Dan senja itu akhirnya membuat perkenalan ini ada, nama beliau rohmat. Sederhana saja. Mengaku sudah tak punya kampung halaman, hidup sebatang kara di tengah kota yang makin lama terasa makin ganas menghimpit penghuninya.
“bagaimana pula bapak punya kampung halaman lagi nak? Apa yang ada? Semuanya sudah tidak ada. Istriku tercinta sudah lama meninggal. Anak-anak merantau tak pernah pulang. Tak ada kabar berita. Satu pun sampai sekarang. Maka bapak putuskan untuk mencoba mencari mereka disini, hasilnya? Nihil. Bapak berjualan untuk menopang hidup bapak sampai sekarang. Ahh, kalau diingat-ingat sudah lebih dari 10 tahun bapak disini”. Itulah intro awal percakapan kami di senja itu.
Yah, sesederhana itu alasan beliau untuk berada disini. Sendiri di kota sebesar ini hanya untuk mencari. Untuk memperjuangkan apa yang dia percaya dan dia yakini. Walau aku tau, kemungkinannya nyaris mendekati mustahil untuk menemui anaknya. Lah bagaimana bisa? Menemukan tiga anak-anaknya yang merantau kekota? Dengan cuma bermodal nama, foto pun tak ada. Tapi beliau tetap percaya dan berusaha.
Kok bisa yah? Memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya beliau sendiri tau hampir mustahil untuk digapai.
“nak, bukan masalah apakah itu mustahil atau bukan. Yang penting berusaha. Hati bapak bilang cari, jadi daripada bapak “gila” berdiam diri saja. Maka lebih baik bapak mencari disini. Matipun tak apa. Setidaknya bapak mati karena mencari, bukan karena berdiam diri saja”.
Oi, belum pernah diriku menemukan orang yang seperti ini. Berani membela apa yang dia yakini. cuma dengan modal kepercayaan saja maka beliau tak peduli dengan susahnya, beliau berusaha. Tak peduli resikonya. Dan saat itu juga kutaruh respekku pada level tertinggi untuk beliau. Ah, memang benar belajar itu bisa dimana saja dan dari siapa saja. Asal ada kesempatan maka raihlah.
Maka sekali dalam seminggu aku menyengajakan diri untuk menemui beliau. Duduk santai bersama beliau. Terkekeh-kekeh bercerita (tentunya sesudah itu beliau batuk hebat sampai terlihat tersengal nafasnya). Berbagi cerita apa saja. Menghabiskan waktu sampai beliau terlihat lelah (dan akupun pamit, tak enak pula mengganggu beliau yang lelah).
Suatu hari, batuk itu semakin hebat. Kuputuskan membawa beliau ke dokter. Tapi apa yang dia katakan?
“sudahlah nak, bapak tak mau merepotkan. Lagian bapak tau batuk ini terutama datang karena rokok ini yang nyaris tak henti bapak hisap”. Sembari tersenyum beliau mengusap punggungku.
Aku protes. Beliau menggeleng. Ah, apa perlu aku pukul beliau dan menggendongnya ke dokter? (yang tentunya aku tak berani melakukannya). Sekeras apapun aku protes beliau tak mau. Bahkan obat-obat yang aku bawa pun dia tak mau menyentuhnya (apalagi meminumnya).
Maka aku mencoba mengalihkan permintaan menjadi “pak, apa bisa bapak berhenti menghisap rokok? Atau setidaknya menguranginya”. Tak tega aku melihat beliau yang saban kali merokok, saat itu juga batuk yang kadang kala membuat aku khawatir saking terlihat parahnya.
Dan lagi-lagi aku mendapat jawaban yang membuatku tertohok dengan kerasnya. Sepele, tapi nyaris membuatku menangis mendengarnya.
“nak kau tahu latar belakang bapak, kehidupan bapak? Nyaris tak ada kemewahan selain senyuman anak-anakku yang telah lama hilang, atau belaian sayang istri tercinta yang telah lama meninggal. Bagi kamu mungkin inilah yang membuat bapak sengsara, batuk tak henti dengan parahnya. Tapi itu bagi kamu. Tak pandang usia tua, muda, kaya, miskin, Semuanya kebanyakan merokok bukan? rokok adalah satu “kemewahan” yang bisa bapak capai. Bapak tak dapat menikmati kemewahan lain, bapak tak punya rumah, tak punya harta. Bukan, bukan bapak menyesalinya. Tapi biarkan bapak menikmati hal ini, rokok ini, kemewahan ini. Selagi bisa”
Dam aku terdiam, nyaris meleleh tangisku. Bagai makan buah simalakama. Yah aku tau bahwa inilah yang membuat beliau susah. Sakit demikian rupa. Tapi beliau yang tau itu bersedia mengambil itu dengan alasannya. Jadi apa alasanku lagi untuk memaksanya berhenti? Saat itu aku sadar, untuk tak pernah memandang lagi hanya dari satu sisiku sendiri. Jangan pernah memandang sesuatu hanya dari benar dan salah. Karena pengalaman hidup itu berbeda-beda, jalan itu tak semuanya mulus dalam setiap kehidupan individu. Bolehlah aku mengingatkan, tapi meminta berhenti? Apa pula hakku?
Dan kembali aku merasa penuh oleh pelajaran, bertemu beliau yang hidup dengan falsafah sederhana membuatku merasa bertambah kaya.. bukankah seseorang yang mampu menyederhanakan hidup yang rumit, dan mempraktekkan kesederhanaan itu didalam hidup adalah seorang yang hebat.
Ah, macam-macam yang kupelajari dari beliau. Aku tau bagaimana dia yang dulunya seorang preman besar, ditakuti dan disegani, kekayaan apalagi. tetapi sekarang malah menjadi begini. Satu-satu semuanya menghilang dari kehidupan beliau. Dan lagi-lagi dia hanya berpesan “ingat nak, segala sesuatu sudah ada waktunya. Apa yang sudah ada dan diterima ya terima saja dengan ikhlas. Akui. Jangan jg engkau menghindar dan tak mengakui keberadaanmu, masa lalumu”.
Jadi tak pantas aku mengatakan iba atau kasihan untuk beliau, baik kisahnya maupun hidupnya. Toh beliau sendiri tidak mengasihani atau meratapi apa yang ada di dirinya (walaupun itu susah, sangat susah malah). Aku hanya bisa salut akan sikapnya yang ada sekarang. Dan ini hanyalah secuil, ada seribu satu hal lain yang kupelajari dari beliau. Menyenangkan. Selalu menyenangkan untuk belajar.
Suatu senja aku kembali berniat mendatangi beliau. Hari biasa, tak ada kejadian istimewa. Saat itu langit gerimis kecil (walau langit tidaklah gelap seperti hujan sebagaimana biasanya). Ku datangi tempat biasa, lapak biasa sang bapak berjualan. Yang kutemui hanyalah gerobak jualan dia biasanya. Kosong. Tak ada minuman. Sepi. Sosok beliau tak ada.
Bingung. Hilir mudik aku bertanya kepada orang-orang. Adakah yang melihat bapak rohmat? Kemana dia pergi? Siapa tahu saja ada yang melihat. Dan lagi-lagi nihil. Tak ada yang melihat. Beliau pergi begitu saja, entah apakah ingin mencari anaknya ditempat lain atau apa.
Aku duduk. Menghela nafas. Sibuk berfikir kemana beliau. Kehilangan (walau anehnya aku tak merasa sedih sebagaimana umumnya perpisahan). Karena seperti apa yang dikatakan oleh beliau “percyalah dan lakukan”. Maka aku percaya kepergian beliau pun memang ada waktunya. Seperti perkataan beliau diwaktu itu..
“Segala sesuatu sudah ada waktunya. Jadi ya terima saja..”
Kutatap langit senja. Kusunggingkan senyum tipis akan suatu keganjilan. Aku mengenal beliau di suatu senja dan aku berpisah dengan beliau juga di saat senja. Jadi percayalah! walau jalan yang diatur olehNya sungguh tak terduga oleh kita para makhluknya.
read more..
“kemana saja teman? Kenapa baru datang? Oh ya keren juga mobilmu itu. Tampaknya besok lusa aku mau membeli mobil seperti itu. Hummer bukan? tipe apa?” seorang pria berusia 30an, rapih, dandy, berkata. asik sambil menyeruput minumannya.
“Aduh, pah. Kamu liat gaun nyonya anu? Bagus sekali.. berkilau penuh batu berlian seperti itu. Dimana ya belinya pah? Gak mau tau pokoknya mamah juga harus punya gaun seperti itu. Yang lebih bagus. Yang lebih mahal!! harus”. Rengek manja seorang ibu muda bertampang sinis kepada suaminya. merasa kalah bagus rupa pakaiannya.
“bagaimana saham mu sekarang? Sahamku sedang bagus sekarang, seminggu ini harganya naik terus. Wuah kalau begini bisa-bisa aku beli apartemen baru lagi. Lumayan untuk investasi” lagak seorang bapak-bapak tua kepada relasinya yang hanya bisa bergumam mendengarnya.
“anakku akan aku sekolahkan lagi keluar negeri. Supaya tenang hati ini kalau saatnya tiba untuk mewariskan tahta pemegang korporasi yang kubangun ini. Anakku itu pintar sekali. Tampan dan kekar. Persis sepertiku dulu sewaktu muda..hahaha”. Gelak tawa seorang bos tua yang disusul oleh tawa para bawahannya yang ikut di acara. Berkumpul untuk bercerita (atau malah berkumpul karena takut dan ingin mencari muka).
Yah pesta biasa. Tempat berkumpul. Menceritakan apa yang mereka punya kepada yang lainnya. Kendaraan. Harta. Pakaian. Bahkan keturunan.
Semuanya ada. Semuanya diceritakan. Dengan tingkah polah congkak dan membanggakan. Ini loh yang saya punya? Kamu punya apa? Semuanya saya dapatkan dengan kerja keras! Dengan strategi matang! Dengan teknik-teknik menakjubkan! Sehingga menjadi seperti sekarang. Kaya. Matang. Tinggal duduk tenang menerima uang segudang. Amboi hidup ini terasa menakjubkan bukan?
Oi tak sadarkah mereka bahwa itu semua titipan?
Tak malukah mereka membanggakan pinjaman?
Orang-orang (mengaku) intelek yang menyedihkan. Sibuk menunjukkan “barang” pinjaman. Pemberian sementara. Semuanya. Harta, kendaraan, pakaian, keturunan bahkan dirinya sendiri hanya dipinjamkan.
Jadi apa yang bisa mereka banggakan? TIDAK ADA. Karena semua hnya pinjaman sementara. Jadi bersyukurlah. Menunduk dan berdoa. Niscaya kita akan masuk dalam golongan orang-orang yang diangkat derajatnya. Camkan itu!
read more..
Aku bingung kawan. Bingung dengan tujuan mereka. Apa yang mereka kejar? Yang pergi ke tempat kuliah bisa kita anggap mereka mengejar ijazah. Lulus untuk secepatnya bisa kerja dan mapan nantinya. Tapi.... kenapa mereka malah seringnya menjadi santai belajar dan berleha-leha? Tak peduli nilainya menukik tajam tak tertahankan. Jadi sesungguhnya apa yang mereka kejar oi kawan? Bingung aku dibuatnya..
Untuk yang pergi bekerja apa lagi. Bangun, mandi, berpakaian, makan, kemudian pergi ketempat tujuan. Ringkas dan taktis sekali waktunya (sudah macam serdadu saja mereka). Terpola seperti strategi saja. Bekerja dari pagi sampai sore harinya. Untuk apa? UANG kah? Hoo, engkau mengangguk (tumben engkau merespon, biasanya engkau hanya duduk tersenyum mendengar ocehanku..) berarti benar begitu untuk uang rupanya…
Tapi untuk siapa uang yang mereka dapatkan itu? Uang yang banyak itu. Uang yang mereka dapatkan setelah berusaha keras begitu. Pagi sampai sore. Hari ke hari begitu. Bergerak sudah kayak robot saja. Tidak terfikir lagi yang lainnya, lelah karena menguras tenaga dan pikiran yang ada. Bahkan keluarga saja sudah tak terurus rupanya. Datang dan pulang kerumah sudah merasa terlalu lelah untuk sekedar bercengkrama dengan istri tercinta. Datang dan pulang kerumah eh malah anak-anak tersayang sudah terlelap dalam mimpinya (mana sempat mereka memberi perhatian kepada mereka). Bahkan saat liburan pun malah hanya sibuk dengan beragam file dari kantornya. Ckckck, tak mengerti aku akan mereka.
Duhai jadi sebenarnya apa yang orang-orang ini kejar? Bingung aku.. keinginan mereka (untuk mengejar sesuatu hal) dan untuk siapa keinginan itu tercipta tidaklah sama. Kalau meminjam kata dari manusia berkepala semi botak yang berceramah kemaren (kau ingat waktu aku bercerita hinggap di jendela lantai 4 gedung megah di tengah kota dan mendengar dia bercerita penuh semangat seperti pidato tujuh belasan saja) “keduanya tidaklah menyokong, sinergis dan dinamis”. Bah kena penyakit berkata-kata canggih aku rupanya,haha..
Ah kawan, penat aku disini. Kota yang sebenarnya kecil ini terlalu bising. Terlalu ramai. Belum asap-asapnya. Belum juluran tangan gedung-gedungnya yang menebar suram macam tangan setan saja. Orang-orangnya yang sangat teramat jarang bertegur sapa. Kota ini penuh orang-orang tetapi entahlah bagi ku terasa sepi, dingin, tak berbelas kasihan. Seakan-akan makhluk sekecil kita ini bsa langsung hilang tak berbekas disini.
Dan itu belum lagi hawanya yang tidak beradab. Lontaran umpatan. Makian. Tak henti dari pagi ke malam, malam ke pagi. Trus menerus terjadi tak berbelas kasih. Kemana rasa syukur? Kemana rasa maaf? Kemana rasa kekeluargaan? Kemana semuanya? Tak punya nuranikah mereka??
Mari kawanku mumpung hari ini tidaklah terlalu siang kita beranjak pergi. Mengepakkan sayap terbang ke desa nun jauh di ujung provinsi. Bertemu dengan orang-orang bermuka sederhana nan ramah kembali. Orang-orang yang sederhana, mencari secukupnya. Sesuai dengan porsinya. Tidak menjadi lupa dengan keluarga. Sederhana mengejar cita-citanya tanpa menghilangkan kehangatan sifat mereka sebagai manusia.
Rindu aku untuk mendengarkan gemericik suara sungai (sudah mau pekak telingaku mendengar raungan suara kendaraan disini)
Kangen aku untuk kembali mendengarkan ucap penuh syukur kepada penguasa kita dan alam semesta dari mulut orang-orang sederhana saat mereka istirahat. Makan saat lelah melanda setelah mengurus pekerjaan mereka (belum pernah aku mendengar suara-suara bersyukur disini saat mereka istirahat melepas lelah, yang ada malah sibuk mereka bergunjing, bergosip atau malah kembali membahas masalah kerja dan kerja)
Tak sabar aku untuk mendengarkan kembali tegur sapa ramah dari mulut-mulut mereka(bukannya umpatan kasar tak terperikan yang malah diperdengarkan).
Disana aku menemukan orang-orang yang sungguh-sungguh mengejar apa yang mereka inginkan dan tanpa menghilangkan kehangatan mereka sebagai manusia itu sendiri. Tidak seperti kota ini. Kota dimana orang-orang menjadi hilang jati dirinya demi hal yang mereka kejar dan ingin ciptakan oleh kemampuan mereka sendiri.
Jadi mari kawanku...
Kita pergi..
Secepatnya...
Sumpek aku disini…
Capek...
Selalu merasa sepi walau jelas-jelas berada di tempat yang ramai semacam ini. Aku rindu kedamaian. Ketenangan. Yang tak kutemukan disini. Ditengah-tengah keramaian kota yang tak berbelas kasihan ini.. haha, apa yang aku ocehkan sekarang ya? Bingung aku dibuatnya. Maaf kawan kalau sudah membuat mu bosan dengan celotehanku selama ini. Kadang aku tak mampu lagi menahan mulut ini. Aku tau engkau slalu siap membantu dan menemaniku.
Jadi mari kawanku.. kita sekarang berangkat pergi . Pergi segera meninggalkan kota ini.. terima kasih.. untuk selalu menemani diri ini…...
read more..
Apa yang aku cari dari seorang wanita? Untuk membuatnya menjadi super spesial. Mengatakan rasa kesungguhan akan suatu hal yang sering disebut sebagai rasa sayang. APA? Fisiknya kah? Ah tak munafik aku untuk sok mengatakan bahwa fisik itu tidak penting. Sok mengatakan bahwa yang penting adalah hati. Bukan fisik. Bah orang-orang munafiklah yang hanya membicarakan hal itu. Bukankah selalu ada ego dalam diri untuk memiliki kekasih yang elok rupanya. Sepadan minimal. Bahkan kalau bisa inginnya malah yang sangat teramat elok rupawan. Bukan begitu bukan? Ego yang menjadi gengsi didalam diri dan lingkungan pribadi.
Tapi sekarang aku hanya bisa tersenyum aneh, kemana ego itu? Karena saat pertama kali kami mengikat hubungan itu aku bahkan tidak pernah melihat sosoknya. Bagaimana aku tau bahwa rupanya, badannya, sosok keseluruhannya yang sebenarnya dengan hanya melihat sosok mayanya saja. Terkaan saja? Walau aku dan semua juga tau kalau foto itu bisa menipu realita. Tapi mengapa aku bisa menerima dan bahkan sama sekali tidak merasa perlu untuk memikirkannya. Kemana ego itu? Lenyap begitu saja seakan tak tahu kemana. Yang ada hanya rasa percaya bahwa walau jelas-jelas aku belum pernah melihat langsung orangnya.
Dan sifat apa yang hanya aku temukan dari dirinya yang membuat dia berbeda dari wanita-wanita yang pernah ada? Karena hanya dari dirinya lah aku menemukan kepercayaan. Suatu bentuk kesungguhan. Tanpa menuntut dia lebih memilih untuk melengkapi. Dan yang terpenting dia mampu membuktikan bahwa apa yang dia ucapkan bukanlah sekedar main-main. Dan hal itu tidaklah aku temukan dari berbagai jenis tipe wanita yang pernah ada. Hanya dia yang mampu dan bisa memberikannya tanpa aku harus meminta atau membicarakannya.
Yah semua itu semakin dikuatkan saat dia benar-benar membuktikan katanya untuk datang. Well, honestly aku tidak yakin awalnya dia bisa datang. Justru karena tau dia orangnya sangat takut bepergian sendirian, belum halangan yang lainnya, belum biayanya. Dan aku tau itu tidaklah mudah. Sehingga membuat aku tidak mau memaksa dia untuk menyempatkan diri datang berliburan. And guess what, she did come here! Melawan rasa takutnya, mengusahakan sebisanya, dan sikapnya memberikan suatu keyakinan. Bahwa semua hal yang telah aku pikirkan tentang dia, tentang sifatnya, tentang pandangannya itu benar. Dia bsa memberi kepercyaan yang selama ini aku butuhkan. Dia benar-benar membuktikan semuanya. Sehingga aku benar-benar tau dan yakin kalau dia beda dari wanita-wanita yang pernah ada.
Dan mungkin inilah yang membuatku di hari ini, pagi ini, detik ini merasa sesak untuk melepasnya. Bergetar merasa berat hanya melihat raut muka kepergiannya. Sosok itu. Wanita itu. Yang setelah sekian lama mencari, akhirnya menemukannya. Dan sekarang aku berfikir tampaknya aku menemukan apa yang orang-orang sebut sebagai rasa cinta atas sosok yang menjadi pasangan kita. Rasa yang membuat kita enggan dan sungguh-sungguh tak mau menjauh dari pasangan kita.
Trima kasih tuhan untuk semuanya, untuk memberikan dia dan sepuluh hari yang extra super hyper duper menyenangkan. Untuk memberikan dia dengan segenap pengertiannya. Untuk memberikan dia yang suka merengek manja. Untuk memberikan dia yang mempunyai raut muka menggemaskan walau disaat marahnya. Dan terutama terima kasih untuk kesempatannya. Untuk semua hal yang pernah ada dan akan kami lakukan nantinya.. trimakasih tuhan..
P.S:
LUV U..
read more..
sepi,sendiri,susah,tak dipercaya
campur aduk tak mengerti berapa besar persentasinya
bingung oleh pertnyaan kenapa?
malas dengar pertanyaan bagaimana bisa?
muak pula dengan pertnyaan karena apa?
mungkin..
aku hanya ingin ditemani
dipercya sepenuh hati tanpa ada yang ditutupi
oleh mereka..
orang-orang yang kuanggap berharga
pura2 tidak tahukah mereka?
walau aku sudah meneriakannya sekuat tenaga.....
jadi sudahlah..nikmati saja..
kesendirian itu nanti pasti akan diganti oleh_Nya
mungkin saja
walau tak kuketahui kapan waktunya..
satu catatan untuk dia
A tahu a tak pandai menjalin hubungan. Sering kali menjalin hubungan dan putus di tengah jalan. Dan disnipun a tak mau menyalahkan siapa-siapa atas hal itu. Mana a peduli apa itu salah a ataupun salah mantan-mantan a. A hanya bisa mengira, mengumpulkan garis-garis samar yang masih membekas dan menyisa. Memberi tahukannya pada mu demi satu harapan yang ingin kita bina. Yah demi rasa percaya yang sedang kembali a bangun untuk sebuah asa.
Tolong ingat bahwa kita semua ingin dimengerti. Ingin disayangi. Ingin dicintai. Bukankah untuk itu kita menjalin hubungan? Yang ingin a sampaikan cuma kita harus paham saat meminta itu. Ada saatnya kamu ingin merengek manja minta dimengerti. Tapi ada saatnya pula a terlalu lelah untuk berdiri. Membutuhkan sandaran untuk belaian yang menguatkan hati dan pikiran ini.
Ada saatnya pula kamu membutuhkan kabar a. Darimana? Dengan siapa? Sedang apa? Ya akan a jawab semua itu. Tapi tolong berilah kepercayaan lebih kepada sosok yang km bilang kamu sayangi ini. Bahwa walau a hilang kabar (entah karena sibuk, habis batere, atau mungkin maaf kata sedang malas balas saja) a tetap sayang km. Percaya bahwa a bisa menjaga diri dan menjaga perasaan yang sedang kita jalin bersama-sama ini. Bukankah itu yang terpenting? Mensupport dengan sebuah kepercayan. Dan itu jauh lebih penting daripada sekedar kata-kata kurang penting mengenai kabar bukan?
Jangan pernah sungkan kepada a. Mau masalah apapun itu. Ceritakan. Karena a gak mau ada noda kebohongan yang nanti akan menciptakan suatu hal yang menggoyahkan. Bukankah kita pacar? Saling sayang? Dan apakah pantas untuk sungkan atau malah menutupinya dengan kebohongan justru kepda orang yang kita sayang tersebut? Jangan sampai ada hal seperti itu yah? Karena itu fatal. Teramat sangat malah.
Ingat kita haruslah siap saling memberi. Saling berbagi. Saling sayang. Saling mengerti. Saling kompromi. Bukan merubah kamu menjadi apa yang a ingin. Tapi kita harus berkompromi dan mengalah demi suatu kelanggengan. Ada waktunya dimana kamu harus meredam manjamu yang sedang ingin diperhatikan, ada pula waktunya a untuk membuang ego a untuk selalu dimenangkan. Dan itu bukan berarti merubah watak bukan? Karena tidaklah mungkin dua hal yang berbeda bisa sama kalau tidak ada kompromi dan saling mengalah dari kitanya. Begitu saja.
Dan satu hal lagi ya sayang. A ingin ingetin bahwa ada kalanya kita pasti berantem. Dan bukannya mendoakan kita akan berantem. Tapi camkan kalau lagi-lagi hal itu tidaklah terelakkan. Pasti terjadi maksudnya. A cuma mau berpesan. Jangan sampai bila kita berantem malah akhirnya kita saling menyalahkan. Saling mengungkit kejadian-kejadian lalu. Saling maki dengan kata-kata kasar yang menyakiti.
Sebaliknya a mau kita saling instrospeksi. Mengaku saja masing-masing tanpa harus dituduh. Bukankah kita sudah cukup dewasa untuk tahu apa saja kesalahan yang telah kita lakukan. Alih-alih saling tuduh. Lebih baik kita saling tanya, diskusi sebenarnya. Mengaku salah pabila memang ada yang salah. Dan akhirnya saling komit tidak mengulanginya. Mencari solusi dari kondisi sesulit apapun yang telah ada. Lebih baik bukan?? dari pada berteriak, menangis tak tentu, marah-marah tak keruan kepada a ataupun kepadamu.
Cuma itu saja yang a ingin sampaikan. Tak banyak yang a tuliskan (walau a mampu untuk itu). A tak mau terkesan merayu ataupun mengada-ada demi rasa yang ada di drimu. Anggap saja tulisan ini semacam titik awal mula. Sebuah torehan untuk memperingatkan. Sehingga pada saat kita jenuh, marah dan mungkin ingin berpisah maka titik ini akan mengingatkan kembali akan komitmen awal yang kita jalin ini. Satu torehan peringatan untuk menghilangkan kejenuhan, meredakan kemarahan, menghapuskan rasa untuk kata haram seperti perpisahan. Semoga kita bisa selalu langgeng ya sayang... berdoa dan berusaha..amin...
read more..
Posted by median | Posted in novel ku
chapter 3 novel sya "dan semua ada waktunya.."
….........................
Hotel, at bed 08:17 AM..
“you've got a message.....”.
Aku terbangun. Menggerutu. Mengomel setengah terpejam. Sepagi ini di hotel ini seharusnya aku bisa bangun tinggi hari. Bermalas-malasan sekali sekali. Toh flight time kebandung masih sore, sengaja aku memesan jam segitu karena ada janji dengan teman lama ku. Seorang pengusaha muda di bagian real estate yang ingin menunjukkan proyek barunya. Proyek yang ambisius itu. Beberapa kali masuk headline utama dan menjadi percakapan hangat diantara para pengusaha properti. Masih teringat jelas suaranya sewaktu menelponku
“Datanglah ke proyekku, sekali ini saja teman. Sudah lama kita tak bertemu. Datanglah sebelum matahari terbenam. Kan lu dari dulu suka melihat langit? View disini bagus sekali jam segitu. Oke? Gue tunggu..”.
Dan lihatlah sekarang, aku malah terbangun oleh satu sms sialan di pagi hari. Kuraih communicatorku, dengan mata setengah terpejam kubuka sms sialan itu.
“syg kemana? Kok dari kemaren gk kasih kabar siy? Sms-sms aku gk dibales. Telpon gk diangkat. Kapan pulang? Kasih kabar yah kamu lagi ngapain. Kangeeen..”
Sialnya ternyata itu satu sms dari para wanitaku. Sialan. Mata mengantuk. Kepala yang masih terasa pusing karena wine semalam yang ku teguk. Tambah lagi pesan singkat yang intinya sama saja dengan “laporan”. Memuakkan. Aku sudah pernah berdekatan dengan beragam jenis wanita. Intelek, model, orang biasa, orang alim, cantik, biasa saja, atau malah yang bertipe bitchy sekalipun aku pernah. Tapi kenapa satu pun aku tidak menemukan wanita yang bisa memberikan kepercayaan penuh kepadaku. Alih-alih mengirimkan pesan yang mensupport, joke ringan yang membuatku tersenyum dan selalu mengingat mereka ini malah meminta laporan setiap saat. Memangnya aku ajudan mereka? Sedikit sedikit musti laporan. Tak tahukah mereka kami kaum laki-laki tidaklah suka merasa seperti itu. Merasa dianggap seperti musang. Musang yang bila tidak “dikontrol” dengan baik maka akan langsung berpaling memangsa yang lain. Jadi buat apa mereka mau menjalin hubungan bila tidak percaya? Menggelikan.
Aku abaikan pesan singkat itu. Memikirkan satu kemungkinan, bahwa sepertinya wanita ini juga akan masuk daftar mantanku berikutnya. Tersenyum dengan satu fakta yang baru hinggap di pikiranku “perasaan belum pernah aku berpacaran mencapai setengah tahun lebih. Sering kali hanya sebulan dua bulan saja”. Ku letakkan kembali communicatorku ke sisi bantal, beringsut sedikit dari pembaringan, menggeliat mengucek mata. Berdiri. Segera pergi mandi. Berfikir mungkin dengan guyuran air maka aku bisa segar kembali. Yah mungkin...
Hotel, bathroom 08:24 AM..
Kuputar kran shower. Membiarkan aliran air hangat membasahi sekujur tubuh. Menyenangkan juga mandi dengan air hangat sepagi ini. Pusing ku sudah mulai menghilang. Pikiranku mulai terasa benderang. Hanya pada saat-saat seperti inilah aku bisa bersantai, tidur sampai siang hari (walau toh tetap saja kalau ada masalah sedikit maka para bawahan akan langsung menelpon tergopoh-gopoh), bermalas-malasan sedikit sebelum rutinitas itu datang. Berurusan dengan semua orang. Sangat banyak orang. Tapi anehnya entah kenapa semuanya terasa semakin kosong. Tak sanggup segala urusan menghilangkan rasa itu. Merasa sendiri.
Sejak jauh dari DIA aku memutuskan untuk semakin tenggelam dalam kesibukan, aku ikuti beragam organisasi, mendatangi beragam acara, total dalam membesarkan usaha-usaha yang kurintis. Tempat baru. Wanita baru. Orang-orang baru. Rekan baru. Teman-teman baru. Banyak, teramat banyak. Tapi kekosongan itu semakin besar saja. Sesak aku dibuatnya. Sering kali merasa sendiri justru saat aku berada di keramaian semua orang. Dan sejujurnya aku tidak terlalu menganggap semua orang itu bisa dianggap teman yang baik atau setidaknya bisa dipercaya. Ah entahlah, mungkin aku masih kurang menjelajah. Masih kurang mencoba hal baru. Masih kurang tenggelam dengan rutinitas-rutinitas yang ada. Atau mungkin aku hanya membutuhkan DIA? Permata itu? Entahlah, pusing kembali kepalaku hanya dengan memikirkannya saja.
Selesai mandi aku segera berpakaian. Seadanya. Jeans robek plus kaos hitam polos cukuplah. Keluar dari kamar hotel. Memutuskan untuk mencari satu atau dua novel bagus di mall depan sana. Hitung-hitung jalan-jalan berolahraga. Berapa minggu yah aku tidak berolahraga? Latihan di dojo seperti biasa. Seingatku hampir dua bulan lebih aku tidak datang.
Tersenyum masam mengingat sensei akan memarahiku (dan hal itu berarti sparing serta bantingan yang banyak). Belum terhitung rengek manja si kecil laras, astri, aster, opik dan yang lainnya, “om tian kemana aja? Gak mau tau pokoknya tar anterin pulang. Traktir makan juga. Kalo gak musuh!!! om tian jahat!!”. Dan untuk ini aku tersenyum riang. Selalu terasa menyenangkan latihan beladiri bersama mereka. Ksatria-ksatria kecil (walau dalam beberapa hal malah terasa mirip seperti penjahat kecil, haha).
Mall ini, baru dibuka pun sudah penuh dengan pengunjung. Wanita terutama. Selidik punya selidik ternyata ada SALE? Haha, pantas saja. Lihatlah mereka bergerombol seperti semut cuma untuk rebutan satu dua pasang sepatu yang didiskon (aku bahkan ragu apakah itu benar “diskon”. Karena toh harganya sama-sama saja). Saling sikut berdesakan cuma untuk satu dua potong pakaian. Saling tarik plus umpatan untuk mendapatkan satu dua pasang sepatu. Ah bagian mananya dari indonesia yang disebut “krisis” kalau melihat hal ini? Sibuk mereka belanja beberapa potong pakaian, memborong beberapa pasang sepatu. Aku bahkan ragu apa itu akan dipakai sepanjang tahun? Atau hanya dua tiga kali dan ujung-ujungnya dianggap usang. Masuk gudang! Dengan santai bilang “mode fashion sudah ketinggalan zaman teman”. Terkadang untuk beberapa urusan aku tidak pernah mengerti jalan fikiran manusia. Terutama untuk urusan seperti ini. Aneh, benar-benar aneh.
Akupun melenggang masuk ke salah satu toko buku di mall ini. Toko yang bagus. Musik yang cozy, penataan rak yang apik, warna yang terkesan hangat. Akupun langsung berjalan menuju rak buku baru. Mencari beberapa novel bagus, syukur-syukur kalau mendapatkan novel filsafat yang bagus (yeah, I really luv philosophy). Melihat-lihat dan memutuskan untuk mengambil satu novel yang menarik hati setelah membaca resensinya. Beranjak ke kasir. Membayar sejumlah uang dan langsung pergi ke cafe terdekat. Tujuan selanjutnya: sarapan plus membaca tentunya.
Mall, cafetaria 11:35 AM
Ah menyenangkan. Duduk di cafe yang sepi nan nyaman, bertemankan novel bagus. Plus sedikit cemilan plus minuman. Memanjakan pikiran sebentar (mengingat dalam beberapa jam lagi aku akan kembali sibuk dengan pekerjaan). Cuma membutuhkan dua jam kurang untuk menghabiskan 354 halaman novel ini. Maka aku duduk rileks, memakan cemilan yang dari tadi tidak terlalu dipedulikan (kebiasaan. Kalau aku sudah asyik dengan satu hal maka aku akan tidak mempedulikan banyak hal. Apalagi ini cuma sekedar cemilan). Mengedarkan pandangan dan memperhatikan pengunjung lainnya. Mmmmh, ada beberapa pengunjung. Dua bangku didepanku ada seorang wanita. Di pojok kiri juga wanita. Di ujung pojok sana ada pasangan yang sedang bercengkrama.
Sambil menghirup minuman aku memperhatikan wanita yang berada dua bangku didepanku. Cantik juga. Rambutnya hitam panjang. Berkacamata. Terlihat intelek pula. Terlihat sedang menyantap makanannya. Dan akupun memutuskan untuk melihat kemungkinan menggodanya (nah ini juga kebiasaan lama,haha). Tidak banyak yang aku lakukan. Hanya memperhatikan dia selama kurang lebih 20 menitan (ibarat pemburu maka observasilah terlebih dahulu) melihat “tanda” yang dia berikan baru membuatku memutuskan untuk langsung mendekati “buruan”. Hunting time..
“Tanda”? ya “tanda”. Salah satu teori konyol yang aku ciptakan sendiri. Dari pengalamanku (sekian lama perantauan, berkomunikasi dengan banyak orang, berpacaran dengan banyak wanita dan lainnya) aku tahu suatu fakta bahwa semua orang kadang kala berprilaku sama. Memiliki “tanda” yang sama.. “Tanda” yang diberikan pabila tertarik terhadap seseorang atau sesuatu. Ambil contoh seperti sekarang, dalam dua puluh menitan aku tahu kalau wanita dua bangku di depanku ini tertarik padaku. Bagaimana caranya? Gampang lihat saja tandanya. Ingatlah kalau segala sesuatu di dunia ini diciptakan tuhan dengan “tanda”nya masing-masing. Tinggal kita saja yang mau atau tidak membacanya.
“Tanda” nya apa? Gampang, lihatlah wanita itu. Perhatikan dengan seksama. Apakah wanita itu sempat melihat? Memperhatikan wajah dan bersitatap mata langsung maksudku? Satu kali melihat, ah itu biasa saja. Nothing special. Wajar saja intinya. Coba perhatikan kembali, apakah dia melihat kembali and yupz, she did that. Melihat ku untuk kedua kali. Dan itu berarti dia merasa aku rada “beda”. Rada menarik setidaknya. Maka perhatikan dia lebih seksama lagi, apakah dia melihat kembali untuk ketiga kalinya? And voila, she did that again. Tiga kali “strike”. Plus lagi sengaja berpura-pura membuang muka saat bertemu mata.
Sederhana bukan? Hanya membutuhkan 20 menitan untuk mengetahuinya. Apalagi kalau orang tersebut melihat berkali-kali (atau malah sambil menyunggingkan selarik senyum). Sengaja nian melakukannya. Sekarangpun aku tidak merasa sedang melakukan hal aneh. Membuat orang-orang merasa wajar untuk melihat ke arahku. Jadi aku yakin kalau wanita tadi melempar pandangan karena setidaknya rada tertarik kepadaku. Sederhana bukan ?
Aku ambil minumanku. Menenteng ringan novel yang telah selesai aku baca itu. Menghampirinya. Berkata sambil tersenyum ringan,
“hai..boleh aku duduk disini. Rasanya kurang menyenangkan duduk sendirian tanpa teman. Yah, itupun kalau kamu berkenan dan kamunya sendiri tidak sedang menunggu seseorang”
Dia mengangguk pelan. Merah muka malu tersipu. Mungkin tak menyangka aku akan menghampiri. Kutaruh minumanku dimeja. Duduk bertatapan muka dan mulailah pembicaraan diantara kami.
Okay, first rule on talking to women. Tanyalah hal-hal kecil tentangnya dan lingkungannya, timpali hal itu dengan ringan (dengan humor kalau perlu), pujilah hal-hal kecil tersebut atau detail kecil dari penampilannya (lebih baik daripada merayu fisiknya langsung, terkesan kayak playboy kampungan kalau begitu). And it always works for me, pembicaraan diantara kami berjalan menyenangkan. Banyak tawa, banyak cerita yang tersampaikan. Akrab sekali. Mmmmmh, bahkan aku mendapatkan banyak info tentangnya. Namanya sherry, bekerja di salah satu bank terkenal di kota bandung (well, kebetulan yang lagi-lagi menyenangkan), umur 23 tahun, berada di sinipun karena kantor yang menugaskan, serta beberapa puluh keterangan lain yang aku dapatkan.
Disela pembicaraan kulirik sedikit kearah jam tangan. Oh, shit. Sudah jam 1 kurang sepuluh. Satu jam setengah lagi aku sudah harus di bandara. Harus segera bersiap. Dan akupun permisi pamit, cepat menjelaskan kalau dalam waktu satu jam lebih sedikit aku sudah harus berada di bandara. Tak lupa pula sempat bertanya kepada dia..
“mmmmh sher, boleh minta kontaknya gk? Siapa tau nanti kita bisa bertemu lagi dibandung. A date perhaps?”
Yah, seperti yang diduga maka ringan saja sherry memberikan sederet angka kepadaku. Menitipkan pesan sambil tersenyum riang.
“jangan lupa ya a, kalau ada waktu telpon sherry”.
Akupun bergegas ke hotel. Tergesa-gesa karena harus secepatnya sampai di bandara. Mengemasi pakaian, laptop, dan beberapa berkas-berkas. Memasukkannya ke ransel besarku (jangan heran, karena dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah suka menggunakan koper untuk bepergian. Tidak praktis). Check out. Memanggil taksi, masuk dan langsung berpesan kepada sopirnya
“Bandara pak! Ngebut secepatnya. Sya bayar dua kali lipat dari argonya!”
Sky, at plane 14:45 PM..
“Bapak tidak apa-apa? Atau butuh sesuatu?” Sapa ramah dari pramugari cantik disebelahku
“oh tidak terima kasih mbak. Sya tidak apa-apa dan tidak butuh sesuatu sekarang”. Sahutku kepada pramugari cantik itu.
Yah kali ini aku kembali berbohong. Bagaimana mungkin aku tidak apa-apa. Muka pucat. Rada berkeringat. Kedua telapak tanganku bahkan rada gemetar tidak bisa diam. Pramugari itu bahkan bisa langsung melihat hal itu.
Aku sebenarnya tidak pernah menyukai naik pesawat. Ganjil terasa. Teringat dulu saat pertama kali aku naik pesawat dari tempat asalku. Waktu itu aku masih SMA, bisa naik pesawat karena mendapatkan tugas membela daerah. Ikut dalam satu kejuaraan bahasa inggris pula. Sampai sekarang pun aku suka tertawa mengingatnya, bagaimana aku yang tergolong udik ini bisa-bisanya kok dapat tugas itu. Naik pesawat pula. Bagaimana aku pertama kali (dan itupun berlangsung sampai sekarang) merasa mual. Perutku terasa diaduk-aduk. Telingaku berdenging-denging mendengar bunyi mesin menderu-deru.
Waktu itu tidak ada pesawat boeing seperti ini, hanya ada pesawat kecil berkursi belasan saja. Pesawat kecil khas daerah. Rapuh berderit-derit saat mau mengudara. Menambah rasa mual, pusing tambah pula trauma takut mati melihat pesawat serapuh ini. Sekarang? Tak ada lagi pesawat kecil itu. Berganti dengan yang besar berkursi banyak. Gagah juga rupanya. Tapi semuanya masih sama saja. Puluhan kali aku naik burung besi rasanya tetap saja sama. Yah sepertinya tubuh udik ini benar-benar tidak bisa kompromi.
Cepatlah sampai ya tuhan, sebelum aku terlanjur muntah disini...
Bandung, site area 18:32 PM
Baru satu jam kurang aku sampai dibandung. And here I am. Duduk di site lantai 12 sebuah bangunan yang akan jadi apartemen mewah dengan total 24 lantai nantinya. Bertemankan segelas kopi, sedikit makanan dan seorang kawan lama. Duduk selonjoran begitu saja.
“wuah, makin sukses aja lu Gi. Perasaan baru kemaren-kemaren kita maen bareng. Ngeceng anak-anak SMA bareng waktu kuliah. Ditolak bareng juga. Haha, maklum dulu masih kere kitanya. Kalo sekarang cewe mana yang berani nolak elu Gi. Pengusaha muda, ganteng, bisa bikin apartemen setinggi ini pula. Gila lu! Gue kira sumpah lu dulu untuk bikin apartemen cuma ngomong doang”
Sosok yang kusapa Egi itupun tertawa, “ya elu tiap kali gua ngomong kagak pernah percaya. Mentang-mentang dulunya gue cuma maen mulu. Kalo gue ngmg bakal bikin ya mati-matian gue cari sela nya. Kalo dah dapet pasti gue bikin. Nih buktinya! Biar semua yang dulunya ngeremehin kita pada percaya! Pada hormat! Eneg gue ma kelakuan orang-orang dulu yang pernah mandang remeh kita.. inget gak lu?”
Pelan kuseruput moccachinoku, mengingat kembali semua kenangan dulu. Yah zaman dimana kami masih benar-benar sengsara dulu. Egi dan aku sama-sama mahasiswa perantauan. Berasal dari daerah yang berbeda. Beda karakter sifat pula. Tapi kami tahu bahwa kami pernah sama-sama sengsara dan melewatinya bersama. Itulah mengapa kami benar-benar dekat sampai sekarang.
Masa-masa itu masa yang pahit bagi kami. Bagaimana kami dulu dengan uang hanya dua puluh ribu bertahan hidup selama seminggu. Teringat juga bagaimana aku dan egi terpaksa ngutang sana sini waktu itu. Bagaimana juga kami beradaptasi dengan budaya, makanan, dan cuaca yang benar-benar berbeda disini. Saling jaga, saling berbagi, bahkan sama-sama diremehkan oleh orang-orang waktu itu. Yah karena kekurangan harta kami waktu itu.
“iya gue tahu. Dulu karena sering kali ngutang kita ampe diomelin yah sama mbak itu. Waktu awal-awal tahun dibandung. Saat kita gak punya teman-teman banyak. Tapi sudahlah gak usah ungkit lagi hal begituan. Ada waktunya kita kurang harta dan gak bisa bergaul. Dan kita buktikan juga ada saatnya kita sekarang memiliki cukup harta bukan? Untuk pergaulan juga begitu. Kalo gak ada ya tinggal buat aja dengan usaha, gitu kan prinsip kita dulu. Eh ngomong-ngomong gimana cewek lu sekarang? Jadi lu nikah tahun depan?”
sambil menyedot rokoknya Egi menimpali, “nikah? Ya jadilah. Mending nikah gue mah. Kebelet ni, lagian dah bosen gue maen ce mulu. Mu nyoba yang halal. Katanya mah lebih enak, hehe. Lu sendiri mau nikah kagak? Umur dah cukup tuh. Uang dah punya. Mobil ada. Mau nunggu apa lagi lu? Jangan bilang lu masih nunggu tuh cewek. Siapa tuh anaknya, lupa gue namanya.”
“beuh, gebleg lu. Nikah kok pake nyoba-nyoba. Yang serius lah. Nikah mah sekali aja men. Dikutuk baru tau rasa lu.....”
ku tarik nafas panjang. Pelan terdiam. Mencoba mengumpulkan tenaga untuk menyebut nama dia. Ya nama itu. Nama yang benar-benar berarti bagi ku.
“Namanya Permata Gi. Lu mah lupa mulu. Kalo soal nikah entahlah Gi. Gue masih bingung mau nikah kapan. Ortu dah sewot tuh nanya kapan gue nikah. Dan alasan kenapa gue bingung mau kapan nikah bukan karena Permata. Gue aja gak tau dia ada dimana sekarang. Atau malah dah nikah sama cowok nya dulu. Mana gue tau. Tar aja deh.. masih pengen seneng-seneng aku mah”
Melalui sudut mataku bisa kulihat kalau sobat yang kukenal 7 tahun lebih ini tersenyum getir. Mungkin merasa tidak enak mengungkit tentang dia lagi. Sosok yang dari dulu sering kali aku ceritakan kepadanya. Sosok wanitaku yang begitu berharga.
“sori bro, gue dah ngungkit-ngungkit dia lagi. Gue cuma ingetin sebagai sodara. Lu itu cowok men. Kalo memang mau sama tuh cewek cari dia! Kalo emang mau nyerah ya jangan mikirin dia lagi lah. Maaf kata ya, gue heran sebenarnya ce tuh apanya yang hebat. Ampe lu jadi kayak gini. Berantem jago, ngerayu apa lagi, tapi ma tuh cewek kok bisa-bisanya lu jadi bego gini? Realistis men. Gue gak mau lu kayak gini mulu
Malam menjelang. Suasana kota bandung pun semakin gelap. Begitu pula perasaanku. Entahlah untuk ke berapa kalinya Egi mengingatkanku akan hal ini. Tak bosan-bosan. Yah mungkin kali ini aku harus benar-benar mencari dia. Supaya rasa ini menjadi jelas. Mau dibawa kemana. Apakah percuma atau rasa ini tidaklah sia-sia. Maka hari ini, detik ini. Sambil memandang langit malam di kota bandung ini aku berjanji kepada_Nya
“tuhan, berikan aku kesempatan untuk bertemu sosok dia. Untuk memastikan rasa yang kau sisipkan ini. Biar jelas semuanya. Biar tak ada lagi asa yang sia-sia. Tolong... berikan kesempatan itu. Dan aku berjanji untuk tidak akan lari lagi kali ini. Akan kuhadapi sampai benar-benar habis waktunya nanti”
akupun beringsut dari tempat dudukku. Berdiri. Berkata kepada sosok sobatku yang masih diam di ujung sana.
“Gi, gue cabut dulu yah. Tar gue maen lagi kesini. Musti ngontrol anak-anak jam segini mah. Oke bro. Oke bro, tar kalo ada apa-apa kasih tau gue yah. Mau urusan gawean atau urusan nikahan gue pasti datang”
“Tian, tian.. ya udah buru berangkat sono. Tenang aja soal laporan gue pasti kasih tau elu. Sori untuk yang tadi. Elu taulah gue cuma mau ngingetin. Kita sodara bro. Selalu!”
Dan akupun tersenyum. Ya aku tahu kalo sosok didepanku ini adalah sodara, yah bukan sodara kandungku. Tapi hubungan kami lebih dari sekedar kakak adek. Saling menjaga. Saling ngingetin. Susah senang bersama-sama. Sodara selamanya.
“gk papa gi. Gue pamit. Salam buat tania..........”
Bandung, at residence street near site area 19:15 PM
Aku berjalan. Sendiri menyusuri jalan suatu perumahan didekat tempat proyek Egi. Bingung. Sunyi. Merasa sendiri. Dan inilah kebiasaanku dari dulu. Saat merasakan hal ini selalu merasa harus pergi jalan-jalan entah kemana. Jalan kaki atau naik motor kesayangan biasanya. Membuatku bisa jernih berfikir dan merenungi.Yah aku harus mengakui kalau kata-kata egi tadi sepenuhnya benar. 5 tahun telah berlalu dan hampir setiap hari aku selalu memikirkan dia. Sosok itu. Permata itu. Tapi apa yang aku lakukan? Hanya diam. Tak mau pula mencoba mencari dia. Aku bahkan bingung apakah saat bertemu dengan dia aku bakal bisa bersikap normal seperti biasa. Atau malah terserang penyakit gugup. Sukar berkata-kata. Melihat wajahnya dulu pun aku merasa mukaku memerah. Panas sedemikian rupa.
Apakah dia masih seperti dulu? Matanya masih berpendar indah berkilauan. Senyumnya yang manis dan menawan. Rambut hitam lurus yang mempesona itu. Tingkah lakunya yang lembut. Gerak gerik raganya yang memikat itu. Keelokan salah satu ciptaanMu. Tuhaaaaaaaaann, aku rindu dia. Tolong pertemukan aku dengan dia.
Dan langit pun mendadak cerah. Rembulan dan bintang bersinar lebih terang. Seisi semesta bertasbih untuk_Nya. Yah kali ini di malam ini pun tuhan kembali bersabda, sabda yang tak akan diketahui oleh kita umat ciptaannya “Nikmatilah pertemuan kalian. Tali takdir itu telah kupilin kembali. Sungguh aku akan merasa malu bila tidak mengabulkan doa kalian. Doa umat yang benar-benar meminta sepenuh hati....”
“Arum jangan nakal cepetan masuk kedalam. Dah malam ini juga. Tar ada yang nyulik loh. Udahan maennya”. Aku mendengar suara seorang perempuan dari rumah didepan. Cukup keras setengah berteriak. Suara siapa ini? Aku merasa pernah mendengarnya. Tak asing ditelinga.
“Gak mau teteh. Arum masih mau maen ayunan.. teteh dorongin yah???”. Kali ini suara anak kecil yang terdengar.
Aku berjalan tepat ke arah rumah tempat asal suara tadi. Penasaran akan suara yang rada kukenal tadi membuatku berhenti tepat didepan pagarnya. Rumah yang tidak begitu besar tapi memiliki penataan yang bagus. Ya walau kurang penerangan dihalamannya. Bahkan didekat pagar inipun penerangannya hanyalah seadanya. Remang-remang saja. Palang bertuliskan panti asuhan Muhammadiyah. Halaman yang rada besar plus taman bermain kecil didepannya. Disana aku melihat seorang anak kecil lucu sedang sibuk maen ayunan. Anak kecil ini yang sepertinya berbicara tadi. Tangannya pun melambai-lambai memanggil seseorang yang berada didalam rumah.
Seorang perempuan keluar dari dalam rumah. Berjalan tergesa kearah anak kecil tadi berkata dengan nada lembut kepada dia “arum mah nakal. Teteh jewer nanti. Cepet masuk, nanti sakit lagi”. Memangku lembut bocah yang disebut arum tadi. Menjewernya pelan. Tertawa. Dan langsung berbalik arah. Masuk kembali kedalam rumah.
Aku terpana. Aku terpana oleh suatu sosok yang sangat kukenal “ITU DIA!!!!PERMATA yang ku rindu selama ini”. Tak akan mungkin aku melupakan sosok itu. Sosok yang slalu aku bayangkan dalam tidurku. Sosok yang selalu kurindu. Mata ku tak mampu berkedip. Kakiku tak mampu bergerak . Mulutku tak mampu berkata-kata. Sempurna gagu seperti yang aku perkirakan sebelumnya. Dadaku sesak oleh fakta ini. Berkata pelan sungguh-sungguh didalam hati
“Tuhan.. terima kasih. Sungguh sekali ini aku benar-benar berterima kasih.........”
