteskan air mata, air mata rindu kepadanya.
Sampai saat ini pun aku bingung ya rabb. Bingung kenapa perasaan ini bisa hinggap begitu erat. Lelah setiap malam memikirkan hal ini ya rabb. Dia bukanlah orang yang maha sempurna. Dia manusia biasa. Punya cela punya daya. Ada banyak hal yang membuat dia berbeda dari kaum adam lainnya yang aku kenal. Membuatnya mencolok bahkan ditengah “keramaian” orang-orang. Satu hal yang masuk dalam urutan alasanku utamanya karena dia benar-benar tahu semua kekurangannya dan mampu menyeimbangkan kelemahan itu dengan kelebihannya. Dia apa adanya ya rabb. Tanpa segan dia menceritakan sisi-sisi buruknya kepada orang lain. Menceritakan tanpa pernah takut dengan kemungkinan orang bakal menjauhi dia. Dia benar-benar mampu melakukan apa yang dia inginkan, bercerita, tanpa pernah takut akan pandangan orang. Aku benar-benar menyukai kemampuannya yang bisa begitu nyaman dengan kecuekan, begitu cuek untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan. Melakukan hal-hal kecil bermakna besar yang sering kali terlupakan. Atau malah melakukan hal-hal besar yang dia inginkan dengan keberaniannya yang mengagumkan.
Aku tahu (dia yang memberi tahukan pada saat masa ospek nan indah itu) dia pergi merantau jauh dari tempat asalnya. Merantau dengan kehendak sendiri tanpa paksaan ataupun suruhan. Pergi sendiri dan benar-benar mencoba mandiri dengan kemampuan beradaptasinya sendiri. Tanpa saudara, berteman pun susah karena terkendala adat, bahasa dan yang lainnya. Tapi dia bertahan. Tanpa bantuan banyak orang dia bisa “berdiri”. Merintis semua mimpi-mimpinya dengan kerja kerasnya sendiri. Mampu mendapatkan materiil yang lumayan dengan tetes keringatnya. Merintis usaha kecil-kecilan dari awal perkuliahan (sekarang bahkan sudah mulai menggurita, membesar sedemikian rupa). Untuk itu aku benar-benar salut kepadanya. Aku tahu ya rabb. Tahu bahwa dia bukanlah orang yang termasuk relijius. Relijius menyembahMu. Relijius membaca ayat suci kitabMu. Dia malah dikenal sebagai sosok yang suka dugem, minum, belum lagi titelnya sebagai playboy ulung. Tapi dia bisa memperlihatkan bahwa dengan caranya sendiri bahwa dia pun sebenarnya tergolong dalam golongan orang yang berhati bersih. Mematahkan persepsi umum tentang bentuk relijus yang dulunya aku punya. Relijius dengan caranya. Relijius dengan perbuatannya yang sangat berbeda.
Engkau pasti tahu ya rabb, jurusan kami merupakan satu-satunya jurusan yang berjarak paling dekat dengan masjid agung yang berada di areal kampus kami. Engkau pasti tahu ya rabb bahwa dulu sebelum masa ospek itu awalnya aku sering melihatnya disana. Disana? Dimasjid? Bukan. Bukan aku melihatnya disana sedang beribadah menyembahMu. Berzikir mendesahkan namaMu. Melantunkan ayat-ayat suci kitabMu. Aku melihatnya disana justru sedang tidur dengan cueknya. Tidur pulas dirumahMu dengan begitu enaknya disaat yang lain malah bergegas menghadapMu. Dari sanalah awal rasa yang Engkau sisipkan. Rasa suka selaksa cinta. Kepadanya.
Jujur waktu itu aku memandang remeh kepadanya. Melihat dia yang tidur dengan santainya di rumahMu. Bagiku dia terlihat hanyalah sebagai seorang berandalan yang seenaknya saja tidur di istanaMu saat yang lain tertunduk menyembah dan menyebut namaMu. Lihatlah cara berpakaiannya. Celana jeans sobek, kaos kucel dekil, rompi jeans yang acak-acakan. Belum lagi rantai dompetnya. Besar-besar terlihat kumal. Sungguh terlihat seperti berandalan. Aku tahu bahwa dia setidaknya “terlihat” seperti yang menyukaiku, sering terlihat bodoh senyum-senyum sendiri apabila melihatku. Seringkali duduk-duduk di gerbang depan kampus kami, mengobrol dengan santai dengan para satpam, tawanya bahkan terdengar dari kejauhan (waalau anehnya dia mendadak sangat diam pabila aku bergegas melintas).
Dia berandalan? Dia memang terlihat seperti berandalan ya rabb tapi disatu sisi jujur aku harus mengakui bahwa dia sopan. Berbeda kontras dengan reputasinya. Suka dugem, suka minum, palyboy ulung (oh satu lagi, sangat jago berantem. Dia bahkan menguasai beberapa jenis aliran beladiri.). Dia sopan. Sopan tidak pernah ikut bersiul seperti laki-laki umumnya yang senang menggoda perempuan. Tidak seperti teman-temannya yang sedikit-sedikit sibuk bersiul memanggil-manggil. Tidak pernah melontarkan kata-kata nakal untuk menggoda. Kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan kepada kaum hawa. Seingatku dia hanya melontarkan kata “permata mau kemana?” apabila berpapasan denganku (dulu sebelum masa ospek kenangan itu). Tidak lebih tidak kurang. Yah aku pun menganggap dia ada tapi tidak ada. Acuhkan saja seperti halnya aku memperlakukan laki-laki kebanyakan lainnya yang hanya senang menggoda. Tapi ya rabb, semua pandangan itu berubah seketika sejak hari itu. Hari dimana aku mulai menyadari akan keberadaan dia. Hari dimana Engkau sisipkan rasa itu begitu saja.
Aku ingat hari itu. Hari itu aku baru selesai menghadapMu dimasjid seperti biasanya. Dan lagi-lagi aku melihat dia tidur dengan pulasnya di teras partere rumahMu. Di sekitarnya banyak orang-orang lain yang sedang duduk. Ada yang bercanda dengan temannya. Berdiskusi. Ada pula yang hanya duduk santai sambil membaca buku atau sedang mengaji kecil memegang al-quran saku. Entahlah hari itu aku mendadak memperhatikan dia lebih lama. Memperhatikan dari jauh. Mengenakan kaos hitam, rompi jeans kumal, celana jeans hitam yang sobek-sobek. kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaanku. Saat itu ya rabb. Entah dari mana kau datangkan seorang anak kecil. Perempuan kecil nan lusuh berpakaian dekil, ingusan pula. Kotor terlihat. Mendatangi orang-orang disekitar dia sambil membawa ecrek-ecrek kecil. Mengamen mengharap sedikit receh dari mereka. Saat itu tidak satupun yang memperdulikan dia. Siapa pula yang mau memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang kotor, mengamen pula dengan suara seadanya. Acuh saja mereka. Tertegun aku memandang hal itu, secepatnya memutuskan untuk mendekati anak itu untuk memberikan sedikit rejekiMu kepadanya. Bergegas menghampiri. Sedikit berlari. Namun langkahku tiba-tiba terhenti. Terhenti tepat beberapa meter dibelakang dia yang sedang tidur. Terhenti karena dia bangun. Tiba-tiba merasa malu dan memutuskan untuk bersembunyi saja dibalik pilar yang ada. (ya rabb, rasa apa yang kau beri saat itu?kenapa aku harus merasa malu padahal aku sendiri tidak tahu siapa dia?). Memutuskan untuk “mengintip” dia saja. Dia terlihat mengucek matanya, menguap sebesar-besarnya. Celingukan sedikit. Tertegun sebentar mendapati anak kecil didepannya. Sedang duduk, terlihat capek mengamen.
Hari itu barulah aku menyadari siapa dia sebenarnya. Benar kata orang bahwa penampilan bisa menipu. Dia yang terlihat begitu berandal, tiba-tiba menghampiri anak kecil tersebut. Akrab terlihat bertanya. Dan tiba-tiba mereka berdua terlihat sangat akrab. Tertawa-tawa. Bahkan sempat-sempatnya berpura-pura menjadi kuda dan sang anak dengan senangnya “menunggangi” dia. Senang sekali mereka terlihat ya rabb. Dia tidak mempedulikan kalau sang anak terlihat kotor (ah, bukankah dia juga terlihat kucel?). Mengeluarkan bindernya dan pulpen kepada sang anak kecil, menyuruh sang anak kecil untuk menulis apa saja disana. Mengajarinya. Menggambar rupa-rupa. Mereka berdua terlihat begitu asyik. Bermain. Tertawa-tawa. Tidak mempedulikan orang-orang disekeliling mereka (orang-orang tersebut juga toh tidak memperdulikan mereka). Dan aku hanya bisa sembunyi-sembunyi menatap mereka dari balik pilar, tersenyum melihat kelakuan mereka. Saat itu aku baru sadar bahwa dia yang terlihat begitu berandal ternyata begitu ramah kepada anak kecil. Dan bukankah orang-orang yang bisa begitu akrab dengan anak kecil adalah orang-orang yang baik. Baik karena bahkan anak kecil yang begitu perasa pun bisa mempercayai mereka. Dan detik itu rasa tersebut Engkau sisipkan begitu halus ya rabb. Aku akui saat itu aku mulai tahu bahwa dia itu BEDA dari penampilannya. Benar-benar beda.
Sedikit banyak sejak hari itu aku mulai “membuka” hati untuknya. Bahkan mulai tahu satu dua fakta yang beredar di kalangan kaum hawa di fakultas ekonomi ini (rahasia umum sebenarnya, tapi aku dahulu tidak pernah mau ambil peduli). Mengetahui fakta bahwa sebenarnya dia amat sangat populer dikalangan kaum hawa. Sangat banyak kaum hawa yang menaruh rasa walau mengetahui reputasinya. Bahkan baru mengetahui fakta bahwa sebenarnya teman akrabku, Artika yang aktivis aktif di komunitas mahasiswa muslim dikampusku pun menaruh simpati padanya. Artika sang aktivis cantik. Benar-benar tipikal perempuan idaman. Cantik, putih, tinggi, berhidung bangir, rapat menjaga aurat, intelek (dia bahkan mendapat IP sempurna dan beasiswa full akan beragam prestasi di berbagai bidang penelitiannya), agamanya pun sangat kuat. Artika adalah seorang perempuan ber”paket” lengkap. Membius ratusan laki-laki untuk berlomba-lomba mendekatinya. Di suatu sore saat sedang bersamaku dan aku bercerita tentang kekagumanku kepadanya. Dia pun tersenyum, berkata sesuatu hal dan memberi tahu rahasia bahwa dia juga mengaguminya. Berkenan pula memberi alasan mengapa dia yang sangat teramat susah menaruh simpati dan respect kepada lelaki, ternyata bisa memberikan hal itu kepadanya.
Aku ingat y rabb perkataan artika sore itu, “tahukah kamu permata, mengapa aku mengaguminya? Simpati padanya. Siapa sebenarnya Tian Nugraha itu? Playboy ulung? Suka dugem? Jago berantem? Iya. Kita tidak bisa menyangkal hal itu apalagi mengetahui bahwa begitu seringnya dia berganti-ganti pacar di fakultas ini saja. Belum lagi di fakultas lain. Tapi tahukah kamu sisi lainnya? Sisi lain yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Sisi lain yang baru aku ketahui di hari itu. Saat itu aku sedang berjalan di sepanjang pertokoan di daerah bawah sana. Niat awalku hanyalah mencari buku untuk keperluan kuliah, hilir mudik masuk dari satu toko ke toko buku satunya. Saat itu, saat aku keluar dari satu toko aku tercenung oleh suatu peristiwa. Aku melihat dia disana! Mengenakan stelan rapih. Kemeja hitam berstrip putih. Perlente. Rambut tersisir rapih Seperti orang kantoran saja tampangnya waktu itu. Dan bukan aku terhenyak oleh tampilan seperti itu permata. Karena bagiku itu biasa saja. Aku terhenyak oleh suatu pemandangan ganjil. Dia yang berpakaian begitu rapih cuek saja duduk disamping seorang nenek pengemis tua yang sering mangkal di daerah itu, memegang bungkusan makanan fast food ternama. Berbagi makanan dengan sang nenek sambil tertawa-tawa. Bercerita. Makan bersama. Benar-benar tanpa beban, benar-benar tidak mempedulikan orang-orang yang lalu lalang”.
Artika diam sebentar, menarik nafas panjang kemudian berkata kembali “Sungguh baru kali itu aku melihat orang yang begitu santainya melakukan itu didepan umum. Aku bahkan tidak pernah terfikir melakukan itu. Pun tidak pernah melihat atau tahu kalau teman laki-laki aktivisku melakukan hal seperti itu. Apalagi seribu satu laki-laki lain yang seakan berlomba menarik perhatianku. Lagipula kalaupun ada satu dua diantara mereka yang seperti itu bukankah wajar? Karena mereka orang-orang yang memiliki “titel” aktivis. Tapi lihatlah dia. Dia yang begitu berbeda justru karena kita tahu reputasinya. Santai saja dia melakukan itu. Tak mempedulikan dia sedang menggunakan pakaian rapihnya. Tidak peduli sama sekali dengan orang yang lalu lalang di depannya. Tidak peduli oleh kotor dan baunya sang nenek. Itulah alasan aku menaruh simpatikku padanya. Simpatik karena saat itu aku melihat sesuatu yang begitu tulus. Tulus tanpa beban. Sejujurnya bahkan detik itu aku merasa malu dengan diri sendiri, mengaku aktivis muslim tetapi tidak pernah mampu atau terfikir untuk melakukan itu. Dia dengan caranya mengajariku akan hal itu. Mengajariku untuk berhentilah mengincar yang terlalu tinggi. Mengajariku untuk lebih melihat sekitar yang sering kali terlupakan. Sekitar kita yang sebenarnya sama-sama membutuhkan bantuan dan perhatian. Detik itu hari itu aku menaruh simpatiku kepadanya”
Tian nugraha membuatku kagum. Apalagi saat tahu dia bisa “menundukkan” artika tanpa harus mendekatinya. Tanpa harus mencoba untuk menunjukkan apa yang dia punya. Tanpa harus menyombongkan apa saja perbuatannya. Bahkan setelah masa ospek itu maka aku makin mengagumi sosoknya. Pribadinya. Keteguhan sikapnya. Pandangannya. Darinya aku mempelajari arti sebenarnya dalam menjadi diri sendiri. Bagaimana kita harus mampu untuk melakukan yang kita inginkan, untuk selalu ramah pada sekitar kita, untuk sekali-sekali berfikir berhentilah mengejar hal-hal yang terlalu jauh karena bahkan sekitar mu membutuhkan bantuan itu. Ah ya rabb, sedikit demi sedikit hati ini benar-benar kau sisipkan rasa itu. Tumbuh sedikit demi sedikit sampai aku tidak kuasa melepaskannya sama sekali dari pikiranku.
Dan jujur ya rabb, aku sangat mensyukuri masa ospek itu. Masa dimana aku bisa benar-benar berdekatan dengannya. Masa dimana hatiku bertautan dengan hatinya. Masa dimana aku menumpahkan air mata untuknya. Walau sejak masa ospek itu praktis kami saling berjauhan, aku memilih pasanganku dan dia entah pergi kemana dan melakukan apa. Yang pasti sejak hari itu dia menghilang begitu saja. Malam ini aku mengadu lagi kepadaMu. Maafkan aku ya rabb. Maafkan ketidak mengertianku. Tidak mengerti mengapa saat aku memilih pasanganku tetapi aku selalu saja mengingatnya kembali. Merasa kebas hati saat melihatnya (bahkan walau itu cuma fotonya). Bagaimana aku bersemu merah saat melihatnya di hari kelulusan kami. Bagaimana aku seperti sekarang, duduk termenung di malam hari, sibuk mendesahkan seribu kali namanya. Mengingat dia yang mundur teratur dan berkata tidak mau menghancurkan pilihanku sendiri.
Pilihanku? Duhai rabb, aku malu. Malu karena aku jujur tidak tahu apa pilihanku. Malu karena hatiku bilang untuk mempertahankan hubungan dengan kekasihku (bukankah Engkau mengajarkan untuk selalu menjaga hubungan? Menjaga janji ikrar yang terucap dari mulut kami), tetapi sekarang malah hatiku selalu mengingat dia. Apakah kami para hawa hanya ditakdirkan bingung untuk perasaan kami ya rabb? Bingung dan takut untuk memilih diantara dua pilihan membingungkan. Apalagi untuk mengatakan kata hati. Ya rabb, kenapa kami diciptakan dengan perasaan seperti itu? Kenapa engkau menciptakan pandangan umum bahwa para hawa haruslah jaim? Menunggu dan hanya menunggu keajaibanMu (padahal Engkau berkata untuk berusaha bukan? tidak akan menolong kaum yang hanya berpangku tangan? Maka apakah kami termasuk dalam golongan kaum yang malang seperti itu? Kaum yang hanya berpangku tangan)
Aku jujur tidak mengerti perasaan dan pilihan ini? Benarkah pilihan ini? Tetapi sejak masa ospek nan indah itu aku mempelajari satu hal yang indah ya rabb. Pelajaran yang aku terima saat aku mencoba memahami satu pertanyaan sederhana “kenapa aku sampai begitu menyukai dia?”. Aku berhenti pada kebingunganku. Kadang pula aku berfikir, apa karena aku sudah jenuh dengan kriteria baik dan mendekati sempurna yang selalu diajukan oleh kaum hawa saat ingin memilih adam pasangannya. Kriteria dan syarat-syarat umum dari kaum hawa kebanyakan bahwa sang adam akan mendapatkan cinta apabila adam tersebut berusaha mati-matian dan menunjukkan kalau hati mereka hanyalah untuk sang hawa. Syarat dan kriteria yang tidak bisa aku pungkiri dulu aku ajukan pada sang adam pasanganku dulu saat dia “melamar”ku. Itupun belum termasuk embel-embel syarat lainnya, harus pintarlah, sopanlah, dan syarat yang paling utama ialah harus relijius. Syarat mutlak yang harus terpenuhi. Syarat yang sangat umum bukan? Klasik memang tapi itulah yang selalu mendoktrin pikiran kami, kaum hawa itu sendiri.
Tapi ya rabb ketika aku mengenal dia perlahan doktrin doktrin itu memudar dengan sendirinya. Bukan, bukan aku mengesampingkan semua sisi terutama sisi kerelijiusan itu sendiri. Dengan mengenalnya aku mencoba lebih luas untuk berpikir bahwa kereligiusan seseorang itu tidak cukup hanya di tunjukan melalui shalatnya, puasanya, atau apabila kaum hawa dengan jilbabnya, memang kesemuanya itu sangat penting tapi apa yang terjadi bila semua orang hanya sibuk memikirkan casing luar untuk menunjukan identitasnya tanpa mereka pedulikan kalau hati mereka sudah kebal untuk merasakan penderitaan sesamanya. Memang tidak semua orang seperti itu tapi ya seenggaknya realitas itulah yang sering aku lihat.
Dan melalui dia pandangan itu kudapatkan. Dia yang mengaku bukan orang yang terlalu relijius, tapi aku tau niat dia kemana. Dia peduli nasib sesamanya meskipun dengan cara dia. Itu salah satu yang aku kagumi dari dia, tak pernah lelah untuk membantu orang lain dan menghiburnya dengan caranya sendiri. Membaur dan melebur dengan mereka. Berbagi. Sepenuhnya. Dan dia tidak pernah menggunakan dalil agama apapun untuk mendefinisikan niatnya. Dia melakukan apa yang dia mau. Tidak perlu merasa harus berfikir dulu untuk membantu mereka. Setahuku dia hanya ingin membantu orang lain tanpa perduli apa pendapat orang lain. Itulah yang membuat aku sangat menyukainya. Sangat mencintainya malah.
Ya rabb, hal yang membuat aku nyaman bersamanya ialah karena aku merasa dikenal, diperlakukan oleh dia dengan wajar dan apa adanya, dia sosok netral yang benar benar mengenalku secara apa adanya aku tanpa sebelumnya pikirannya terkontaminasi oleh penilaian penilaian orang lain. Dan itu membuat aku sangat nyaman karena aku tak harus berpura pura di depan dia karena harus menjaga image yang terpaksa sudah melekat pada diriku, buah dari penilaian penilaian orang lain tentu saja khususnya di lingkungan ku sekarang ini. Lingkungan dimana aku dianggap benar-benar sebagai teladan, sebagai orang yang alim, baik, dan muslimah sejati benar-benar harus memperhatikan setiap langkah. Sungguh berat menerima beban seperti itu ya rabb. Karena aku belumlah siap sepenuhnya. Walaupun aku tahu itu berkah, suatu berkah yang engkau titipkan kepadaku. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang merasa kecil dan belum siap adanya.
Lelah aku berfikir mungkin karena image itu pula yang membuat para kaum adam itu berusaha menjadikan aku “seseorangnya” yah mungkin hanya untuk kebanggaan mereka depan orang orang orang (hanya Engkau dan aku yang tahu bahwa sampai sekarang pun ada banyak pria yang datang dan mencoba merayuku. Alasan yang sama sehingga hari itu aku merasa terlalu lelah dan memutuskan melepas jilbabku. Berontak dengan perlakuan itu). Dan aku? Mereka tak pernah tau kalau aku sangat lelah dengan perlakuan perlakuan itu. Sedangkan pada dia? Aku bisa jadi diriku sendiri depan dia. Melakukan apa yang aku inginkan sesuai dengan kata hatiku. Karena diapun seperti itu. Selalu melakukan apa yang ia inginkan setiap waktu. Suatu kenyamanan yang tidak pernah aku dapatkan dari adam manapun, bahkan dari pasanganku sendiri (untuk ini ya rabb, aku memohon ampun kepadamu..). Dengan perasaan itu aku merasa dimanja olehnya, perasaan nyaman dan diterima. Duhai rabb hanya dialah yang sanggup melakukan itu kepadaku.
Dia yang tak segan segan membicarakan kejelekanya pada orang lain bahkan tidak berpikir kalau dengan itu membuat dia di jauhi atau bagaimana. Dia yang tidak pernah malu duduk sejajar berlantaikan tanah (walau menggunakan stelan mahal sekalipun) dengan kalangan kurang mampu. Dia yang tanpa berfikir panjang berusaha menghibur sang anak kecil pengamen yang terlihat dekil dan kumal itu (karena dia tahu dia belum mampu untuk melakukan hal lebih selain itu, maka yang dia lakukan hanyalah mengajak anak itu bermain sebentar. Melupakan kerasnya hidup sebentar. Mengajaknya bermain seperti kanak-kanak biasa. Aku tahu itu langsung dari mulutnya, saat kita bercerita dimalam itu). Ringan hati dia menceritakan semua kejelekannya, tanpa bermaksud untuk berbangga hati. Dia hanya mencoba untuk jujur. Mengharapkan bahwa orang-orang yang mendekatinya tidak akan tersakiti saat tiba-tiba tahu bahwa dia memiliki sisi buruk yang lebih. Bercerita dengan kesadaran penuh bahwa mungkin saja orang-orang tersebut berubah 180 derajat membencinya. Dia siap. Dia yang mandiri. Dia yang tahu pahitnya hidup sendiri. Maka semua hal itu merubah pandanganku dahulu. Memperkuat rasa sukaku, rasa simpati ku, rasa kagumku. Sejujurnya Membuat ku menaruh kagum, simpati, dan respect kepada sosoknya yang seperti itu. Semakin dalam sehingga sekarang pun (seperti malam-malam yang lain) lagi-lagi mengadukan namanya padaMu.
Ah ya rabb, maha memiliki segalanya. Malam ini lagi-lagi kerinduan ini memuncak. Tangan ini semakin erat memegang gelas kaca ini. Tidak kuasa air mata ini mengalir dipelupuk mata. Merindu. Mendesahkan namanya. Berharap takdir ini bisa dipermudah. Berharap bahwa perasaan bisa dibuat lebih sederhana. Rumit ya rabb.. Sungguh rumit. Lelah hati ini ya rabb, walau jujur dalam kelelahan ini aku tetap berdoa kepadamu ya rabb. Mengajukan sepotong tanya dan sepotong doa. “apakah malam ini, dibelahan manapun di dunia ini dia berada dia juga mengingatku ya rabb? Mungkinkah suatu saat jalan takdir kami akan saling bersilang lagi? Sehingga kami bisa bersama kembali”. Suatu pengharapan tulus untuk menemukan lagi mimpi-mimpi dan moment indah itu lagi. Bersamanya. Erat bergenggaman tangan. Bertemu dengan segenggam janji untuk bersama lagi.
Dan malampun semakin larut. Permata yang lelah, merasa cukup puas mengadu kepadaNya. Memutuskan untuk segera berangkat beristirahat (lagian besok pagi dia juga harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti). Mencoba mendapatkan ketenangan melalui janji buaian mimpi membius hati. Menutup pintu panti kecil itu. Membereskan semua hal yang masih berantakan. Mematikan semua lampu. Merebahkan diri. Tidur! Mencoba mengistirahatkan hati. Tidak mengetahui bahwa malam itu tuhan tersenyum dan bersabda kepadanya. Tersenyum dan bersabda dengan cara yang tidak diketahui makhluknya. Menjawab langsung malam-malam penuh doa mengucap nama “aku kabulkan pintamu wahai hambaku yang meminta dengan sepenuh hati. Menangis mengadu dengan rendah hati. Tunggulah! Karena tali takdir kalian akan kembali bersilangan lagi. Tunggulah saatnya. Nikmatilah tiap detiknya sampai tali takdir itu terurai kembali”. Ah, sungguh bodohlah orang yang berkata tuhan itu membisu. Tidak adil. Dia akan menjawab setiap doa dengan sabdanya yang tidak akan bisa didengarkan oleh kita, terutama oleh dua insan yang bernama tian dan permata. Inilah awal permulaan. Suatu kisah pengorbanan. Suatu kisah kesungguhan. Suatu kisah akan pilihan kehidupan. Nikmatilah setiap detik yang ada karena semua sudah ada waktunya..
read more..
chapter satu novel saya "dan semua ada waktunya"
Semuanya biasa. Teramat biasa sampai moment itu tiba. Moment dimana seorang wanita lewat didepan kami. Moment dimana waktu terasa terhenti. Dedaunan seakan berbisik memuji keindahannya. Bahkan angin pun berhenti bertiup seakan sibuk memandangi kehadirannya. Masih terpatri kuat dalam pikiranku apa yang dipakainya waktu itu, ah ya.. dia memakai jilbab berwarna putih, kaos longgar lengan panjang berwarna pink, serta rok berwarna putih. Berjalan perlahan, begitu anggun dengan pandangan tertunduk kebawah. Duhai tuhan, jujur aku tidaklah terlalu religius. Tidak pula rajin dalam mengerjakan perintah-perintah_Mu. Apalagi bersyukur, sungguh aku tidaklah pandai dalam urusan itu. Tetapi aku sangat ingat, hari itu, di pagi itu aku memuji_Mu. Tertegun dan berbisik perlahan mengakui,bertanya dan meminta “duhai sungguh hebat engkau menciptakan makhlukmu. Elok nian rupa dan perilakunya. Siapa dia ya tuhan?tolong beritahukan namanya kepadaku..”
Sungguh tuhan itu benar-benar mendengar apa yang diucapkan oleh hambanya. Dalam hati maupun pikiran mereka sekalipun. Dan kali ini bahkan berkenan untuk menjawabnya langsung melalui mulut teman-temanku yang kompak berseru menyapa sang wanita “PERMATAAAAAAA!!!!!!!haiii
Perkuliahan di fakultas ekonomi yang menjemukan, tugas-tugas yang menggila datang tidak kira-kira jumlahnya, main bersama teman-teman, dugem, mengurus usaha kecil-kecilan yang kurintis sendiri dan have fun dengan para wanita(“pacar-pacar”ku maksudnya) membuat waktu berlalu sedemikian cepatnya. Tidak terasa waktu sudah berlalu setahun lamanya. Dan selama itu pula aku mengerahkan segala kemampuan terbaikku untuk mengetahui tentang wanita tersebut, wanita yang berhasil merebut perhatianku dalam sekali pertemuan bahkan tanpa perlu berkata-kata. Aku menyadari bahwa sang wanita berada di fakultas yang sama denganku(walaupun jurusan berbeda). Tapi lebih dari itu semuanya misterius, sering aku mencoba mengorek info tentangnya tetapi nihil. Hampir tidak ada yang kudapat walaupun sudah berusaha mati-matian hanya untuk bahkan mengetahui nama lengkapnya. Jujur dalam setahun ini pula aku sering berpapasan dengannya. Berpapasan dengannya bukanlah perkara mudah. Nafasku terasa sesak. Dadaku terasa sungsang hanya dengan melihat wajahnya yang selalu tertunduk itu. Dan yang lebih bodohnya lagi, tiba-tiba aku terkena penyakit gagu. Sempurna tidak bisa berkata banyak, terbata-bata bagai balita yang baru mengeja nama bundanya.
Sungguh aku bingung dibuatnya. Sering kali bertemunya dan apa yang sanggup aku katakan hanyalah “permata..mau kemana?”. Yang tentunya hanya dijawab oleh anggukan kecil sambil berkata yang hampir seperti berbisik “mau kedepan a..”. Bingung. Bingung memikirkan kemana pula kemampuanku untuk bernegosiasi bahkan kepada pengusaha besar sekalipun. Tidak percaya memikirkan hilang kemana kemampuanku untuk menghembuskan kata-kata indah kepada para wanita, membuat mereka jatuh hati kepadaku cukup dengan merayunya. Tidak habis fikir memikirkan bagaimana bisa kemampuanku untuk mengarang dan berpidato seakan hilang tertelan begitu saja apabila berhadapan dengannya? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Sempurna setahun ini hanyalah kalimat tanya itu yang hanya bisa aku sampaikan kepadanya, kepada sang wanita pujaan hati, kepada sang wanita yang diimpikan untuk menjadi kekasih hati.
Waktu memang bisa mengubur keinginan. Sedikit banyak pepatah itu memang berlaku untukku. Setahun putus asa karena tidak mendapatkan kemajuan yang berarti maka aku mulai memutuskan untuk menjadi penggemar rahasianya saja. Merasa cukup berpuas diri untuk melihatnya dari jauh. Lelah membujuk hati untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatinya (padahal untuk wanita lainnya malah gampang sekali). Mencoba untuk menerima kalau dia memang terlalu jauh dari jangkauan. Sungguh aku tidak tahu kalau tuhan saat itu sedang tersenyum, membisikkan sabda_Nya yang tidak akan mampu didengar oleh makhluknya “Sabarlah, semua ada waktunya..”
Liburan pun tiba. Seperti mahasiswa perantauan lainnya maka aku lebih memilih mudik daripada mengambil perkuliahan padat. Lebih memilih menikmati makanan masakan ibu dikampung daripada sibuk melihat buku modul. Lebih memilih menikmati perbincangan hangat dengan sang ayah di sore hari daripada mendengarkan untaian kata-kata monoton dari mulut dosen yang disegani. Tetapi ada alasan tambahan di liburan ini. Alasan untuk mencoba untuk melupakan dia. Dia yang nun jauh disana. Mencoba menuruti kata-kata orang bijak bahwa “jarak bisa membuat lupa”. Bah, pepatah apapula itu. Buktinya walaupun aku berada jauh disini dan dia disana tetap saja saat aku memandang langit dimalam hari sambil menikmati suara jangkrik dan tokek di teras depan rumah di kampungku yang asri. Yang terlihat dilangit hanyalah wajah dia. Sempurna bintang-bintang menggurat wajahnya dalam kemilaunya. Sempurna pula rembulan malu-malu menggoda “apakah kau tidak merindukannya wahai pemuda?”. Dan sesesak apapun perasaan itu aku masih saja tersenyum malu, tersipu dan menjawab “jangan kau tanya tentang hal itu kepadaku. Lihatlah raut muka ku wahai rembulan. Memang rasa suka ku tidaklah bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Tidak pula mampu untuk aku tunjukkan dengan perbuatan kepadanya. Rasa suka ku kepadanya terpancar didalam diam. Menguar tak tertahankan dalam pendar mata ini yang melihatnya. Terukir jelas dalam senyumku saat aku melihatnya walaupun hanya dari kejauhan saja. Maka apakah engkau masih meragukan hal itu sang rembulan?”. Dan sang rembulan pun terdiam, tidak bsa menjawab.
Liburan mendekati berakhir, maka itu berarti masa-masa ospek sudah menanti. Masa-masa dimana aku ataupun senior yang lain bisa petantang petenteng macam kopral yang tiba-tiba diangkat menjadi jendral. Tiba-tiba berubah galak. Sok kuasa. Jaim. Tetapi tetap saja tebar pesona..haha, mencoba berharap mendapatkan satu dua kecengan dari mahasiswa ataupun mahasiswi baru. Dan akupun memutuskan kembali ke kampus tercinta, berpamitan kepada ayah dan ibu tercinta. Sekarang sedang duduk-duduk, kebagian tugas mengawasi mahasiswa baru yang mau daftar ulang tetapi malah lebih memilih duduk diam di depan gedung administrasi. Mencoba tidak menjadi senior yang banyak tingkah sekaligus melepas penat yang ada. Saat itulah tuhan dengan caranya tersenyum kepadaku, memenuhi janji_Nya terdahulu. Membisikkan kata-kata “maka sekarang Aku menepati permintaanmu kepadaku. Nikmatilah. Karena semua ada waktunya.”.
Siang itu matahari tidaklah menyengat, angin tidak berhembus, awan tidak terlalu banyak para mahasiswa baru sibuk bersliweran tertunduk-tunduk oleh bentakan. Dan dia pun tiba-tiba lewat begitu saja didepanku. Terpana tidak percaya, bertanya didalam hati “Duhai, apakah aku salah lihat? Apakah mataku mendadak sudah rabun? Ataukah aku sedang melamun? Apakah benar aku melihat Dia sedang tidak berkerudung?”. Semakin jauh dia melangkah, maka sontak aku menarik tangan temanku dan berbisik “kalau lu brani teriak PERMATA, maka hari ini makan malam lu gue yang tanggung”. Maka dengan cueknya teman ku tersebut menjerit, berteriak menyebutkan namanya dengan lantang, sesuatu yang bahkan tidak mampu aku lakukan selama setahun penuh. Dia pun menoleh. Sontak memandang ke arah aku dan temanku yang cengar-cengir tidak keruan. Langsung memalingkan mukanya dan beranjak semakin jauh. Meninggalkan aku yang menarik kesimpulan “benar itu dia..ada apa gerangan?kenapa dia tidak menggunakan jilbab lagi?apa yang terjadi?apa sesuatu terjadi kepadanya sehingga dia begitu?”. Dan semua pertanyaan itu buyar dengan satu pertanyaan tolol dari temanku yang bahkan lengannya masih aku cengkram dengan kuatnya “makan malam gue jadikan lu yang nanggung?”. Sumpah saat itu, aku malah merasa sangat ingin meninju mukanya saking kesalnya.
Siangpun berganti dengan malam. Semakin larut. Menyisakan sepi dikala semuanya tertidur. Lelah setelah seharian beraktivitas. Mencoba mengistirahatkan badan dan pikiran demi pekerjaan keesokannya. Tapi aku jam segini malah tetap terjaga, masih shock tidak percaya dengan apa yang aku lihat di siang hari tadi. Benarkah itu dia? Ah bagaimana pula aku ini, jelas-jelas dia menoleh saat namanya dipanggil. Hari ini pertama kalinya aku tidak melihatnya berjilbab. Rambutnya panjang. Hitam berkilauan. Terayun gemulai saat dia berjalan dan menambah kecantikannya. Tapi bukan itu yang jadi perkara, tetapi kenapa sampai dia melepas jilbabnya?sayangnya pertanyaan itu nanti tidaklah akan terjawab sepenuhnya. Dan akupun tertidur. Lelah seharian bertanya-tanya dan dalam tidur bermimpi bertemu dengan dia. Berjalan berdua menanyakan pertanyaan yang sama. Semuanya hanya dijawab oleh senyuman, duhai cantik sekali dia ya tuhan.. bahkan dalam mimpi pun aku tidak bisa berkata banyak hanya dengan melihat senyumnya.
Surprise.. keesokannya ada rapat kepanitiaan ospek mahasiswa baru. Semua mahasiswa senior berkumpul. Dan dia ada! Demi tuhan dia ada! Duduk bersama temannya. Berbisik-bisik sambil mendengarkan ketua yang berceloteh didepan. Menggunakan kaos pink bersweater. Bidadari itu semakin terlihat cantik dari dekat. Dan sepanjang rapat itu telingaku mendadak tuli, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan ketua dari awal sampai akhir, indra pendengarku menjadi tumpul seketika walau mendadak mataku menjadi setajam elang. Memperhatikan semua gerakannya. Tekstur wajahnya. Hitam bola matanya. Menikmati bagaimana dia tersenyum. Memperhatikan gerak gerik badannya. Menghapalnya dengan baik. Merekamnya seakan-akan itu adalah kesempatan untuk melihatnya terakhir kali. Dan hari itu lagi-lagi tuhan tersenyum kepadaku. Sang ketua berkata “seksi humas harap menunggu di sekre, seksi p3k juga menunggu saja di sekre. Siapa tau ada kasus maka kalian sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk bekerja”. Sungguh aku tidak begitu mempedulikan kata-kata sang ketua, walau ternyata saat kejadian itu terjadi aku malah berniat untuk mencium tangan sang ketua. Karena berkat kata-katanya lah maka hal itu terjadi. Ya, saat pertama kali aku benar-benar bisa berbicara dengan leluasa dengannya. Saat aku pertama kali bisa benar-benar berkenalan dengannya. Sungguh sampai sekarang pun kejadian itu masih terlukis jelas di lembaran-lembaran frame didalam otakku. Memori yang sampai tuapun aku yakin pasti masih tercetak jelas disana.
Selepas rapat, maka aku langsung memasuki sekre. Didalam sekre hanya ada beberapa korsi, satu meja, dan seorang wanita yang menjadi sekretaris pada kegiatan ospek ini. Akupun duduk, bertanya “ada yang bisa dibantu kgak?”. sekretaris berkata “nih, tolong bantu potong kecil-kecil kertas-kertas ini jadi kotak. Nanti diperlukan”. Dan sang sekretaris pun pergi, entahlah ada urusan apa. Meninggalkan aku dengan tugas tersebut. Tanpa banyak bicara, tanganku langsung bekerja. Menggerutu didalam hati “kayaknya hari ini bakal membosankan”. Baru beberapa menit menggerutu dan keajaiban itu terjadi. Dia masuk ke sekre! Sendiri pula tanpa temannya. Celingukan sebentar dan menghampiri aku yang bahkan mulai merasa panas dingin tidak karuan. Dan dia pun bertanya dengan polosnya “ngerjain apa?mau dibantu tidak?”. Oh ibu, dia berkata kepadaku? Suaranya renyah. Merdu. Sempurna mendirikan semua sel-sel syarafku. Dan aku dengan begonya malah menjawab dan bertanya “disuruh motong kertas. Ini Permata bukan?”. Pertanyaan bego karena aku tahu kalau dia itu memang dia, bagaimana pula aku melupakan wajah yang selama setahun ini membayang kemanapun aku berada. Bego karena ini adalah pembicaraan kita yang pertama dan aku hanya terpelongo bego, bertanya gak penting, dengan ekspresi seperti orang miskin mendapat uang milyaran (duhai apakah ini nyata?). Dan diapun mengangguk. Duduk didekatku. Dan tanpa banyak bicara langsung ikut bekerja. Nafasku terasa sesak, menciumi aroma tubuhnya dari dekat membuatku merasa mau terbang.
Itulah awal pertemuan kami, dan awal segalanya. Saat itu kata kedua yang aku tanyakan secara langsung (sungguh aku tidak bisa mengarang-arang awalan kata yang indah hanya untuk memuji dia) “permata, kok gak pake jilbab lagi? Kan kemaren-kemaren pake terus.”. Dia menjawab sederhana “belom siap, masih merasa harus menata hati daripada menata pakaian. Terserah orang mau mandang aku jelak juga”. Dan akupun sempurna tidak bertanya-tanya lagi. Dia berkata “orang memandang kamu jelek”. Bah, orang mana itu? Sebutkan namanya. Saat itu juga akan ku hajar mukanya kalau ternyata dia berani berkata begitu. Bagiku dia tetap cantik. Bidadari yang sempurna mencuri perhatianku dari awal melihat. Apapun dia sekarang aku tidak perduli yang penting aku suka dia, titik (ah terkadang urusan seperti ini benar-benar bisa membuat orang menjadi keras kepala).
Sejak saat itu kami pun menjadi akrab. Sangat akrab. Bahkan bagi orang-orang terlihat bagaikan sepasang kekasih. Kemana-mana berdua, sepanjang acara ospek maka bisa dipastikan kami selalu berdua. Melewati waktu, bercanda, tertawa, menggunakan setiap detik yang ada seakan-akan itu adalah waktu terakhir untuk bersamanya. Dan jujur, saat itu aku berkata dalam hati “tuhan, aku sayang dia! Terima kasih untuk kesempatan ini”. Tuhan tersenyum dengan caranya, membalas berkata lagi-lagi dengan bahasa_Nya “nikmatilah.. karena semua ada batas waktunya”. Sampai moment itu tiba. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu, sepele memang. Tapi itulah saat dimana kami saling jujur dan benar-benar terbuka.
Saat itu lagi dalam rangkaian acara, dia datang mendekat dan berkata “tolong pegangin dulu hape aku. Aku lagi dipanggil bantu untuk p3k.”. Dan hape berwarna hitam itu berpindah tangan. Terdiam tidak ada kerjaan membuat pikiran usil ku bekerja dengan cepatnya “cek hape nya. Siapa tau ada sms-sms aneh”. Dan jariku langsung bergerak, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. Buka inbox.... mmmmh, gk ada sms aneh tuh. Buka gallery aja deh kagok. Dan terkejutlah aku saat ada foto laki-laki lain dalam jumlah banyak, bahkan ada foto berdua dengannya dalam jumlah yang lumayan. Instingku mulai berkata, dia dah punya cowok. Jujur aku tidak bisa marah, kecewa? Iya. Tapi marah? Bagaimana pula aku bisa marah saat aku sendiri punya cewek! Banyak malah. Itulah hal yang selama ini aku tutupin dari dia. Bagaimana rasanya kalian bisa mendekati seorang sosok idaman yang sudah dibayangkan lama sebelumnya? Aku tahu aku sendiri salah. Yang aku lakukan hanyalah menunda waktu saja. Karena cepat atau lambat maka aku tetap saja harus memilih. Memilih untuk tidak mengganggu kehidupan dia dan pasangannya bagaimanapun gilanya aku menyukai dia.
Malam itu rapat seperti biasa. Maka dimalam itu aku menanyakan kepadanya “ini siapa?kok banyak bener fotonya?”. Dia menjawab singkat “temen kok. Foto-foto untuk narsis doang”. Sesak mendapati kenyataan dari kebohongan yang terucap. Sesak mengetahui seharusnya kita berlaku jujur sepahit apapun kepada orang terdekat, karena mereka adalah orang yang paling berharga bagi kita. Maka apa pantas apabila kita berbohong kepada orang yang justru memiliki kedekatan personal yang paling besar adanya? Tidak. Bagiku tidak. Karena mereka terlalu berharga untuk dibohongi .Maka malam itu, di tengah dinginnya udara aku membuka rahasia itu. Rahasia bahwa aku sudah mempunyai pasangan. Bajingan karena sebenarnya bahkan mempunyai banyak pasangan. Pelan dia terdiam dan akhirnya sama mengaku “sama, aku juga sebenarnya mempunyai pasangan”. Malam itu sebenarnya suasana riang. Teman-teman panitia yang lain sibuk berdiskusi bagaimana caranya “menyiksa” mahasiswa baru yang ada. Tapi tidak bagi kami. Malam itu pahit. Malam itu getir. Walaupun jujur kami tidak bersedih.
Tengah malam itu kami sepakat memisahkan diri sejenak dari panitia yang lain. Sedikit berjalan-jalan bersama. Menikmati saat-saat yang masih ada. Mencoba untuk menikmati pembicaraan hanya dari mulut kami berdua. Saling berpegangan tangan. Sungguh malam itu adalah malam yang tak akan pernah kulupakan. Malam dimana semuanya tertumpah begitu saja. Mengalir tak terbendung. Dimana semua perasaan yang terpendam terceritakan begitu saja.
Sambil berjalan aku berkata kepadanya “Kamu tahu? Sebenarnya dari setahun dulu aku memujamu. Melihat dirimu yang berjalan anggun malu-malu didepan gedung itu benar-benar mencuri semua perasaanku. Aku tidak menyalahkan waktu, karena toh apa yang aku minta sudah diberikan. Aku meminta bisa dekat denganmu walaupun hanya sebentar. Maka ini sama saja dengan anugrah. Gak pernah kefikir sedikitpun ini bakal terjadi. Tapi untuk kali ini aku bersyukur, sungguh-sungguh bersyukur ini terjadi. Beruntung banget yah yang jadi pasangan kamu? Bisa memiliki kamu yang cantik, anggun, bahkan menyerupai bidadari saat menggunakan jilbab. Janji ya? Kalau kamu sudah berjilbab lagi beritahu aku, maka dari manapun tempat aku berada aku pasti datang untuk melihat kamu. Walaupun itu hanya untuk melihat saja. Tidak lebih”. Malam itu semuanya aku ungkapkan, bagaimana groginya aku dulu untuk hanya menyapa dia. Sibuk hilir mudik keluar kelas hanya demi suatu pengharapan “apakah hari ini aku bsa berpapasan dengannya?”. Bagaimana aku yang paling malas dateng kekampus mendadak menjadi org yang paling pagi kekampus. Duduk nongkrong di gerbang depan (bahkan jadi berteman baik dengan para satpam) cuma untuk melihat sosok dia. Semua kisah aku dengan pasangan-pasanganku. Kisah-kisah kegilaanku. Dan semua yang terjadi disekitarku.
Malam itu kami saling berkata jujur, mengungkapkan apa yang dirasa. Memang dia memilih pasangan dia dan aku tidak mau pula mengganggu hal itu. Kami sepakat dengan isyarat kami bahwa kedekatan ini hanya sampailah masa ospek ini saja. Tidak lebih. Maka biarlah tuhan, malam ini kami menggenggam erat tangan kami. Menikmati kebersamaan yang ada. Berharap semoga waktu berputar lebih lambat. Sadar bahwa semua ini ada batas waktunya. Bercerita segalanya karena kami tahu bahwa besok-besok semuanya akan sudah menjadi beda.
Dan waktupun berdesing dengan cepat. Benarlah kata orang-orang kalau kebersamaan itu seakan mempersingkat waktu. Tanpa sadar maka hari ini adalah hari terakhir masa ospek. Sadar bahwa ini adalah penghujung dari segalanya. Dan akupun memulai hal itu. Memulai suatu sandiwara dan mulai menjauhi dia. Mulai mengeluarkan kata-kata ketus. Menghindar saat dia mulai melihat sosokku. Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore pun menjelang malam. Acara selesai dan akhrnya semua panitia bubar. Maru pun pulang dengan semua perasaan senang, senang tentu saja karena penyiksaan tahap awal itu selesai (kan masih ada ospek jurusan,penyiksaan jilid dua). Tapi kami berdua masih disini. Tertegun aku tidak mampu pergi karena satu alasan. Karena dia menangis! Tuhan, bidadari itu menangis. Maka akupun mendekat. Mencoba membujuk dan bertanya dengan khawatir “kamu kenapa?sakit?”.
Sambil terisak dia hanya bilang “sakit?iya..sakit karena ini hari terakhir. Kamupun sudah mulai menjauh. Perkataan mu sudah terasa ketus. Sikapmu sudah mulai acuh. Kemana kita yang dulu? Saat-saat itu hilang begitu saja..””
Diam..aku tidak bisa berkata banyak. Bukan aku tidak mau berkata. Tapi aku tidak mengerti bagaimana hal ini. Inilah jeleknya kami sebagai kaum laki-laki. Apabila kami benar-benar menyukai seorang wanita maka kami akan susah berkata-kata. Apabila kami merasa hubungan itu tidak mungkin maka kami akan mulai menjauh dari sang wanita. Berusaha membunuh perasaan itu dengan jarak dan dingin yang tercipta. Jadi kata siapa kami adalah makhluk yang hanya berlogika? Kami sendiri kadang tidak tahu apa yang kami lakukan. Suka tapi malah menjauh. Aneh bukan?
Dalam gelap aku menghampiri tempat dia duduk terisak. Duduk disampingnya. Menunggu tangisnya mereda. Tanpa kata kami pun mulai berdiri, berjalan bersama di sepanjang jalan itu. Ditemani langit malam, bintang, dan rembulan yang bahkan terasa mendadak menjadi syahdu. Erat berpegangan tangan . Tentunya sambil mencoba menenangkan dia yang masih terisak. Berjalan perlahan seakan takut segera sampai ditujuan. Duhai, aku bahkan bingung untuk melakukan apa saat itu. Yang ku tahu hanya memegang tangannya. Melontarkan satu perkataan “kalau saja kamu tidak punya pasangan, sungguh demi tuhan aku ingin melamarmu saat ini. Menjadikanmu istriku. Jujur aku bukanlah seorang laki-laki yang baik, sering kali merebut pasangan orang, mempunyai pacar yang aku sendiri tidak bisa menghitung jumlahnya. Tetapi khusus untukmu, khusus hanya kepadamu aku tidak mau merebut mu dari pasanganmu. Sesuka apapun aku kepadamu, tapi aku tidak pernah mau untuk merusak kebahagiaanmu. Aku ingin semua berasal dari pilihanmu sendiri. Bukan karena paksaanku. Lagipula sungguh aku tidaklah pantas untuk seorang wanita sebaik kamu”. Dia tidaklah berkata banyak, sambil terisak dia cuma memberikan kata “jangan berkata seperti itu.. sudahlah, mungkin semua sudah ada waktu dan jalannya”. Kamipun sepakat diam, dan aku mengantarkan dia sampai kekosan temannya. Meninggalkannya yang bahkan masih berurai air mata. Secepatnya pergi karena jujur aku tidak tahan melihat tangisnya. Langsung pergi dan berjalan sambil menitipkan satu keyakinan bahwa tuhan akan menjaga dia.
Itulah malam terakhir aku bersama dia. Malam dimana 3 tahun lalu terjadi. Setelah itu aku menjauh sejauh mungkin, mencoba menciptakan jarak yang benar-benar membunuh perasaan dia kepadaku serta perasaaan ku kepadanya. Menghilangkan nomor kontaknya. Semua smsnya. Bahkan sengaja mengganti hape dan no pribadi yang kupakai. Menghilangan semua jejak kenangan itu. Dan aku semakin menenggelamkan diri dalam seluruh kesibukanku. Organisasi. Usaha. Kuliah. Tentunya wanita! Yang banyak malah. Berusaha mengusir bayangnya dengan berbagai tingkah polah wanita yang berbeda. Sekarang aku sudah lulus dan meninggalkan kampus tercinta. Meninggalkan sepanjang jalan yang penuh kenangan itu. Meninggalkan gedung jurusan tempatku sering melihat sosoknya dulu. Sibuk menjaga usaha-usahaku yang mulai membesar.
Malam inipun aku sedang berada di luar kota, menginap di hotel berbintang lima sisi pantai di salah satu pojok indonesia bagian timur. Memenuhi undangan relasi dalam suatu pertemuan bisnis seperti biasa. Tapi malam ini ya tuhan, entahlah bagaimana pula ini terjadi. Duduk sendiri di pantai, bertemankan segelas wine, desau angin lautan, beratapkan langit dan rembulan. Bayangnya kembali muncul tergurat dengan jelas dilangit malam. Semua kenangan lama itu berputar dengan cepat. Terurai kembali. Tiba-tiba saja aku merindukan saat-saat tersebut. Berjalan di sepanjang jalan di saat malam itu. Saling menggenggam tangan. Tidak bersuara. Tapi kita tau hati kita saling bertautan. Merapat pada waktunya. Walaupun harus menjauh kemudiannya. Malam ini aku kembali bertanya-tanya kepadamu ya tuhan “apakah mungkin aku benar-benar bisa bersama dia?”.
Aku letih bermimpi. Lelah membujuk hati untuk mencoba melupakan dia. Entahlah sekarang pun aku tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu tentang dia, walaupun aku yakin aku mampu untuk itu. Maka aku memutuskan tidur secepatnya setelah menenggak habis sebotol wine. Berharap semoga itu membuat ku melupakannya. Merebahkan diri. Tidur! Satu hal yang tidak aku ketahui malam inipun lagi-lagi tuhan tersenyum mendengarkan pertanyaan ku. Menjawab dengan getar suaranya yang tak tercapai oleh indra para ciptaannya. “sabarlah, semua akan ada jawabannya....”. Bahkan berkenan untuk memberiku suatu mimpi. Mimpi bertemu dengan dia dan bercengkrama. Kali ini tanpa tangis. Saling berpegangan tangan. Tanpa harus ada perpisahan yang menyakitkan. Ah terima kasih tuhan, walaupun keesokan paginya aku tahu itu hanyalah sepotong mimpi.
