“Ria, tolong kau cancel semua pertemuan sampai waktu yang tak bisa ku tentukan. Ibuku sakit keras. Aku harus pulang! Kau atur saja dahulu semua masalah, berikan laporan kepadaku secara ringkas saja setiap harinya”. Kukemasi barang-barangku (tepatnya malah asal mengambil dan memaksa semua barang itu masuk kedalam tas secepatnya). Bisa kapiran masalah ini kalau sampai aku telat menjenguk ibu tersayangku.
“Siap Pak.. tak usah khawatir. Semuanya akan saya handle. Sya akan segera telpon juga istri Bapak dan mengirimkan jemputan ke sekolah Tuan Muda”. Ucap halus Ria kepadaku. Seorang perempuan cantik dengan dandanan elegan yang telah 5 tahun menjadi sekretarisku. Orang kepercayaan yang benar-benar bisa diandalkan, bahkan dia langsung mempersiapkan jemputan untuk anakku yang masih bersekolah (baru masuk tahun ini pula).
Kuraih tas kerjaku. Melesat secepatnya melewati pintu ruanganku. Bergegas setengah berlari melewati para bawahan (yang masih saja menyapa dan mengangguk hormat menegurku), melewati lorong ruangan, menekan tombol lift , masuk dan dengan tergesa menekan tombol turun. Ah kenapa lama sekali lift ini turun? (hal yang bodoh untuk ditanyakan mengingat bangunan korporasiku ini memiliki 36 lantai). Entahlah pikiranku kalut sekali kali ini.
AKU HARUS SEGERA PULANG!! HARUS....
.....................................................................................................
Aku terlahir di salah satu daerah kampung di satu Provinsi yang dinamakan Bengkulu (bahkan teman-temanku yang lulusan luar negeri sana masih sering menanyakan “Mmmh, Bengkulu itu diprovinsi Kalimantan bukan?”. Kayaknya karena bersekolah diluar negeri mereka bahkan sampai lupa geografi negeri sendiri). Lahir di lingkungan desa yang asri, dimana semua orang adalah keluarga. Saling menyapa, bertegur kata dengan senyum diwajah. Dan hal yang benar-benar harus disyukuri ialah aku terlahir di keluarga yang sangat bersahaja. Ibu yang luar biasa, ayah yang bersahabat dan bertanggung jawab akan keluarganya.
Ayahku Seorang Kepala Kampung dan ibuku seorang guru TPA biasa. Berpenghasilan pas-pasan dan itupun harus ditambah dengan bercocok tanam di sepetak ladang. Tapi kami bahagia! Sangat bahagia. Masih teringat jelas bagaimana aku dulu bermain di ladang bersama ayah (Ibu sedang mengajar diwaktu itu).
Bermain menciptakan rumah-rumahan dengan menggunakan apa saja yang ada disana. Memotong batang pohon singkong untuk tiangnya, memakai atap rumbia bilik tempat biasa aku dan ayah berteduh, mengikatnya dengan serat kelapa dan yang lainnya. Dan setelah mengacak-acak banyak hal diladang dan mengotori nyaris semua pakaianku, dengan “angkuhnya” ku tarik tangan ayah yang sedang asyik menyiangi rumput liar disela-sela alur ladang . Menunjukkan maha karyaku. Membuatku tersenyum kecil membayangkan bagaimana hidungku kembang kempis kegirangan akan pujian ayah diwaktu itu
“bagus sekali bang!! suatu saat kau akan jadi arsitek ternama. Membangun dan punya gedung besar bertingkat-tingkat tentunya. Jangan lupa nanti kau buatkan satu untuk Ayah dan Ibu ya” puji ayah diiringi senyum bangga dan sesudahnya mengelus-ngelus rambutku dengan ringannya. Amboi, serasa terbang aku diwaktu itu.
“Kita kemana Pak??” satu pertanyaan dari sopirku memecah lamunanku.
“Ke rumah saja dulu, jemput istri dan anakku. Setelah itu kita langsung bersiap ke bandara. Kita pulang!”. Perintahku sambil mengusap mukaku. Duhai, kaku sekali pikiranku. Mukaku terlihat kusut. Entahlah, stress karena mega proyek sekalipun tak pernah melebihi stress ku kali ini. PULANG! Cuma itu yang bisa menenangkanku sekarang.
.....................................................................................................
“Sayang, Ibu kenapa?”. Tanya istri tercintaku. Tangannya sibuk melipat-lipat baju dan memasukkan barang-barang lainnya.
“aku sendiri tak sanggup memikirkan kemungkinannya sayang. Begitu mendapatkan sms dari ayah saja aku sudah nyaris jantungan, bagaimana pula aku sanggup menanyakan apa sakitnya ibu kepada ayah?”. Suara ku tercekat serak, nyaris menyerupai orang yang menahan tangis. Ah sesak sekali dada ini, sungguh sesak sekali.
Istriku mengelus punggungku. Mencoba memberikan sedikit kekuatan dan menenangkan. Tuhan, sungguh nyaris tumpah air mataku kali ini. Berikan aku kesempatan untuk bertemu ibuku ya Tuhan, sungguh berilah aku kesempatan itu.
“PAPAAAAAA... Ryo pulang..” Lantang suara anakku menggema dari depan. Beberapa detik kemudian terdengar derap langkah berlari menghambur kearah kamarku.
“Kita ke tempat nenek ya Pah? Mang nenek kenapa?Oh ya tadi disekolahnya rameeeeee, Ibu gurunya baik. Tapi masih kalah jago bercerita dibanding nenek”. Celoteh anakku sambil sibuk berganti pakaian dengan pakaian yang telah disiapkan istriku untuknya.
“Gak kenapa-kenapa kok adek. Nenek sedang sakit aja, jadi kita jenguk nenek. Biar cepat sembuh neneknya” sahutku sambil melempar senyum. Senyum hambar sebenarnya, tapi setidaknya aku tak ingin menampakkan kekhawatiranku yang begitu besar kepada anakku yang masih sangat belia.
“Asiiikkk, ketemu nenek!! ketemu kakek!! main diladang lagi.. oh yah, ryo bawa gambar nenek dan kakek yah? Tadi ryo bikin di sekolah, pasti nenek nanti cepet sembuh kalo liat gambar ryo”. Sahut riang anakku.
“Iya bawa gih. Jangan ada yang ketinggalan ya dek.” ku rapihkan koperku, menyeretnya keluar dan menyerahkannya kepada sopir. Mengambil HP, Dompet, melupakan laptop kesayanganku (bah, bagaimana aku bisa mengerjakan tugas sedangkan ibuku sedang sakit keras??). Berkata dengan intonasi buru-buru kepada istri dan anakku.
“Ayo kita berangkat. Sudah tak ada yang ketinggalan kan?”
.....................................................................................................
Yang paling melekat erat di ingatanku ialah senyuman Ibu. Bagaimana senyuman itu selalu bisa menenangkan disaat aku tersuruk-suruk ketakutan sebelum tidur (gara-gara mendengarkan cerita hantu dari teman-temanku), bagaimana senyuman itu selalu teriring bahkan disaat aku bandel pulang dengan lumpur dinyaris seluruh bagian tubuhku, bagaimana senyuman itu selalu menyambutku kepulanganku. Senyuman itu.. Yah itulah yang benar-benar tak bisa kulupakan (tentunya dengan beragam hal lainnya yang tak mampu kusebutkan satu persatu)
Ibulah yang mengajariku untuk berani bermimpi. Mengajarkan arti pengorbanan sesungguhnya untukku. Dulu ibu ringan tangan saja menggadaikan perhiasan, harta lainnya bahkan cincin kawinnya pemberian ayah untuk membiayaiku.
Masih teringat jelas bagaimana aku menangis menginginkan seragam baru karena punyaku sudah terlihat kusam dan lusuh (iri hatiku waktu melihat anak-anak lainnya memiliki seragam mengkilap, serta hal-hal baru lainnya), mendekap erat membisikkan pinta untuk memiliki seragam sambil terisak di punggung ibuku yang langsung dibalas oleh ucapan “tunggulah permataku, besok ibu akan membelikan yang baru”.
Dan keesokannya benar saja satu stel seragam, bahkan sepatu dan tas yang baru sudah ada menyambutku sepulang sekolah. Membuatku melompat kegirangan dirumah. Berkali-kali mengucapkan terimakasih kepada ibu. Menunjukkan dengan bangga kepada ayah “Ayah, lihat.. bagus bukan??”.
Kegirangan yang bahkan membuatku tak bisa tidur malamnya. Tak sabar menunjukkannya kepada teman-temanku disekolah. Kurapatkan selimut mencoba memejamkan mata. Ah pagi kenapa lama sekali tiba ya tanyaku dimalam itu.
“Tak apa kau gadaikan kalungmu Bu??”. Sayup-sayup kudengar suara ayah dari bilik kamarnya.
“Tak apalah Yah. Tak tega hatiku mendengar rengekan Anakku itu. Lagian memang sudah waktunya dia memiliki seragam baru. Tak usah dipikirkan kalung itu, kalau sudah ada rejeki lebih nanti kita bisa beli lagi”. Lembut suara ibu menanggapi pertanyaan ayahku.
Saat itu, dimalam itu, yang kurasakan pipiku hangat. Ya aku menangis! Mataku basah. Malu kali diriku. Bodoh! Kegirangan setengah mati sampai-sampai tak kulihat lagi di leher Ibuku sudah tak ada lagi kalung itu. Tas itu, seragam itu, sepatu itu harus aku tebus oleh kalung yang selalu dipakai ibu? Kugigit bibirku, menahan tangis yang kurasakan semakin tak terbendungkan (tak mau aku tangisku terdengar ibu). Tuhan... Sungguh aku sayang Ibuku..
Keesokannya, sesudah mandi, aku dipakaikan seragam yang baru itu, entahlah girang itu seakan lenyap begitu saja. Diriku diam. Hening tak banyak celoteh seperti biasa. Sarapan dengan cepat. Dan sebelum berangkat ibuku menyandangkan tas baruku, memasangkan sepatu mengkilapku, merapihkan rambut dan menyelipkan sedikit uang ke sakuku. Tersenyum dan mencium kedua pipiku seperti biasa sebelum melepas kepergianku ke sekolah.
Ku putar badan melangkahkan kaki. Bergerak beberapa langkah kemudian berhenti. Mengepalkan kedua tangan terdiam sebentar kemudian berkata setengah berteriak....
“BU.. ABANG JANJI SUATU HARI NANTI AKAN ABANG GANTI KALUNGNYA IBU! YANG LEBIH MEWAH! YANG LEBIH MENGKILAP! YANG LEBIH......”
kata-kataku menggantung tak terteruskan, tangisku sudah tak mampu kubendung lagi (bodo mau dikatakan anak cengeng juga oleh teman-temanku nanti disekolah).
Kuayunkan kakiku secepatnya berlari meninggalkan pekarangan rumah (secepatnya pergi, tak mau aku ibu tau kalau aku menangis). Keberangkatan ku dipagi itu diiringi sahutan suara serak ibu “hati-hati abang jangan lari-lari....” (entahlah, kupikir ibu juga menangis diwaktu itu)
Yah ibu rela mengorbankan semua hal untukku. Ringan saja. Tak pernah senyum itu hilang walau aku tau saat aku naik jenjang ke SMA kembali beliau menggadaikan anting-anting dan gelangnya (dan akhirnya cincin kawin serta sertifikat rumah pun digadaikan saat aku naik jenjang kuliah). Tak henti pula rela bekerja membantu ayah. Demi apa? Demi memberikan hal-hal terbaik yang dirasa penting untuk kupunya.
Dan lihatlah aku sekarang? Menjadi seperti ini karena usaha ibu dan ayahku. Dan bahkan walau aku sudah menjadi seperti ini mereka tetap tak mau merepotkan aku, menolak halus pemberian-pemberianku, tak mau menempati rumah yang kubangun mewah untuk mereka, tak menyentuh kendaraan yang kubelikan diwaktu itu, bahkan tabungan yang kuberikan oleh mereka tak disentuh. Mereka merasa sudah cukup itu saja alasannya. Hidup dari hasil ladang, gaji kecil perangkat desa ditambah gaji guru TPA sudah cukup bagi mereka. Ah kadang aku bingung memaksanya (kadang pemberianku kutinggalkan begitu saja, perkara mau digunakan atau disimpan digudang pun terserah saja).
“Pah mah.. Udah mau turun kapal terbangnya. Ayo cepetan! Ryo dah kangen ma nenek, kakek juga..” tarik anakku sekaligus membuyarkan lamunan.
Kuusap sudut mataku yang basah. Melempar senyum dan berkata “Iya dek, ayo.. kita ketempat nenek dan kakek”
.....................................................................................................
Sampai di Bandara Fatmawati Bengkulu, kami masih harus menempuh 2 jam perjalanan darat untuk menuju desa kami. Desa Talang Panjang. Desa kecil kelahiranku. Yah mau bagaimana lagi, memang seperti itulah ibu dan ayahku. Tak mau menempati rumah ditengah kota yang relatif dekat dari semuanya, lebih asyik memilih menghabiskan masa tua di Desa saja.
Ku buka pintu mobil yang baru saja berhenti di depan rumah panggung nan asri, rumahku! Tempatku menghabiskan masa kanak-kanakku. Di halaman sudah ramai oleh tetangga dan banyak sanak saudara. Aku pun turun diiringi istriku (ryo sendiri sudah menghambur girang menaiki tangga rumah sambil berteriak memanggil kakek neneknya, mana peduli dia dengan yang lainnya).
Ku coba menghela nafas menguatkan hati. Menggenggam tangan istriku dan pelan menaiki tangga rumah setelah bersalaman dengan sanak saudara lainnya. Mencium takzim tangan ayah didepan pintu rumah sambil pelan bertanya “Yah,bagaimana keadaan ibu?”.
Kulihat mata dari sosok tangguh itu redup, jelas terlihat rona sedih menggantung disana, di pelupuk mata ayahku yang terlihat sedih (aku yakin ayah habis menangis). “Kau temuilah Ibumu dikamar, ingin sekali dia bertemu denganmu. Berbincang-bincanglah dengan ibumu..” serak sekali suara itu. Tampak sekali perpisahan itu sudah didepan mata bagi ayah.
“iya yah, Abang ke kamar Ibu dulu.....” Getar suaraku berkata.
.....................................................................................................
Aku duduk disisi ranjang ibuku yang tergolek lemah namun masih tetap saja tersenyum menyambut anaknya. Ryo dan istriku diujung yang lainnya (ryo yang biasanya selalu aktif pun menjadi diam melihat kondisi Ibu, walau tak tahu sakit apa, tampaknya dia paham bahwa kali ini neneknya sakit yang cukup parah).
“Kangen kali Ibu melihatmu abang.. kemana saja kau? Jarang kali menjenguk Ibu..” kata ibu memecah keheningan yang ada.
“Ada bu, lagi ada beberapa proyek besar abangnya. Jadi belum bisa datang kesini..” lemah aku jawab kata-kata ibu. Sambil tertunduk muka pula. Tak tega hatiku melihat ibu yang tercinta tergolek tak berdaya.
“Tambah sukses saja anak Ibu. Tapi.. Jangan kau lupakan anak istrimu. Jangan mentang-mentang kau sibuk kau telantarkan mereka itu. Berapa kali kau sempat bermain bersama ryo dalam seminggu? Berapa kali kau sempat bercengkrama bersama istrimu? Jangan sampai hanya soal harta kau telantarkan keluargamu...”. Lirih, suara itu terdengar lemah tak bertenaga.
Ku anggukkan kepalaku mengiyakan kata ibu. Istriku diujung sana sudah mengusap sudut matanya. Terharu. Dan ya aku sadar. Kesibukan ini sudah seringkali membuatku seakan lupa akan keluargaku.
“Abang, Ibu cuma ingin berpesan sedikit untukmu.. Kau kerja untuk siapa? Untuk kebahagiaan keluarga bukan? Tapi ingat harta mu itu tidak bsa memberikan kebahagiaan untuk keluargamu... Kau bisa membelikan rumah.. kau bisa membelikan mobil.. tapi kau tak bisa membeli cinta dan kepercyaan keluarga.. untuk apa kau menumpuk harta kalau akhirnya anakmu malah menjadi terasing darimu. Istrimu menjadi dingin karena kesibukanmu... Untuk apa rumah megah kalau kau tak pernah mengisinya? Untuk apa mobil mewah besar nan megah kalau isinya hanya kau tanpa ada ryo atau istrimu yang tercinta? Semuanya dingin kesepian... Jadi tolong ingat pesanku ya nak..ingat pesanku..” tersengal, ucapan ini seakan dikeluarkan dengan sepenuh tenaga yang tersisa.
Kugenggam tangan ibuku. Kuusap wajah beliau yang masih saja tersenyum untukku. Ah bahkan disaat ini pun beliau tak mau menunjukkan kepayahan kepada anaknya walau mata itu sudah terlihat meredup kehilangan cahaya.
“Ah anak Ibu sudah besar..sungguh sudah besar..terima kasih ya sayang ibu..Terima kasih Tuhan sudah memberikan kehidupan yang sangat menyenangkan... Sungguh hambamu ini berterima kasih kepada-Mu...” suara itu putus putus. Tersengal lirih, berbisik dan akhirnya terhenti...
Lihatlah... Mata ibu sudah tertutup. Seulas senyum bahagia terukir indah di wajahnya. Denyut nadinya sudah tak kurasakan lagi. Mataku sudah bercucuran airmata dari tadi. Tampaknya Ibu benar-benar menahan semuanya hanya untuk bertemu dengan anaknya. Berpesan sedikit dan bercerita untuk anaknya yang dulu bandel sekali ini.
Kukecup kening ibu yang kucintai, pelan membisikkan isak kata
“terimakasih ibu... sesungguhnya abanglah yang harus berterimakasih kepada Ibu...”
.....................................................................................................
Acara pemakaman pun dilaksanakan ditengah mega mendung. Para pengantar sudah beranjak pergi. Tinggallah aku, Ryo, istriku, serta ayah disini. Memandang gundukan tanah merah dengan penuh arti. Baru kali ini kusadari sepenuhnya walau hidup itu nyatanya sampai bertahun-tahun (atau malah berpuluh tahun) ternyata terasa singkat sekali. Perasaan baru kemarin sore aku mengucapkan Janji kalung itu kepada Ibu, dan sekarang Ibu sudah pergi meninggalkan ayah, aku, istriku serta cucu kesayangannya.
Ayah yang berjongkok didepan makam ibu berkata pelan.
“Ibu mu meninggalkan bungkusan kecil untukmu dilemarinya. Jangan sampai tak kau bawa. Itu hal terakhir yang beliau beri untukmu”
Ku sentuh pundak ayah. Tertunduk takzim pelan berkata “iya Yah.. ayo kita pulang ke rumah”.
.....................................................................................................
Kupandangi bungkusan titipan ibu yang ditaruh di tas plastik itu. Baru sekarang di dalam pesawat berani kusentuh, tak sampai hati aku menyentuhnya saat aku dirumah bersama ayah (ayah menolak ikut denganku, seperti ibu, ayah memilih untuk tetap tinggal didesa). Entah dengan alasan apa tak sanggup aku membukanya.
“Gak dibuka saja yah??” Pelan istriku berkata (takut membangunkan ryo yang terlelap karena kelelahan).
Akupun tersenyum. Hambar. Sesak itu kembali menjalar didada. Tangan-tangan ini pun terasa kaku. Kupaksa syaraf-syaraf tangan bergerak membuka lembaran dua bungkusan sederhana berbalut koran itu, membukanya.. Melihatnya.. dan tak tertahankan lagi tangis inipun tumpah menggenang begitu saja..
Lihatlah..
Lihat isi bungkusan ini.. .
Satu stel seragam baru... Tas punggung lengkap dengan peralatan didalamnya.. Bungkusan yang satu lagi berisi sepasang sepatu baru untuk anakku..
Tuhan..... bahkan diujung hidupnya Ibu masih saja menyisihkan hartanya untuk menyenangkan hati cucunya.
Teringat saat terakhir percakapan via telepon itu dilakukan. Bagaimana Ryo berceloteh riang berkata bahwa dia akan sekolah minggu depan kepada neneknya (dan semakin kegirangan setelah mendengar neneknya menjanjikan hadiah untuknya, hadiah untuknya yang sudah mulai bersekolah). Rupanya ini hadiah terakhir dari ibu.....
Deras air mataku tercurah tak tertahankan lagi.
Kelabatan kenangan lama itu kembali tercetak jelas di memori ini.
Membuatku pelan bergumam sambil terisak tak tertahankan...
“Selamat jalan Ibu.. terimakasih untuk semuanya.. Sungguh abang sayang Ibu.. selalu....”
read more..
Posted by median | Posted in curhat
Saat itu sedang jam istirahat. Hari panas terik. Sya memilih duduk di tribun GOR (rada adem disana) sambil menikmati semangkuk bakso. Nyantai saja sambil melihat-lihat kegiatan di lapangan lintasan. Dilapangan ada yang sedang berlatih lompat jauh. Ada yang sedang lari. Ada yang sedang latihan lempar cakram dan lainnya. Hal rutin biasa (lah wong namanya jg lapangan GOR wajar kan atlet pada latian). Lama kemudian sya baru sadar akan satu peristiwa. Diujung situ, lah kok ada atlet lempar cakram tapi tepat didepannya ada orang lain yang bertepuk tangan keras-keras, apa gk takut kena lempar? (walau jaraknya lumayan jauh).
Penasaran membuat sya bertanya kepada atlet lain yang kebetulan duduk didekat sya. Hasilnya? Ternyata sya baru tau kalau atlet itu buta dan yang didepannya adalah pelatihnya. Memberikan instruksi ke arah mana sang atlet hrus melempar cakramnya dengan cara bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Ya sya baru sadar hal itu, walau sya sering kali melihat ada yang latihan di lapangan tapi sering kali yang sya lakukan ya hanya sekedar melihat dan sekedar lewat. Mana sya tau kalau yang berlatih dengan giat itu atlet yang cacat.
Dan sore itu menjadi sangat bermakna bagi sya. Alih-alih menikmati bakso sya lebih tertarik memperhatikan lagi secara seksama. Mendapati fakta bahwa atlet lompat jauh diujung sana menerima instruksi dengan bahasa isyarat. Atlet yang sedang pemanasan diujung lainnya tak punya tangan. Bahkan ada atlet buta yang lari berdampingan dengan pelatihnya. Beragam hal lainnya yang membuat sya takjub akannya. Benar kata orang-orang tua, sekali waktu coba pandangilah sekelilingmu dengan seksama. Lihat, cermati, resapi hal-hal yang sering kali luput tak tersadari. Ada berjuta makna yang sering kali kita abaikan begitu saja kawan.
Sya bru tau akan diadakan PORCADA (pekan olahraga orang cacat daerah) Jabar. Maka tak heran pula bahwa atlet-atlet tersebut semakin sering latihan. Yang bikin sya geleng-geleng kepala ialah, atlet-atlet tersebut tetap latian dengan giat. Bahkan dua kali porsi dari biasanya di tengah hari terik begini.
Pelatih taekwondo yg deket sama sya aja bilang “gila yah, gk capek apa?tengah terik gini lari terus. Dua kali porsi latian biasa pula”.
Saat pulang kerja sya menjadi kefikiran banyak hal. Merenung (halah, lagaknya sudah kayak pemikir kelas berat saja, hehe) bagaimana sya sering mengeluh dalam melakukan sesuatu atau sesudah mencapai sesuatu merasa cukup, bangga dan kadang suka berbesar hati akannya. Tapi apabila sya lihat perjuangan para atlet ini entahlah keluhan sya terasa kerdil sekali. Didalam keterbatasan mereka tetap berusaha (tak ada keluhan atau tingkah yang menunjukkan kepayahan saat latihan), sedangkan sya yang dilimpahi keleluasaan malah seringkali mengeluh inilah itulah (lagaknya sudah kayak yang paling kesusahan saja).
Rasa cukup, bangga dan berbesar hati itu terasa sangat kerdil setelah melihat mereka. Apa yang sya banggakan? Sedangkan sya mencapainya dengan banyak kemudahan. Kalau sya seperti mereka kira-kira apakah sya sanggup untuk mencapainya? Membayangkannya saja jerih hati sya. Bagaimana sya membayangkan sya kehilangan kedua tangan sya atau penglihatan sya tetapi bisa tetap berjuang seperti mereka, tak sanggup sya membayangkannya. Sungguh.. lihatlah mereka, tetap berupaya maksimal bahkan dua kali lipat dari biasanya untuk mencapai segalanya. Lah sya? Walah, mau apa-apa aja suka malas. Tidur saja dibanyakin. Latihan suka berleha-leha. Belom termasuk yang lainnya. PEMALAS sekali.
Selain itu sya belajar banyak dari satu sosok lainnya, sosok sang pelatih alias guru bagi para atlet ini. Sya cari tanya-tanya dan sya ketahui kalau dia adalah seorang atlet nasional yang memilih mendedikasikan dirinya untuk melatih atlet-atlet cacat. Lagi-lagi yang membuat sya super takjub ialah melatih atlet biasa saja sudah susah bukan maen capeknya. Blom hal lain yang sering kali suka membuat naik darah (entah karena atletnya bandel, alat yg terbatas, dan lainnya). Lah ini? Malah mendedikasikan dirinya untuk melatih atlet seperti ini. Ni orang punya stok kesabaran segimana?
Sya tersenyum saat menyadari bahwa seorang pelatih itu menjadi super spesial saat dia rela berkorban lebih untuk murid-muridnya. Bagaimana seorang pelatih itu harus bisa memiliki kesabaran super extra hanya untuk membuat muridnya mengerti dan paham maksud dari instruksinya, harus mau bersusah payah belajar bahasa isyarat pula, bahkan ikut terjun langsung lari bersama saat prakteknya.
Kira-kira seperti itulah seharusnya guru. Tak segan berkorban. Tak malu harus slalu mengupdate atau menambah kapasitas dirinya demi kemajuan muridnya. Serta tak kenal lelah untuk ikut dalam kegiatannya. Demi apa? Ya demi keberhasilan muridnya, demi senyum senang muridnya saat berhasil nantinya. Ya itulah sosok guru bukan? Bukan sosok yang malah segan untuk berkorban, bukan pula sosok yang merasa sudah cukup dengan ilmunya dan slalu mrasa sudah paling benar, atau malah sosok yang cuma bsa menyuruh sedangkan sendirinya sendiri tak mau turun bahkan hanya untuk sekedar mencontohkan saja.
Hari itu sya tutup dengan satu kesimpulan dari satu pertanyaan sebelum tidur menjelang“kira-kira sanggupkah sya menjadi seperti mereka?”. Menjadi orang yang tak cengeng akan keterbatasan. Menjadi orang yang rela berkorban demi kemajuan sesama yang membutuhkan bantuan. Sanggupkah sya??????
p.s: bagaimana dengan anda? Sanggupkah?
read more..
Sya tercenung. Otak sya berputar dengan beragam hal, memikirkan beragam contoh, mengingat dan teringat dengan banyak kejadian. Mereka-reka dan akhirnya menyadari satu dua hal. Apa?yah untuk permulaan saya akan share satu dua kejadian yang sya alami. Setelah itu sya rasa kaupun dapat mencari contoh sendiri di sekitarmu duhai kawan.
Saat itu sore hari. Kebetulan saya sekedar main saja, melihat-lihat kira-kira ada kejadian apa dikampus sya hari ini. Rupanya di salah satu pojok PKM (pusat kegiatan mahasiswa) sedang ada acara bertema nasib buruh dan petani. Maka sya pun “menyusupkan” diri disana. Tertarik juga ingin dengar apa yang diceritakannya (yah sya memang seperti itu kawan, suka “masuk” kedalam kegiatan orang,).
Yang sya dengar dari awal sampai akhir cuma protes dan keprihatinan. Protes akan pemerintah yang tidak mensejahterakan buruh dan petani. Keprihatinan akan nasib mereka yang tak kunjung membaik dari masa ke masa. Yah itu saja, protes, sumpah serapah akan kapitalisme, dan ujung-ujungnya menyerukan pemerintah untuk lebih memperhatikan buruh dan petani.
Sejujurnya saya nyaris tertawa mendengarnya (tentunya saya tahan daripada digebukin orang-orang,hehe). Kenapa? Karena banyak hal yang janggal bagi saya. Janggal yang bagaimana? (Oi, baca dlu cerita ini sampai akhirnya nanti juga akan tahu sendiri bagian yang janggal kawan).
Atau satu kejadian sederhana lainnya. Waktu itu sya lagi jalan-jalan autis. Nongkrong di foodcourt. Nulis-nulis. Cuci mata. Dan lainnya. Di sebelah sya ada empat orang, stelan kantoran, laptop diatas meja, konci mobil tergeletak, pesen juga yang mewah-mewah. gak kayak sya yang nongkrong paling mesen kentang goreng atau jus saja, hemat (bahasa halus dari kere tentunya,hehe).
Mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan, pasangan, joke ini itu, smpai tibalah ke bagian yang seru. “ah jalanan semakin macet sekarang, ni mobil-mobil dah kebanyakan. Sumpek. Pemerintah bego kali y, gk bisa control apa-apa, seharusnya gini.. dan bla bla bla”. Jujur lagi, rasanya waktu itu mau sya timpuk juga rasanya tuh orang. Karena lagi lagi sya merasa janggal dengan apa yang dikatakan.
Dua contoh itu kalau kita lihat dengan jeli sebenarnya sudah memperlihatkan sesuatu hal. Apanya? Bahwa kebanyakan kita hanya bsa menjadi generasi manja, generasi peminta, generasi yang hanya mau memprotes dan menyalahkan saja tanpa mau turun serta mengambil peran untuk perubahan yang mereka harapkan.
Mahasiswa tadi? Apanya yang janggal? Kenapa buruh, petani atau masyarakat kecil lainnya tetap sengsara? selain pemerintah sebenarnya mahasiswa juga berperan serta menurut sya. Loh? Kok bisa? Bgini saja, mahasiswa saat jadi mahasiswa kebanyakan idealis, blg ganyang ini, dobrak sana, protes itu, tapi saat lulus dan jadi orang besar bagaimana? Sedikit sekali yang mau ingat idealisme mereka dulu untuk menolong orang-orang yang nun jauh di daerah sana, buruh petani atau yang lainnya. Kebanyakan malah menjadi seperti pemerintah yang mereka protes dulu sewaktu muda, diam saja, acuh tak acuh. Tak mau turun lagi kelapangan. Kebanyakan begitu bukan?
Kedua, kenapa sya bilang janggal. Apakah dengan diskusi yang ujungnya Cuma menyalahkan pemerintah, protes ini itu, meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan masyarakat kecil itu akan mampu merubah keadaan? Apakah otak kita mahasiswa tidak bsa diarahkan untuk mencari solusi ala mahasiswa dari pada menyalahkan saja? Setelah solusi itu sudah ada, maka pelan-pelan diwujudkan dilapangan. Yah pelan-pelan sesuai dengan kemampuan dan financial mahasiswa. Bukankah itu jauh lebih baik daripada menyalahkan? (dan saat sya tanyakan di sesi tanya jawab diskusi tadi malah tak bisa dijawab dengan baik, dan malah kembali menyalahkan pemerintah)
Trus untuk kejadian kedua, kenapa saat itu sya mau timpuk orang-orang itu? Perhatikan deh kata-katanya “kemacetan dan mobil semakin banyak…..”. dan jujur saja, dari empat orang yang ada, sya perhatikan seksama, semuanya bawa mobil! Empat orang pake empat mobil dan ngmg gitu? Mau sya timpuk juga deh.
Kenapa? Lagi-lagi yang sya bilang, mereka mau menyalahkan (meminta pemerintah untuk bias memecahkan masalah macet dan hal lainnya) tapi berkorban sedikit saja atau ikut andil untuk apa yang mereka inginkan saja tak mau. Mbok ya pake mobilnya satu aja dari pada empat sekaligus kan bisa? Bilang mobil kebanyakan bikin jalanan macet tpi sendirinya sndiri tak mau memulai gerakan untuk mengurangi kemacetan. Ya wajar toh jalanan macet (blon lagi menghitung orang-orang lain yang juga berperilaku seperti itu).
Jadi apa yang ingin sya sampaikan sekarang? Simple saja, janganlah hanya meminta dan menyalahkan padahal kita sendiri patut untuk dipinta dan disalahkan. Banyak hal, hampir di sekililing kita. Saat banjir, kita sering ngedumel banjir lagi banjir lagi, pemerintah kerja paan sih? Tapi sendirinya buang sampah sembarangan semaunya dan menjadikan dirinya sendiri salah satu penyebab banjir yang dia omelin sendiri (piye toh?). Masih banyak kejadian lainnya coba deh kita perhatikan dengan seksama.
Saat siang bolong dan hawa bener-bener berasa panas, yang sya dengar sering kali. PANAS BENER! Dan beberapa hal lainnya (entah umpatan, keluhan dan lainnya). Coba deh ambil bagian untuk action dan mencoba mengurangi efek panas tadi, nanam pohon kek, kurangi penggunaan kendaraan bermotor, atau apalah. Lebih efektif dan jelas gunanya bukan daripada ngedumel aja?
Tolong juga perhatikan benar apa yang namanya hak dan kewajiban. Apakah saat kita meminta hak kita sebagai warga negara kita sudah melakukan kewajiban kita sebagai warga Negara yang baik misalnya? Janganlah dulu berpendek akal untuk hanya meminta dan menyalahkan padahal sendirinya tidak mau berpartisipasi (dan kalau ditanya kenapa gak ikut berpartisipasi malah jawab “yah khilaf” atau paling parahnya malah bilang “suka-suka gue dong”). Kalau memang kewajiban sudah dilaksanakan trus meminta hak yah sya mah setuju saja, tapi kalau belum atau tidak maksimal bagaimana?
Sya disini bukanlah berpendapat untuk membela pemerintah, bukan. Bukan juga mau sok-sokan mengajari. Sya murni berpendapat karena saya percya bahwa kita juga harus berubah, bukan hanya meminta perubahan dari pemerintah atau hanya sibuk misuh-misuh menyalahkan keadaan yang ada. Bahwa kita generasi muda bukan hanya generasi manja yang bsa meminta dan menyalahkan saja, kita juga sangat mampu untuk menjadi motor dan mengambil bagian daripada hanya sibuk berprotes ria. Apa yang menurut kita kurang dan bisa kita ubah ya ubahlah (daripada hanya menunggu atau protes akan sesuatu yang lama baru terlaksana, atau malah mungkin tak terlaksana).
Ingat loh, saat kita menunjuk ke sesuatu, satu jari memang menunjuk kesana, tapi ada jari lainnya yang menunjuk ke arah kita (walau tertekuk posisinya). Artinya apa? Bahwa kita juga memiliki andil dalam beragam hal, termasuk kedalam hal yang sering (atau malah selalu) kita salahkan.
Coba deh sama-sama kita renungkan, mulai sama-sama mengubah diri, menjadi generasi yang benar-benar mandiri dan kreatif. Sya yakin bahwa tiap individu bisa mengambil bagian dalam hal apapun, memulai pergerakan kecil untuk perubahan besar sesuai dengan apa yang diimpikan. Marilah bergerak kawan, berhentilah hanya mengoceh, meminta atau menyalahkan. Mari bergerak untuk apa yang kita impikan :) dan semoga saat kita mendapat giliran untuk menjadi pemimpin di pemerintahan nantinya benar-benar bisa menciptakan perubahan. Karena kita bukanlah generasi manja, benar begitu kawan?
read more..
Dan senja itu akhirnya membuat perkenalan ini ada, nama beliau rohmat. Sederhana saja. Mengaku sudah tak punya kampung halaman, hidup sebatang kara di tengah kota yang makin lama terasa makin ganas menghimpit penghuninya.
“bagaimana pula bapak punya kampung halaman lagi nak? Apa yang ada? Semuanya sudah tidak ada. Istriku tercinta sudah lama meninggal. Anak-anak merantau tak pernah pulang. Tak ada kabar berita. Satu pun sampai sekarang. Maka bapak putuskan untuk mencoba mencari mereka disini, hasilnya? Nihil. Bapak berjualan untuk menopang hidup bapak sampai sekarang. Ahh, kalau diingat-ingat sudah lebih dari 10 tahun bapak disini”. Itulah intro awal percakapan kami di senja itu.
Yah, sesederhana itu alasan beliau untuk berada disini. Sendiri di kota sebesar ini hanya untuk mencari. Untuk memperjuangkan apa yang dia percaya dan dia yakini. Walau aku tau, kemungkinannya nyaris mendekati mustahil untuk menemui anaknya. Lah bagaimana bisa? Menemukan tiga anak-anaknya yang merantau kekota? Dengan cuma bermodal nama, foto pun tak ada. Tapi beliau tetap percaya dan berusaha.
Kok bisa yah? Memperjuangkan sesuatu yang sebenarnya beliau sendiri tau hampir mustahil untuk digapai.
“nak, bukan masalah apakah itu mustahil atau bukan. Yang penting berusaha. Hati bapak bilang cari, jadi daripada bapak “gila” berdiam diri saja. Maka lebih baik bapak mencari disini. Matipun tak apa. Setidaknya bapak mati karena mencari, bukan karena berdiam diri saja”.
Oi, belum pernah diriku menemukan orang yang seperti ini. Berani membela apa yang dia yakini. cuma dengan modal kepercayaan saja maka beliau tak peduli dengan susahnya, beliau berusaha. Tak peduli resikonya. Dan saat itu juga kutaruh respekku pada level tertinggi untuk beliau. Ah, memang benar belajar itu bisa dimana saja dan dari siapa saja. Asal ada kesempatan maka raihlah.
Maka sekali dalam seminggu aku menyengajakan diri untuk menemui beliau. Duduk santai bersama beliau. Terkekeh-kekeh bercerita (tentunya sesudah itu beliau batuk hebat sampai terlihat tersengal nafasnya). Berbagi cerita apa saja. Menghabiskan waktu sampai beliau terlihat lelah (dan akupun pamit, tak enak pula mengganggu beliau yang lelah).
Suatu hari, batuk itu semakin hebat. Kuputuskan membawa beliau ke dokter. Tapi apa yang dia katakan?
“sudahlah nak, bapak tak mau merepotkan. Lagian bapak tau batuk ini terutama datang karena rokok ini yang nyaris tak henti bapak hisap”. Sembari tersenyum beliau mengusap punggungku.
Aku protes. Beliau menggeleng. Ah, apa perlu aku pukul beliau dan menggendongnya ke dokter? (yang tentunya aku tak berani melakukannya). Sekeras apapun aku protes beliau tak mau. Bahkan obat-obat yang aku bawa pun dia tak mau menyentuhnya (apalagi meminumnya).
Maka aku mencoba mengalihkan permintaan menjadi “pak, apa bisa bapak berhenti menghisap rokok? Atau setidaknya menguranginya”. Tak tega aku melihat beliau yang saban kali merokok, saat itu juga batuk yang kadang kala membuat aku khawatir saking terlihat parahnya.
Dan lagi-lagi aku mendapat jawaban yang membuatku tertohok dengan kerasnya. Sepele, tapi nyaris membuatku menangis mendengarnya.
“nak kau tahu latar belakang bapak, kehidupan bapak? Nyaris tak ada kemewahan selain senyuman anak-anakku yang telah lama hilang, atau belaian sayang istri tercinta yang telah lama meninggal. Bagi kamu mungkin inilah yang membuat bapak sengsara, batuk tak henti dengan parahnya. Tapi itu bagi kamu. Tak pandang usia tua, muda, kaya, miskin, Semuanya kebanyakan merokok bukan? rokok adalah satu “kemewahan” yang bisa bapak capai. Bapak tak dapat menikmati kemewahan lain, bapak tak punya rumah, tak punya harta. Bukan, bukan bapak menyesalinya. Tapi biarkan bapak menikmati hal ini, rokok ini, kemewahan ini. Selagi bisa”
Dam aku terdiam, nyaris meleleh tangisku. Bagai makan buah simalakama. Yah aku tau bahwa inilah yang membuat beliau susah. Sakit demikian rupa. Tapi beliau yang tau itu bersedia mengambil itu dengan alasannya. Jadi apa alasanku lagi untuk memaksanya berhenti? Saat itu aku sadar, untuk tak pernah memandang lagi hanya dari satu sisiku sendiri. Jangan pernah memandang sesuatu hanya dari benar dan salah. Karena pengalaman hidup itu berbeda-beda, jalan itu tak semuanya mulus dalam setiap kehidupan individu. Bolehlah aku mengingatkan, tapi meminta berhenti? Apa pula hakku?
Dan kembali aku merasa penuh oleh pelajaran, bertemu beliau yang hidup dengan falsafah sederhana membuatku merasa bertambah kaya.. bukankah seseorang yang mampu menyederhanakan hidup yang rumit, dan mempraktekkan kesederhanaan itu didalam hidup adalah seorang yang hebat.
Ah, macam-macam yang kupelajari dari beliau. Aku tau bagaimana dia yang dulunya seorang preman besar, ditakuti dan disegani, kekayaan apalagi. tetapi sekarang malah menjadi begini. Satu-satu semuanya menghilang dari kehidupan beliau. Dan lagi-lagi dia hanya berpesan “ingat nak, segala sesuatu sudah ada waktunya. Apa yang sudah ada dan diterima ya terima saja dengan ikhlas. Akui. Jangan jg engkau menghindar dan tak mengakui keberadaanmu, masa lalumu”.
Jadi tak pantas aku mengatakan iba atau kasihan untuk beliau, baik kisahnya maupun hidupnya. Toh beliau sendiri tidak mengasihani atau meratapi apa yang ada di dirinya (walaupun itu susah, sangat susah malah). Aku hanya bisa salut akan sikapnya yang ada sekarang. Dan ini hanyalah secuil, ada seribu satu hal lain yang kupelajari dari beliau. Menyenangkan. Selalu menyenangkan untuk belajar.
Suatu senja aku kembali berniat mendatangi beliau. Hari biasa, tak ada kejadian istimewa. Saat itu langit gerimis kecil (walau langit tidaklah gelap seperti hujan sebagaimana biasanya). Ku datangi tempat biasa, lapak biasa sang bapak berjualan. Yang kutemui hanyalah gerobak jualan dia biasanya. Kosong. Tak ada minuman. Sepi. Sosok beliau tak ada.
Bingung. Hilir mudik aku bertanya kepada orang-orang. Adakah yang melihat bapak rohmat? Kemana dia pergi? Siapa tahu saja ada yang melihat. Dan lagi-lagi nihil. Tak ada yang melihat. Beliau pergi begitu saja, entah apakah ingin mencari anaknya ditempat lain atau apa.
Aku duduk. Menghela nafas. Sibuk berfikir kemana beliau. Kehilangan (walau anehnya aku tak merasa sedih sebagaimana umumnya perpisahan). Karena seperti apa yang dikatakan oleh beliau “percyalah dan lakukan”. Maka aku percaya kepergian beliau pun memang ada waktunya. Seperti perkataan beliau diwaktu itu..
“Segala sesuatu sudah ada waktunya. Jadi ya terima saja..”
Kutatap langit senja. Kusunggingkan senyum tipis akan suatu keganjilan. Aku mengenal beliau di suatu senja dan aku berpisah dengan beliau juga di saat senja. Jadi percayalah! walau jalan yang diatur olehNya sungguh tak terduga oleh kita para makhluknya.
read more..
“kemana saja teman? Kenapa baru datang? Oh ya keren juga mobilmu itu. Tampaknya besok lusa aku mau membeli mobil seperti itu. Hummer bukan? tipe apa?” seorang pria berusia 30an, rapih, dandy, berkata. asik sambil menyeruput minumannya.
“Aduh, pah. Kamu liat gaun nyonya anu? Bagus sekali.. berkilau penuh batu berlian seperti itu. Dimana ya belinya pah? Gak mau tau pokoknya mamah juga harus punya gaun seperti itu. Yang lebih bagus. Yang lebih mahal!! harus”. Rengek manja seorang ibu muda bertampang sinis kepada suaminya. merasa kalah bagus rupa pakaiannya.
“bagaimana saham mu sekarang? Sahamku sedang bagus sekarang, seminggu ini harganya naik terus. Wuah kalau begini bisa-bisa aku beli apartemen baru lagi. Lumayan untuk investasi” lagak seorang bapak-bapak tua kepada relasinya yang hanya bisa bergumam mendengarnya.
“anakku akan aku sekolahkan lagi keluar negeri. Supaya tenang hati ini kalau saatnya tiba untuk mewariskan tahta pemegang korporasi yang kubangun ini. Anakku itu pintar sekali. Tampan dan kekar. Persis sepertiku dulu sewaktu muda..hahaha”. Gelak tawa seorang bos tua yang disusul oleh tawa para bawahannya yang ikut di acara. Berkumpul untuk bercerita (atau malah berkumpul karena takut dan ingin mencari muka).
Yah pesta biasa. Tempat berkumpul. Menceritakan apa yang mereka punya kepada yang lainnya. Kendaraan. Harta. Pakaian. Bahkan keturunan.
Semuanya ada. Semuanya diceritakan. Dengan tingkah polah congkak dan membanggakan. Ini loh yang saya punya? Kamu punya apa? Semuanya saya dapatkan dengan kerja keras! Dengan strategi matang! Dengan teknik-teknik menakjubkan! Sehingga menjadi seperti sekarang. Kaya. Matang. Tinggal duduk tenang menerima uang segudang. Amboi hidup ini terasa menakjubkan bukan?
Oi tak sadarkah mereka bahwa itu semua titipan?
Tak malukah mereka membanggakan pinjaman?
Orang-orang (mengaku) intelek yang menyedihkan. Sibuk menunjukkan “barang” pinjaman. Pemberian sementara. Semuanya. Harta, kendaraan, pakaian, keturunan bahkan dirinya sendiri hanya dipinjamkan.
Jadi apa yang bisa mereka banggakan? TIDAK ADA. Karena semua hnya pinjaman sementara. Jadi bersyukurlah. Menunduk dan berdoa. Niscaya kita akan masuk dalam golongan orang-orang yang diangkat derajatnya. Camkan itu!
read more..
Aku bingung kawan. Bingung dengan tujuan mereka. Apa yang mereka kejar? Yang pergi ke tempat kuliah bisa kita anggap mereka mengejar ijazah. Lulus untuk secepatnya bisa kerja dan mapan nantinya. Tapi.... kenapa mereka malah seringnya menjadi santai belajar dan berleha-leha? Tak peduli nilainya menukik tajam tak tertahankan. Jadi sesungguhnya apa yang mereka kejar oi kawan? Bingung aku dibuatnya..
Untuk yang pergi bekerja apa lagi. Bangun, mandi, berpakaian, makan, kemudian pergi ketempat tujuan. Ringkas dan taktis sekali waktunya (sudah macam serdadu saja mereka). Terpola seperti strategi saja. Bekerja dari pagi sampai sore harinya. Untuk apa? UANG kah? Hoo, engkau mengangguk (tumben engkau merespon, biasanya engkau hanya duduk tersenyum mendengar ocehanku..) berarti benar begitu untuk uang rupanya…
Tapi untuk siapa uang yang mereka dapatkan itu? Uang yang banyak itu. Uang yang mereka dapatkan setelah berusaha keras begitu. Pagi sampai sore. Hari ke hari begitu. Bergerak sudah kayak robot saja. Tidak terfikir lagi yang lainnya, lelah karena menguras tenaga dan pikiran yang ada. Bahkan keluarga saja sudah tak terurus rupanya. Datang dan pulang kerumah sudah merasa terlalu lelah untuk sekedar bercengkrama dengan istri tercinta. Datang dan pulang kerumah eh malah anak-anak tersayang sudah terlelap dalam mimpinya (mana sempat mereka memberi perhatian kepada mereka). Bahkan saat liburan pun malah hanya sibuk dengan beragam file dari kantornya. Ckckck, tak mengerti aku akan mereka.
Duhai jadi sebenarnya apa yang orang-orang ini kejar? Bingung aku.. keinginan mereka (untuk mengejar sesuatu hal) dan untuk siapa keinginan itu tercipta tidaklah sama. Kalau meminjam kata dari manusia berkepala semi botak yang berceramah kemaren (kau ingat waktu aku bercerita hinggap di jendela lantai 4 gedung megah di tengah kota dan mendengar dia bercerita penuh semangat seperti pidato tujuh belasan saja) “keduanya tidaklah menyokong, sinergis dan dinamis”. Bah kena penyakit berkata-kata canggih aku rupanya,haha..
Ah kawan, penat aku disini. Kota yang sebenarnya kecil ini terlalu bising. Terlalu ramai. Belum asap-asapnya. Belum juluran tangan gedung-gedungnya yang menebar suram macam tangan setan saja. Orang-orangnya yang sangat teramat jarang bertegur sapa. Kota ini penuh orang-orang tetapi entahlah bagi ku terasa sepi, dingin, tak berbelas kasihan. Seakan-akan makhluk sekecil kita ini bsa langsung hilang tak berbekas disini.
Dan itu belum lagi hawanya yang tidak beradab. Lontaran umpatan. Makian. Tak henti dari pagi ke malam, malam ke pagi. Trus menerus terjadi tak berbelas kasih. Kemana rasa syukur? Kemana rasa maaf? Kemana rasa kekeluargaan? Kemana semuanya? Tak punya nuranikah mereka??
Mari kawanku mumpung hari ini tidaklah terlalu siang kita beranjak pergi. Mengepakkan sayap terbang ke desa nun jauh di ujung provinsi. Bertemu dengan orang-orang bermuka sederhana nan ramah kembali. Orang-orang yang sederhana, mencari secukupnya. Sesuai dengan porsinya. Tidak menjadi lupa dengan keluarga. Sederhana mengejar cita-citanya tanpa menghilangkan kehangatan sifat mereka sebagai manusia.
Rindu aku untuk mendengarkan gemericik suara sungai (sudah mau pekak telingaku mendengar raungan suara kendaraan disini)
Kangen aku untuk kembali mendengarkan ucap penuh syukur kepada penguasa kita dan alam semesta dari mulut orang-orang sederhana saat mereka istirahat. Makan saat lelah melanda setelah mengurus pekerjaan mereka (belum pernah aku mendengar suara-suara bersyukur disini saat mereka istirahat melepas lelah, yang ada malah sibuk mereka bergunjing, bergosip atau malah kembali membahas masalah kerja dan kerja)
Tak sabar aku untuk mendengarkan kembali tegur sapa ramah dari mulut-mulut mereka(bukannya umpatan kasar tak terperikan yang malah diperdengarkan).
Disana aku menemukan orang-orang yang sungguh-sungguh mengejar apa yang mereka inginkan dan tanpa menghilangkan kehangatan mereka sebagai manusia itu sendiri. Tidak seperti kota ini. Kota dimana orang-orang menjadi hilang jati dirinya demi hal yang mereka kejar dan ingin ciptakan oleh kemampuan mereka sendiri.
Jadi mari kawanku...
Kita pergi..
Secepatnya...
Sumpek aku disini…
Capek...
Selalu merasa sepi walau jelas-jelas berada di tempat yang ramai semacam ini. Aku rindu kedamaian. Ketenangan. Yang tak kutemukan disini. Ditengah-tengah keramaian kota yang tak berbelas kasihan ini.. haha, apa yang aku ocehkan sekarang ya? Bingung aku dibuatnya. Maaf kawan kalau sudah membuat mu bosan dengan celotehanku selama ini. Kadang aku tak mampu lagi menahan mulut ini. Aku tau engkau slalu siap membantu dan menemaniku.
Jadi mari kawanku.. kita sekarang berangkat pergi . Pergi segera meninggalkan kota ini.. terima kasih.. untuk selalu menemani diri ini…...
read more..
Apa yang aku cari dari seorang wanita? Untuk membuatnya menjadi super spesial. Mengatakan rasa kesungguhan akan suatu hal yang sering disebut sebagai rasa sayang. APA? Fisiknya kah? Ah tak munafik aku untuk sok mengatakan bahwa fisik itu tidak penting. Sok mengatakan bahwa yang penting adalah hati. Bukan fisik. Bah orang-orang munafiklah yang hanya membicarakan hal itu. Bukankah selalu ada ego dalam diri untuk memiliki kekasih yang elok rupanya. Sepadan minimal. Bahkan kalau bisa inginnya malah yang sangat teramat elok rupawan. Bukan begitu bukan? Ego yang menjadi gengsi didalam diri dan lingkungan pribadi.
Tapi sekarang aku hanya bisa tersenyum aneh, kemana ego itu? Karena saat pertama kali kami mengikat hubungan itu aku bahkan tidak pernah melihat sosoknya. Bagaimana aku tau bahwa rupanya, badannya, sosok keseluruhannya yang sebenarnya dengan hanya melihat sosok mayanya saja. Terkaan saja? Walau aku dan semua juga tau kalau foto itu bisa menipu realita. Tapi mengapa aku bisa menerima dan bahkan sama sekali tidak merasa perlu untuk memikirkannya. Kemana ego itu? Lenyap begitu saja seakan tak tahu kemana. Yang ada hanya rasa percaya bahwa walau jelas-jelas aku belum pernah melihat langsung orangnya.
Dan sifat apa yang hanya aku temukan dari dirinya yang membuat dia berbeda dari wanita-wanita yang pernah ada? Karena hanya dari dirinya lah aku menemukan kepercayaan. Suatu bentuk kesungguhan. Tanpa menuntut dia lebih memilih untuk melengkapi. Dan yang terpenting dia mampu membuktikan bahwa apa yang dia ucapkan bukanlah sekedar main-main. Dan hal itu tidaklah aku temukan dari berbagai jenis tipe wanita yang pernah ada. Hanya dia yang mampu dan bisa memberikannya tanpa aku harus meminta atau membicarakannya.
Yah semua itu semakin dikuatkan saat dia benar-benar membuktikan katanya untuk datang. Well, honestly aku tidak yakin awalnya dia bisa datang. Justru karena tau dia orangnya sangat takut bepergian sendirian, belum halangan yang lainnya, belum biayanya. Dan aku tau itu tidaklah mudah. Sehingga membuat aku tidak mau memaksa dia untuk menyempatkan diri datang berliburan. And guess what, she did come here! Melawan rasa takutnya, mengusahakan sebisanya, dan sikapnya memberikan suatu keyakinan. Bahwa semua hal yang telah aku pikirkan tentang dia, tentang sifatnya, tentang pandangannya itu benar. Dia bsa memberi kepercyaan yang selama ini aku butuhkan. Dia benar-benar membuktikan semuanya. Sehingga aku benar-benar tau dan yakin kalau dia beda dari wanita-wanita yang pernah ada.
Dan mungkin inilah yang membuatku di hari ini, pagi ini, detik ini merasa sesak untuk melepasnya. Bergetar merasa berat hanya melihat raut muka kepergiannya. Sosok itu. Wanita itu. Yang setelah sekian lama mencari, akhirnya menemukannya. Dan sekarang aku berfikir tampaknya aku menemukan apa yang orang-orang sebut sebagai rasa cinta atas sosok yang menjadi pasangan kita. Rasa yang membuat kita enggan dan sungguh-sungguh tak mau menjauh dari pasangan kita.
Trima kasih tuhan untuk semuanya, untuk memberikan dia dan sepuluh hari yang extra super hyper duper menyenangkan. Untuk memberikan dia dengan segenap pengertiannya. Untuk memberikan dia yang suka merengek manja. Untuk memberikan dia yang mempunyai raut muka menggemaskan walau disaat marahnya. Dan terutama terima kasih untuk kesempatannya. Untuk semua hal yang pernah ada dan akan kami lakukan nantinya.. trimakasih tuhan..
P.S:
LUV U..
read more..
