puisi iseng..heu

0

Posted by median | Posted in

Duhai Sayang,
Apa engkau tahu semua yang membuat aku tertarik kepadamu?
Senyummu?
Wajahmu?
Tingkahmu?
Hatimu?
Ah sebenarnya semua membuatku menggilai sosokmu...

Duhai kekasih,
Apa engkau sadar segala yang membuatku merindukanmu?
suaramu?
Perhatian-perhatian kecilmu?
Genggam erat tanganmu?
Janjimu?
Ah keseluruhannya menciptakan kerinduan mendalam akan pribadimu....

Duhai cinta,
Apa engkau mengerti keseluruhan yang membuatku kecewa akanmu?
Kesibukanmu?
Kebohonganmu?
Diammu?
Pilihanmu?
Jujur keseluruhannya membuncahkan kekecewaan akan dirimu...

tolonglah pahami sepenuhnya sekali ini saja.
Aku tertarik? Dari dulu pun begitu..
Aku rindu? Selalu dan jangan ragukan itu..
aku kecewa? Ah mungkin engkaupun hanya bisa membisu..
pahami bahwa aku tidak butuh bujuk rayu..
tidak perlu ungkapan sayang mendayu-dayu..
tidak pula menuntut perlu akan perlakuan romantis kepadaku.
Aku hanya butuh bukti akan sosokmu.
Yang dulu pernah berkata suka sambil tersipu malu.
Yang dulu berjanji akan menemani sosokku.
Yang dulu selalu menanyakan kabarku.
Tidak kurang, tidak lebih..

Apa akan ada bukti itu?
Tak tahulah aku.
Lagi-lagi engkau hanya bisa membisu. Sibuk akan pilihan-pilihanmu.
Maka subuh ini aku ingin mengucapkan pamit. Meninggalkanmu.
Lelah berharap.
Lelah membujuk.
Lelah untuk mencoba sayang kepada sosok sepertimu.
Selamat tinggal,
Terima kasih..
Untuk semuanya
Untuk semua kenangan yang pernah ada..

Dulu..
Di waktu itu.. read more..

malam penuh doa mendesahkan namanya..

1

Posted by median | Posted in

chapter dua novel sya "dan semua ada waktunya"


Hoaaaaaahemmmm.. met bobo ya teteh..makacih yah dah seharian nemenin arum”. Suara cadel setengah mengantuk dari mulut bocah berusia 5 tahun terdengar memecah keheningan malam. Muka mengantuk, pipi bulat tembem berwarna kemerahan, rambut bergelombang, bocah itu berkata sambil mulutnya tidak henti-hentinya menguap. Benar-benar menggemaskan walau pabila tahu nasib yang menimpanya kebanyakan orang pasti akan mengurut dada. Beristigfar prihatin walau sang bocah sendiri seolah tidak peduli akannya. Menjadi yatim piatu di usia semuda ini, tannpa dipedulikan oleh sanak saudara sendiri. Bahkan memutuskan untuk menitipkannya di panti ini. Si kecil alea sudah kau timpakan ujian ya rabb. Ujian bahkan di usianya yang semuda ini.
“iya sayang.. cepet bobo yah. Kan besok maen lagi sama teteh permata sama yang lainnya. Tar klo telat bobonya bisa bangun kesiangan lho. Gk nyicipin sarapan spesial buatan teteh. Pasti nanti keabisan dimam sama yang lain”. Akupun menimpali. Perkataan itupun dijawab dengan anggukan kecil dan sang bocah pun langsung memejamkan matanya. Tidur setelah seharian bermain bersama anak-anak yang lain. Kelelahan rupanya.

Akupun beranjak pergi meninggalkan kamar berukuran besar yang dihuni oleh 20 orang anak lainnya. Kamar yang berada di dalam sebuah panti asuhan kecil yang berada di salah satu pokok di kota bandung ini. Panti asuhan yang terjepit oleh proyek real estate yang ambisius dari kontraktor ternama. Maka aku mematikan lampu. Menutup pintu. Segera beranjak kedapur untuk menyeduh segelas teh manis hangat. Berjalan perlahan keruang depan. Disana pun sudah ada dua orang lainnya, seorang wanita dan seorang laki-laki. Suami istri tepatnya. Suami istri yang sudah mulai berumur yang setia menjaga panti asuhan ini. Teh lilis dan kang yayat nama mereka. Pasangan yang menjaga panti ini dari awal berdiri.

“udah pada tidur semuanya? Makasih ya ta. Hari ini lagi-lagi kamu membantu kami untuk mengurus anak-anak. Mau langsung pulang? Atau nginep dulu? Kalau mau pulang nanti dianter ma bapak. Gak baik kamu pulang sendiri”. Teh lilis berkata lembut kepadaku.

“permata nginep aja teh. Dah malem banget. Lagian tar pagi permata dah janji sama anak-anak mau bikinin sarapan spesial buat mereka. Permata keteras depan ya teh? Mau duduk-duduk menghirup udara segar sebentar”.

“iya boleh. Tapi jangan lama-lama ya?gak baik nanti masuk angin”. Pesan teh lilis sebelum beranjak pergi kekamarnya bersama kang yayat. Beristirahat.

Dan akupun perlahan berjalan keteras depan. Melakukan kebiasaanku. Kebiasaan ku yang hadir sejak tiga tahun yang lalu. Duduk di teras depan rumah untuk melihat langit. Kebiasaanku yang mulai ada sejak aku mengenal dia. Malam ini pun sama seperti malam kemaren-kemaren. Malam-malam setelah hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bersama anak-anak panti asuhan. Malam-malam penuh doa mendesahkan namanya. Satu hal yang aku bingungkan dari dulu sampai sekarang. Memang di pagi hari sampai menjelang malam aku tidak pernah sedetikpun teringat dia. Sibuk mengurus anak-anak panti (sejak aku memutuskan untuk menjadi sukarelawan tetap disini). Tapi saat-saat seperti ini ya rabb. Saat hening, malam menjemput dan anak-anak menggemaskan ini jatuh tertidur nama dia tidak pernah berhenti selalu absen di benakku. Terlintas begitu saja tak tertahankan. Ya rabb, kenapa slalu begini? Bagaimana bisa?

Malam inipun semuanya kembali membayang. Wajahnya kembali datang. Wajah yang sedikit banyak sudah menambah rasa dalam hidupku. TIAN NUGRAHA. Ya rabb bagaimana kah sosoknya sekarang ini? Teramat rindu hati ini untuk melihat sosoknya lagi. Terakhir yang aku tahu dia menjadi pengusaha dibidang perbengkelan (atau mungkin otomotif yah?aku gk terlalu hapal istilahnya). Punya juga beberapa usaha dibidang makanan dan pakaian. Wajahnya bahkan sempat masuk koran dalam liputan entrepreneur muda tahun ini. Ingat sekali aku waktu itu, pagi hari biasa. Membaca koran (yang menjadi lecek karena dijadikan rebutan oleh anak-anak) sambil menghirup teh manis hangat kesukaanku. Membolak balik halaman yang aku sendiri tidak terlalu mengerti isinya apa. Sampai mataku menangkap sosoknya disana. Terkejut. Hampir memecahkan gelas saking tidak percayanya., difoto itu dia tersenyum tipis. Mengenakan stelan jas santai. Terlihat sedikit gurat lelah di wajahnya, tapi dia tetap terlihat gagah seperti dulu. Tinggi putih, mata yang terlihat tajam, tubuh yang atletis seperti biasanya. Gemetar hati ini hanya dengan melihat fotonya. Sesak dada ini dan tanpa tertahankan mata ini meneteskan air mata, air mata rindu kepadanya.

Sampai saat ini pun aku bingung ya rabb. Bingung kenapa perasaan ini bisa hinggap begitu erat. Lelah setiap malam memikirkan hal ini ya rabb. Dia bukanlah orang yang maha sempurna. Dia manusia biasa. Punya cela punya daya. Ada banyak hal yang membuat dia berbeda dari kaum adam lainnya yang aku kenal. Membuatnya mencolok bahkan ditengah “keramaian” orang-orang. Satu hal yang masuk dalam urutan alasanku utamanya karena dia benar-benar tahu semua kekurangannya dan mampu menyeimbangkan kelemahan itu dengan kelebihannya. Dia apa adanya ya rabb. Tanpa segan dia menceritakan sisi-sisi buruknya kepada orang lain. Menceritakan tanpa pernah takut dengan kemungkinan orang bakal menjauhi dia. Dia benar-benar mampu melakukan apa yang dia inginkan, bercerita, tanpa pernah takut akan pandangan orang. Aku benar-benar menyukai kemampuannya yang bisa begitu nyaman dengan kecuekan, begitu cuek untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan. Melakukan hal-hal kecil bermakna besar yang sering kali terlupakan. Atau malah melakukan hal-hal besar yang dia inginkan dengan keberaniannya yang mengagumkan.
Aku tahu (dia yang memberi tahukan pada saat masa ospek nan indah itu) dia pergi merantau jauh dari tempat asalnya. Merantau dengan kehendak sendiri tanpa paksaan ataupun suruhan. Pergi sendiri dan benar-benar mencoba mandiri dengan kemampuan beradaptasinya sendiri. Tanpa saudara, berteman pun susah karena terkendala adat, bahasa dan yang lainnya. Tapi dia bertahan. Tanpa bantuan banyak orang dia bisa “berdiri”. Merintis semua mimpi-mimpinya dengan kerja kerasnya sendiri. Mampu mendapatkan materiil yang lumayan dengan tetes keringatnya. Merintis usaha kecil-kecilan dari awal perkuliahan (sekarang bahkan sudah mulai menggurita, membesar sedemikian rupa). Untuk itu aku benar-benar salut kepadanya. Aku tahu ya rabb. Tahu bahwa dia bukanlah orang yang termasuk relijius. Relijius menyembahMu. Relijius membaca ayat suci kitabMu. Dia malah dikenal sebagai sosok yang suka dugem, minum, belum lagi titelnya sebagai playboy ulung. Tapi dia bisa memperlihatkan bahwa dengan caranya sendiri bahwa dia pun sebenarnya tergolong dalam golongan orang yang berhati bersih. Mematahkan persepsi umum tentang bentuk relijus yang dulunya aku punya. Relijius dengan caranya. Relijius dengan perbuatannya yang sangat berbeda.

Engkau pasti tahu ya rabb, jurusan kami merupakan satu-satunya jurusan yang berjarak paling dekat dengan masjid agung yang berada di areal kampus kami. Engkau pasti tahu ya rabb bahwa dulu sebelum masa ospek itu awalnya aku sering melihatnya disana. Disana? Dimasjid? Bukan. Bukan aku melihatnya disana sedang beribadah menyembahMu. Berzikir mendesahkan namaMu. Melantunkan ayat-ayat suci kitabMu. Aku melihatnya disana justru sedang tidur dengan cueknya. Tidur pulas dirumahMu dengan begitu enaknya disaat yang lain malah bergegas menghadapMu. Dari sanalah awal rasa yang Engkau sisipkan. Rasa suka selaksa cinta. Kepadanya.
Jujur waktu itu aku memandang remeh kepadanya. Melihat dia yang tidur dengan santainya di rumahMu. Bagiku dia terlihat hanyalah sebagai seorang berandalan yang seenaknya saja tidur di istanaMu saat yang lain tertunduk menyembah dan menyebut namaMu. Lihatlah cara berpakaiannya. Celana jeans sobek, kaos kucel dekil, rompi jeans yang acak-acakan. Belum lagi rantai dompetnya. Besar-besar terlihat kumal. Sungguh terlihat seperti berandalan. Aku tahu bahwa dia setidaknya “terlihat” seperti yang menyukaiku, sering terlihat bodoh senyum-senyum sendiri apabila melihatku. Seringkali duduk-duduk di gerbang depan kampus kami, mengobrol dengan santai dengan para satpam, tawanya bahkan terdengar dari kejauhan (waalau anehnya dia mendadak sangat diam pabila aku bergegas melintas).

Dia berandalan? Dia memang terlihat seperti berandalan ya rabb tapi disatu sisi jujur aku harus mengakui bahwa dia sopan. Berbeda kontras dengan reputasinya. Suka dugem, suka minum, palyboy ulung (oh satu lagi, sangat jago berantem. Dia bahkan menguasai beberapa jenis aliran beladiri.). Dia sopan. Sopan tidak pernah ikut bersiul seperti laki-laki umumnya yang senang menggoda perempuan. Tidak seperti teman-temannya yang sedikit-sedikit sibuk bersiul memanggil-manggil. Tidak pernah melontarkan kata-kata nakal untuk menggoda. Kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan kepada kaum hawa. Seingatku dia hanya melontarkan kata “permata mau kemana?” apabila berpapasan denganku (dulu sebelum masa ospek kenangan itu). Tidak lebih tidak kurang. Yah aku pun menganggap dia ada tapi tidak ada. Acuhkan saja seperti halnya aku memperlakukan laki-laki kebanyakan lainnya yang hanya senang menggoda. Tapi ya rabb, semua pandangan itu berubah seketika sejak hari itu. Hari dimana aku mulai menyadari akan keberadaan dia. Hari dimana Engkau sisipkan rasa itu begitu saja.

Aku ingat hari itu. Hari itu aku baru selesai menghadapMu dimasjid seperti biasanya. Dan lagi-lagi aku melihat dia tidur dengan pulasnya di teras partere rumahMu. Di sekitarnya banyak orang-orang lain yang sedang duduk. Ada yang bercanda dengan temannya. Berdiskusi. Ada pula yang hanya duduk santai sambil membaca buku atau sedang mengaji kecil memegang al-quran saku. Entahlah hari itu aku mendadak memperhatikan dia lebih lama. Memperhatikan dari jauh. Mengenakan kaos hitam, rompi jeans kumal, celana jeans hitam yang sobek-sobek. kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaanku. Saat itu ya rabb. Entah dari mana kau datangkan seorang anak kecil. Perempuan kecil nan lusuh berpakaian dekil, ingusan pula. Kotor terlihat. Mendatangi orang-orang disekitar dia sambil membawa ecrek-ecrek kecil. Mengamen mengharap sedikit receh dari mereka. Saat itu tidak satupun yang memperdulikan dia. Siapa pula yang mau memperhatikan seorang anak perempuan kecil yang kotor, mengamen pula dengan suara seadanya. Acuh saja mereka. Tertegun aku memandang hal itu, secepatnya memutuskan untuk mendekati anak itu untuk memberikan sedikit rejekiMu kepadanya. Bergegas menghampiri. Sedikit berlari. Namun langkahku tiba-tiba terhenti. Terhenti tepat beberapa meter dibelakang dia yang sedang tidur. Terhenti karena dia bangun. Tiba-tiba merasa malu dan memutuskan untuk bersembunyi saja dibalik pilar yang ada. (ya rabb, rasa apa yang kau beri saat itu?kenapa aku harus merasa malu padahal aku sendiri tidak tahu siapa dia?). Memutuskan untuk “mengintip” dia saja. Dia terlihat mengucek matanya, menguap sebesar-besarnya. Celingukan sedikit. Tertegun sebentar mendapati anak kecil didepannya. Sedang duduk, terlihat capek mengamen.

Hari itu barulah aku menyadari siapa dia sebenarnya. Benar kata orang bahwa penampilan bisa menipu. Dia yang terlihat begitu berandal, tiba-tiba menghampiri anak kecil tersebut. Akrab terlihat bertanya. Dan tiba-tiba mereka berdua terlihat sangat akrab. Tertawa-tawa. Bahkan sempat-sempatnya berpura-pura menjadi kuda dan sang anak dengan senangnya “menunggangi” dia. Senang sekali mereka terlihat ya rabb. Dia tidak mempedulikan kalau sang anak terlihat kotor (ah, bukankah dia juga terlihat kucel?). Mengeluarkan bindernya dan pulpen kepada sang anak kecil, menyuruh sang anak kecil untuk menulis apa saja disana. Mengajarinya. Menggambar rupa-rupa. Mereka berdua terlihat begitu asyik. Bermain. Tertawa-tawa. Tidak mempedulikan orang-orang disekeliling mereka (orang-orang tersebut juga toh tidak memperdulikan mereka). Dan aku hanya bisa sembunyi-sembunyi menatap mereka dari balik pilar, tersenyum melihat kelakuan mereka. Saat itu aku baru sadar bahwa dia yang terlihat begitu berandal ternyata begitu ramah kepada anak kecil. Dan bukankah orang-orang yang bisa begitu akrab dengan anak kecil adalah orang-orang yang baik. Baik karena bahkan anak kecil yang begitu perasa pun bisa mempercayai mereka. Dan detik itu rasa tersebut Engkau sisipkan begitu halus ya rabb. Aku akui saat itu aku mulai tahu bahwa dia itu BEDA dari penampilannya. Benar-benar beda.

Sedikit banyak sejak hari itu aku mulai “membuka” hati untuknya. Bahkan mulai tahu satu dua fakta yang beredar di kalangan kaum hawa di fakultas ekonomi ini (rahasia umum sebenarnya, tapi aku dahulu tidak pernah mau ambil peduli). Mengetahui fakta bahwa sebenarnya dia amat sangat populer dikalangan kaum hawa. Sangat banyak kaum hawa yang menaruh rasa walau mengetahui reputasinya. Bahkan baru mengetahui fakta bahwa sebenarnya teman akrabku, Artika yang aktivis aktif di komunitas mahasiswa muslim dikampusku pun menaruh simpati padanya. Artika sang aktivis cantik. Benar-benar tipikal perempuan idaman. Cantik, putih, tinggi, berhidung bangir, rapat menjaga aurat, intelek (dia bahkan mendapat IP sempurna dan beasiswa full akan beragam prestasi di berbagai bidang penelitiannya), agamanya pun sangat kuat. Artika adalah seorang perempuan ber”paket” lengkap. Membius ratusan laki-laki untuk berlomba-lomba mendekatinya. Di suatu sore saat sedang bersamaku dan aku bercerita tentang kekagumanku kepadanya. Dia pun tersenyum, berkata sesuatu hal dan memberi tahu rahasia bahwa dia juga mengaguminya. Berkenan pula memberi alasan mengapa dia yang sangat teramat susah menaruh simpati dan respect kepada lelaki, ternyata bisa memberikan hal itu kepadanya.

Aku ingat y rabb perkataan artika sore itu, “tahukah kamu permata, mengapa aku mengaguminya? Simpati padanya. Siapa sebenarnya Tian Nugraha itu? Playboy ulung? Suka dugem? Jago berantem? Iya. Kita tidak bisa menyangkal hal itu apalagi mengetahui bahwa begitu seringnya dia berganti-ganti pacar di fakultas ini saja. Belum lagi di fakultas lain. Tapi tahukah kamu sisi lainnya? Sisi lain yang tidak pernah aku ketahui sebelumnya. Sisi lain yang baru aku ketahui di hari itu. Saat itu aku sedang berjalan di sepanjang pertokoan di daerah bawah sana. Niat awalku hanyalah mencari buku untuk keperluan kuliah, hilir mudik masuk dari satu toko ke toko buku satunya. Saat itu, saat aku keluar dari satu toko aku tercenung oleh suatu peristiwa. Aku melihat dia disana! Mengenakan stelan rapih. Kemeja hitam berstrip putih. Perlente. Rambut tersisir rapih Seperti orang kantoran saja tampangnya waktu itu. Dan bukan aku terhenyak oleh tampilan seperti itu permata. Karena bagiku itu biasa saja. Aku terhenyak oleh suatu pemandangan ganjil. Dia yang berpakaian begitu rapih cuek saja duduk disamping seorang nenek pengemis tua yang sering mangkal di daerah itu, memegang bungkusan makanan fast food ternama. Berbagi makanan dengan sang nenek sambil tertawa-tawa. Bercerita. Makan bersama. Benar-benar tanpa beban, benar-benar tidak mempedulikan orang-orang yang lalu lalang”.

Artika diam sebentar, menarik nafas panjang kemudian berkata kembali “Sungguh baru kali itu aku melihat orang yang begitu santainya melakukan itu didepan umum. Aku bahkan tidak pernah terfikir melakukan itu. Pun tidak pernah melihat atau tahu kalau teman laki-laki aktivisku melakukan hal seperti itu. Apalagi seribu satu laki-laki lain yang seakan berlomba menarik perhatianku. Lagipula kalaupun ada satu dua diantara mereka yang seperti itu bukankah wajar? Karena mereka orang-orang yang memiliki “titel” aktivis. Tapi lihatlah dia. Dia yang begitu berbeda justru karena kita tahu reputasinya. Santai saja dia melakukan itu. Tak mempedulikan dia sedang menggunakan pakaian rapihnya. Tidak peduli sama sekali dengan orang yang lalu lalang di depannya. Tidak peduli oleh kotor dan baunya sang nenek. Itulah alasan aku menaruh simpatikku padanya. Simpatik karena saat itu aku melihat sesuatu yang begitu tulus. Tulus tanpa beban. Sejujurnya bahkan detik itu aku merasa malu dengan diri sendiri, mengaku aktivis muslim tetapi tidak pernah mampu atau terfikir untuk melakukan itu. Dia dengan caranya mengajariku akan hal itu. Mengajariku untuk berhentilah mengincar yang terlalu tinggi. Mengajariku untuk lebih melihat sekitar yang sering kali terlupakan. Sekitar kita yang sebenarnya sama-sama membutuhkan bantuan dan perhatian. Detik itu hari itu aku menaruh simpatiku kepadanya”

Tian nugraha membuatku kagum. Apalagi saat tahu dia bisa “menundukkan” artika tanpa harus mendekatinya. Tanpa harus mencoba untuk menunjukkan apa yang dia punya. Tanpa harus menyombongkan apa saja perbuatannya. Bahkan setelah masa ospek itu maka aku makin mengagumi sosoknya. Pribadinya. Keteguhan sikapnya. Pandangannya. Darinya aku mempelajari arti sebenarnya dalam menjadi diri sendiri. Bagaimana kita harus mampu untuk melakukan yang kita inginkan, untuk selalu ramah pada sekitar kita, untuk sekali-sekali berfikir berhentilah mengejar hal-hal yang terlalu jauh karena bahkan sekitar mu membutuhkan bantuan itu. Ah ya rabb, sedikit demi sedikit hati ini benar-benar kau sisipkan rasa itu. Tumbuh sedikit demi sedikit sampai aku tidak kuasa melepaskannya sama sekali dari pikiranku.

Dan jujur ya rabb, aku sangat mensyukuri masa ospek itu. Masa dimana aku bisa benar-benar berdekatan dengannya. Masa dimana hatiku bertautan dengan hatinya. Masa dimana aku menumpahkan air mata untuknya. Walau sejak masa ospek itu praktis kami saling berjauhan, aku memilih pasanganku dan dia entah pergi kemana dan melakukan apa. Yang pasti sejak hari itu dia menghilang begitu saja. Malam ini aku mengadu lagi kepadaMu. Maafkan aku ya rabb. Maafkan ketidak mengertianku. Tidak mengerti mengapa saat aku memilih pasanganku tetapi aku selalu saja mengingatnya kembali. Merasa kebas hati saat melihatnya (bahkan walau itu cuma fotonya). Bagaimana aku bersemu merah saat melihatnya di hari kelulusan kami. Bagaimana aku seperti sekarang, duduk termenung di malam hari, sibuk mendesahkan seribu kali namanya. Mengingat dia yang mundur teratur dan berkata tidak mau menghancurkan pilihanku sendiri.

Pilihanku? Duhai rabb, aku malu. Malu karena aku jujur tidak tahu apa pilihanku. Malu karena hatiku bilang untuk mempertahankan hubungan dengan kekasihku (bukankah Engkau mengajarkan untuk selalu menjaga hubungan? Menjaga janji ikrar yang terucap dari mulut kami), tetapi sekarang malah hatiku selalu mengingat dia. Apakah kami para hawa hanya ditakdirkan bingung untuk perasaan kami ya rabb? Bingung dan takut untuk memilih diantara dua pilihan membingungkan. Apalagi untuk mengatakan kata hati. Ya rabb, kenapa kami diciptakan dengan perasaan seperti itu? Kenapa engkau menciptakan pandangan umum bahwa para hawa haruslah jaim? Menunggu dan hanya menunggu keajaibanMu (padahal Engkau berkata untuk berusaha bukan? tidak akan menolong kaum yang hanya berpangku tangan? Maka apakah kami termasuk dalam golongan kaum yang malang seperti itu? Kaum yang hanya berpangku tangan)

Aku jujur tidak mengerti perasaan dan pilihan ini? Benarkah pilihan ini? Tetapi sejak masa ospek nan indah itu aku mempelajari satu hal yang indah ya rabb. Pelajaran yang aku terima saat aku mencoba memahami satu pertanyaan sederhana “kenapa aku sampai begitu menyukai dia?”. Aku berhenti pada kebingunganku. Kadang pula aku berfikir, apa karena aku sudah jenuh dengan kriteria baik dan mendekati sempurna yang selalu diajukan oleh kaum hawa saat ingin memilih adam pasangannya. Kriteria dan syarat-syarat umum dari kaum hawa kebanyakan bahwa sang adam akan mendapatkan cinta apabila adam tersebut berusaha mati-matian dan menunjukkan kalau hati mereka hanyalah untuk sang hawa. Syarat dan kriteria yang tidak bisa aku pungkiri dulu aku ajukan pada sang adam pasanganku dulu saat dia “melamar”ku. Itupun belum termasuk embel-embel syarat lainnya, harus pintarlah, sopanlah, dan syarat yang paling utama ialah harus relijius. Syarat mutlak yang harus terpenuhi. Syarat yang sangat umum bukan? Klasik memang tapi itulah yang selalu mendoktrin pikiran kami, kaum hawa itu sendiri.

Tapi ya rabb ketika aku mengenal dia perlahan doktrin doktrin itu memudar dengan sendirinya. Bukan, bukan aku mengesampingkan semua sisi terutama sisi kerelijiusan itu sendiri. Dengan mengenalnya aku mencoba lebih luas untuk berpikir bahwa kereligiusan seseorang itu tidak cukup hanya di tunjukan melalui shalatnya, puasanya, atau apabila kaum hawa dengan jilbabnya, memang kesemuanya itu sangat penting tapi apa yang terjadi bila semua orang hanya sibuk memikirkan casing luar untuk menunjukan identitasnya tanpa mereka pedulikan kalau hati mereka sudah kebal untuk merasakan penderitaan sesamanya. Memang tidak semua orang seperti itu tapi ya seenggaknya realitas itulah yang sering aku lihat.
Dan melalui dia pandangan itu kudapatkan. Dia yang mengaku bukan orang yang terlalu relijius, tapi aku tau niat dia kemana. Dia peduli nasib sesamanya meskipun dengan cara dia. Itu salah satu yang aku kagumi dari dia, tak pernah lelah untuk membantu orang lain dan menghiburnya dengan caranya sendiri. Membaur dan melebur dengan mereka. Berbagi. Sepenuhnya. Dan dia tidak pernah menggunakan dalil agama apapun untuk mendefinisikan niatnya. Dia melakukan apa yang dia mau. Tidak perlu merasa harus berfikir dulu untuk membantu mereka. Setahuku dia hanya ingin membantu orang lain tanpa perduli apa pendapat orang lain. Itulah yang membuat aku sangat menyukainya. Sangat mencintainya malah.

Ya rabb, hal yang membuat aku nyaman bersamanya ialah karena aku merasa dikenal, diperlakukan oleh dia dengan wajar dan apa adanya, dia sosok netral yang benar benar mengenalku secara apa adanya aku tanpa sebelumnya pikirannya terkontaminasi oleh penilaian penilaian orang lain. Dan itu membuat aku sangat nyaman karena aku tak harus berpura pura di depan dia karena harus menjaga image yang terpaksa sudah melekat pada diriku, buah dari penilaian penilaian orang lain tentu saja khususnya di lingkungan ku sekarang ini. Lingkungan dimana aku dianggap benar-benar sebagai teladan, sebagai orang yang alim, baik, dan muslimah sejati benar-benar harus memperhatikan setiap langkah. Sungguh berat menerima beban seperti itu ya rabb. Karena aku belumlah siap sepenuhnya. Walaupun aku tahu itu berkah, suatu berkah yang engkau titipkan kepadaku. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang merasa kecil dan belum siap adanya.

Lelah aku berfikir mungkin karena image itu pula yang membuat para kaum adam itu berusaha menjadikan aku “seseorangnya” yah mungkin hanya untuk kebanggaan mereka depan orang orang orang (hanya Engkau dan aku yang tahu bahwa sampai sekarang pun ada banyak pria yang datang dan mencoba merayuku. Alasan yang sama sehingga hari itu aku merasa terlalu lelah dan memutuskan melepas jilbabku. Berontak dengan perlakuan itu). Dan aku? Mereka tak pernah tau kalau aku sangat lelah dengan perlakuan perlakuan itu. Sedangkan pada dia? Aku bisa jadi diriku sendiri depan dia. Melakukan apa yang aku inginkan sesuai dengan kata hatiku. Karena diapun seperti itu. Selalu melakukan apa yang ia inginkan setiap waktu. Suatu kenyamanan yang tidak pernah aku dapatkan dari adam manapun, bahkan dari pasanganku sendiri (untuk ini ya rabb, aku memohon ampun kepadamu..). Dengan perasaan itu aku merasa dimanja olehnya, perasaan nyaman dan diterima. Duhai rabb hanya dialah yang sanggup melakukan itu kepadaku.

Dia yang tak segan segan membicarakan kejelekanya pada orang lain bahkan tidak berpikir kalau dengan itu membuat dia di jauhi atau bagaimana. Dia yang tidak pernah malu duduk sejajar berlantaikan tanah (walau menggunakan stelan mahal sekalipun) dengan kalangan kurang mampu. Dia yang tanpa berfikir panjang berusaha menghibur sang anak kecil pengamen yang terlihat dekil dan kumal itu (karena dia tahu dia belum mampu untuk melakukan hal lebih selain itu, maka yang dia lakukan hanyalah mengajak anak itu bermain sebentar. Melupakan kerasnya hidup sebentar. Mengajaknya bermain seperti kanak-kanak biasa. Aku tahu itu langsung dari mulutnya, saat kita bercerita dimalam itu). Ringan hati dia menceritakan semua kejelekannya, tanpa bermaksud untuk berbangga hati. Dia hanya mencoba untuk jujur. Mengharapkan bahwa orang-orang yang mendekatinya tidak akan tersakiti saat tiba-tiba tahu bahwa dia memiliki sisi buruk yang lebih. Bercerita dengan kesadaran penuh bahwa mungkin saja orang-orang tersebut berubah 180 derajat membencinya. Dia siap. Dia yang mandiri. Dia yang tahu pahitnya hidup sendiri. Maka semua hal itu merubah pandanganku dahulu. Memperkuat rasa sukaku, rasa simpati ku, rasa kagumku. Sejujurnya Membuat ku menaruh kagum, simpati, dan respect kepada sosoknya yang seperti itu. Semakin dalam sehingga sekarang pun (seperti malam-malam yang lain) lagi-lagi mengadukan namanya padaMu.

Ah ya rabb, maha memiliki segalanya. Malam ini lagi-lagi kerinduan ini memuncak. Tangan ini semakin erat memegang gelas kaca ini. Tidak kuasa air mata ini mengalir dipelupuk mata. Merindu. Mendesahkan namanya. Berharap takdir ini bisa dipermudah. Berharap bahwa perasaan bisa dibuat lebih sederhana. Rumit ya rabb.. Sungguh rumit. Lelah hati ini ya rabb, walau jujur dalam kelelahan ini aku tetap berdoa kepadamu ya rabb. Mengajukan sepotong tanya dan sepotong doa. “apakah malam ini, dibelahan manapun di dunia ini dia berada dia juga mengingatku ya rabb? Mungkinkah suatu saat jalan takdir kami akan saling bersilang lagi? Sehingga kami bisa bersama kembali”. Suatu pengharapan tulus untuk menemukan lagi mimpi-mimpi dan moment indah itu lagi. Bersamanya. Erat bergenggaman tangan. Bertemu dengan segenggam janji untuk bersama lagi.

Dan malampun semakin larut. Permata yang lelah, merasa cukup puas mengadu kepadaNya. Memutuskan untuk segera berangkat beristirahat (lagian besok pagi dia juga harus bangun pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anak panti). Mencoba mendapatkan ketenangan melalui janji buaian mimpi membius hati. Menutup pintu panti kecil itu. Membereskan semua hal yang masih berantakan. Mematikan semua lampu. Merebahkan diri. Tidur! Mencoba mengistirahatkan hati. Tidak mengetahui bahwa malam itu tuhan tersenyum dan bersabda kepadanya. Tersenyum dan bersabda dengan cara yang tidak diketahui makhluknya. Menjawab langsung malam-malam penuh doa mengucap nama “aku kabulkan pintamu wahai hambaku yang meminta dengan sepenuh hati. Menangis mengadu dengan rendah hati. Tunggulah! Karena tali takdir kalian akan kembali bersilangan lagi. Tunggulah saatnya. Nikmatilah tiap detiknya sampai tali takdir itu terurai kembali”. Ah, sungguh bodohlah orang yang berkata tuhan itu membisu. Tidak adil. Dia akan menjawab setiap doa dengan sabdanya yang tidak akan bisa didengarkan oleh kita, terutama oleh dua insan yang bernama tian dan permata. Inilah awal permulaan. Suatu kisah pengorbanan. Suatu kisah kesungguhan. Suatu kisah akan pilihan kehidupan. Nikmatilah setiap detik yang ada karena semua sudah ada waktunya.. read more..

sepucuk surat untuk hati kecil yang bersedih..

1

Posted by median | Posted in

Kutulis surat usang ini untukmu duhai hati yang sedang bersedih. Untuk hati yang jerih bercinta lagi. Demi hati yang sering merasa sendiri. Hati dari seseorang yang baru bisa didekati setelah lama hanya bisa bermimpi. Ah, aku tidaklah pandai merayu. Tidakpula pandai menghiburmu. Karena aku tahu aku hanyalah seorang asing. Asing yang tidak pandai berkata-kata dan mengusapkan jarinya untuk menghapus air matamu. Maka sungguh pandanglah surat ini sebagai penebus. Penebus? Ya penebus akan ketidak mampuanku. Penebus akan absensi ku. Penebus akan fakta bahwa aku hanya mampu memberikan berderet-deret tulisan tanpa kehadiran langsung ragaku.

Duhai hati. Aku bertanya kepadamu yang sedang bersedih. Bersedih akan kehilangan. Kehilangan dirinya. Yah aku tahu fakta yang membuat air mata itu menggenang di pelupuk matamu. Aku disini bukanlah untuk mengukur dan menebak seberapa dalam kesedihanmu. Sungguh aku tidaklah mampu mengukur itu. Seberapa hebatnya aku dalam ilmu ukur sekalipun aku tetaplah tidak mampu. Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu kepadamu. Tentang suatu hal yang dinamakan siklus. Perputaran kehidupan. Dua sisi yang berlawananan. Sama seperti gelap melawan terang. Maka sisi-sisi itu akanlah selalu ada. Berulang-ulang terjadi silih berganti. Maka izinkanlah untuk kali ini aku sedikit bercerita. Bercerita untuk mu. Bercerita tentang datang dan pergi.

Tahukah kamu bahwa suka atau tidak, cepat atau lambat, maka kita selalu mendapatkan kebalikan dari apa yang kita punya. Semua hal dalam hidup yang singkat ini hanyalah berdasarkan hukum itu. Cantik dan buruk rupa. Kaya dan miskin harta. Pandai dan bebal otaknya. Hukum itulah yang selalu didengungkan oleh berbagai pujangga dari zaman lama. Aku tahu ini lagu tua, seringkali kau dengar pula. Tapi apakah kau sadar wahai hati? Bahwa itu juga terjadi untuk pergi dan terganti kedatangan baru lagi. Kita sering kali (atau malah selalu) bersedih karena kehilangan dan kepergian. Yah aku tahu itu, sangat paham malah. Bukankah selalu menyakitkan kehilangan orang yang telah datang dan memberi warna dalam hidup ini. Selalu mengiris saat tahu bahwa tiba-tiba mereka telah pergi. Terkadang malah tanpa alasan sama sekali. Laksana penyulap yang tiba-tiba mengeluarkan merpati dari saputangannya. Begitu pula kepergian itu, terjadi begitu saja layaknya sulap biasa. Tapi aku mau engkau mengingat wahai hati, ingatlah satu hal dari pertanyaan ku ini. Saat sesuatu itu datang dan berada di genggaman, apakah itu datang dengan suatu alasan? Orang cerdik pandai sering membantah dan menjawab dengan pongahnya, “iya saya dapatkan itu dengan usaha dan tenaga. Jadi wajarlah pula sesuatu itu datang kepadaku!”

Tapi lupakah kita bahwa adakalanya kita mendapatkan suatu hal tanpa alasan sama sekali. Ambil contoh dalam hal jatuh cinta. Iya cinta yang berbait-bait ditembangkan, ditulis dalam manuskrip-manuskrip tua, menciptakan pujangga-pujangga abadi sepangjang massa. Apakah cinta itu datang dengan alasan? Mungkin engkau ingin meniru kata-kata orang yang mengatakan, iya aku cinta dia karena fisiknya yang menarik. Atau karena kepandaiannya. Atau pula malah karena kebaikannya. Tapi apakah engkau lupa satu hal? Apakah hatimu benar-benar bisa mendeskripsikan kenapa engkau jatuh cinta dengannya? Sadarkah engkau, bahwa terlepas dari kebaikan, kepandaian, fisiknya maka engkau merasa jatuh cinta kepadanya karena sesuatu hal yang tidak bisa dimengerti. Tiba-tiba saja kok bisa engkau tersipu malu hanya dengan mengingat namanya? Bagaimana bisa engkau memangkukan tangan terpana hanya karena melihat sosoknya dari kejauhan saja? Bagaimana bisa engkau sumringah, buncah oleh perasaan bahagia hanya karena satu dua katanya dalam pesan singkat yang baru saja engkau terima darinya? Apakah engkau sungguh mengerti kenapa engkau bisa bertingkah ganjil seperti itu?

Aku yakin seyakin-yakinnya. Bahwa engkau tidak tahu alasan itu. Yang engkau tahu hanyalah bahwa engkau sedang jatuh cinta. Tanpa alasan tiba-tiba saja datang hinggap dan membelit erat sebegitu kuatnya. Tidak percaya? Duhai hati lihat lah baik-baik ke zaman-zaman dibelakangmu. Apakah engkau bisa menghitung berapa juta arti, berapa juta larik puisi, berapa juta catatan torehan hati yang menyangkut akan jatuh cinta dari berbagai filsuf, pujangga, ilmuwan, raja, sufi bahkan orang miskin hina sekalipun. Semuanya mendeskripsikan kenapa jatuh cinta dengan bahasanya sendiri-sendiri dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Karena semua orang tidak pernah tahu alasan jatuh cinta. Mereka hanya tahu dan menikmati kedatangannya. Tidak lebih. Tidak kurang.

Nah satu hal yang harus engkau ingat adalah satu fakta bahwa kedatangan jatuh cinta itu akan dipisahkan oleh kepergian. Dan sebagaimana hal yang terjadi dengan kedatangan jatuh cinta. Maka alasan kepergiannya pun tidak dimengerti. Ah, disini aku tidak mau berdebat tentang apa alasan kepergian itu (toh bisa saja karena sakit, khianat murah karena tergoda “barang” lain yang lebih terlihat mulus rupa, atau malah karena kesepakatan tertentu..seribu satu alasan ada untuk itu). Aku hanya ingin engkau mencoba ingat lagi. Ingat bahwa datang itu pasti disusul oleh pergi (dan pergipun akan disusul lagi oleh datang yang baru lagu). Sama sederhananya seperti bayi yang pastinya akan berubah menjadi dewasa dan mati (bahkan manusia pun datang dan akhirnya pergi bukan?). Ingatlah satu hal bahwa, HAL ITU TIDAKLAH TERELAKKAN. Pasti terjadi! Pasti menghantam diri. Dan sungguh, sungguh aku tidak mau berdebat akan alasan itu terjadi. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa, sebagaimana kita menikmati suatu kedatangan (mempestakannya malah) maka nikmati pula kepergian. Nikmatilah dengan cara yang sama tapi sedikit berbeda seperti kedatangan. Satu cara yang diajarkan oleh pak haji di televisi, ikhlas saja itulah kuncinya.

Ingatlah bahwa engkau selalu ikhlas akan kedatangan sesuatu yang baik bukan? Entahlah apakah itu kedatangan nasib baik, kedatangan harta, atau kedatangan orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan bersuka ria. Maka ingatlah bahwa engkau pun harus ikhlas akan kepergian. Entahlah apakah itu kepergian nasib buruk, kepergian harta, atau kepergian orang yang dicinta sekalipun. Engkau ikhlas akan kedatangannya. Dan sedikit berbeda dengan kedatangan, maka engkau tidaklah bersuka ria, tetapi mafhum dan menyadari bahwa waktu kepergian memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian dan melepas. Melepas sesuatu yang memang bukan milik kita (karena bukankah faktanya semua hanya titipan_Nya? Jadi bagaimana pula kita bisa mengeluh untuk semua hal yang jelas-jelas bukan milik kita?).

Aku ingin engkau percaya bahwa hal itu sesederhana ini. S-E-D-E-R-H-A-N-A. Hati kitalah yang memperumitnya. Memperumit dengan suatu bantahan yang selalu keluar, bantahan yang intinya menyangkal bahwa kepergian itu terjadi. Kenapa? Bagaimana bisa? Apa yang salah? Sungguh duhai hati. Tidak ada alasan lebih. Tidak ada pula ada yang salah. Sesungguhnya semua terjadi karena memang sudah waktunya. Memang waktunya bahwa pergi itu akan datang. Maka bersyukurlah, berdoalah, mintalah kekuatan dari_Nya dan relakanlah. Karena waktunya memang sudah tiba. Waktu untuk kepergian itu datang memangku jiwa.

Maka percayalah wahai hati yang bersedih. Yakinlah duhai hati yang sering merasa sendiri. Relakanlah oh hati yang jerih untuk bercinta lagi. Bahwa siklus itu selalu terjadi, berkebalikan. Dua sisi yang selalu berlawanan tapi pasti terjadi. Ingatlah bahwa hal itulah yang sesungguhnya menempa kita. Mengajarkan kepada kita arti untuk memperbaiki diri, mengajarkan kita kepada arti untuk selalu meresapi moment-moment yang terjadi, menikmati tiap detiknya, dan tidak menyia-nyiakannya. Karena cepat ataupun lambat maka itu akan terjadi. Terus berputar seperti roda pedati. Pesanku hanya satu wahai hati kecil yang sedang bersedih, saat sesuatu itu datang maka nikmatilah sebenar-benarnya. Syukuri semuanya. Karena engkau harus tahu bahwa sesuatu itu akan pergi juga akhirnya. Dan saat pergi itu datang wahai hati kecil yang sedang bersedih, maka relakanlah hal itu. Sunggingkan senyum dan yakinlah bahwa kepergian itu nanti akan digantikan oleh_Nya dengan suatu kedatangan kembali. Kedatangan yang jauh lebh indah dari awalnya. Jauh lebih berarti dari awal mula. Karena bukankah siklus itu selalu terulang. Beratus-ratus kali sampai kita tua dan mati. Jadi percayalah. Yakinlah. Tersenyumlah.

Yakinlah pula bahwa tuhan selalu tersenyum dengan caranya kepada kita. Mempersiapkan segala yang kita butuhkan dengan misteriusnya jalanNya. Jadi sekali-sekali wahai hati berhentilah bertanya, terimalah dengan lapang dada. Bersiaplah untuk rencana baru yang dipersiapkan oleh_Nya. Karena aku yakin, bahwa Dia tidak akan mempersiapkan hal yang buruk untuk makhlukNya, semuanya indah walau kita tidaklah tahu jelas jalan pikiranNya. Berhentilah bersedih. Semoga tulisan sederhana ini membuatmu bersemangat kembali. Sampai tua dan akhirnya juga “pergi”.Hanya inilah tulisan untuk mu wahai hati kecil, smoga bisa menebus keterbatasanku selama ini. Kelalaianku karena tida k bisa sering bersamamu. Izinkan untuk sementara tulisan ini menghiburmu. Sampai aku benar-benar bisa datang untukmu. Nanti saat takdir akan kedatanganku kembali dan ingat, ingatlah bahwa engkau sama sekali tidaklah sendiri. Sampai nanti wahai hati, sampai kita berjumpa kembali. read more..

Penggalan cinta untuk seorang wanita

0

Posted by median | Posted in

chapter satu novel saya "dan semua ada waktunya"


Hari itu lengang seperti biasa. Aku dan beberapa temanku masih duduk-duduk di depan gedung megah itu. Gedung megah yang difungsikan sebagai tempat untuk berselancar didunia maya, chatting atau hanya sekedar bermain game untuk melepas lelah. Penat dengan semua urusan perkuliahan. Namun juga merasa malas untuk berdesak-desakan mengantri hanya untuk menghabiskan waktu beberapa jam berselancar di dunia maya (bagaimana pula urusan ini, mengantri internet pun sudah seperti mengantri bantuan sembako saja dari penguasa). Maka aku dan teman-temanku memutuskan untuk bergerombol saja didepan gedung, duduk-duduk (ah ya bahasa gaulnya nongkrong..), sibuk berceloteh, beberapa malah sambil menghisap nikmat rokoknya, tentunya sambil sekali-sekali sibuk memelototi mahasiswi yang bersliweran hilir mudik menuju gedung ini. Lengkap dengan baju ketat mereka. Tampang yang menggoda. Dan gerak-gerik yang mengundang siulan dari kami (macam serigala mencari mangsa saja rupa kami).

Semuanya biasa. Teramat biasa sampai moment itu tiba. Moment dimana seorang wanita lewat didepan kami. Moment dimana waktu terasa terhenti. Dedaunan seakan berbisik memuji keindahannya. Bahkan angin pun berhenti bertiup seakan sibuk memandangi kehadirannya. Masih terpatri kuat dalam pikiranku apa yang dipakainya waktu itu, ah ya.. dia memakai jilbab berwarna putih, kaos longgar lengan panjang berwarna pink, serta rok berwarna putih. Berjalan perlahan, begitu anggun dengan pandangan tertunduk kebawah. Duhai tuhan, jujur aku tidaklah terlalu religius. Tidak pula rajin dalam mengerjakan perintah-perintah_Mu. Apalagi bersyukur, sungguh aku tidaklah pandai dalam urusan itu. Tetapi aku sangat ingat, hari itu, di pagi itu aku memuji_Mu. Tertegun dan berbisik perlahan mengakui,bertanya dan meminta “duhai sungguh hebat engkau menciptakan makhlukmu. Elok nian rupa dan perilakunya. Siapa dia ya tuhan?tolong beritahukan namanya kepadaku..”

Sungguh tuhan itu benar-benar mendengar apa yang diucapkan oleh hambanya. Dalam hati maupun pikiran mereka sekalipun. Dan kali ini bahkan berkenan untuk menjawabnya langsung melalui mulut teman-temanku yang kompak berseru menyapa sang wanita “PERMATAAAAAAA!!!!!!!haiii

iiii.......”. Dan sang wanita yang berjalan itupun menoleh, merah mukanya, buru-buru membuang pandangan, mempercepat langkahnya. Pergi secepat mungkin dari kami yang sibuk bersiul, sibuk bersorak macam suku pedalaman yang seakan-akan berteriak dan siap menyerbu untuk “memangsa” dia. Dia pun pergi. Meninggalkan aku yang tidak bisa berkata-kata, tidak bisa mendekatinya, bahkan saat itu terasa lupa untuk bernafas. Terpesona oleh rupa dan sikapnya yang begitu anggun saat itu. Dan hari itu, menit itu, detik itu. Aku tanpa disadari mengajukan permintaan kepada_Nya “tuhan, berikanlah aku kesempatan walau itu hanya untuk mengenalnya, kesempatan untuk dekat dengannya walaupun itu hanya untuk sekejap mata”. Dan sungguh tuhan mendengarkan semua apa yang kita minta dan sering kali berbaik hati untuk menjawab “YA”.

Perkuliahan di fakultas ekonomi yang menjemukan, tugas-tugas yang menggila datang tidak kira-kira jumlahnya, main bersama teman-teman, dugem, mengurus usaha kecil-kecilan yang kurintis sendiri dan have fun dengan para wanita(“pacar-pacar”ku maksudnya) membuat waktu berlalu sedemikian cepatnya. Tidak terasa waktu sudah berlalu setahun lamanya. Dan selama itu pula aku mengerahkan segala kemampuan terbaikku untuk mengetahui tentang wanita tersebut, wanita yang berhasil merebut perhatianku dalam sekali pertemuan bahkan tanpa perlu berkata-kata. Aku menyadari bahwa sang wanita berada di fakultas yang sama denganku(walaupun jurusan berbeda). Tapi lebih dari itu semuanya misterius, sering aku mencoba mengorek info tentangnya tetapi nihil. Hampir tidak ada yang kudapat walaupun sudah berusaha mati-matian hanya untuk bahkan mengetahui nama lengkapnya. Jujur dalam setahun ini pula aku sering berpapasan dengannya. Berpapasan dengannya bukanlah perkara mudah. Nafasku terasa sesak. Dadaku terasa sungsang hanya dengan melihat wajahnya yang selalu tertunduk itu. Dan yang lebih bodohnya lagi, tiba-tiba aku terkena penyakit gagu. Sempurna tidak bisa berkata banyak, terbata-bata bagai balita yang baru mengeja nama bundanya.

Sungguh aku bingung dibuatnya. Sering kali bertemunya dan apa yang sanggup aku katakan hanyalah “permata..mau kemana?”. Yang tentunya hanya dijawab oleh anggukan kecil sambil berkata yang hampir seperti berbisik “mau kedepan a..”. Bingung. Bingung memikirkan kemana pula kemampuanku untuk bernegosiasi bahkan kepada pengusaha besar sekalipun. Tidak percaya memikirkan hilang kemana kemampuanku untuk menghembuskan kata-kata indah kepada para wanita, membuat mereka jatuh hati kepadaku cukup dengan merayunya. Tidak habis fikir memikirkan bagaimana bisa kemampuanku untuk mengarang dan berpidato seakan hilang tertelan begitu saja apabila berhadapan dengannya? Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Sempurna setahun ini hanyalah kalimat tanya itu yang hanya bisa aku sampaikan kepadanya, kepada sang wanita pujaan hati, kepada sang wanita yang diimpikan untuk menjadi kekasih hati.

Waktu memang bisa mengubur keinginan. Sedikit banyak pepatah itu memang berlaku untukku. Setahun putus asa karena tidak mendapatkan kemajuan yang berarti maka aku mulai memutuskan untuk menjadi penggemar rahasianya saja. Merasa cukup berpuas diri untuk melihatnya dari jauh. Lelah membujuk hati untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendekatinya (padahal untuk wanita lainnya malah gampang sekali). Mencoba untuk menerima kalau dia memang terlalu jauh dari jangkauan. Sungguh aku tidak tahu kalau tuhan saat itu sedang tersenyum, membisikkan sabda_Nya yang tidak akan mampu didengar oleh makhluknya “Sabarlah, semua ada waktunya..”

Liburan pun tiba. Seperti mahasiswa perantauan lainnya maka aku lebih memilih mudik daripada mengambil perkuliahan padat. Lebih memilih menikmati makanan masakan ibu dikampung daripada sibuk melihat buku modul. Lebih memilih menikmati perbincangan hangat dengan sang ayah di sore hari daripada mendengarkan untaian kata-kata monoton dari mulut dosen yang disegani. Tetapi ada alasan tambahan di liburan ini. Alasan untuk mencoba untuk melupakan dia. Dia yang nun jauh disana. Mencoba menuruti kata-kata orang bijak bahwa “jarak bisa membuat lupa”. Bah, pepatah apapula itu. Buktinya walaupun aku berada jauh disini dan dia disana tetap saja saat aku memandang langit dimalam hari sambil menikmati suara jangkrik dan tokek di teras depan rumah di kampungku yang asri. Yang terlihat dilangit hanyalah wajah dia. Sempurna bintang-bintang menggurat wajahnya dalam kemilaunya. Sempurna pula rembulan malu-malu menggoda “apakah kau tidak merindukannya wahai pemuda?”. Dan sesesak apapun perasaan itu aku masih saja tersenyum malu, tersipu dan menjawab “jangan kau tanya tentang hal itu kepadaku. Lihatlah raut muka ku wahai rembulan. Memang rasa suka ku tidaklah bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Tidak pula mampu untuk aku tunjukkan dengan perbuatan kepadanya. Rasa suka ku kepadanya terpancar didalam diam. Menguar tak tertahankan dalam pendar mata ini yang melihatnya. Terukir jelas dalam senyumku saat aku melihatnya walaupun hanya dari kejauhan saja. Maka apakah engkau masih meragukan hal itu sang rembulan?”. Dan sang rembulan pun terdiam, tidak bsa menjawab.

Liburan mendekati berakhir, maka itu berarti masa-masa ospek sudah menanti. Masa-masa dimana aku ataupun senior yang lain bisa petantang petenteng macam kopral yang tiba-tiba diangkat menjadi jendral. Tiba-tiba berubah galak. Sok kuasa. Jaim. Tetapi tetap saja tebar pesona..haha, mencoba berharap mendapatkan satu dua kecengan dari mahasiswa ataupun mahasiswi baru. Dan akupun memutuskan kembali ke kampus tercinta, berpamitan kepada ayah dan ibu tercinta. Sekarang sedang duduk-duduk, kebagian tugas mengawasi mahasiswa baru yang mau daftar ulang tetapi malah lebih memilih duduk diam di depan gedung administrasi. Mencoba tidak menjadi senior yang banyak tingkah sekaligus melepas penat yang ada. Saat itulah tuhan dengan caranya tersenyum kepadaku, memenuhi janji_Nya terdahulu. Membisikkan kata-kata “maka sekarang Aku menepati permintaanmu kepadaku. Nikmatilah. Karena semua ada waktunya.”.

Siang itu matahari tidaklah menyengat, angin tidak berhembus, awan tidak terlalu banyak para mahasiswa baru sibuk bersliweran tertunduk-tunduk oleh bentakan. Dan dia pun tiba-tiba lewat begitu saja didepanku. Terpana tidak percaya, bertanya didalam hati “Duhai, apakah aku salah lihat? Apakah mataku mendadak sudah rabun? Ataukah aku sedang melamun? Apakah benar aku melihat Dia sedang tidak berkerudung?”. Semakin jauh dia melangkah, maka sontak aku menarik tangan temanku dan berbisik “kalau lu brani teriak PERMATA, maka hari ini makan malam lu gue yang tanggung”. Maka dengan cueknya teman ku tersebut menjerit, berteriak menyebutkan namanya dengan lantang, sesuatu yang bahkan tidak mampu aku lakukan selama setahun penuh. Dia pun menoleh. Sontak memandang ke arah aku dan temanku yang cengar-cengir tidak keruan. Langsung memalingkan mukanya dan beranjak semakin jauh. Meninggalkan aku yang menarik kesimpulan “benar itu dia..ada apa gerangan?kenapa dia tidak menggunakan jilbab lagi?apa yang terjadi?apa sesuatu terjadi kepadanya sehingga dia begitu?”. Dan semua pertanyaan itu buyar dengan satu pertanyaan tolol dari temanku yang bahkan lengannya masih aku cengkram dengan kuatnya “makan malam gue jadikan lu yang nanggung?”. Sumpah saat itu, aku malah merasa sangat ingin meninju mukanya saking kesalnya.

Siangpun berganti dengan malam. Semakin larut. Menyisakan sepi dikala semuanya tertidur. Lelah setelah seharian beraktivitas. Mencoba mengistirahatkan badan dan pikiran demi pekerjaan keesokannya. Tapi aku jam segini malah tetap terjaga, masih shock tidak percaya dengan apa yang aku lihat di siang hari tadi. Benarkah itu dia? Ah bagaimana pula aku ini, jelas-jelas dia menoleh saat namanya dipanggil. Hari ini pertama kalinya aku tidak melihatnya berjilbab. Rambutnya panjang. Hitam berkilauan. Terayun gemulai saat dia berjalan dan menambah kecantikannya. Tapi bukan itu yang jadi perkara, tetapi kenapa sampai dia melepas jilbabnya?sayangnya pertanyaan itu nanti tidaklah akan terjawab sepenuhnya. Dan akupun tertidur. Lelah seharian bertanya-tanya dan dalam tidur bermimpi bertemu dengan dia. Berjalan berdua menanyakan pertanyaan yang sama. Semuanya hanya dijawab oleh senyuman, duhai cantik sekali dia ya tuhan.. bahkan dalam mimpi pun aku tidak bisa berkata banyak hanya dengan melihat senyumnya.

Surprise.. keesokannya ada rapat kepanitiaan ospek mahasiswa baru. Semua mahasiswa senior berkumpul. Dan dia ada! Demi tuhan dia ada! Duduk bersama temannya. Berbisik-bisik sambil mendengarkan ketua yang berceloteh didepan. Menggunakan kaos pink bersweater. Bidadari itu semakin terlihat cantik dari dekat. Dan sepanjang rapat itu telingaku mendadak tuli, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan ketua dari awal sampai akhir, indra pendengarku menjadi tumpul seketika walau mendadak mataku menjadi setajam elang. Memperhatikan semua gerakannya. Tekstur wajahnya. Hitam bola matanya. Menikmati bagaimana dia tersenyum. Memperhatikan gerak gerik badannya. Menghapalnya dengan baik. Merekamnya seakan-akan itu adalah kesempatan untuk melihatnya terakhir kali. Dan hari itu lagi-lagi tuhan tersenyum kepadaku. Sang ketua berkata “seksi humas harap menunggu di sekre, seksi p3k juga menunggu saja di sekre. Siapa tau ada kasus maka kalian sewaktu-waktu bisa dipanggil untuk bekerja”. Sungguh aku tidak begitu mempedulikan kata-kata sang ketua, walau ternyata saat kejadian itu terjadi aku malah berniat untuk mencium tangan sang ketua. Karena berkat kata-katanya lah maka hal itu terjadi. Ya, saat pertama kali aku benar-benar bisa berbicara dengan leluasa dengannya. Saat aku pertama kali bisa benar-benar berkenalan dengannya. Sungguh sampai sekarang pun kejadian itu masih terlukis jelas di lembaran-lembaran frame didalam otakku. Memori yang sampai tuapun aku yakin pasti masih tercetak jelas disana.

Selepas rapat, maka aku langsung memasuki sekre. Didalam sekre hanya ada beberapa korsi, satu meja, dan seorang wanita yang menjadi sekretaris pada kegiatan ospek ini. Akupun duduk, bertanya “ada yang bisa dibantu kgak?”. sekretaris berkata “nih, tolong bantu potong kecil-kecil kertas-kertas ini jadi kotak. Nanti diperlukan”. Dan sang sekretaris pun pergi, entahlah ada urusan apa. Meninggalkan aku dengan tugas tersebut. Tanpa banyak bicara, tanganku langsung bekerja. Menggerutu didalam hati “kayaknya hari ini bakal membosankan”. Baru beberapa menit menggerutu dan keajaiban itu terjadi. Dia masuk ke sekre! Sendiri pula tanpa temannya. Celingukan sebentar dan menghampiri aku yang bahkan mulai merasa panas dingin tidak karuan. Dan dia pun bertanya dengan polosnya “ngerjain apa?mau dibantu tidak?”. Oh ibu, dia berkata kepadaku? Suaranya renyah. Merdu. Sempurna mendirikan semua sel-sel syarafku. Dan aku dengan begonya malah menjawab dan bertanya “disuruh motong kertas. Ini Permata bukan?”. Pertanyaan bego karena aku tahu kalau dia itu memang dia, bagaimana pula aku melupakan wajah yang selama setahun ini membayang kemanapun aku berada. Bego karena ini adalah pembicaraan kita yang pertama dan aku hanya terpelongo bego, bertanya gak penting, dengan ekspresi seperti orang miskin mendapat uang milyaran (duhai apakah ini nyata?). Dan diapun mengangguk. Duduk didekatku. Dan tanpa banyak bicara langsung ikut bekerja. Nafasku terasa sesak, menciumi aroma tubuhnya dari dekat membuatku merasa mau terbang.

Itulah awal pertemuan kami, dan awal segalanya. Saat itu kata kedua yang aku tanyakan secara langsung (sungguh aku tidak bisa mengarang-arang awalan kata yang indah hanya untuk memuji dia) “permata, kok gak pake jilbab lagi? Kan kemaren-kemaren pake terus.”. Dia menjawab sederhana “belom siap, masih merasa harus menata hati daripada menata pakaian. Terserah orang mau mandang aku jelak juga”. Dan akupun sempurna tidak bertanya-tanya lagi. Dia berkata “orang memandang kamu jelek”. Bah, orang mana itu? Sebutkan namanya. Saat itu juga akan ku hajar mukanya kalau ternyata dia berani berkata begitu. Bagiku dia tetap cantik. Bidadari yang sempurna mencuri perhatianku dari awal melihat. Apapun dia sekarang aku tidak perduli yang penting aku suka dia, titik (ah terkadang urusan seperti ini benar-benar bisa membuat orang menjadi keras kepala).

Sejak saat itu kami pun menjadi akrab. Sangat akrab. Bahkan bagi orang-orang terlihat bagaikan sepasang kekasih. Kemana-mana berdua, sepanjang acara ospek maka bisa dipastikan kami selalu berdua. Melewati waktu, bercanda, tertawa, menggunakan setiap detik yang ada seakan-akan itu adalah waktu terakhir untuk bersamanya. Dan jujur, saat itu aku berkata dalam hati “tuhan, aku sayang dia! Terima kasih untuk kesempatan ini”. Tuhan tersenyum dengan caranya, membalas berkata lagi-lagi dengan bahasa_Nya “nikmatilah.. karena semua ada batas waktunya”. Sampai moment itu tiba. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu, sepele memang. Tapi itulah saat dimana kami saling jujur dan benar-benar terbuka.

Saat itu lagi dalam rangkaian acara, dia datang mendekat dan berkata “tolong pegangin dulu hape aku. Aku lagi dipanggil bantu untuk p3k.”. Dan hape berwarna hitam itu berpindah tangan. Terdiam tidak ada kerjaan membuat pikiran usil ku bekerja dengan cepatnya “cek hape nya. Siapa tau ada sms-sms aneh”. Dan jariku langsung bergerak, tanpa menyadari apa yang akan terjadi. Buka inbox.... mmmmh, gk ada sms aneh tuh. Buka gallery aja deh kagok. Dan terkejutlah aku saat ada foto laki-laki lain dalam jumlah banyak, bahkan ada foto berdua dengannya dalam jumlah yang lumayan. Instingku mulai berkata, dia dah punya cowok. Jujur aku tidak bisa marah, kecewa? Iya. Tapi marah? Bagaimana pula aku bisa marah saat aku sendiri punya cewek! Banyak malah. Itulah hal yang selama ini aku tutupin dari dia. Bagaimana rasanya kalian bisa mendekati seorang sosok idaman yang sudah dibayangkan lama sebelumnya? Aku tahu aku sendiri salah. Yang aku lakukan hanyalah menunda waktu saja. Karena cepat atau lambat maka aku tetap saja harus memilih. Memilih untuk tidak mengganggu kehidupan dia dan pasangannya bagaimanapun gilanya aku menyukai dia.

Malam itu rapat seperti biasa. Maka dimalam itu aku menanyakan kepadanya “ini siapa?kok banyak bener fotonya?”. Dia menjawab singkat “temen kok. Foto-foto untuk narsis doang”. Sesak mendapati kenyataan dari kebohongan yang terucap. Sesak mengetahui seharusnya kita berlaku jujur sepahit apapun kepada orang terdekat, karena mereka adalah orang yang paling berharga bagi kita. Maka apa pantas apabila kita berbohong kepada orang yang justru memiliki kedekatan personal yang paling besar adanya? Tidak. Bagiku tidak. Karena mereka terlalu berharga untuk dibohongi .Maka malam itu, di tengah dinginnya udara aku membuka rahasia itu. Rahasia bahwa aku sudah mempunyai pasangan. Bajingan karena sebenarnya bahkan mempunyai banyak pasangan. Pelan dia terdiam dan akhirnya sama mengaku “sama, aku juga sebenarnya mempunyai pasangan”. Malam itu sebenarnya suasana riang. Teman-teman panitia yang lain sibuk berdiskusi bagaimana caranya “menyiksa” mahasiswa baru yang ada. Tapi tidak bagi kami. Malam itu pahit. Malam itu getir. Walaupun jujur kami tidak bersedih.

Tengah malam itu kami sepakat memisahkan diri sejenak dari panitia yang lain. Sedikit berjalan-jalan bersama. Menikmati saat-saat yang masih ada. Mencoba untuk menikmati pembicaraan hanya dari mulut kami berdua. Saling berpegangan tangan. Sungguh malam itu adalah malam yang tak akan pernah kulupakan. Malam dimana semuanya tertumpah begitu saja. Mengalir tak terbendung. Dimana semua perasaan yang terpendam terceritakan begitu saja.

Sambil berjalan aku berkata kepadanya “Kamu tahu? Sebenarnya dari setahun dulu aku memujamu. Melihat dirimu yang berjalan anggun malu-malu didepan gedung itu benar-benar mencuri semua perasaanku. Aku tidak menyalahkan waktu, karena toh apa yang aku minta sudah diberikan. Aku meminta bisa dekat denganmu walaupun hanya sebentar. Maka ini sama saja dengan anugrah. Gak pernah kefikir sedikitpun ini bakal terjadi. Tapi untuk kali ini aku bersyukur, sungguh-sungguh bersyukur ini terjadi. Beruntung banget yah yang jadi pasangan kamu? Bisa memiliki kamu yang cantik, anggun, bahkan menyerupai bidadari saat menggunakan jilbab. Janji ya? Kalau kamu sudah berjilbab lagi beritahu aku, maka dari manapun tempat aku berada aku pasti datang untuk melihat kamu. Walaupun itu hanya untuk melihat saja. Tidak lebih”. Malam itu semuanya aku ungkapkan, bagaimana groginya aku dulu untuk hanya menyapa dia. Sibuk hilir mudik keluar kelas hanya demi suatu pengharapan “apakah hari ini aku bsa berpapasan dengannya?”. Bagaimana aku yang paling malas dateng kekampus mendadak menjadi org yang paling pagi kekampus. Duduk nongkrong di gerbang depan (bahkan jadi berteman baik dengan para satpam) cuma untuk melihat sosok dia. Semua kisah aku dengan pasangan-pasanganku. Kisah-kisah kegilaanku. Dan semua yang terjadi disekitarku.

Malam itu kami saling berkata jujur, mengungkapkan apa yang dirasa. Memang dia memilih pasangan dia dan aku tidak mau pula mengganggu hal itu. Kami sepakat dengan isyarat kami bahwa kedekatan ini hanya sampailah masa ospek ini saja. Tidak lebih. Maka biarlah tuhan, malam ini kami menggenggam erat tangan kami. Menikmati kebersamaan yang ada. Berharap semoga waktu berputar lebih lambat. Sadar bahwa semua ini ada batas waktunya. Bercerita segalanya karena kami tahu bahwa besok-besok semuanya akan sudah menjadi beda.

Dan waktupun berdesing dengan cepat. Benarlah kata orang-orang kalau kebersamaan itu seakan mempersingkat waktu. Tanpa sadar maka hari ini adalah hari terakhir masa ospek. Sadar bahwa ini adalah penghujung dari segalanya. Dan akupun memulai hal itu. Memulai suatu sandiwara dan mulai menjauhi dia. Mulai mengeluarkan kata-kata ketus. Menghindar saat dia mulai melihat sosokku. Pagi berganti siang, siang berganti sore, sore pun menjelang malam. Acara selesai dan akhrnya semua panitia bubar. Maru pun pulang dengan semua perasaan senang, senang tentu saja karena penyiksaan tahap awal itu selesai (kan masih ada ospek jurusan,penyiksaan jilid dua). Tapi kami berdua masih disini. Tertegun aku tidak mampu pergi karena satu alasan. Karena dia menangis! Tuhan, bidadari itu menangis. Maka akupun mendekat. Mencoba membujuk dan bertanya dengan khawatir “kamu kenapa?sakit?”.

Sambil terisak dia hanya bilang “sakit?iya..sakit karena ini hari terakhir. Kamupun sudah mulai menjauh. Perkataan mu sudah terasa ketus. Sikapmu sudah mulai acuh. Kemana kita yang dulu? Saat-saat itu hilang begitu saja..””

Diam..aku tidak bisa berkata banyak. Bukan aku tidak mau berkata. Tapi aku tidak mengerti bagaimana hal ini. Inilah jeleknya kami sebagai kaum laki-laki. Apabila kami benar-benar menyukai seorang wanita maka kami akan susah berkata-kata. Apabila kami merasa hubungan itu tidak mungkin maka kami akan mulai menjauh dari sang wanita. Berusaha membunuh perasaan itu dengan jarak dan dingin yang tercipta. Jadi kata siapa kami adalah makhluk yang hanya berlogika? Kami sendiri kadang tidak tahu apa yang kami lakukan. Suka tapi malah menjauh. Aneh bukan?

Dalam gelap aku menghampiri tempat dia duduk terisak. Duduk disampingnya. Menunggu tangisnya mereda. Tanpa kata kami pun mulai berdiri, berjalan bersama di sepanjang jalan itu. Ditemani langit malam, bintang, dan rembulan yang bahkan terasa mendadak menjadi syahdu. Erat berpegangan tangan . Tentunya sambil mencoba menenangkan dia yang masih terisak. Berjalan perlahan seakan takut segera sampai ditujuan. Duhai, aku bahkan bingung untuk melakukan apa saat itu. Yang ku tahu hanya memegang tangannya. Melontarkan satu perkataan “kalau saja kamu tidak punya pasangan, sungguh demi tuhan aku ingin melamarmu saat ini. Menjadikanmu istriku. Jujur aku bukanlah seorang laki-laki yang baik, sering kali merebut pasangan orang, mempunyai pacar yang aku sendiri tidak bisa menghitung jumlahnya. Tetapi khusus untukmu, khusus hanya kepadamu aku tidak mau merebut mu dari pasanganmu. Sesuka apapun aku kepadamu, tapi aku tidak pernah mau untuk merusak kebahagiaanmu. Aku ingin semua berasal dari pilihanmu sendiri. Bukan karena paksaanku. Lagipula sungguh aku tidaklah pantas untuk seorang wanita sebaik kamu”. Dia tidaklah berkata banyak, sambil terisak dia cuma memberikan kata “jangan berkata seperti itu.. sudahlah, mungkin semua sudah ada waktu dan jalannya”. Kamipun sepakat diam, dan aku mengantarkan dia sampai kekosan temannya. Meninggalkannya yang bahkan masih berurai air mata. Secepatnya pergi karena jujur aku tidak tahan melihat tangisnya. Langsung pergi dan berjalan sambil menitipkan satu keyakinan bahwa tuhan akan menjaga dia.

Itulah malam terakhir aku bersama dia. Malam dimana 3 tahun lalu terjadi. Setelah itu aku menjauh sejauh mungkin, mencoba menciptakan jarak yang benar-benar membunuh perasaan dia kepadaku serta perasaaan ku kepadanya. Menghilangkan nomor kontaknya. Semua smsnya. Bahkan sengaja mengganti hape dan no pribadi yang kupakai. Menghilangan semua jejak kenangan itu. Dan aku semakin menenggelamkan diri dalam seluruh kesibukanku. Organisasi. Usaha. Kuliah. Tentunya wanita! Yang banyak malah. Berusaha mengusir bayangnya dengan berbagai tingkah polah wanita yang berbeda. Sekarang aku sudah lulus dan meninggalkan kampus tercinta. Meninggalkan sepanjang jalan yang penuh kenangan itu. Meninggalkan gedung jurusan tempatku sering melihat sosoknya dulu. Sibuk menjaga usaha-usahaku yang mulai membesar.

Malam inipun aku sedang berada di luar kota, menginap di hotel berbintang lima sisi pantai di salah satu pojok indonesia bagian timur. Memenuhi undangan relasi dalam suatu pertemuan bisnis seperti biasa. Tapi malam ini ya tuhan, entahlah bagaimana pula ini terjadi. Duduk sendiri di pantai, bertemankan segelas wine, desau angin lautan, beratapkan langit dan rembulan. Bayangnya kembali muncul tergurat dengan jelas dilangit malam. Semua kenangan lama itu berputar dengan cepat. Terurai kembali. Tiba-tiba saja aku merindukan saat-saat tersebut. Berjalan di sepanjang jalan di saat malam itu. Saling menggenggam tangan. Tidak bersuara. Tapi kita tau hati kita saling bertautan. Merapat pada waktunya. Walaupun harus menjauh kemudiannya. Malam ini aku kembali bertanya-tanya kepadamu ya tuhan “apakah mungkin aku benar-benar bisa bersama dia?”.

Aku letih bermimpi. Lelah membujuk hati untuk mencoba melupakan dia. Entahlah sekarang pun aku tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu tentang dia, walaupun aku yakin aku mampu untuk itu. Maka aku memutuskan tidur secepatnya setelah menenggak habis sebotol wine. Berharap semoga itu membuat ku melupakannya. Merebahkan diri. Tidur! Satu hal yang tidak aku ketahui malam inipun lagi-lagi tuhan tersenyum mendengarkan pertanyaan ku. Menjawab dengan getar suaranya yang tak tercapai oleh indra para ciptaannya. “sabarlah, semua akan ada jawabannya....”. Bahkan berkenan untuk memberiku suatu mimpi. Mimpi bertemu dengan dia dan bercengkrama. Kali ini tanpa tangis. Saling berpegangan tangan. Tanpa harus ada perpisahan yang menyakitkan. Ah terima kasih tuhan, walaupun keesokan paginya aku tahu itu hanyalah sepotong mimpi.
read more..

sesuatu yg org2 sebut "untuk cinta"....

0

Posted by median | Posted in

Pagi ini tiba-tiba saya teringat akan sebuah cerita. Cerita singkat yang pernah tertulis dengan indahnya di sebuah buku yang pernah saya baca. Alkisah ada seorang saudagar kaya yang hidup di zaman ratu balqis (saat zaman nabi sulaiman). Seperti kebanyakan laki-laki di zaman itu, maka sang saudagar juga tergila-gila akan kecantikan sang ratu. Halusnya budi sang ratu, kemolekan tubuhnya, wajahnya yang bagaikan pualam, dan tutur bahasa yang lembut membawa kesejukan seakan menyihir sang saudagar. Semakin hari sang saudagar semakin memuja sang ratu, kehilangan selera makan, sibuk melamun. Duhai, sungguh indah nian yang dinamakan cinta bagi sang saudagar.

Akhirnya, sang saudagar (seperti kebanyakan para pecinta lainnya) bertindak nekat dan memutuskan untuk menghadap sang ratu. Tanpa memikirkan resiko apapun yang bisa saja menimpanya (bagaimana pula sang saudagar sanggup mengingat dan memikirkan resiko, pada saat segenap jiwa dan akal pikirannya hanya terikat oleh bayang-bayang sang ratu?). Dengan membawa hampir keseluruhan harta benda yang dimilikinya, menyiapkan puisi-puisi terbaik yang mampu dibuatnya sang saudagar pun berangkat untuk menghadap sang ratu di istana megah miliknya dengan satu pikiran “akan kupersembahkan segalanya kepada sang ratu, semoga saja aku terpilih untuk menjadi kekasih hatinya”. Sungguh cinta itu benar-benar buta dan membutakan orang-orang yang terkena sihirnya.

Setelah menempuh berbagai birokrasi kerajaan, melewati berpuluh-puluh pemeriksaan penjaga yang melelahkan. Maka sang saudagar pun diperintahkan untuk masuk ke suatu ruangan. Megah, luas, dipenuhi hiasan, dan ditumbuhi oleh bunga-bunga nan cantik rupawan. ruangan itu indah tak terperikan. Terkagum-kagum sang saudagar melangkah keruangan tersebut, sibuk berfikir “duhai, kemanakah sang kekasih hatiku berada?”. Sang saudagar akhirnya menemukan sang ratu di tengah ruangan tersebut. Duduk masygul di singgasananya diapit oleh dua penjaga. Demi melihat sang ratu, maka sempurna pula sang saudagar langsung bersimpuh terduduk. Terkulai lemas tak berdaya menghadapi pesona sang ratu. Kemudian mengeluarkan beberapa patah kata dari mulutnya “sang ratu, inilah hamba. Seorang saudagar dari tanah seberang. Membawa seluruh hartanya, seluruh jiwa dan raganya untuk mempersembahkan cintanya kepada engkau sang ratu”.

Tertegun sang ratu balqis mendengar kata-kata tersebut, dan akhirnya bersuara. Suara lembut yang menenangkan, semakin membuat sang saudagar jatuh cinta kepada sang ratu “telah beratus-ratus pria yang datang kepadaku menyatakan cintanya. Siap memberikan segalanya sampai akhirnya bahkan tidak mempedulikan dirinya. Wahai saudagar, untuk sekali ini saja aku memerintahkan kepada mu. Pulanglah! Cintailah perempuan lain dan jangan sampai engkau menyia-nyiakan dirimu untukku”. Seusai berkata begitu, kedua penjaga sang ratu bergerak kearah sang saudagar dan menyeret paksa sang saudagar. Meninggalkan ruangan. Meninggalkan kerajaan sang ratu pujaan.

Berpuluh-puluh hari setelah kejadian itu. Sang saudagar tetap memuja sang ratu. Makanan mewah, minuman yang lezat, dayang-dayang yang jelita bahkan tidak mampu mengembalikan keceriaan sang saudagar. Ya, sang saudagar sejak hari itu terpuruk dalam cintanya. Menangis akan kemalangan nasibnya. Tapi memutuskan untuk tetap mencinta sang ratu. Keesokannya datanglah seorang wanita menemui sang saudagar. Berpakaian rombeng, berbau busuk, mukanya dipenuhi oleh jelaga hitam. Hina rupanya tetapi datang dengan membawa sepucuk surat dari kerajaan, bertuliskan tangan sang ratu lengkap dengan cap kerajaan

Isi surat tersebut bertuliskan “saudagar, apabila engkau benar-benar mencintaiku. Maka aku yakin engkau akan mematuhi apapun yang akan aku perintahkan. Perintahku cuma satu. Bawalah wanita ini keperaduanmu. Nikahi dia dengan baik. Dan perlakukan dia seakan-akan kamu meperlakukan diriku sendiri”.

Demi melihat isi surat tersebut. Sang saudagar tertegun, tak percaya dengan isi surat tersebut dan berujar dengan geramnya “ini bukanlah kehendak sang ratu, aku yakin ini hanyalah taktiknya untuk menguji diriku. Untuk melihat kesetiaanku. Untuk melihat apakah aku mampu meperlakukan wanita lain sama halnya dengan dia sang kekasih hatiku. Tidak! Aku tidak akan termakan taktik tersebut. Akan aku tunggu dan aku jaga semuanya. Kupersembahkan hanya untuk dia!”. Geram sang saudagar mendekat ke sang wanita yang hina rupanya, menjulurkan kedua tangannya hendak mendorong sang wanita sambil berujar keras “Pergi! Aku hanya mencintai sang ratu! Tidak ada ruang bagi wanita lain! Apalagi wanita yang hina seperti mu!!!”.

Sebelum tangan sang saudagar menyentuh sang wanita, muncullah dua orang penjaga, menelikung kedua tangan sang saudagar. Dan sang wanitapun mengusap mukanya, membersihkan jelaga hitam yang menempel, dan terlihatlah rupa aslinya. Ternyata sang wanita adalah sang ratu itu sendiri! Pelan sang ratu berujar, “saudagar..sekian ratus laki-laki telah datang menghadapku..menyatakan cintanya yang mereka katakan tulus hanya untukku..tau kah engkau kenapa semuanya tidak aku terima?karena mereka semua mencintai aku untuk keegosian mereka sendiri, bukan untukku. Apabila engkau benar-benar mencintai dan rela mempersembahkan segalanya untukku. Bukankah seharusnya engkau menikahi dan mematuhi surat itu?sayangnya engkau malah egois, mengatas namakan cinta untuk mendapatkan kesenanganmu sendiri. Selamat tinggal saudagar, maaf..ternyata kaupun harus aku tolak!”.

Maka pergilah sang ratu diiringi penjaganya. Meninggalkan sang saudagar yang tidak percaya. Menyesali kebodohannya. Menangis terisak karena tahu bahwa kesempatan itu hilang sudah dari pandangan.

Teman, cerita itu hanyalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan akan banyak hal. Kisah ini bahkan terjadi pada iblis kepada tuhan. Tuhan memerintahkan sang iblis untuk bersujud kepada sang adam, tetapi iblis dengan egoisnya berkata “hamba hanya bersujud kepadamu ya tuhan, bukan kepada adam”. Dan terusirlah iblis dari surga, menyatakan perang kepada adam sampai akhir masa. Disini kita melihat hal yang sama, logika yang sama, peristiwa yang sama. Bahkan dalam kehidupan sendiri seing kita lihat. Berapa banyak anak yang mengaku mencintai orangtuanya tetapi melakukan hal-hal yang mementingkan kesenangannya sendiri padahal sang orang tua tersakiti. Berapa banyak pasangan yang mengaku mencintai pasangannya tapi bertindak kasar dan memukul pasangannya sendiri.

Kesamaannya apa?keegoisan. Satu logika yang jelas terlihat ialah, apabila kita benar-benar mencintai dan rela berkorban semua hal. Maka kenapa kita tidak bsa mengorbankan diri kita sendiri untuk hal yang kita cintai? Saat kita mengatakan mencintai tuhan tapi kenapa saat kita diminta mengorbankan diri kita sendiri tetapi kita tidak mau? bahkan nabi ibrahim pun mampu untuk mengorbankan anaknya. Sedangkan kita bahkan untuk berzakat saja terasa berat dan tak mampu. Atau hanya untuk sholat saja terasa berat untuk terbangun dikala subuh. Saat banyak orang mengatakan bahwa mereka cinta untuk mengajar dan mencerdaskan anak bangsa, tetapi kenapa orang-orang tersebut tidak mau terjun langsung kepedalaman daerah? Malah sibuk mencari selah mengajar dikota, sibuk mempertimbangkan materi dan ingin mencari mudahnya saja. Manusiawi untuk mempertimbangkan semuanya demi kenyamanan pribadi, tidak ada yang menyalahkan walaupun cinta ataupun pengorbanan itu menjadi tidak murni manakala kita tidak mampu mengorbankan diri kita sendiri, karena cinta ataupun pengorbanan itu malah berarti sesungguhnya saat kita mengorbankan diri kita sendiri.. kesenangan kita sendiri. Bahkan mengorbankan ego kita sendiri.

Saat kita mencintai sesuatu, ntah itu hal-hal ataupun makhluk tertentu. Maka saat kita mencintai sesuatu tetapi tidak bsa mengorbankan diri sendiri maka alasan sebenarnya kita mencintai hal tersebut ialah untuk ego sendiri, bukan memang krn cinta itu sendiri. Ada orang yang terperangkap dan mengaku mencintai pasangannya tetapi tidak bsa “mengorbankan” dirinya sendiri, suka memukul pasangannya, tidak bsa memperlakukan dia dengan semestinya. Maka bsa dibilang kalau cinta tersebut tidaklah ikhlas. Tidaklah tulus untuk mencintainya. Ada juga yang mengaku mencintai tuhannya, tetapi melaksanakan apapun yang diperintah_Nya sangatlah susah dan cenderung membangkang adanya. Menyumbang receh pun menjadi perkara yang susah baginya. Maka bagaimana bisa bilang cinta kepada_Nya sedangkan mengorbankan sedikit hartanya saja (sama saja dengan mengorbankan kepentingan diri sendiri, walau nyata-nyatanya semua juga titipan dari_Nya..) terasa begitu susah. Pantaskah orang-orang seperti itu mengatakan cinta?

Maka sekali saja teman, tolong fikirkan hal ini. Fikirkan apa saja yang kamu nyatakan sebagai hal yang kamu cintai, dan ajukan pertanyaan kepada diri sendiri “sanggupkah kamu untuk mengorbankan, harta, waktu, ego, kesenangan, bahkan diri sendiri untuk hal-hal atau orang yang kalian cintai tersebut?”. Karena apabila teman sanggup mengorbankan semua itu, maka hal itu telah menunjukkan kualitas cinta dari teman-teman sendiri. Kualitas cinta dari apa yang sering teman banggakan, teman-teman sering nyatakan kepada semua orang. Sungguh saya sendiri pun masih harus belajar banyak untuk mencapai taraf seperti itu, taraf dimana mampu ikhlas, tidak berfikir untung lebih, mampu mengorbankan segala hal, demi hal-hal atau orang-orang yang saya cintai..


Salam,
-median-


P.S :
Cerita ini diambil dari berbagai sumber dan tertulis untuk saya dedikasikan kepada para guru yang mengajar di pedalaman daerah. Dengan gaji yang tidak seberapa. Dengan fasilitas yang sangat minim Rute yang sangat sulit dilewati bahkan bertaruh nyawa hanya demi satu tujuan, Demi cinta mereka kepada murid-murid mereka yang mau belajar. Cerita inipun saya dedikasikan juga kepada para petugas pemadam kebakaran atau sukarelawan bencana alam. Yang sama saja memiliki gaji minim, fasilitas seadanya, bahkan bertaruh nyawa untuk bahkan hanya menyelamatkan mayat saja. Dan mereka melakukannya hanya karena satu hal. Demi cinta mereka kepada sesama. Mati maupun hidup. Dan kepada semua orang yang telah mampu melakukan hal seperti itu. Sungguh kalian adalah orang-orang terpilih untuk itu.
read more..

apakah salah?

1

Posted by median | Posted in

Apakah salah?saat aku merasa ingin melakukan sesuatu tanpa tuntutan dari siapapun..bukan hanya melakukan sesuatu hal krn harapan orangtua..bukan hanya melakukan sesuatu hal dari pembiayaan mereka..harus berubah krn tuntutan orang2 yang memproklamirkan sebagai teman dan keluarga..

apakah salah?saat aku ingin kembali menjadi orang asing di dunia terasing..mencoba melakukan segala hal dengan kemampuan ku sendiri..mencoba bertahan dengan segenap daya upaya ku sendri..tanpa tuntutan siapapun..melaksanakan hal yg murni keinginan ku..tanpa tuntutan,tanpa pengharapan,tanpa pembiayaan dari siapapun..berdiri dan bangga menunjuk pada langit bahwa aku bebas melakukan hal yg aku mampu dan aku mau sesuai hati..

apa salah?salah saat mencoba menyesuaikan posisi sesuai dengan kedudukannya..apa salah saat mundur krn memang sudah ada petugas yg semestinya..bukan mrh,bukan tersakiti,bukan pula putus asa dan merasa kalah..tpi lebih kepada bergerak sesuai fungsi..krn semua org bergerak sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing2..saat semua itu sudah beralih,bukankah kita harus mencari tujuan dan fungsi lain..mencoba mencari arti lg..dan tersenyum bangga krn setidaknya sampai wktu beralih kita telah memberikan yg terbaik..krn wktu terlalu singkat untuk hanya berkutat dengan sesuatu yg sudah bukan hak kita lg..krn wktu terus bergulir dan tidak bisa disia-siakan lagi..dan krn aku sendri ingin mencari arti dan tujuan baru lg..

apakah salah?saat kita menyayangi org..memperhatikan org..menjaga org..bukan cinta..bukan pula sekedar suka..tpi menjadikan mereka sebagai sandaran dan suatu alasan..bahwa kita harus bertahan..bahwa ada yg harus kita jaga..kita syg..kita percaya sampai saatnya nanti mereka mendapatkan org yg berfungsi demikian..krn kesendrian itu mengikis jiwa..krn cinta itu menyakiti hati..jadi sandaran dan pengingat adalah alasan yg paling baik..paling baik sampai wktunya tiba dan berganti..

apakah salah?saat aku mati2an menepati janji..saat aku merasa kata semakin tidak berarti..saat semua terucap hanya untuk terlupakan kembali..saat aku muak dan ingin menunjuk kepada org2 yg hanya berjanji bahwa janji itu penting sehingga sampai matipun aku mati2an menepati janji sendri..menunjukkan bahwa janji itu penting..bahwa itu adalah hutang..bahwa janji itu adalah pengingat aku dengan org2..pengingat dan pengikat silaturahmi..

apakah salah aku ingin memaksa diri?bukan untuk bergaya dan congkak menunjukkan bahwa aku bisa pergi dan melakukan..bukan untuk tertawa dan menganggap gampangan semua hal..aku ingin memaksa diri sehingga aku tau apa itu kesulitan yg sejati..apa yg bisa aku lakukan untuk menempa diri..membuat aku kenyang pengalaman..dan bukan..bukan hanya untuk bernakal2 ria..tpi mempersiapkan diri untuk menyongsong sesuatu yg lebih besar..krn diakhirnya nanti aku harus bertanggung jwab..bertanggung jawab merawat keluarga..dan bagaimanalah aku melakukan itu apabila aku miskin!miskin materi..miskin kemampuan fisik..miskin pengalaman..krn dunia bukan hanya seperti tempurung tempat kura2 bermain..krn dunia menuntut kesiapan..demi menjaga keluarga ku..amanat utama dari ibu bapakku..

apakah salah?kalau aku hanya berharap mendapat penerimaan..tidak mau muluk berharap ksih syang..tidak silau berharap materi..tidak mau berpuitis ria dengan meminta cinta..aku hanya minta penerimaan..dukungan..krn sebodoh2nya aku melakukan sesuatu tetap saja dengan perhitungan..kenapa saat aku melakukan sesuatu yg terkesan gila selalu diblg bodoh?aku juga manusia..diberi otak untuk mempersentasekan kemampuannya..mempertimban

gkan baik dan buruknya..dan saat aku berharap melakukannya apa yg aku terima hanyalah kata "bego"..ah tak apalah,krn aku tunjukkan bahwa akupun mampu melakukannya..menunjuk hidung mereka dan membuat mereka malu dengan perkataan mereka..

apakah salah?aku hanya ingin sekali saja melakukan keinginan ku..murni dari hati..tnpa pengharapan dan tuntutan siapapun..melakukannya dengan riang walaupun sambil terjatuh..dan suatu saat nanti saat aku kembali untuk menjaga amanat yang diserahkan padaku..saat aku harus mengemban tanggung jawab atas org2 yg menjadi keluargaku..maka aku bisa tersenyum tenang..berbisik pelan kepada awan,langit dan rembulan..bahwa aku masih ingat hari2 itu..saat aku bebas bergerak dan berdamai dengan hati..tanpa terkekang..tanpa tuntutan..tertatih..tpi bisa terbang dengan keringat sendiri..

apakah itu salah?entahlah..otakku lelah memikirkannya..krn aku terlalu kerdil untuk mengerti..maka aku hanya memohon..skali ini saja..skali ini sja ya allah..aku minta kabulkanlah hal itu..kemanapun itu dan aku ingin melakukannya..sehingga aku tau sesuatu hal,bahwa hal yang aku pikirkan hampir sepanjang hayat ternyata memang tidak salah!
read more..