chapter dua novel sya "dan semua ada waktunya"
“iya sayang.. cepet bobo yah. Kan besok maen lagi sama teteh permata sama yang lainnya. Tar klo telat bobonya bisa bangun kesiangan lho. Gk nyicipin sarapan spesial buatan teteh. Pasti nanti keabisan dimam sama yang lain”. Akupun menimpali. Perkataan itupun dijawab dengan anggukan kecil dan sang bocah pun langsung memejamkan matanya. Tidur setelah seharian bermain bersama anak-anak yang lain. Kelelahan rupanya.
Akupun beranjak pergi meninggalkan kamar berukuran besar yang dihuni oleh 20 orang anak lainnya. Kamar yang berada di dalam sebuah panti asuhan kecil yang berada di salah satu pokok di kota bandung ini. Panti asuhan yang terjepit oleh proyek real estate yang ambisius dari kontraktor ternama. Maka aku mematikan lampu. Menutup pintu. Segera beranjak kedapur untuk menyeduh segelas teh manis hangat. Berjalan perlahan keruang depan. Disana pun sudah ada dua orang lainnya, seorang wanita dan seorang laki-laki. Suami istri tepatnya. Suami istri yang sudah mulai berumur yang setia menjaga panti asuhan ini. Teh lilis dan kang yayat nama mereka. Pasangan yang menjaga panti ini dari awal berdiri.
“udah pada tidur semuanya? Makasih ya ta. Hari ini lagi-lagi kamu membantu kami untuk mengurus anak-anak. Mau langsung pulang? Atau nginep dulu? Kalau mau pulang nanti dianter ma bapak. Gak baik kamu pulang sendiri”. Teh lilis berkata lembut kepadaku.
“permata nginep aja teh. Dah malem banget. Lagian tar pagi permata dah janji sama anak-anak mau bikinin sarapan spesial buat mereka. Permata keteras depan ya teh? Mau duduk-duduk menghirup udara segar sebentar”.
“iya boleh. Tapi jangan lama-lama ya?gak baik nanti masuk angin”. Pesan teh lilis sebelum beranjak pergi kekamarnya bersama kang yayat. Beristirahat.
Dan akupun perlahan berjalan keteras depan. Melakukan kebiasaanku. Kebiasaan ku yang hadir sejak tiga tahun yang lalu. Duduk di teras depan rumah untuk melihat langit. Kebiasaanku yang mulai ada sejak aku mengenal dia. Malam ini pun sama seperti malam kemaren-kemaren. Malam-malam setelah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bersama anak-anak panti asuhan. Malam-malam penuh doa mendesahkan namanya. Satu hal yang aku bingungkan dari dulu sampai sekarang. Memang di pagi hari sampai menjelang malam aku tidak pernah sedetikpun teringat dia. Sibuk mengurus anak-anak panti (sejak aku memutuskan untuk menjadi sukarelawan tetap disini). Tapi saat-saat seperti ini ya rabb. Saat hening, malam menjemput dan anak-anak menggemaskan ini jatuh tertidur nama dia tidak pernah berhenti selalu absen di benakku. Terlintas begitu saja tak tertahankan. Ya rabb, kenapa slalu begini? Bagaimana bisa?
Malam inipun semuanya kembali membayang. Wajahnya kembali datang. Wajah yang sedikit banyak sudah menambah rasa dalam hidupku. TIAN NUGRAHA. Ya rabb bagaimana kah sosoknya sekarang ini? Teramat rindu hati ini untuk melihat sosoknya lagi. Terakhir yang aku tahu dia menjadi pengusaha dibidang perbengkelan (atau mungkin otomotif yah?aku gk terlalu hapal istilahnya). Punya juga beberapa usaha dibidang makanan dan pakaian. Wajahnya bahkan sempat masuk koran dalam liputan entrepreneur muda tahun ini. Ingat sekali aku waktu itu, pagi hari biasa. Membaca koran (yang menjadi lecek karena dijadikan rebutan oleh anak-anak) sambil menghirup teh manis hangat kesukaanku. Membolak balik halaman yang aku sendiri tidak terlalu mengerti isinya apa. Sampai mataku menangkap sosoknya disana. Terkejut. Hampir memecahkan gelas saking tidak percayanya., difoto itu dia tersenyum tipis. Mengenakan stelan jas santai. Terlihat sedikit gurat lelah di wajahnya, tapi dia tetap terlihat gagah seperti dulu. Tinggi putih, mata yang terlihat tajam, tubuh yang atletis seperti biasanya. Gemetar hati ini hanya dengan melihat fotonya. Sesak dada ini dan tanpa tertahankan mata ini meneteskan air mata, air mata rindu kepadanya.
Sampai saat ini pun aku bingung ya rabb. Bingung kenapa perasaan ini bisa hinggap begitu erat. Lelah setiap malam memikirkan hal ini ya rabb. Dia bukanlah orang yang maha sempurna. Dia manusia biasa. Punya cela punya daya. Ada banyak hal yang membuat dia berbeda dari kaum adam lainnya yang aku kenal. Membuatnya mencolok bahkan ditengah “keramaian” orang-orang. Satu hal yang masuk dalam urutan alasanku utamanya karena dia benar-benar tahu semua kekurangannya dan mampu menyeimbangkan kelemahan itu dengan kelebihannya. Dia apa adanya ya rabb. Tanpa segan dia menceritakan sisi-sisi buruknya kepada orang lain. Menceritakan tanpa pernah takut dengan kemungkinan orang bakal menjauhi dia. Dia benar-benar mampu melakukan apa yang dia inginkan, bercerita, tanpa pernah takut akan pandangan orang. Aku benar-benar menyukai kemampuannya yang bisa begitu nyaman dengan kecuekan, begitu cuek untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan. Melakukan hal-hal kecil bermakna besar yang sering kali terlupakan. Atau malah melakukan hal-hal besar yang dia inginkan dengan keberaniannya yang mengagumkan.
Aku tahu (dia yang memberi tahukan pada saat masa ospek nan indah itu) dia pergi merantau jauh dari tempat asalnya. Merantau dengan kehendak sendiri tanpa paksaan ataupun suruhan. Pergi sendiri dan benar-benar mencoba mandiri dengan kemampuan beradaptasinya sendiri. Tanpa saudara, berteman pun susah karena terkendala adat, bahasa dan yang lainnya. Tapi dia bertahan. Tanpa bantuan banyak orang dia bisa “berdiri”. Merintis semua mimpi-mimpinya dengan kerja kerasnya sendiri. Mampu mendapatkan materiil yang lumayan dengan tetes keringatnya. Merintis usaha kecil-kecilan dari awal perkuliahan (sekarang bahkan sudah mulai menggurita, membesar sedemikian rupa). Untuk itu aku benar-benar salut kepadanya. Aku tahu ya rabb. Tahu bahwa dia bukanlah orang yang termasuk relijius. Relijius menyembahMu. Relijius membaca ayat suci kitabMu. Dia malah dikenal sebagai sosok yang suka dugem, minum, belum lagi titelnya sebagai playboy ulung. Tapi dia bisa memperlihatkan bahwa dengan caranya sendiri bahwa dia pun sebenarnya tergolong dalam golongan orang yang berhati bersih. Mematahkan persepsi umum tentang bentuk relijus yang dulunya aku punya. Relijius dengan caranya. Relijius dengan perbuatannya yang sangat berbeda.
Engkau pasti tahu ya rabb, jurusan kami merupakan satu-satunya jurusan yang berjarak paling dekat dengan masjid agung yang berada di areal kampus kami. Engkau pasti tahu ya rabb bahwa dulu sebelum masa ospek itu awalnya aku sering melihatnya disana. Disana? Dimasjid? Bukan. Bukan aku melihatnya disana sedang beribadah menyembahMu. Berzikir mendesahkan namaMu. Melantunkan ayat-ayat suci kitabMu. Aku melihatnya disana justru sedang tidur dengan cueknya. Tidur pulas dirumahMu dengan begitu enaknya disaat yang lain malah bergegas menghadapMu. Dari sanalah awal rasa yang Engkau sisipkan. Rasa suka selaksa cinta. Kepadanya.
Jujur waktu itu aku memandang remeh kepadanya. Melihat dia yang tidur dengan santainya di rumahMu. Bagiku dia terlihat hanyalah sebagai seorang berandalan yang seenaknya saja tidur di istanaMu saat yang lain tertunduk menyembah dan menyebut namaMu. Lihatlah cara berpakaiannya. Celana jeans sobek, kaos kucel dekil, rompi jeans yang acak-acakan. Belum lagi rantai dompetnya. Besar-besar terlihat kumal. Sungguh terlihat seperti berandalan. Aku tahu bahwa dia setidaknya “terlihat” seperti yang menyukaiku, sering terlihat bodoh senyum-senyum sendiri apabila melihatku. Seringkali duduk-duduk di gerbang depan kampus kami, mengobrol dengan santai dengan para satpam, tawanya bahkan terdengar dari kejauhan (waalau anehnya dia mendadak sangat diam pabila aku bergegas melintas).
Dia berandalan? Dia memang terlihat seperti berandalan ya rabb tapi disatu sisi jujur aku harus mengakui bahwa dia sopan. Berbeda kontras dengan reputasinya. Suka dugem, suka minum, palyboy ulung (oh satu lagi, sangat jago berantem. Dia bahkan menguasai beberapa jenis aliran beladiri.). Dia sopan. Sopan tidak pernah ikut bersiul seperti laki-laki umumnya yang senang menggoda perempuan. Tidak seperti teman-temannya yang sedikit-sedikit sibuk bersiul memanggil-manggil. Tidak pernah melontarkan kata-kata nakal untuk menggoda. Kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan kepada kaum hawa. Seingatku dia hanya melontarkan kata “permata mau kemana?” apabila berpapasan denganku (dulu sebelum masa ospek kenangan itu). Tidak lebih tidak kurang. Yah aku pun menganggap dia ada tapi tidak ada. Acuhkan saja seperti halnya aku memperlakukan laki-laki kebanyakan lainnya yang hanya senang menggoda. Tapi ya rabb, semua pandangan itu berubah seketika sejak hari itu. Hari dimana aku mulai menyadari akan keberadaan dia. Hari dimana Engkau sisipkan rasa itu begitu saja.
Aku ingat hari itu. Hari itu aku baru selesai menghadapMu dimasjid seperti biasanya. Dan lagi-lagi aku melihat dia tidur dengan pulasnya di teras partere rumahMu. Di sekitarnya banyak orang-orang lain yang sedang duduk. Ada yang bercanda dengan temannya. Berdiskusi. Ada pula yang hanya duduk santai sambil membaca buku atau sedang mengaji kecil memegang al-quran saku. Entahlah hari itu aku mendadak memperhatikan dia lebih lama. Memperhatikan dari jauh. Mengenakan kaos hitam, rompi jeans kumal, celana jeans hitam yang sobek-sobek. kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaanku. Saat itu ya rabb. Entah dari mana kau datangkan seorang anak kecil. Perempuan kecil nan lusuh berpakaian dekil, ingusan pula. Kotor terlihat. Mendatangi orang-orang disekitar dia sambil membawa ecrek-ecrek kecil. Mengamen mengharap sedikit receh dari mereka. Saat itu tidak satupun yang memperdulikan dia. Siapa pula yang mau memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang kotor, mengamen pula dengan suara seadanya. Acuh saja mereka. Tertegun aku memandang hal itu, secepatnya memutuskan untuk mendekati anak itu untuk memberikan sedikit rejekiMu kepadanya. Bergegas menghampiri. Sedikit berlari. Namun langkahku tiba-tiba terhenti. Terhenti tepat beberapa meter dibelakang dia yang sedang tidur. Terhenti karena dia bangun. Tiba-tiba merasa malu dan memutuskan untuk bersembunyi saja dibalik pilar yang ada. (ya rabb, rasa apa yang kau beri saat itu?kenapa aku harus merasa malu padahal aku sendiri tidak tahu siapa dia?). Memutuskan untuk “mengintip” dia saja. Dia terlihat mengucek matanya, menguap sebesar-besarnya. Celingukan sedikit. Tertegun sebentar mendapati anak kecil didepannya. Sedang duduk, terlihat capek mengamen.
Hari itu barulah aku menyadari siapa dia sebenarnya. Benar kata orang bahwa penampilan bisa menipu. Dia yang terlihat begitu berandal, tiba-tiba menghampiri anak kecil tersebut. Akrab terlihat bertanya. Dan tiba-tiba mereka berdua terlihat sangat akrab. Tertawa-tawa. Bahkan sempat-sempatnya berpura-pura menjadi kuda dan sang anak dengan senangnya “menunggangi” dia. Senang sekali mereka terlihat ya rabb. Dia tidak mempedulikan kalau sang anak terlihat kotor (ah, bukankah dia juga terlihat kucel?). Mengeluarkan bindernya dan pulpen kepada sang anak kecil, menyuruh sang anak kecil untuk menulis apa saja disana. Mengajarinya. Menggambar rupa-rupa. Mereka berdua terlihat begitu asyik. Bermain. Tertawa-tawa. Tidak mempedulikan orang-orang disekeliling mereka (orang-orang tersebut juga toh tidak memperdulikan mereka). Dan aku hanya bisa sembunyi-sembunyi menatap mereka dari balik pilar, tersenyum melihat kelakuan mereka. Saat itu aku baru sadar bahwa dia yang terlihat begitu berandal ternyata begitu ramah kepada anak kecil. Dan bukankah orang-orang yang bisa begitu akrab dengan anak kecil adalah orang-orang yang baik. Baik karena bahkan anak kecil yang begitu perasa pun bisa mempercayai mereka. Dan detik itu rasa tersebut Engkau sisipkan begitu halus ya rabb. Aku akui saat itu aku mulai tahu bahwa dia itu BEDA dari penampilannya. Benar-benar beda.
Sedikit banyak sejak hari itu aku mulai “membuka” hati untuknya. Bahkan mulai tahu satu dua fakta yang beredar di kalangan kaum hawa di fakultas ekonomi ini (rahasia umum sebenarnya, tapi aku dahulu tidak pernah mau ambil peduli). Mengetahui fakta bahwa sebenarnya dia amat sangat populer dikalangan kaum hawa. Sangat banyak kaum hawa yang menaruh rasa walau mengetahui reputasinya. Bahkan baru mengetahui fakta bahwa sebenarnya teman akrabku, Artika yang aktivis aktif di komunitas mahasiswa muslim dikampusku pun menaruh simpati padanya. Artika sang aktivis cantik. Benar-benar tipikal perempuan idaman. Cantik, putih, tinggi, berhidung bangir, rapat menjaga aurat, intelek (dia bahkan mendapat IP sempurna dan beasiswa full akan beragam prestasi di berbagai bidang penelitiannya), agamanya pun sangat kuat. Artika adalah seorang perempuan ber”paket” lengkap. Membius ratusan laki-laki untuk berlomba-lomba mendekatinya. Di suatu sore saat sedang bersamaku dan aku bercerita tentang kekagumanku kepadanya. Dia pun tersenyum, berkata sesuatu hal dan memberi tahu rahasia bahwa dia juga mengaguminya. Berkenan pula memberi alasan mengapa dia yang sangat teramat susah menaruh simpati dan respect kepada lelaki, ternyata bisa memberikan hal itu kepadanya.
Aku ingat y rabb perkataan artika sore itu, “tahukah kamu permata, mengapa aku mengaguminya? Simpati padanya. Siapa sebenarnya Tian Nugraha itu? Playboy ulung? Suka dugem? Jago berantem? Iya. Kita tidak bisa menyangkal hal itu apalagi mengetahui bahwa begitu seringnya dia berganti-ganti pacar di fakultas ini saja. Belum lagi di fakultas lain. Tapi tahukah kamu sisi lainnya? Sisi lain yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Sisi lain yang baru aku ketahui di hari itu. Saat itu aku sedang berjalan di sepanjang pertokoan di daerah bawah sana. Niat awalku hanyalah mencari buku untuk keperluan kuliah, hilir mudik masuk dari satu toko ke toko buku satunya. Saat itu, saat aku keluar dari satu toko aku tercenung oleh suatu peristiwa. Aku melihat dia disana! Mengenakan stelan rapih. Kemeja hitam berstrip putih. Perlente. Rambut tersisir rapih Seperti orang kantoran saja tampangnya waktu itu. Dan bukan aku terhenyak oleh tampilan seperti itu permata. Karena bagiku itu biasa saja. Aku terhenyak oleh suatu pemandangan ganjil. Dia yang berpakaian begitu rapih cuek saja duduk disamping seorang nenek pengemis tua yang sering mangkal di daerah itu, memegang bungkusan makanan fast food ternama. Berbagi makanan dengan sang nenek sambil tertawa-tawa. Bercerita. Makan bersama. Benar-benar tanpa beban, benar-benar tidak mempedulikan orang-orang yang lalu lalang”.
Artika diam sebentar, menarik nafas panjang kemudian berkata kembali “Sungguh baru kali itu aku melihat orang yang begitu santainya melakukan itu didepan umum. Aku bahkan tidak pernah terfikir melakukan itu. Pun tidak pernah melihat atau tahu kalau teman laki-laki aktivisku melakukan hal seperti itu. Apalagi seribu satu laki-laki lain yang seakan berlomba menarik perhatianku. Lagipula kalaupun ada satu dua diantara mereka yang seperti itu bukankah wajar? Karena mereka orang-orang yang memiliki “titel” aktivis. Tapi lihatlah dia. Dia yang begitu berbeda justru karena kita tahu reputasinya. Santai saja dia melakukan itu. Tak mempedulikan dia sedang menggunakan pakaian rapihnya. Tidak peduli sama sekali dengan orang yang lalu lalang di depannya. Tidak peduli oleh kotor dan baunya sang nenek. Itulah alasan aku menaruh simpatikku padanya. Simpatik karena saat itu aku melihat sesuatu yang begitu tulus. Tulus tanpa beban. Sejujurnya bahkan detik itu aku merasa malu dengan diri sendiri, mengaku aktivis muslim tetapi tidak pernah mampu atau terfikir untuk melakukan itu. Dia dengan caranya mengajariku akan hal itu. Mengajariku untuk berhentilah mengincar yang terlalu tinggi. Mengajariku untuk lebih melihat sekitar yang sering kali terlupakan. Sekitar kita yang sebenarnya sama-sama membutuhkan bantuan dan perhatian. Detik itu hari itu aku menaruh simpatiku kepadanya”
Tian nugraha membuatku kagum. Apalagi saat tahu dia bisa “menundukkan” artika tanpa harus mendekatinya. Tanpa harus mencoba untuk menunjukkan apa yang dia punya. Tanpa harus menyombongkan apa saja perbuatannya. Bahkan setelah masa ospek itu maka aku makin mengagumi sosoknya. Pribadinya. Keteguhan sikapnya. Pandangannya. Darinya aku mempelajari arti sebenarnya dalam menjadi diri sendiri. Bagaimana kita harus mampu untuk melakukan yang kita inginkan, untuk selalu ramah pada sekitar kita, untuk sekali-sekali berfikir berhentilah mengejar hal-hal yang terlalu jauh karena bahkan sekitar mu membutuhkan bantuan itu. Ah ya rabb, sedikit demi sedikit hati ini benar-benar kau sisipkan rasa itu. Tumbuh sedikit demi sedikit sampai aku tidak kuasa melepaskannya sama sekali dari pikiranku.
Dan jujur ya rabb, aku sangat mensyukuri masa ospek itu. Masa dimana aku bisa benar-benar berdekatan dengannya. Masa dimana hatiku bertautan dengan hatinya. Masa dimana aku menumpahkan air mata untuknya. Walau sejak masa ospek itu praktis kami saling berjauhan, aku memilih pasanganku dan dia entah pergi kemana dan melakukan apa. Yang pasti sejak hari itu dia menghilang begitu saja. Malam ini aku mengadu lagi kepadaMu. Maafkan aku ya rabb. Maafkan ketidak mengertianku. Tidak mengerti mengapa saat aku memilih pasanganku tetapi aku selalu saja mengingatnya kembali. Merasa kebas hati saat melihatnya (bahkan walau itu cuma fotonya). Bagaimana aku bersemu merah saat melihatnya di hari kelulusan kami. Bagaimana aku seperti sekarang, duduk termenung di malam hari, sibuk mendesahkan seribu kali namanya. Mengingat dia yang mundur teratur dan berkata tidak mau menghancurkan pilihanku sendiri.
Pilihanku? Duhai rabb, aku malu. Malu karena aku jujur tidak tahu apa pilihanku. Malu karena hatiku bilang untuk mempertahankan hubungan dengan kekasihku (bukankah Engkau mengajarkan untuk selalu menjaga hubungan? Menjaga janji ikrar yang terucap dari mulut kami), tetapi sekarang malah hatiku selalu mengingat dia. Apakah kami para hawa hanya ditakdirkan bingung untuk perasaan kami ya rabb? Bingung dan takut untuk memilih diantara dua pilihan membingungkan. Apalagi untuk mengatakan kata hati. Ya rabb, kenapa kami diciptakan dengan perasaan seperti itu? Kenapa engkau menciptakan pandangan umum bahwa para hawa haruslah jaim? Menunggu dan hanya menunggu keajaibanMu (padahal Engkau berkata untuk berusaha bukan? tidak akan menolong kaum yang hanya berpangku tangan? Maka apakah kami termasuk dalam golongan kaum yang malang seperti itu? Kaum yang hanya berpangku tangan)
Aku jujur tidak mengerti perasaan dan pilihan ini? Benarkah pilihan ini? Tetapi sejak masa ospek nan indah itu aku mempelajari satu hal yang indah ya rabb. Pelajaran yang aku terima saat aku mencoba memahami satu pertanyaan sederhana “kenapa aku sampai begitu menyukai dia?”. Aku berhenti pada kebingunganku. Kadang pula aku berfikir, apa karena aku sudah jenuh dengan kriteria baik dan mendekati sempurna yang selalu diajukan oleh kaum hawa saat ingin memilih adam pasangannya. Kriteria dan syarat-syarat umum dari kaum hawa kebanyakan bahwa sang adam akan mendapatkan cinta apabila adam tersebut berusaha mati-matian dan menunjukkan kalau hati mereka hanyalah untuk sang hawa. Syarat dan kriteria yang tidak bisa aku pungkiri dulu aku ajukan pada sang adam pasanganku dulu saat dia “melamar”ku. Itupun belum termasuk embel-embel syarat lainnya, harus pintarlah, sopanlah, dan syarat yang paling utama ialah harus relijius. Syarat mutlak yang harus terpenuhi. Syarat yang sangat umum bukan? Klasik memang tapi itulah yang selalu mendoktrin pikiran kami, kaum hawa itu sendiri.
Tapi ya rabb ketika aku mengenal dia perlahan doktrin doktrin itu memudar dengan sendirinya. Bukan, bukan aku mengesampingkan semua sisi terutama sisi kerelijiusan itu sendiri. Dengan mengenalnya aku mencoba lebih luas untuk berpikir bahwa kereligiusan seseorang itu tidak cukup hanya di tunjukan melalui shalatnya, puasanya, atau apabila kaum hawa dengan jilbabnya, memang kesemuanya itu sangat penting tapi apa yang terjadi bila semua orang hanya sibuk memikirkan casing luar untuk menunjukan identitasnya tanpa mereka pedulikan kalau hati mereka sudah kebal untuk merasakan penderitaan sesamanya. Memang tidak semua orang seperti itu tapi ya seenggaknya realitas itulah yang sering aku lihat.
Dan melalui dia pandangan itu kudapatkan. Dia yang mengaku bukan orang yang terlalu relijius, tapi aku tau niat dia kemana. Dia peduli nasib sesamanya meskipun dengan cara dia. Itu salah satu yang aku kagumi dari dia, tak pernah lelah untuk membantu orang lain dan menghiburnya dengan caranya sendiri. Membaur dan melebur dengan mereka. Berbagi. Sepenuhnya. Dan dia tidak pernah menggunakan dalil agama apapun untuk mendefinisikan niatnya. Dia melakukan apa yang dia mau. Tidak perlu merasa harus berfikir dulu untuk membantu mereka. Setahuku dia hanya ingin membantu orang lain tanpa perduli apa pendapat orang lain. Itulah yang membuat aku sangat menyukainya. Sangat mencintainya malah.
Ya rabb, hal yang membuat aku nyaman bersamanya ialah karena aku merasa dikenal, diperlakukan oleh dia dengan wajar dan apa adanya, dia sosok netral yang benar benar mengenalku secara apa adanya aku tanpa sebelumnya pikirannya terkontaminasi oleh penilaian penilaian orang lain. Dan itu membuat aku sangat nyaman karena aku tak harus berpura pura di depan dia karena harus menjaga image yang terpaksa sudah melekat pada diriku, buah dari penilaian penilaian orang lain tentu saja khususnya di lingkungan ku sekarang ini. Lingkungan dimana aku dianggap benar-benar sebagai teladan, sebagai orang yang alim, baik, dan muslimah sejati benar-benar harus memperhatikan setiap langkah. Sungguh berat menerima beban seperti itu ya rabb. Karena aku belumlah siap sepenuhnya. Walaupun aku tahu itu berkah, suatu berkah yang engkau titipkan kepadaku. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang merasa kecil dan belum siap adanya.
Lelah aku berfikir mungkin karena image itu pula yang membuat para kaum adam itu berusaha menjadikan aku “seseorangnya” yah mungkin hanya untuk kebanggaan mereka depan orang orang orang (hanya Engkau dan aku yang tahu bahwa sampai sekarang pun ada banyak pria yang datang dan mencoba merayuku. Alasan yang sama sehingga hari itu aku merasa terlalu lelah dan memutuskan melepas jilbabku. Berontak dengan perlakuan itu). Dan aku? Mereka tak pernah tau kalau aku sangat lelah dengan perlakuan perlakuan itu. Sedangkan pada dia? Aku bisa jadi diriku sendiri depan dia. Melakukan apa yang aku inginkan sesuai dengan kata hatiku. Karena diapun seperti itu. Selalu melakukan apa yang ia inginkan setiap waktu. Suatu kenyamanan yang tidak pernah aku dapatkan dari adam manapun, bahkan dari pasanganku sendiri (untuk ini ya rabb, aku memohon ampun kepadamu..). Dengan perasaan itu aku merasa dimanja olehnya, perasaan nyaman dan diterima. Duhai rabb hanya dialah yang sanggup melakukan itu kepadaku.
Dia yang tak segan segan membicarakan kejelekanya pada orang lain bahkan tidak berpikir kalau dengan itu membuat dia di jauhi atau bagaimana. Dia yang tidak pernah malu duduk sejajar berlantaikan tanah (walau menggunakan stelan mahal sekalipun) dengan kalangan kurang mampu. Dia yang tanpa berfikir panjang berusaha menghibur sang anak kecil pengamen yang terlihat dekil dan kumal itu (karena dia tahu dia belum mampu untuk melakukan hal lebih selain itu, maka yang dia lakukan hanyalah mengajak anak itu bermain sebentar. Melupakan kerasnya hidup sebentar. Mengajaknya bermain seperti kanak-kanak biasa. Aku tahu itu langsung dari mulutnya, saat kita bercerita dimalam itu). Ringan hati dia menceritakan semua kejelekannya, tanpa bermaksud untuk berbangga hati. Dia hanya mencoba untuk jujur. Mengharapkan bahwa orang-orang yang mendekatinya tidak akan tersakiti saat tiba-tiba tahu bahwa dia memiliki sisi buruk yang lebih. Bercerita dengan kesadaran penuh bahwa mungkin saja orang-orang tersebut berubah 180 derajat membencinya. Dia siap. Dia yang mandiri. Dia yang tahu pahitnya hidup sendiri. Maka semua hal itu merubah pandanganku dahulu. Memperkuat rasa sukaku, rasa simpati ku, rasa kagumku. Sejujurnya Membuat ku menaruh kagum, simpati, dan respect kepada sosoknya yang seperti itu. Semakin dalam sehingga sekarang pun (seperti malam-malam yang lain) lagi-lagi mengadukan namanya padaMu.
Ah ya rabb, maha memiliki segalanya. Malam ini lagi-lagi kerinduan ini memuncak. Tangan ini semakin erat memegang gelas kaca ini. Tidak kuasa air mata ini mengalir dipelupuk mata. Merindu. Mendesahkan namanya. Berharap takdir ini bisa dipermudah. Berharap bahwa perasaan bisa dibuat lebih sederhana. Rumit ya rabb.. Sungguh rumit. Lelah hati ini ya rabb, walau jujur dalam kelelahan ini aku tetap berdoa kepadamu ya rabb. Mengajukan sepotong tanya dan sepotong doa. “apakah malam ini, dibelahan manapun di dunia ini dia berada dia juga mengingatku ya rabb? Mungkinkah suatu saat jalan takdir kami akan saling bersilang lagi? Sehingga kami bisa bersama kembali”. Suatu pengharapan tulus untuk menemukan lagi mimpi-mimpi dan moment indah itu lagi. Bersamanya. Erat bergenggaman tangan. Bertemu dengan segenggam janji untuk bersama lagi.
Dan malampun semakin larut. Permata yang lelah, merasa cukup puas mengadu kepadaNya. Memutuskan untuk segera berangkat beristirahat (lagian besok pagi dia juga harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti). Mencoba mendapatkan ketenangan melalui janji buaian mimpi membius hati. Menutup pintu panti kecil itu. Membereskan semua hal yang masih berantakan. Mematikan semua lampu. Merebahkan diri. Tidur! Mencoba mengistirahatkan hati. Tidak mengetahui bahwa malam itu tuhan tersenyum dan bersabda kepadanya. Tersenyum dan bersabda dengan cara yang tidak diketahui makhluknya. Menjawab langsung malam-malam penuh doa mengucap nama “aku kabulkan pintamu wahai hambaku yang meminta dengan sepenuh hati. Menangis mengadu dengan rendah hati. Tunggulah! Karena tali takdir kalian akan kembali bersilangan lagi. Tunggulah saatnya. Nikmatilah tiap detiknya sampai tali takdir itu terurai kembali”. Ah, sungguh bodohlah orang yang berkata tuhan itu membisu. Tidak adil. Dia akan menjawab setiap doa dengan sabdanya yang tidak akan bisa didengarkan oleh kita, terutama oleh dua insan yang bernama tian dan permata. Inilah awal permulaan. Suatu kisah pengorbanan. Suatu kisah kesungguhan. Suatu kisah akan pilihan kehidupan. Nikmatilah setiap detik yang ada karena semua sudah ada waktunya..
read more..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

GANELINE CASINO - Mapyro
GANELINE CASINO 동해 출장안마 in SDSLOT, WJ 12. WINDOWS 파주 출장샵 10-1. (860) 574-3500. 평택 출장샵 Free Delivery. 광주광역 출장샵 611 Casino Drive SW. WINDOWS 10-1. (860) 충청북도 출장안마 574-3500. Free