Posted by median | Posted in renungan
Cinta? Ah lagi-lagi saya tidak akan menceritakan arti cinta disini. Saya juga tidak akan membahas beribu bait tentang cinta. Saya akan membahas satu detail kecil dari cinta. Benar teman, saya hanya ingin mengingatkan tentang kemampuan untuk mengatakan cinta. Mengatakan? Ya mengatakan. Menyatakan isi hati. Kemampuan untuk mengungkapkan perasaan sendiri. Kemampuan yang sejujurnya sangat susah dimiliki oleh kaum wanita. Hanya wanita-wanita terpilihlah yang mampu tanpa malu untuk mengatakannya. Yah kemampuan yang jujur saja, sangat jarang dimiliki mereka, kaum wanita.
Sering kali aku menanyakan “kenapa sampai malu mengatakan cinta? Mengatakan perasaan sesungguhnya kepada sang pria?”. Dan tipikal jawaban yang diterima selalu saja sama, MALU! Sejak kapan wanita mengatakan perasaannya kepada pria? Absurd! Mustahil! Impossible! Dimana-mana selalu pria lah yang menyatakan perasaannya. Bahkan lebih berprinsip kehilangan sang pria daripada mengatakan perasaan mereka. Ah ironi teman. Bagaimana para wanita yang mengaku berada di zaman intelek, pekak berteriak akan kata “EMANSIPASI”. Sibuk menuntut kesetaraan, mengaku dan bangga menyatakan bahwa hal yang bisa dilakukan pria juga bisa dilakukan oleh kaum wanita. Tapi untuk hal ini? Hahaha.. hanya sangat sedikit yang bisa melakukannya. Jadi kemana kata emansipasi itu? Kemana pemikiran intelek itu? Dimana kesetaraan itu?
Akan aku tunjukkan kenapa hal ini menjadi ironi teman. Bagaimana ini menjadi hal yang sering kali sya tertawakan secara pribadi. Sya yakin anda tahu akan siti khadijah bukan? Istri rasul kita yang mulia akhlaknya. Disini aku akan sedikit bercerita mengenai kisahnya. Kisahnya yang sering kali kita dengarkan tapi melupakan sedikit detail kecil yang berarti. Kita tahu bahwa rasul kita adalah seorang yang bisa dipercaya. Sangat teramat bisa dipercaya. Dikenal oleh seluruh penduduk akan kejujurannya serta keluhuran budi pekerti miliknya. Saat rasul kita belum menikah, siti khadijah sudah menjadi janda. Jauh lebih tua dari usia rasul kita. Tapi jangan salah, beliau saat itu merupakan saudagar besar. Kaya dengan harta baik pula akhlaknya. Banyak para khalifah dan pemimpin-pemimpin kaum yang tertarik dan menyatakan lamarannya. Terpikat dengan pesona yang dimilikinya.
Tapi semua lamaran itu ditolak oleh beliau. Saat itu beliau hanya tertarik akan isu bahwa ada sesosok pria yang luhur akhlaknya. Maka beliau memutuskan untuk mencari tahu hal tersebut. Diutuslah pelayannya untuk meminta rasul kita (yang masih sangat muda waktu itu) membawa barang dagangannya. Dengan syarat pelayannya harus ikut serta. Maka berangkatlah mereka dalam misi perdagangan. Berkelana ke berbagai negara untuk berdagang kepada beragam saudagar yang ada. Seperti yang diduga dagangannya laku keras! Rasul kita yang masih sangat muda menunjukkan bahwa dia jujur dalam berdagang, tidak mengurangi timbangan, mampu mendapatkan kepercayaan orang-orang. Tanpa cela akhlaknya waktu itu. Saat kepulangan mereka membawa untung yang berpuluh kali lipat banyaknya. Sang pelayan yang diutus pun menyampaikan seluruh hal yang dilihatnya kepada siti khadijah. Bagaimana kelurusan akhlaknya benar-benar berkilau. Elok tingkah rupa yang mampu memikat orang-orang. Dan tahukah engkau teman, sejak saat itu siti khadijah menaruh hati kepada rasul kita. Ah cinta itu mulai datang kepadanya.
Tahukah pula bagaimana mereka bisa menikah? Saat itu bukanlah rasul kita yang menyatakan perasaannya sehingga akhirnya mereka bisa menikah. Siti khadijah lah yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Kenapa? Karena saat itu rasul kita hanyalah seorang biasa, seorang pelayan (bukankah siti khadijah mengupahnya untuk menjual barang dagangannya. Intinya sama saja dengan pelayan atau buruh pekerja bukan?). Masih muda pula. Bagaimana mungkin siti khadijah mengharapkan rasul kita melamar dia. Siti khadijah yang kaya raya, siti khadijah yang menjadi rebutan para khalifah, perbedaan kasta itu terlalu jauh saat itu. Apalagi umur yang menjadi jarak antara mereka. Bukankah lumrah bahwa orang lebih memilih seseorang yang masih muda atau setidaknya sebanding usia untuk menjadi pasangan? Ingatlah siti khadijah sudah jauh lebih tua dibandingkan rasul kita.. Maka siti khadijah memutuskan untuk menyatakan terlebih dahulu kepada rasul kita. Menyatakan perasaannya dan menikahlah mereka. Kisah mereka tercatat dengan indah dan menjadi teladan umatnya.
Disinilah ironi itu terjadi kembali teman. Umumnya kaum wanita zaman sekarang mengaku “bagaimana pandangan orang-orang kalau mereka menyatakan perasaannya terlebih dahulu? MALU!!!” apalagi kalau ditolak, mau ditaroh dimana muka ini? Lebih baik kehilangan daripada menyatakan perasaan. Itulah pandangan umum kaum wanita zaman sekarang! Yang hidup pada zaman dimana emansipasi selalu didengungkan. Yang hidup pada zaman tuntutan akan kesetaraan. Tapi untuk hal ini malah kalah dengan siti khadijah yang hidup di zaman penuh kegelapan.
Coba renungkan teman. Pada zaman rasul kaum wanita tidaklah dianggap. Anak perempuan dibunuh itu biasa! Gadis diperkosa itu lumrah! Wanita dewasa tidak tahu tulis menulis memang begitulah lazimnya! Mana ada saat itu emansipasi. Kesetaraan. Wanita dan pria bagaikan langit dan bumi. Singkat kata pepatah bahwa wanita dijajah pria itu terjadi pada zaman itu. Zaman dimana sangat teramat tidak lazim ada seorang wanita yang mengatakan perasaannya!!!!! tapi siti khadijah mau mengatakan hal itu, berani menempuh cara yang sangat amat tidak lazim pada zamannya. Demi apa? Demi perasaan yang dia namakan cinta. Perasaan cinta kepada rasul kita. Siti khadijah tahu posisinya, dia sudah tua (walaupun kaya). Mana mungkin seorang muhammad yang notabene pekerjanya akan melamarnya yang kaya dan sudah berumur. Apalagi mengingat akhlaknya yang begitu baik budi. Kecuali kalau dia menyatakan perasaannya. Maka beliau menciptakan takdirnya dengan perbuatannya. Menerobos perkataan lumrah ataupun pandangan umumnya. MALU akan kebiasaan dia kalahkan dengan besar perasaan cintanya kepada muhammad. Dan lihatlah bagaimana kisah pernikahan mereka menjadi abadi, indah tercatat dan menjadi pedoman umat manusia.
Coba bandingkan dengan zaman sekarang. Jangankan membunuh atau memperkosa. Memandang hina perempuan saja masuk penjara kawan (melanggar HAM katanya). Wanita punya hak untuk berkarir, untuk sekolah lagi (S2 atau S3 pun terserah saja). Mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan berat seperti pria. EMANSIPASI! Kesetaraan disinggungkan dimana-mana. Bahkan pandangan masyarakat bahwa wanita tabu untuk menyatakan perasaannya sudah semakin kabur. Sudah sangat menipis (walaupun saya akui itu masih ada). Jadi dibelah bagian mananya menyatakan perasaan cinta itu membuat MALU dizaman seperti ini? Dan lihatlah mereka, kaum wanita umumnya yang mengaku intelek lebih memilih kehilangan cintanya tanpa mau sedikitpun berusaha! Ironi bagaimana kaum wanita zaman sekarang yang pandai baca tulis serta teknologi, kalah oleh sosok wanita zaman jahiliah.
Siti khadijah tidak malu untuk mencari tahu (karena toh dia baru mengetahui kabar berita) tentang rasul kita. Menguji dengan caranya. Mengatakan langsung perasaannya. Anggaplah suatu saat anda juga begitu, bertemu dengan sosok pria yang sedikit banyak memikat hati. Apakah anda akan mencari tahu? Mungkin saja. Menguji sang sosok pria? Lumrah saja. Nah saat anda tahu, ternyata sang pria dengan alasannya tidak akan “menembak” anda. Terlihat biasa-biasa saja tak merespon maka apa yang akan anda lakukan? Tampaknya kaum wanita umumnya hanya akan ikut diam saja bukan? Walaupun anda sudah mengetahui (kan dah diuji) bahwa sang pria itu baik budi. Memiliki kriteria pasangan idaman yang anda gariskan. Dan anda tahu bahwa dia tidak terlihat seperti akan berkata tentang kalian. Kebanyakan kaum wanita umumnya lebih memilih ikut DIAM. Kontras bukan dengan sosok siti khadijah? Sosok wanita pilihan di zaman kegelapan. Yah pilihan karena kemampuannya untuk tegas dan tak malu mengatakan kebenaran. Apapun itu. Dan hal itu sangat berguna nanti dalam menyokong dakwah rasul kita yang sangat berat. Menciptakan serangkaian kisah menakjubkan sepanjang usia peradaban.
Apa yang saya ingin ingatkan? Gampang. Jangan pernah mengaku atau mengharap cinta kalau cuma untuk mengatakannya saja tak mau. Takut merendahkan harga diri? Gengsi? Tabu? Gk lumrah? Maka sya yakin seyakin-yakinnya maka itu bukanlah apa yang disebut-sebut dengan namannya cinta. Tak pantas disebutkan atau diharapkan karena itu tidaklah cukup besar untuk menelan harga diri, untuk menelan malu, untuk mengalahkan ketidaklumrahan dan ketabuan. Bagaimana mungkin banyak kaum wanita mati-matian mengejar karir, mati-matian belajar demi masa depan. Menjadi kartini-kartini mandiri. Mengalahkan mitos umum “KASUR, SUMUR, DAPUR”. Karena apa? karena keyakinan mereka bahwa takdir mereka bisa mereka ukir sendiri. Tapi untuk memilih pasangan seumur hidup mereka tidak mau mengukirnya sendiri? Bah bagaimana ini? Tunduk menyerahkan sepenuhnya hanya kepada pria. Ya itupun tak salah. Walau saya pribadi juga tidak berkata itu benar. Tapi anggaplah situasinya sama seperti siti khadijah, dimana sang pria tidak akan mungkin melamar atau menyatakan rasanya kalau sang wanita tidak mengatakannya terlebih dahulu. Kebanyakan wanita zaman sekarang malah akan memilih “ya sudah, mungkin sudah nasib kali. Gk jodoh. Cowonya juga diam aja”
Menggelikan bukan? Bagaimana “gak jodoh” itu benar-benar menjadi alasan untuk suatu sikap kepengecutan. Suatu sikap keputusasaan. Suatu sikap menyerah yang bukan pada tempat dan zamannya. Ternyata untuk beberapa hal, kaum wanita zaman sekarang ternyata tidak lebih baik dari zaman dahulu. Kemunafikan yang berdasarkan ketidak mauan. Kemunafikan yang coba mereka kuatkan dengan dalil “gak jodoh”.
Sya selalu percaya bahwa semuanya harus diusahakan terlebih dahulu dengan sekuat tenaga. Terkadang yang diatas memberi kemudahan dengan menganugrahkan sesuatu yang begitu kita harapkan dengan begitu mudah. Apalagi hal yang kita sebut cinta ini. Ada kalanya sangat gampang, tetapi adakalanya pula sangatlah susah. Harus mati-matian berusaha. Harus mati-matian pula melakukan beragam hal dan harus mampu untuk menelan ego untuk mengatakannya. Kenapa pula harus malu untuk mengatakan perasaan yang tulus kepada orang yang kita sayangi. Kepada orang yang kita cintai. Dan sekali lagi saya tidak pernah mempermasalahkan gender dsini (terkutuklah mereka yang selalu meributkan hal itu), karena intinya sama saja bukan? Sejauh mana kamu menyayangi dan mencintai orang itu. Setidaknya rela melakukan segala kemungkinan supaya bisa bersama mereka. Walaupun itu harus menelan ego akan “malu” yang sebenarnya tak perlu. Katakanlah selagi masih ada waktu, sebutkanlah selagi masih ada kemungkinan itu. Kalaupun setelah mengatakannya dan tidak mendapatkannya, bagian mananya yang membuat kalian malu? Sejak kapan mengusahakan yang terbaik setulus hati itu memalukan? Karena kita bukanlah mengemis untuk sesuatu yang kita namakan cinta, tetapi mengusahakan yang terbaik sekuat tenaga untuk itu. Bukankah yang seharusnya ada itu malah rasa BANGGA! Bukanlah malu! Tak mendapatkan pun tak mengapa. Toh sudah berusaha. Dan itu satu gugatanku terhadap kalian.
Satu lagi, saya punya beberapa teman wanita yang jujur sedang mencari pasangan juga. Saya tanya kriteria mereka apa? Standar saja teman. Jujur, baik hati, seiman, serta MAPAN! Mapan yah? Apanya yang mapan? Minimal punya gaji yang cukup, punya pekerjaan yang memiliki masa depan, kalau bisa punya kendaraan dan aset lain lebih baik. Ya tidak ada yang salah dengan itu. Wajar saja karena memang untuk berkeluarga itu memerlukan hal yang seperti itu. Untuk memberi makan anak-anaknya nanti, memberikan kenyamanan rumah kepada istri, memberikan kemudahan berkendara kepada mereka pasti. Tidak salah, jujur tidak salah.
Tapi saya ingin bertanya satu hal teman. Kenapa semakin hari semakin banyak kasus perceraian di kota besar? Semakin banyak perpisahan justru diantara hal-hal yang disebut kemapanan. Semakin banyak perpisahan justru terjadi antara pasangan yang hidup didalam rumah-rumah megah, memiliki kendaraan bergaya digarasinya, makananpun sangat mewah tak ada dua. Mengapa mapan itu tidak menjamin kebahagiaan? Apa yang salah? Kenapa dengan harta?
Mungkin kita lupa teman. Lupa akan satu fakta bahwa yang membuat bahagia itu bukanlah suatu kemapanan. Yang menjamin masa depan itu bukanlah nominal harta. Yang membuat dan menjamin hal itu adalah kesungguhan. Kesungguhan untuk menjalin rangkaian kehidupan. Lihatlah bagaimana orang-orang desa. Mereka menikah dengan kesungguhan. Jujur saja mereka tidak mengenal istilah kemapanan. Mereka memang pekerja keras, dari pagi sampai petang giat bekerja membanting tulang. Tapi adakah mapan itu? Rumahnya gubuk, kendaraan tak ada, anak-anakpun sering kali tak tamat sekolah. Tapi apakah engkau sering temui kasus perceraian itu? Nyaris tak ada. Walau rumah itu semakin reot, walau kendaraan itu semakin mendekati seperti mimpi, walau anak-anak semakin banyak menuntut makanan untuknya. Tapi kenapa kasus perceraian itu justru sedikit sekali di tatanan itu? Kenapa? Apa yang membuatnya seperti itu?
Karena mereka sungguh-sungguh teman. Mereka tahu bahwa mereka tidak mampu memberi kemapanan. Tapi mereka sungguh-sungguh merangkai kehidupan. Sungguh-sungguh siap berbagi segala hal, susah maupun senang. Bersungguh-sungguh untuk mencari lembar-lembar rupiah untuk mencukupi makan anggota keluarganya. Walau tahu bahwa lembar rupiah yang mereka dapatkan hanya untuk mendapatkan beberapa kilo beras untuk makan, walau tahu lembar rupiah itu hanya mampu membeli ikan asin untuk seharian, tapi mereka sungguh-sungguh menjalin janji kebahagiaan. Kesungguhan untuk memegang komitmen itu yang dibutuhkan. Bukan rumah megah! Bukan pula kendaraan bergaya! Dan tentunya bukan makanan mewah! Semuanya hambar tanpa ada kesungguhan dalam komitmen. Kesungguhan itu indah bukan? Aku iri akan orang-orang beruntung yang memiliki psangan dengan kriteria seperti itu. Jadi jangan tanyakan bagaimana seharusnya kaum wanita menjawab kriteria pasangannya kepadaku, karena tentunya aku akan menjawab “Jujur, baik hati, seiman, dan memiliki KESUNGGUHAN untuk menjalin kehidupan”. Dan itu gugatan keduaku untuk pemikiran kaum wanita..
Ingatlah bahwa tuhan sendiri mengirimkan janjinya tidak akan pernah membantu suatu kaum yang tak mau berusaha. Mungkin kami kaum pria selalu berusaha dengan perbuatan. Karena kami sangat ahli dalam hal itu (walaupun sangat payah dalam hal berkata-kata yang sejujurnya). Maka kaum wanita juga (dalam versi kebalikannya) seharusnyalah seperti itu bukan? Berusaha pulalah walaupun itu hanya dengan kata-kata. Tidak ada yang harus malu dalam hal itu. Tidak pula harus mengatakan “kemana harga diri kami sebagai wanita kalau mengatakan hal itu?”. Gengsi dan tinggi hati. Jangan pernah mengeluarkan kata-kata “MUNGKIN BUKAN JODOHNYA”. Karena bagiku itu sama saja mendustakan tuhan, pura-pura berkata menyerahkan segala urusan kepada tuhan dengan alasan memuakkan. Bagaimana mungkin tuhan mengatakan jelas-jelas dalam kitab dan haditsnya “TIDAK AKAN MEMBANTU KAUM YANG TAK MAU BERUSAHA” dan kalian para kaum wanita dengan gampangnya bilang “mungkin bukan jodohnya” padahal jelas-jelas kalian tak berusaha? Berkata yang sebenarnya pun malu! Jadi apakah kalian mau mengingkari perkataan tuhan yang sejelas itu? Ironi teman. Sungguh ironi.
Ingatlah harta tidak juga menjamin apa-apa. Ingatlah bahwa kesungguhan lah yang seharusnya dicari. Itulah yang langka. Bagaimana bertahan dalam susah tanpa harta dengan kesungguhan yang ada. Maka carilah hal itu. Tentu kalau bisa mendapatkan keduanya lebih baik, mendapatkan pasangan yang mampu memberikan harta dan kesungguhan jauh lebih baik. Tapi ingatlah, tuhan tidaklah memberikan segala sesuatu yang sesuai dengan yang diharapkan. Kadang hanya satu saja diantara dua pilihan (katakanlah harta atau kesungguhan). Apa mau dikata, terkadang pemikiran tuhan terlalu rumit untuk kita ketahui. Terlalu kompleks jalannya. Tapi yakinlah justru semakin kompleks jalan yang dia berikan maka itu merupakan bukti bahwa tuhan semakin sayang kita, bukankah tuhan akan memberikan ujian untuk mengangkat derajat umatnya? Jadi pilihlah hal itu teman. Utamakan kesungguhan. Bukan kemapanan.
Itu saja gugatan ku untuk kalian kaum wanita, saya tidak menghakimi. Sya tidak juga orang ahli dalam hal ini. Sejujurnya saya cuma mencoba untuk mengingatkan bahwa apa yang kita “pegang” terkadang bukanlah hal yang baik untuk diyakini. Melalui kisah-kisah yang terjadi di zaman jahiliyah . Kisah siti khadijah yang mengungkapkan perasaannya kepada rasul kita, bahkan ada juga kisah tentang siti fatimah (anak rasul kita) yang menikah justru dengan Ali bin abi thalib yang miskin padahal bisa saja menikah dengan yang lebih mapan atau saudagar kaya. Lihatlah kisah sederhana orang-orang desa yang menikah muda, mengerti akan kesungguhan arti menikah dengan cara mereka. Beranak pinak di rumah reot nan sempit tak masalah. Cuma sanggup makan nasi berlauk ikan asin tiap hari pun tak apa. Mereka sungguh-sungguh akan cinta mereka. Itulah yang ingin kali ini aku gugat, tanpa maksud apa-apa tentunya. Jadi jangan pernah malu untuk hal itu, jangan pernah merasa gengsi demi hal itu, sungguh-sungguhlah. Baru engkau bisa mengharap pertolongan dari_Nya, sang maha kuasa diatas sana.
Kalau kita tidak pernah menyerah dengan keadaan hidup, maka jangan pula menyerah untuk hati sendiri. Betul bukan? Fikirkan yang baik. Renungkan. Resapi. Sya memimpikan banyak bermunculan wanita-wanita terpilih, yang tak malu mengatakan kebenaran. Yang tak malu menyatakan perasaan. Niscaya beruntunglah siapapun pria yang mendapatkan wanita seperti itu, mendapatkan berkah tak terhingga. Seperti rasul kita yang menikah dengan siti khadijah. Mengukirkan nasib dan cerita yang kekal sepanjang masa. Coba fikirkan sekali saja akan hal ini, tanyakan apakah anda sendiri pernah seperti itu? Jujurlah. Cuma itu pesanku. Jadilah wanita terpilih. Wanita jujur terhadap hati nurani. Jujur terhadap isi hati. Itu saja teman, tidak kurang. Tidak lebih :)
P.S:
dan apakah kalian (kaum wanita yang membaca ini) pernah seperti itu? Yah cuma kalian yang tahu. Sya seperti biasa hanya beropini, mengumpulkan bukti, menggugah hati nurani.
read more..

Comments (0)
Posting Komentar