Kamu, mereka, anda semua. Saya yakin pernah melakukan kesalahan bukan? Yah sya paham akan hal itu. Manusiawi untuk sering kali khilap akan suatu hal. Lumrah. Sudah biasa. Apapun efeknya, kesalahan tetaplah kesalahan. Karena kita tidaklah sempurna. Begitu bukan? Yah sya lagi-lagi menyadari akan hal ini. Kita sebagai manusia sangatlah sering melakukan kesalahan. Sengaja ataupun tidak hal itu sudah digariskan olehNya. Pasti terjadi. Pasti dialami. Dalam tulisan ini pun sya tidak ingin membahas tentang berjuta-juta macam kesalahan yang pernah dilakukan oleh manusia. Terlalu banyak pastinya. Tak bakal habis ratusan halaman untuk menuliskannya.
Sya cuma ingin sedikit mengingatkan akan tindakan kita. Tindakan yang berlandaskan akan suatu pertanyaan “bagaimana kita memutuskan untuk menebus kesalahan yang telah kita lakukan”. Mencoba mengajak kita semua sedikit merenung dan berfikir lebih akan hal ini. Bahwa terkadang kata maaf tidaklah cukup untuk menebus kesalahan kita.
Oke.. Anggap saja sya menabrak orang. Tidak sengaja. Bahkan itu juga karena orang tersebut nyelonong nyebrang begitu saja. Orang tersebut jatoh, lecet-lecet, baju sobek. Maka sya punya kewajiban bukan untuk menebus kesalahan saya tersebut (walau sya tahu sya tidak sengaja dan sya tidak bermaksud begitu). Bagaimana caranya? Ya mungkin cara yang paling sederhana. Sya beri uang yang sekiranya cukup untuk orang tersebut berobat. Atau kalau mau lebih baik lagi, saya anterin kerumah sakit. Sya tanggung biaya perawatannya. Sya anterin pulang kerumah (dengan resiko kena marah keluarganya pula). Baru sya minta maaf kepada semuanya.
Itu juga dengan catatan loh. Bahwa sya melakukan itu semua walau sya tahu kesalahan itu tidaklah disengaja. Apalagi klo sya sengaja. Wuah berabe, sengaja nabrak orang bisa-bisa sya masuk penjara. Dan semua itu harus sya terima untuk apa? Untuk menebus kesalahan sya tentunya.
Nah ntu kan kesalahan yang bersangkutan dengan fisik. Kalo yang berhubungan dengan hati dan jiwa bagaimana? Sama saja bukan? Mau itu sya menyakiti hati orang oleh kata-kata pedas dari mulut sya, sya sudah membuat orang menunggu kedatangan sya seharian, sya sudah tidak menepati janji kepada pasangan sya. Atau yang lainnya pun begitu. Kita sudah berbuat dzholim kepada orang. Mungkin beberapa urusan cukup dengan kata-kata minta maaf saja. Sya tidak pungkiri hal itu. Tapi mungkin lebih baik lagi kalau kita selain meminta maaf juga melakukan sesuatu untuk menebusnya. Mentraktir teman yang sudah tersakiti hatinya oleh kata-kata sya, memberi sedikit kue untuk teman yang sudah menunggu lama, atau bisa juga datang membawa bunga dan mengajak dinner sang pasangan yang sudah cemberut karena tidak tepatnya janji sya. Setelah itu, maka meminta maaf setulus hati plus janji sungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi barulah pantas untuk dikatakan.
Bukankah tindakan seperti itu jauh lebih baik daripada hanya dengan kata-kata minta maaf saja bukan? Bahkan rasul kita saat mengetahui bahwa umurnya tidak panjang lagi sempat bersabda “apabila ada kesalahan yang telah aku lakukan kepada kalian, wahai para sahabat. Baik sengaja maupun tidak. Maka beritahukanlah kepadaku. Akan kutebus kesalahan itu dengan hukuman apapun yang menurut kalian pantas untuk ku terima”. Rasul sekalipun yang sebenarnya cukup dengan kata-kata minta maaf saja niscaya dimaafkan oleh para sahabat pun berani berkata begitu. Siap untuk menebus kesalahannya. Dengan apapun hukumannya. Maka kita selaku umatnya pun harus bisa begitu. Siap dan mampu untuk itu.
Menebus kesalahan itu perlu. Tapi tolong diingat terkadang cuma dengan meminta maaf dan janji tak akan mengulanginya lagi tidaklah cukup. Kita harus menebusnya dengan sesuatu yang lebih. Ingatlah suatu fakta bahwa kesempatan kedua itu tidaklah slalu ada. Hanya orang-orang yang mau menebusnya dengan sedemikian rupa yang pantas untuk mendapatkannya. Tunjukkan keseriusan kita dengan cara yang kita bisa. Untuk apa? Untuk menebus kesalahan itu. Untuk mendapatkan ikhlas itu, ikhlasnya mereka, orang-orang yang telah kita sakiti hati, jiwa maupun raganya. Sya juga tahu bahwa itu pastilah susah. Menebus kesalahan itu benar-benar susah dilakukan. Seribu kali lebih susah daripada mengalahkan ego untuk mengucapkan kata maaf. Tapi justru disana hikmahnya. Kita jadi belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama justru krn kita tahu betapa susah untuk menebusnya. Menjadi lebih berhati-hati. Lebih mawas diri...
Nah terakhir kali kalau kita sudah melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan dan masih tidak mendapatkan maaf bagaimana? Saat itu baru bisa kita kutip kata-kata pamungkas “yang penting sya sudah minta maaf, sudah usaha yang terbaik juga untuk mendapatkan maaf..” minimal kita sudah menunjukkan bahwa kita serius untuk mendapatkan maafnya. Percayalah bahwa yang maha kuasa akan tahu niat serta usaha kita. Yah itu sja uneg-uneg pribadi sya kali ini. Maaf klo lg tidak mau untuk menggunakan alur cerita seperti notes-notes sya biasanya. Lagi error tingkat tinggi otak sya T_T
Any comment??????????????
read more..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Comments (0)
Posting Komentar