Dan sepenuh hati aku mencintai papaku..sungguh..

Posted by median | Posted in

Malam ini tepat satu hari aku berada disini. Kembali ke suasana kampung kecil nan jauh di salah satu pojok indonesia ini. Mudik tepatnya. Melepas rindu kepada aroma menyegarkan sang mama tercinta. Membuncahkan jutaan rasa sayang kepada sang papa. Bercengkrama dengan adik satu-satunya. Bercerita yang banyak dengan kakak. Trus bercerita dan bercengkrama. Tidak mau menyiakan setiap detik yang ada disini untuk mereka. Orang-orang yang untuknya rela aku menukar nyawa.

Malam ini pula kami duduk berdua di ruang tengah. Berteman tivi tua dan asap kretek yang dihisap oleh beliau, sang papa tercinta. Kami bercerita. Semuanya. Apa saja yang terjadi di sudut pulau jawa, satu cerita disusul cepat oleh cerita lainnya. Kuceritakan perkembangan pembelajaranku (malu aku karena itu sama saja menceritakan masalah TA dan skripsi ku yang tidak juga memiliki titik jelas untuk terselesaikan dengan segera), ku dongengkan mimpi ku (untuk mengambil kursus bahasa nan asing itu. Memencongkan mulut pribumi ini untuk mengucapkan huruf-huruf asing ditelingaku). Semua demi kemungkinan beasiswa sekolah di benua baru. Membanggakan namanya karena mampu meraih titel lebih dari sekadar S1 saja di pulau jawa. Ku desahkan hasrat besarku untuk mendirikan sekolah dan bengkel itu. Semuanya pondasi akan cita-citaku yang baru. Mendirikan sekolah gratis!!! yah sekolah gratis, sekolah yang didengung-dengungkan dengan indah oleh para politisi keparat itu saat mencari muka “menjual” diri. Sekolah mimpi yang menyesakkan hati orang melarat di negeri ini. Sekolah mimpi yang benar-benar dinanti.

Aku berdongeng malam itu, bercerita, menganalogikan dengan kata-kata, mengeluarkan perbendaharaan kata intelek yang aku dapatkan dari jawa sana. Merasa hebat untuk menceritakan apa saja yang telah kuperbuat disana. Berapa rupiah yang telah aku dapat. Bangga menunjukkan bahwa anakmu ini papa, anakmu ini yang dulu suka dengan seenaknya memeluk punggungmu saat engkau sujud menghadapNya. Anakmu yang nakal alang kepalang sehingga seingatku sendiri nyaris tiga kali celaka hampir memecahkan batok kepalanya. Anakmu yang suka pergi bermain dan lupa jam pulang seharusnya. Membuat engkau marah-marah semalaman karenanya. Dan mengalirlah semua rasa itu, Bangga! Merasa hebat! Sumringah! Buncah semuanya malam itu dan kuceritakan berbait-bait kepadanya.

Beliau mendengarkan. Sekali-sekali menghisap kreteknya. Mengusap keringatnya (yah global warming kawan, tengah malam pun terasa panas dipojok desa ini). Sunyi mendengarkan ditemani suara jangkrik diluar sana yang sahut menyahut menimpali. Sampai mulutku berhenti menceritakan pun dia masih diam. Dan malam itu adalah satu malam yang seumur hidup akan aku ingat. Malam dimana beliau yang tidak pernah mengecap pendidikan lebih membuatku tertegun dengan kosa kata sederhananya. Malam dimana beliau yang aku tahu sudah menjejak hampir seluruh pelosok negeri ini menceritakan kesederhanaan apa yang beliau inginkan. Pengharapan tulus dari seorang papa yang mati-matian menyayangi anaknya dengan caranya. Pelajaran akan kesederhanaan arti dukungan seorang papa kepada anaknya. Inilah satu cerita yang aku tulis untukmu, hormatku, kebanggaanku kuserahkan kepadamu.

Pelan saja dia menghembuskan asap kreteknya. Bergulung mengepul dan menghilang. Menimpali dengan suara baritonnya. Mengungkapkan pandangannya. Pengharapannya. Keinginan sederhananya. Banyak hal yang dia ceritakan. Tapi aku hanya akan mengutip beberapa saja disini. Kata-kata yang sampai mati akan membekas di hati ini.


“.........................

...........................”
“kau tahu abang? Kau tahu dari dulu pun sama sekali tidak pernah orang tua mu ini memaksa engkau cepat lulus. Tidak pula aku mengharap engkau lulus dengan angka selangit. Orang tua mu ini hanya meminta engkau lulus. Bukan waktunya yang kami tuntut, bukan nilainya pula yang harus termaktub di selembar surat yang menyatakan engkau lulus. Kami cuma ingin engkau lulus. Ingat engkau bagaimana kakakmu dulu? 5Tahun.. 5 tahun hanya untuk keluar dari FKIP bahasa inggris dulu. Nilainya pun biasa saja, tidaklah bisa dibilang bagus tapi juga tidak bisa dibilang jelek. Cukuplah untuk menjadi guru seperti mamamu. PNS seperti sekarang yang engkau lihat di smk tengah kota bengkulu.”

“kau ingat kakak keduamu? 5,5 tahun untuk lulus farmasi di jawa sana. Tambah setahun lagi untuk ijazah meracik obatnya. Apa pernah papamu ini menuntut nilai dan waktu cepat? Tidak bukan? Jadi usahlah engkau merasa malu dengan waktu yang agak lama, apalagi engkau teknik. Wajarlah. Tidak pernah kami marah atau malu cuma karena waktu saja. Pokoknya engkau harus lulus! Punya ijazah! Ijazah yang papa dan mamamu ini tidak punya.”

“Ijazah itu penting abang! Penting karena sekarang semuanya menuntut selembar kertas itu. Untuk PNS lah, naik pangkat lah, untuk gaji lah. Macam-macam rupanya. Papamu ini tidak ingin engkau menjadi seperti kami orang tuamu ini, susah naik pangkat menambah gaji untuk kalian anak-anak kami. Gara-gara apa? Ijazah itu biangnya. Itu menjadi syarat didunia kerja sekarang. Penting kali urusan ijazah ini aku ingin engkau tahu sekarang ijazah itu bisa dibeli dengan mudah. Banyak sarjana diluar sana. Keluar masuk kantor membawa ijazah berlembar-lembar, tapi apa bisa kerja? Karbitan semuanya. Bahkan ada yang membeli ijazahnya. Tidak becus bekerja. Jadi kalau engkau ingin tahu kenapa papamu ini tidak pernah kalah oleh sarjana baru di kantor sana, jawabnya ya itu. Pegawai baru itu bahkan bingung mengonsep surat. Bah lagak saja tamatan jawa, cumlaude pula. Tapi surat saja tak becus. Kalah oleh papamu ini yang tamatan STM atau tamatan SPG seperti mamamu. Papa tidak mau engkau menjadi macam itu. Secepatnya ingin lulus, mengutamakan nilai besar tapi tak mampu bekerja. Karbitan! Mati engkau didunia kerja kalau begitu. Tidak pernah aku tuntut engkau harus lulus dengan nilai super baik, dan kecepatan waktu sekejap saja. Luluslah engkau dengan kesanggupan, kemampuan, keberanian kerja. Cukuplah itu bagiku, menenangkan hati dan jiwa tuaku dengan keyakinan engkau bisa hidup didunia keras diluar sana. Dengan kemampuanmu dengan ijazahmu. Jangan hanya punya ijazah saja walau bagaimanapun pentingnya itu.”

“Papamu ini tidak pernah melarangmu bekerja memeras keringat demi lembar rupiah, asal itu bisa kau tahan dan tidak merugikan maka lakukanlah. Satu saja mauku, jangan sampai itu menghambat kuliahmu. Usah kau pikirkan darimana uang yang kami dapat untuk kuliahmu. Itu bukan pula urusanmu! Semuanya halal walau untuk mendapatkannya kalau perlu kugadaikan seluruh tanah kepunyaan kita untuk membiayai kalian. Anak-anak kami. Jadi janganlah dulu engkau bekerja, takut kali nanti menggangu kuliahmu. Soal mencari uang, serahkan kepada kami. Luluslah dulu setelah itu bebas pula engkau mau kerja dimana, di eropa sana kalau perlu, atau mau berkeluarga? Sebutkan calonnya dan kami lamar secepatnya. Prioritaskan lulusmu, walau itu pelan tapi tetaplah maju. Jangan tersendat oleh apapun aktivitas lain milikmu. Apalagi bekerja. Bukan abang, bukan papamu ini melarang engkau berkeringat mencari uang. Kalaupun engkau masih mau melakukan itu, ingat pesanku. Jangan mengganggu perkuliahanmu. Camkan itu!”
“Beasiswa yah? Ah tak apalah engkau kejar itu. Tapi kejarlah itu benar-benar. Lakukan tanpa mengganggu perkuliahanmu. Luluslah dahulu baru kalau perlu kau kerja sana. Baru kuliah mencari titel baru. Kau ingat bapak anu? Gelarnya berbaris macam tentara. S.H, S.Sos, M,sc, plus tambahan Drs H. didepannya. Tapi apa engkau tahu bagaimana dia mendapatkannya? Dengan kesungguhan! Lulus kemudian kerjalah dia. Membayar biaya dengan keringatnya, masuk ekstensi atau kelas khusus tidak masalah. Kalau engkau memang merasa mau mengejar itu maka selesaikan S1 mu dengan baik terlebih dahulu, kejarlah titel-titel berikutmu dengan sebaik-baiknya. Banggalah dengan titel tersebut nantinya. Jangan pula nanti engkau sudah merasa pandai terus lupa ingatan. Sudah merasa paling jago dengan gelar berbaris-baris. Jadilah orang pandai dengan sesungguhnya, jadi orang pandai nan berguna untuk semua orang”
“Kau mau bikin bengkel? Kau mau bikin sekolah? Kau mau jadi orang dengan beberapa titel di depan dan belakang nama? Tidak masalah. Papa dukung itu dengan semua tenaga tua ini yang tersisa. Ingin nian papamu melihat hal itu. Bengkel besar itu. Sekolah dimana engkau menjadi pimpinannya. Disegani oleh semuanya. Kalau masih kuatpun papa mau naik motor modif buatanmu. Gagah kali kelihatannya pasti. Keliling kota dengan mamamu. Tapi ingat pintaku cuma itu, seriuslah engkau mengejar semuanya. Mampu sebenar-benarnya. Tak mau aku membanggakan anak yang tak becus kerja, parasit di tempat perusahaannya. Tidak serius mengejar mimpinya. Mimpi tinggi tapi malah mati tanpa usaha berarti. Seriuslah abang, mampu dengan sebenarnya. Ingatlah itu, pesan dari papamu”

“...............................................................................”

Ringan saja beliau mengucapkan semua itu. Bahasa sederhana. Bahasa dari orang yang seumur hidupnya lebih banyak diam tanpa komentar. Memuntahkan semua kata itu hanya dengan menghabiskan satu batang rokok kreteknya itupun sambil menonton tivi pula. Tapi aku tertohok oleh kenyataan itu. Membuatku malu, ya malu karena mencoba membanggakan sedikit rupiah yang bisa aku dapatkan dibandingkan dengan kenyataan bahwa beliau membanting tulang untuk membiayai kami anak-anaknya, dan apa beliau membanggakannya? Ringan saja beliau berkata seakan itu selingan saja. Tidak perlu menampakkan raut muka serius seakan itu hanya sekadar angin lalu saja. Dan aku? Baru bisa segini saja sudah pongah seakan hebat semuanya. Dengan kesederhanaannya beliau menyadarkan aku. Betapa beliau bertanggung jawab dengan caranya dan tidak merasa perlu menjelaskan bagaimana itu (walau mungkin harus mengubah fungsi kaki ke kepala dan sebaliknya). Mengajarkan bagaimana untuk tidaklah harus membesarkan dan membanggakan berlebihan berbagai hal sehebat apapun itu. Karena itulah fungsi seorang papa. Fungsi seorang papa kepada anak-anaknya.

Detik itu pula aku tertegun oleh suatu kenyataan yang mengajarkan bahwa perkataan lebih baik digantikan dengan perbuatan yang tidak terkira. Beliau tidak canggih mengungkapkan kata-kata. Tapi dengan kata sederhana saja mampu membuatku kehilangan kemampuan berbicara, kagum dan hormat kepadanya. Beliau tidak pula jago membelai seperti mama. Mencurahkan kasih sayang dengan menina bobokan. Memanjakan. Beliau “membelai” dengan cara yang sedikit berbeda. Beliau “membelai” dengan tanggung jawabnya. Aku selaku anak seakan buta dengan suatu fakta bahwa beliau benar-benar mati-matian bekerja demi kami keluarganya. Sebesar itukah tanggung jawab seorang ayah ya tuhan? Memang papaku itu tidak lah bisa seperti papa layaknya sinetron yang sangat memanjakan dengan kata-kata dan pelukan. Tapi dia memanjakan dengan tanggung jawabnya mencari nafkah. Mencoba mengerti seluruh perkataan anak-anaknya dengan perbuatan dan pikirannya yang sederhana. Dan lagi-lagi itulah kewajiban papa. Kewajiban papa ayah kepada anak-anaknya.

Itukah sosok seorang papa? Sosok yang sering kali diidentikkan dengan keras, galak, suka marah-marah pula. Tapi kerap kali dilupakan sebagai sosok teduh yang melindungi seluruh anggota keluarganya, sosok yang siang malam membanting tulang akan tanggung jawabnya. Sosok yang bagaikan hanya berperan di belakang panggung saja, tersamarkan oleh keberadaan lain yang selalu ada dan siap memberikan perhatian kapanpun dan dimanapun. Kita selaku anak malah sering kali berkilah, lah ntu kan tanggung jawab papa untuk itu? Tanggung jawab untuk mencari nafkah. untuk memberi kami anak-anaknya uang dan hidup yang layak adanya. Bah absurd! Absurd karena bisa sepicik itu berfikir sebegitu gampangkah seorang papa mengorbankan ego (bahkan harga dirinya) cuma untuk anak-anaknya? Cuma untuk beberapa lembar rupiah sehingga anaknya tidak lagi merengek nangis meminta hadiah. Kalau seorang mama mendapatkan penghormatan tinggi akan kemampuannya berkorban waktu dan mempertaruhkan nyawa untuk merawat anaknya. Maka bukankah seorang papa berhak pula mendapat penghormatan yang sama akan kemampuannya merendahkan harga diri dan mempertaruhkan nyawa untuk lembar rupiah bagi keluarganya. Apa kita ingat itu? Sadar itu?

Malam itu aku mendapatkan pelajaran langsung dari ahlinya. Masternya. Pelajaran tentang bagaimana seorang papa bertanggung jawab. Pelajaran tentang kesederhanaan pengharapan seorang papa. Pelajaran tentang perhatian tulus yang bukan tercurah melalui kata tapi melalui perbuatan adanya. Dan yang terutama mengenai kesungguhan. Dulu aku sering merasa bahwa seorang papa itu paling susah mengerti kemauan anaknya. Dan ternyata itu benar, seorang papa seringkali kesulitan menebak apa mau anaknya. Tidak pandai pula mengorek hal tersebut dari anaknya langsung. Tapi mereka menggantinya dengan tanggung jawab untuk mengakomodir kemauan anaknya tersebut. Berkata dengan perbuatan seakan berkata, “mau apa engkau nak? Kuliah di seberang sana? Punya ini itu? Bergaya dengan pakaian baru? Maka mati-matian aku akan mencari uang untuk itu. Usah kau risaukan itu, pasti akan terbeli semuanya. Tak sampai hati aku tega melihatmu merengek akan hakmu. Aku dukung dengan semua kemampuanku. Kemampuan dari segenap darah dan dagingku.” dan untuk itu seharusnya aku sadar diri, tahu diri dan sepantasnya berterima kasih untuk pengorbanan seperti itu.

Yah itulah yang seringkali kita selaku anak lupakan dari sosok papa. Sosok yang sebenarnya menyadari kelemahannya untuk berkata-kata namun mengganti dengan kelebihan perbuatannya. Tulus apa adanya. Sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab menafkahi walau itu menderakkan tulang-tulang saking beratnya. Terima kasih pa. Beribu tulisan atau ucapan pun tak mampu mengungkapkan rasa terima kasih ini kepadamu. Jujur sekarang aku masih harus belajar banyak untuk ini. Belajar untuk menjadi seorang papa. Seorang sosok yang bertanggung jawab taerhadap anak-anaknya. Karena aku akan berkeluarga. Bisa saja 30-40 tahun lagi peristiwa ini terulang lagi. Saat itu aku sudah tua, tengah malam seperti sekarang dan anakku bercerita banyak hal. Maka aku akan menceritakan ulang pelajaran malam itu yang aku terima. Yaaaaah, suatu saat nanti. Suatu malam nanti. Terima kasih pa.. sungguh sekarang aku tidak perlu gengsi ataupun malu malu untuk berbicara bahwa sungguh aku mencintai papaku. Sosok yang selalu menjagaku. Dari dulu sampai habis nafasnya nanti. Terima kasih pa, sekali lagi terima kasih........



P.S:
apakah kamu selaku anak sadar hal itu? Sadarkah akan peranan seorang papa? Seorang ayah? Fikirkan apakah selain kasih sayang sang ibunda yang berperan maka apa lagi yang membesarkanmu? Coba fikirkan sekali-sekali tentang ini dan berterimakasihlah setulus hati
read more..

Related Posts by Categories



Comments (0)

Posting Komentar

Posting Komentar