apa yang harus kamu tahu tentang karut marut dunia pendidikan!!!!

Posted by median | Posted in

Berapa tahun engkau bersekolah kawan? Coba hitung dari mulai SD, SMP, SMA/SMK. Kalau beruntung masukkan pula waktu anda kuliah. S1, S2, S3. Selama itu apa yang engkau ketahui tentang dunia itu? Dunia pendidikan itu? Dunia yang engkau rindukan saat penat bekerja membanting tulang demi rupiah. Dunia yang engkau bayangkan saat tua, duduk bersantai sedemikian rupa. Dunia yang mungkin akan engkau ceritakan dengan bangga saat cucu engkau nanti bertanya.

Tahukah engkau teman keajaiban dunia itu? Sandiwara-sandiwara yang berada di lingkungannya? Bau busuk tingkah-tingkah tengik para pelakunya. Dunia yang sangat menarik kawan. Sungguh sangat menarik. Tak pernah aku mengetahui dunia yang begitu indah tetapi begitu mengiris hati. Ironi karena disana aku menemukan fakta fakta yang membuat aku menangis dan geram sedemikian rupa. Akan aku beritahukan apa yang aku ketahui kepadamu kawan. Semuanya tak mau menutupi apa-apa.

Aku mendengar anggaran pendidikan dinaikan ya? Ah tak apalah. Karena bagiku tak berguna. Sungguh. Mau 20 persen atau 50 persen sekalipun itu percuma. Percuma? Tak berguna? Maksudnya apa? Hahaha, akan kuceritakan satu kisah kecil kepadamu. Bukankah setiap sekolah baru ada bantuan dari pemerintah? Dari daerah? Belum termasuk dana BOS, dana ini, dana itu. Kalau dipikir-pikir masa iya kok sekolahnya gk jadi-jadi. Gitu-gitu saja tak punya alat-alat pula. Belum lagi kondisi gedung yang memprihatinkan. Kau tahu kenapa?

Waktu itu kami sedang PPL kawan. Mengajar di sekolah baru yang terpencil dari peradaban. Suatu hari sang kepala sekolah mengajak kami. “mau kemana pak?” tanya kami. “ikutlah dulu, kita diknas untuk mengambil jatah bantuan”. Ternyata kami baru tahu kalau sekolah baru ada dana bantuan dari pemerintah pusat (5tahun dana bantuan) dan daerah (3 tahun dana bantuan). Maka ikutlah kami, menghadap. Memasuki gedung megah di pusat kota. Pusat candradimuka dari orang-orang yang mengaku intelek pemikirannya.

Kami datang, menghadap. Berkata pada satu bagian bidang keuangan “pak, kita mau mewakili SMK ************ (sensor). Mau mengambil jatah tahunan dana bantuan dari pemerintah”. Dan tahukah kamu jawabnya? “oke pak, dana bantuan sekolah anda tahun ini 75 juta lebih. Ini blanko-blankonya. Anda hrus minta tanda-tangan beberapa kepala bagian”. Waktu itu semuanya wajar, kami mengisi kotak-kotak kolom yang seharusnya. Menyerahkan kembali kepada sang kepala bagian. Sampai saat dia mau menanda tanganinya, berkatalah sang kabag tersebut “jatah saya berapa pak? Kalau tidak saya tidak tanda tangan”.

Pelan kepsek kami berkata “iya pak, nanti kita kasih 4juta. Bagaimana?”. Dan saat itulah aku terkejut. Baru mengetahui suatu fakta baru dalam hidup. Ternyata ini sebabnya sekolah-sekolah tidak punya bangku yang cukup, alat-alat yang memadai, gaji guru yang tidak pernah mencapai standar seharusnya. Itu baru satu kabag kawan. Dan kami hari itu harus menghadap beberapa kabag dan meminta tanda tangannya. Dan semuanya meminta jatah! Menyedihkan. Bahkan saat mau mencairkan uang, membawa blanko-blanko yang ada ke bendahara. Sang bendahara berkata dengan santai “maaf pak, blanko serah terima uang habis”. Maka diselipkanlah sekian ratus ribu ketangannya, dan voila. Cairlah dana itu. Walau baru saja mengatakan habis sudah blankonya.

Hari itu dana yang seharusnya kami dapatkan untuk sekolah berkisar 75juta. Tapi yang kami bawa pulang cuma berkisar 45 juta. Dan aku tertawa kawan. Pahit mengetahuinya. Bahwa yang membuat sekolah kita hancur, pendidikan kita hancur adalah sistemnya. Korupsinya yang sudah mengakar sedemikian rupa. Jadi percuma saja dana-dana itu naik? Tak akan pernah sampai kesekolah seluruhnya.

Pernahkah kawan mendengar kasus ada wartawan yang datang kesekolah dan memeras kepseknya? Dan anehnya sang kepsek selalu memberikan uang kepada sang wartawan laknat. Kalau engkau bertanya mengapa bisa? Sederhana teman. Engkau tahu bahwa dana kami cuma ada 45 juta dari seharusnya 75 juta. Maka mau tak mau sekolah harus mengubah dana-dana yang ada, mark up istilahnya. Kalau dana untuk bikin gedung idealnya 20 juta, maka cukuplah 10 juta (tapi ditulis tetap 20 juta), kalau dana untuk beli alat 25 juta. Cukuplah 15 juta saja (lagi-lagi yang ditulis tetap 25 juta).

Kepsek terpaksa melakukan itu. Serba salah mereka. Malang nian pilihannya. Kalau mereka menyalahkan orang-orang atas saat diperas sedemikian rupa, maka mereka gampang saja berkilah”toh blankonya 75 juta. Ditanda tangani diatas materai pula. Jadi mana mungkin kami korupsi!!!”. Berapi-api mengatakannya padahal sendirinya tak ubah bagai serigala. Kalau sampai sang wartawan menuliskan hal tersebut dikorannya, diketahui umum, sang kepsek bisa-bisa diciduk hidungnya. Masuk penjara dibilang mengkorup uang pemerintah. Itulah sebabnya wartawan-wartawan keparat itu bisa datang dan melenggang dengan uang ditangan.

Maka sang kepsek harus memutar otak bagaimana 45 juta ini cukup, belum termasuk pemerasan wartawan dan sejumlah “pajak” lain. Akhirnya mau tak mau, melimpahkannya kepada murid. Alasannya apa? Uang pembangunan! SPP! Uang bangku! Uang gedung! Uang praktek! Dan yang lainnya. Ironi bukan? Bahwa mata rantai setan itu tercipta sedemikian rupa tanpa disadari dan diketahui banyak orang.

Dan itu cuma segelintir kawan. Segelintir kisah dari kebusukan-kebusukan lain dunia ini. Bermacam-macam rupanya. Sogok menyogok untuk menjadi guru itu juga biasa. Dalangnya siapa? Yah mana lagi kalau bukan orang-orang atas sana. Sogok menyogok untuk masuk sekolah apa lagi. Sangat lumrah kawan. Mau anaknya bego, nakal bukan main, tak pernah masuk kelas dengan “titipan” sejumlah uang maka itu biasa saja.

Jadi jangan tanyakan lagi kenapa sekolah-sekolah itu semakin lama kok semakin hancur? Alat-alatnya itu-itu saja. Kok gurunya dari dulu sampai sekarang terus merana? Ya karena itu tadi. Ah rumit sekali kawan. Rumit. Benar-benar rumit. Geram aku melihatnya.

Banyak hal yang aku lihat didunia ini kawan. Guru yang acuh tak acuh mengajar, tak punya kompetensi dan kemampuan untuk mengajar. Tak apalah bagi mereka, toh awal masuknya saja dengan sogokan. Wajarlah, perkara mereka tidak punya kompetensi tidak mampu mengajar siapa peduli. Murid-murid berkembang menjadi bajingan-bajingan penjahat bangsa pun wajar saja, karena mereka secara tak langsung sudah dididik dalam dunia itu. Dibiarkan saja mereka nakal tak terkendali dan orang tuanya menyerah akan anaknya dan menyogok saja. Menyerahkan anak nakalnya kepada guru yang begitu, dunia pendidikan yang seperti itu. Dunia tipu menipu. Sogok menyogok. Sikut menyikut. Macam dunia mafia saja. Wajar bukan kalau mereka jadi penjahat kelaknya?

Tapi walaupun begitu aku masih bersyukur kawan. Masih ada kepsek yang baik, guru-guru yang baik. Murid-murid yang sepenuh hati belajar. Aku tahu mereka juga mengetahui hal itu, bergulat lama dengan hal ini. Tapi mereka tetap berdikari, mengajar sepenuh hati. Memberi yang terbaik kepada muridnya. Menghukum murid mereka yang nakal. Peduli kepada murid-muridnya. Yah masih ada sosok-sosok itu kawan. Masih ada. Teringat aku akan bapak anu, mengajar di daerah gunung yang untuk kesana saja harus berjuang tiga hari lamanya. Melewati hutan sungai menyabung nyawa. Makan umbi-umbian. Bercocok tanam karena gaji yang tak seberapa juga tak mengapa. Beliau tulus memberi demi murid-muridnya. Murid-muridnya yang selalu terlihat haus akan ilmunya.

Teringat pula aku akan murid yang pagi sekolah sampai siang. Dan sorenya membanting tulang menjadi kuli. Untuk apa saat aku bertanya? “biar saya bisa terus sekolah pak. Sekolahkan mahal”. Yah masih ada orang-orang seperti itu kawan. Orang-orang yang mungkin tahu, mungkin tidak tahu. Bahwa banyak hal yang busuk dari pendidikan itu, tapi mereka tetap mencintainya. Berharap suatu saat mampu mengubahnya. Menjadi orang besar sesuai dengan kapasitasnya. Ingatlah kawan, ini dunia yang menarik. Dunia dimana apa yang diimpikan bukanlah sesuai dengan nyatanya. Mampukah engkau membantuku kawan? Membantuku untuk ikut mengubah dunia ini. Sedikit demi sedikit. Menciptakan pendidikan yang sebenarnya. Suatu saat nanti, suatu hari nanti. Pasti......... read more..

Related Posts by Categories



Comments (0)

Posting Komentar

Posting Komentar